{"id":919,"date":"2010-06-01T13:25:22","date_gmt":"2010-06-01T06:25:22","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=919"},"modified":"2010-06-01T13:25:22","modified_gmt":"2010-06-01T06:25:22","slug":"jangan-rendahkan-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=919","title":{"rendered":"Jangan Rendahkan Kita.."},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/static.liputan6.com\/201005\/100527bjual-anak.jpg?resize=320%2C240\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"240\" data-recalc-dims=\"1\" \/>Gambar berikut menampakkan keedanan dunia yang sudah mulai tua ini.\u00a0 Yong Fai umur 8 tahun\u00a0 diikat oleh ayahnya sendiri Yong Tsui , dengan rantai di tiang listrik di tengah Kota Wuhan. Ternyata sang ayah tersebut mencoba menjual anaknya\u00a0 kepada orang asing yang lewat di sana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kisah tragis ini bukan dongeng ataupun telenovela, ini benar &#8211; benar\u00a0 terjadi di Cina. Sang ayah, Yong Tsui menawarkan anaknya yang tampak ketakutan itu sebagai budak, karena ia merasa tidak sanggup lagi merawat dan membesarkannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p>Di dekat anaknya yang dirantai besi, Yong kemudian meletakkan meja dan diberi tulisan nama anaknya, umur dan keterangan bahwa anak itu adalah pekerja keras.<\/p>\n<p>Namun ketika lelang baru akan dimulai, sejumlah pengunjung yang datang justru merasa kesal dengan tindakan sang ayah ini dan kemudian memukulinya. Beruntung polisi kemudian datang dan mengamankan Yong dari amukan massa serta anaknya di Wuhan, Cina Tengah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">menurut thenews.co.uk<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">An officer said: &#8220;He has no job, no home and no money. He says he wasn&#8217;t interested in money, just finding a home for the boy.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yong also said he was influenced by the story of a two-year-old Chinese boy who is in care after his parents chained him up while they worked to stop him being abducted.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kira &#8211; kira begini artinya, bapak tadi menjual anaknya bukan karena uang, mereka hanya mencari rumah untuk si\u00a0 bocah itu. Bapak tadi terilhami dari kisah Cheng Jing di surat kabar.Menurut yang saya baca di harian Surya kisah Cheng Jing adalah sebagai berikut :<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jingdan, adalah bocah yang dirantai ayahnya, Chen Chuanliu di Beijing beberapa waktu lalu. Chuanliu terpaksa merantainya di pinggir jalan karena takut anaknya hilang saat ditinggal menarik ojek. Mengingat ibunya tidak mampu merawatnya di rumah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Chuanliu takut Jingdan hilang diculik. Mengingat kakak Jingdan, Jinghong, 4, diculik orang tak dikenal. Kemungkinan besar Jinghong diculik di jalanan Kota Beijing. Kedua orangtuanya terlalu miskin untuk memiliki fotonya, sehingga polisi tidak bisa melacak apa-apa berdasarkan deskripsi orangtuanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah kasus ini mencuat di media, seorang dermawan membawa Jingdan ke rumah penitipan anak di Beijing. Dermawan inilah yang membiayai seluruh kebutuhannya. Nampaknya Yong Tsui ingin anaknya mendapat \u201ckeberuntungan\u201d yang sama seperti Jingdan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pekan lalu, pihak kepolisian di Wuhan juga membebaskan dua remaja perempuan yang dirantai di bawah tanah selama setahun. Mereka ditemukan dalam kondisi telanjang dan menyedihkan. Mereka bisa dibebaskan setelah seorang tukang reparasi menemukan catatan bahwa mereka ingin diselundupkan keluar dengan cara bersembunyi di dalam televisi rusak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTolong! Saya telah ditahan di ruang bawah tanah selama lebih dari setahun,\u201d tulis mereka dalam catatan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua remaja berusia 16 dan 19 tahun ini juga mengikutsertakan gambar tempat \u201cpenjara\u201d yang mereka tinggali, juga salah satu telepon ayah-ayah mereka. Polisi kemudian menangkap tersangka bernama Zeng Xiangbao, 39, yang saat ini masih ditahan di penjara setempat dengan tuduhan melakukan tindak kekerasan dan perkosaan.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Membaca kisah &#8211; kisah ini sungguh saya tidak habis pikir, di dunia ini rasanya semakin lama nurani manusia menjadi berkurang saja.<\/p>\n<blockquote><p>Hah! buat apa nurani toh itu ga bakal bisa buat makan kan!<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anda benar tuan, nyonya. Tapi satu yang membedakan kita dengan binatang adalah bahwa kita memiliki nurani. Itulah sebab mengapa manusia adalah sebaik &#8211; baik makhluk ciptaan Allah. Jadi kumohon , Tuan, Nyonya! Jangan jadikan kita menjadi seburuk &#8211; buruknya makhluk ciptaan Allah dengan mengenyampingkan nurani kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semoga<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gambar berikut menampakkan keedanan dunia yang sudah mulai tua ini.\u00a0 Yong Fai umur 8 tahun\u00a0 diikat oleh ayahnya sendiri Yong Tsui , dengan rantai di tiang listrik di tengah Kota Wuhan. Ternyata sang ayah tersebut mencoba menjual anaknya\u00a0 kepada orang asing yang lewat di sana. Kisah tragis ini bukan dongeng ataupun telenovela, ini benar &#8211; [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":867,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[596,597],"jetpack-related-posts":[{"id":3755,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3755","url_meta":{"origin":919,"position":0},"title":"Negeri Para Pegawai (Negeri)","date":"20 Juli 2017","format":false,"excerpt":"Sebuah pesan whatsapp masuk di nomer ponsel saya. Ah, ternyata isinya adalah chat dari seorang teman, yang membagikan informasi tentang \u00a0adanya pembukaan penerimaan pegawai negeri sipil yang kabar - kabarnya akan dibuka di bulan agustus nanti. Saya membalasnya langsung dengan \u00a0ucap terimakasih, meski \u00a0saya bukan salah satu orang yang berkeinginan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?fit=1200%2C719&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":96,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=96","url_meta":{"origin":919,"position":1},"title":"Selamat Ulang Tahun","date":"18 April 2008","format":false,"excerpt":"Makin tua saja, Itulah words of the day. Mengapa? Karena, tepat hari ini adalah hari kelahiran saya. Rasanya baru saja kemarin saya bermain - main di halaman sekolah taman kanak - kanak, bermain pasir, ayunan, dan menggoda teman-teman wanita sebaya ( penyakit lama dari kecil :mrgreen: ) . Tidak terasa\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3804,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3804","url_meta":{"origin":919,"position":2},"title":"Sarjana To be","date":"20 September 2017","format":false,"excerpt":"Setiap orang tua selalu ingin menyekolahkan anaknya setinggi - setingginya. si anak harus lebih baik daripada orang tuanya. Jangan menjadi orang kecil seperti mereka yang tidak tentu perbulan dapat berapa. Begitulah jika ditanya kepada setiap orang tua, mengapa mereka bersedia banting tulang lebih keras demi menyekolahkan si buah hati. Itu\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1370738959078.jpg?fit=1200%2C1000&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/919"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=919"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/919\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=919"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=919"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=919"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}