{"id":973,"date":"2010-07-13T09:30:21","date_gmt":"2010-07-13T02:30:21","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=973"},"modified":"2010-07-13T09:30:21","modified_gmt":"2010-07-13T02:30:21","slug":"nuklir-apa-dan-kenapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=973","title":{"rendered":"Nuklir, apa dan\u00a0kenapa?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Mendengar kata Nuklir, tentu bayangan kita adalah sebuah senjata pemusnah massal yang mengerikan. Jadi jika anda belajar ilmu nuklir maka dibayangan orang adalah anda sedang belajar membuat sebuah senjata pemusnah massal yang nantinya digunakan untuk perang. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, jika anda belar ilmu tentang nuklir maka dibayangan orang adalah anda sedang belajar bagaimana cara merakit bom \u2013 singkatnya anda belajar jadi teroris. :))<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada juga orang tidak tahu yang mengatakan, <em>ngga <\/em>perlu belajar (baca: kuliah) dalam bidang teknologi nuklir, prospeknya kurang jelas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setidaknya itulah yang pernah saya dengar tentang bagaimana pendapat orang (awam) tentang Nuklir. Mereka seperti itu, karena tidak tahu, jadi kita perlu memberikan penjelasan. <em>Nah<\/em>, kita sebagai seorang Mahasiswa, dan sebagai orang dengan berpendidikan tinggi haruslah tahu cara menyikapi hal seperti ini. Seorang bijak mengatakan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Janganlah kita memakan lebih dari yang bisa kita kunyah<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya adalah jangalah kita mengatakan sesuatu diluar kapasitas kita. Apa yang kita katakan haruslah didasarkan pada data dan fakta yang valid. Jika tidak tahu, jangan malu mengatakan<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">saya belum tahu dan saya berusaha akan mencari jawabannya<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">janganlah karena <em>pengen<\/em> dikira tahu, lalu anda mengarang jawaban yang padahal anda sendiri tidak mengerti. Jika begitu jadinya, Apa kata dunia!! begitu Naga Bonar sering berkata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, mari kita cari tahu jawabannya apa itu Nuklir. Nuklir berasal dari kata <em>Nucleus<\/em> yang berarti inti atom, sebagaimana yang telah kita pelajari di SMA inti atom terdiri dari Proton dan Neutron. Jadi nuklir adalah ilmu yang mempelajari reaksi yang terjadi di inti atom. Lalu apa yang istimewa dari inti atom sehingga haruslah dijadikan sebuah disiplin ilmu sendiri?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Silahkan anda membaca pada tulisan saya<a href=\"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/category\/energi-nuklir\/\" target=\"_blank\"> sebelumnya<\/a>, untuk mengetahuinya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Energi Nuklir yang besar<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk memahami besarnya energi yang dihasilkan dari reaksi nuklir maka kita harus membandingkan dengan energi yang dihasilkan bahan bakar fosil seperti batu bara , minyak bumi, dan gas alam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ambil contoh batu bara yang merupakan bahan bakar fosil yang digunakan paling luas untuk menghasilkan listrik. Hasil pembakaran batu-bara sebagian besar dari reaksi kimia C + O<sub>2 <\/sub>&#8211;&gt; CO<sub>2<\/sub> . Sedangkan energi Nuklir yang dihasilkan dari reaktor daya PLTN umumnya berasal dari reaksi neutron + uranium235 &#8211;&gt; fisi. Sedangkan jika dilihat dari hal energi yang dihasilkan, energi yang dibangkitkan dari reaksi kimia untuk tiap pembakaran atom karbon adalah\u00a0 4 eV\u00a0 sementara untuk fisi uranium dihasilkan 200 juta eV alias 200 MeV.