
Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran adalah momen tahunan yang memiliki nilai tidak hanya dari sisi relijius, namun juga dari sisi sosial, dan juga budaya. Salah satu fenomena menarik di hari lebaran adalah tradisi mudik. Mudik, bisa dibilang merupakan sebuah gerakan nasional (meskipun belum ada yang secara resmi mendeklarasikan gerakan ini) semua orang rantau untuk kembali ke kampung halamannya. Tradisi ini – bak warisan- telah telah turun temurun dari generasi ke generasi dilaksanakan. Mereka rela berdesak – desakan, berdiri di kereta bahkan menempati dan tidur WC kereta api. Suatu hal – yang secara nalar mungkin tidak akan pernah dilakukan. Semua itu untuk mencapai harapan agar bisa berlebaran di kampung halaman, bertemu sanak famili, tetangga bahkan kawan – kawan lama.
Apapun alasannya. Bagi saya mudik, memiliki esensi yang tidak hanya berhenti disitu. Mudik tidak sekedar sebuah tradisi pulang ke kampung halaman. Mudik adalah sebuah makna simbolik, yang menandakan di hari fitri tersebut kita tidak hanya pulang kampung secara ragawi namun secara ukhrawi kita juga harus kembali pulang ke kampung “fitrah” kita sebagai seorang manusia.
Kampung halaman adalah simbol dimana disana tidak hanya tempat dimana kita dilahirkan, dimana kita tumbuh dan besar, disana juga merupakan tempat dimana nilai – nilai moral ditanamkan orang tua semenjak kecil.
Kampung halaman adalah simbol yang berarti tempat dimana kita sadar akan hakikat siapa diri kita sebenarnya.
Siapakah kita? Dari mana kita datang? Kemana kita pergi, apa tujuan kita datang dan tinggal sebentar di sini? Di manakah kebahagiaan dan kesedihan kita yang sebenarnya berada? Sebagian sifat yang kita miliki adalah sifat-sifat binatang, sebagian yang lain adalah sifat-sifat setan dan selebihnya merupakan sifat-sifat malaikat. Kita mestinya menemukan mana di antara sifat-sifat ini yang pokok dan mana yang bukan. Sebelum kita mengetahui ini, adalah mustahil, menemukan letak kebahagiaan kita
Satu tahun ini mungkin kita sudah dilupakan oleh kilau dunia, kita sudah dilupakan dengan mencari penghidupan, yang dengan itu kita rela sikut kiri, sikut kanan, injak bawah, jilat atas. Kita sepertinya sudah meninggalkan jauh kampung halaman ukhrawi kita.
Puasa ramadhan ini bertujuan untuk menjadikan kita manusia – manusia yang bertakwa. Sehingga di Hari Idul FItri dengan penuh kebahagian kita melaksanakan Shalat Ied dengan berpakaian yang bagus – bahkan baru. Namun kita tahu, bahwa sebaik – baiknya pakaian adalah pakaian takwa
“Wahai anak Adam! Sesungguhnya Kami sudah menurunkan kepada kamu (bahan untuk) pakaian menutup aurat kamu, dan pakaian perhiasan; dan pakaian berupa takwa itulah yang sebaik-baiknya.” (Surah al-A’raaf, ayat 26)
Kita semua berharap, di kampung halaman ini kita akan kembali menemukan bagian diri kita yang hilang agar saat kita kembali ke kota perantauan, kita telah kembali mengenali diri kita sebagai manusia seutuhnya.
Sungguh, jika masing – masing dari kita yang mudik, melakukan mudik tidak sekedar sebagai sebuah acara seremonial belaka, namun sebagai sebuah jalan instrospeksi untuk kembali ke hakikat kita diciptakan sebagai manusia. Maka bersama – sama kita akan mendorong negeri yang kita cintai ini juga kembali ke hakikat awal pendiriannya. 🙂
Amiin..
trying to follow you on twitter but cant find your name
Semoga semua harapan itu dapat tercapai…Selamat beraktivitas kembali. Thanks
_____
Tedy: semoga saja mas sempulur 🙂
biar ga jadi kacang yang lupa ama kulitnya ya 🙂
___________
Tedy: ya..dan jangan jadi kulit (raga) yang lupa sama kacang (hati) nya 🙂
waduh … keren gambar supermannya …
kalo superman mudik sapa yg basmi kejahatan selama lebaran? …
kan menjelang dan saat lebaran tukang copet berkeliaran …
Salam BURUNG HANTU …
____________
Tedy : terimakasih telah mengomentari gambarnya 🙂
That’s wonderful, just keep it up.