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekarang kita bandingkan dua pembangkit listrik dimana yang satu PLTU dan yang lain adalah PLTN. Keduanya memilki daya listrik 1000 MW(e). PLTU Batu bara menggunakan 10000 ton bahan bakar perharinya sedangkan PLTN dengan daya yang sama memerlukan 20 ton pertahun. PLTU batu bara memerlukan suplai teru- menerus kira \u2013 kira 100 ton tiap hari agar dapat beroperasi kontinu. sedangkan PLTN tidak memerlukan suplai kontinu. Setelah pengisian awal, maka <em>shut down<\/em> untuk pengisian kembali dilakukan setelah 12 hingga 24 bulan itupun hanya seperlima\u00a0 hingga seperempat bagian bahan bakar yang diganti<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun berbeda dengan sampah yang dihasilkan. Sampah radioaktif dari PLTN sangatlah bersifat toksik daripada sebagian besar sampah hasil pembakaran batu bara, tetapi toksitas tersebut diimbangi dengan jumlahnya yang kecil dibandingkan dengan sampah hasil pembakaran batu bara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika pemrosesan ulang dilakukan untuk memisahkan uranium yang tak terpakai dari bahan bakar nuklir yang telah terpakai, maka jumlah sampah radioaktif tinggi untuk PLTN 1000MW(e) adalah kurang dari 10 ton per tahun. Ini kontras dengan PLTU batu bara dimana 5% lebih dari batu \u2013 bara yang dibakar menjadi abu dan harus dihilangkan dan disimpan di <em>landfill<\/em> atau dimanapun yang memiliki\u00a0 laju lebih dari lima <em>railroad <\/em>berkapasitas 100 ton tiap harinya. Ini belum termasuk 100 ton sulfur dioksida, sejumlah merkuri, timbal,\u00a0 dan berapa takmurnian yang dilepas ke lingkungan. Tetapi dampak terbesar terhadap lingkungan dari pembakaran bahan bakar fosil adalah pemanasan global yang disebabkan jutaan ton CO<sub>2<\/sub> yang dilepaskan ke atmosfir tiap hari untuk PLTU batu bara dengan daya 1000MW(e)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Manfaat Teknologi Nuklir yang lain<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manfaat penggunaan Nuklir sangatlah luas tidak hanya melulu masalah energi yang besar yang dihasilkannya, namun juga bisa digunakan untuk aplikasi medis seperti sinar-X, Kamera Gamma, RIA .\u00a0 Selain itu juga bermanfaat untuk aplikasi industri apakah itu industri pertambangan ( gamma \u2013 gamma loging), industri kertas, industri pengawetan makanan, pertanian, bahkan jasa inspeksi ( Uji tak rusak ) .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Disamping begitu besarnya manfaat dari teknologi Nuklir, terdapat potensi bahaya\u00a0 di dalamnya yang berupa bahaya radiasi pengion. Karena itulah penguasaan akan teknologi Nuklir sangatlah penting sehingga kita bisa menggunakannya untuk kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mampu menekan bahaya dan pula resikonya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Penggunaan Teknologi Nuklir<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena resiko bahaya dari teknologi nuklir ini maka penggunaan teknologi nuklir perlu diatur sehingga dapat meminimalisir bahaya yang mungkin terjadi, badan pengawas penggunaan teknologi nuklir di indonesia disebut dengan BAPETEN. Setiap peralatan yang menggunakan aplikasi teknologi nuklir haruslah diatangani oleh personel berlisensi yang dikeluarkan oleh BAPETEN beberapa diantaranya adalah SIB PPR (Surat Izin Bekerja Petugas Proteksi Radiasi) dan juga SIB OR ( Surat Ijin Bekerja Operator Radiografi) . Bagaimana jika ada instansi\/industri yang melanggar yakni menggunakan peralatan yang menerapkan teknologi nuklir namun tidak ditangani personel yang berlisensi? Tentu industri\/instansi tersebut bisa terkena sanksi dari BAPETEN.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Belajar Teknologi Nuklir<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah mengetahu tentang teknologi nuklir, dan anda tertarik untuk belajar tentang teknologi yang satu ini. Ada dua tempat yang mengajarkan teknologi Nuklir di Indonesia pertama\u00a0 Teknik Nuklir di UGM yang sekarang dilebur bersama Jurusan Teknik Fisika dan yang kedua di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir \u2013 BATAN yang merupakan satu \u2013 satunya perguruan tinggi di Indonesia yang khusus mengajarkan Teknologi Nuklir. Di tempat yang kedua ini dibuka dua jurusan yakni Teknofisika Nuklir dan Teknokimia Nuklir. Di Teknofisika Nuklir sendiri dibagi menjadi dua prodi yakni Elektronika \u2013 Instrumentasi dan Elektromekanik. Sedangkan di Teknokimia Nuklir hanya ada prodi Teknokimia. Dengan adanya program studi ini mahasiswa selain belajar teknologi nuklir dapat juga belajar disiplin ilmu yang lain berdasarkan prodi yang diambil untuk diaplikasikan dalam penggunaan Teknologi Nuklir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di STTN BATAN ini pula para lulusan mendapatkan lisensi dari BAPETEN berupa Surat Ijin Bekerja\u00a0 Petugas Proteksi Radiasi (SIB \u2013PPR) sehingga dapat langsung bekerja di instalasi yang menerapkan Teknologi Nuklir<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sumber<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Elmer E. Lewis Fundamentals of Nuclear Reactor Physics.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Glasstone, Samuel.The Elements of Nuclear Reactor Theory. D Van Nostrand Company Inc.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mendengar kata Nuklir, tentu bayangan kita adalah sebuah senjata pemusnah massal yang mengerikan. Jadi jika anda belajar ilmu nuklir maka dibayangan orang adalah anda sedang belajar membuat sebuah senjata pemusnah massal yang nantinya digunakan untuk perang. Bahkan yang lebih ekstrim lagi, jika anda belar ilmu tentang nuklir maka dibayangan orang adalah anda sedang belajar bagaimana [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":830,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[4,5,10],"tags":[362,421,500],"jetpack-related-posts":[{"id":506,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=506","url_meta":{"origin":973,"position":0},"title":"Jika Bangsa Lain Mampu, Kenapa Kita Tidak?","date":"26 Mei 2009","format":false,"excerpt":"\"Orang Indonesia agak lebih ceroboh daripada orang Jepang,\" Itulah alasan yang dikemukakan kata Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla ketika menyatakan bahwa partai yang dipimpinya tidak mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir sebagai sumber energi alternatif di Indonesia. Hal ini disampaikannya pada forum diskusi 'Pengusaha Bertanya, Parpol Menjawab' di Hotel Four\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Energi Nuklir\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":127,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=127","url_meta":{"origin":973,"position":1},"title":"Mengapa Menolak PLTN? (Bagian 1)","date":"9 Juni 2008","format":false,"excerpt":"Ketika saya berjalan - jalan keliling jogja dengan menggunakan TransJogja, saya menyempatkan berkunjung di toko buku Gramedia. Hal yang lain saya temui adalah di depan toko tersebut terdapat dua orang berbaju hijau mengaku dirinya dari greenpeace sedang sibuk membagikan brosur kepada pengunjung yang akan masuk gramedia. Sayapun menyempatkan melihat -\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Energi Nuklir\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":933,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=933","url_meta":{"origin":973,"position":2},"title":"Robot Berbasis Image Processing - Dasar (1)","date":"26 Juni 2010","format":false,"excerpt":"Kegiatan pemanfaatan\u00a0 tenaga nuklir yang telah mencakup berbagai area kerja seperti industri, institusi medis, penelitian, pendidikan,\u00a0 dan fasilitas nuklir. Menyimpan suatu bahaya radiasi yang harus ditangani dengan baik sehingga tidak membahayakan pekerja, ataupun masyarakat di lingkungan sekitarnya. Salah satu hal yang patut diperhatikan dalam sebuah asas proteksi radiasi, adalah harus\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Elektronika dan Robotik\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/06\/image0011.jpg?fit=624%2C446&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/973"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=973"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/973\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/830"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=973"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=973"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=973"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}