{"id":826,"date":"2010-01-31T11:53:56","date_gmt":"2010-01-31T04:53:56","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=826"},"modified":"2010-01-31T11:53:56","modified_gmt":"2010-01-31T04:53:56","slug":"led-dan-resistor-pembatas-arus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=826","title":{"rendered":"LED dan Resistor Pembatas Arus"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Jika kita berhubungan dengan LED, kita akan diingatkan oleh setiap orang bahwa kita membutuhkan sebuah resistor pembatas arus tapi sebagian besar dari mereka tidak akan mengatakan alasannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tulisan kali ini saya akan berusaha menunjukkan mengapa menggunakan resistor pembatas arus dalam mencatu LED adalah sebuah ide bagus. Dan kapan kita aman untuk mencatu LED tanpa menggunakan resistor apapun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>LED dengan resistor pembatas arus<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika kita melihat datasheet dari LED kita akan tahu bahwa grafik karakteristiknya tidaklah linear. Sebuah LED pada prinsipnya sama dengan diode yang merupakan sebuah semikonduktor &#8211; yang tentu berperilaku berbeda dibandingkan resistor<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><a href=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2010\/01\/s_led-res.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"828\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=828\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/01\/s_led-res.png?fit=480%2C279&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"480,279\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"s_led-res\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/01\/s_led-res.png?fit=300%2C174&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/01\/s_led-res.png?fit=480%2C279&amp;ssl=1\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-828\" title=\"s_led-res\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2010\/01\/s_led-res.png?resize=300%2C174\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"174\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/01\/s_led-res.png?w=480&amp;ssl=1 480w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/01\/s_led-res.png?resize=300%2C174&amp;ssl=1 300w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a><a href=\"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/2010\/01\/resistor_led1.png\"><br \/>\n<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika kita menerapkan tegangan tertentu pada resistor kita akan dapat menghitung arus\u00a0 dengan rumus<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">I = V\/R<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh : I= 5Volt\/100Ohm=50mA<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentu saja hal serupa tidak akan berlaku pada LED karena LED tidak berkerja seperti halnya resistor yang linear. Jika kita melihat grafik diatas, kita dapat menaikkan tegangan dari 0 Volt hingga 1,6 Volt tanpa tanpa menghasilkan sebuah arus yang berarti, namun setelah itu penambahan sedikit tegangan kepada dioda akan menghasilkan arus sehingga meyebabkan LED menyala. Ini dikarenakan tegangan pada nilai tersebut merupakan tegangan <em>forward<\/em> yang dibutuhkan untuk membuka gerbang PN. Tegangan <em>forward<\/em> untuk LED biasanya bernilai 1,7 hingga 2,2 Volt.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah melampaui tegangan <em>forward<\/em>, perubahan kecil pada LED akan menghasilkan perubahan\u00a0 besar dalam arus forward. Datasheet biasanya menetapkan nilai <em>absolute maximum rating<\/em> untuk IF pada nilai 25 mA. Jika kita menerapkan tegangan yang menghasilkan arus yang lebih besar dari nilai absolut maksimum tersebut maka LED tersebut akan rusak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sehingga adalah penting untuk tetap membatasi arus pada LED, karena jika kita langsung mencatu LED dengan tegangan 5V langsung dari catu daya, maka itu sama saja kita \u00a0membakar LED tersebut. Arus yang besar akan merusak gerbang PN. Itu adalah sebab utama mengapa resistor pembatas arus digunakan<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2010\/01\/resistor_led1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" title=\"resistor_led1\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2010\/01\/resistor_led1.png?resize=300%2C233\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"233\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Asumsikan kita memiliki LED dengan <em>maximum rating<\/em> IF : 25mA pada VF : 2,1 Volt (nilai Vf\u00a0 didapatkan dari grafik diatas). Jika kita ingin menggunakan catu daya 5 Volt, maka kita harus menggunakan resistor untuk mendisipasi 2,9 Volt sisanya. Sehingga nilai resistor yang dibutuhkan adalah<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">R = V\/I = (5 Volt \u2013 2,1Volt)\/25mA =116 Ohm<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk amannya, kita menggunakan resistor dengan resistansi 120 Ohm atau lebih besar lagi 150 Ohm.Sehingga dengan cara tersebut kita tidak mencatu LED pada nilai maximum rating-nya. Jika kita memilih menggunakan arus 20 mA maka tegangan yang digunakan adalah 2 Volt sehingga nilai resistor yang digunakan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">R = V\/I = (5 Volt \u2013 2Volt)\/20mA =150 Ohm<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baiklah, 150 ohm tampaknya merupakan nilai yang tepat. Untuk keamanan kita juga perlu mengetahui disipasi daya yang bisa didapatkan dari<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">P = V*I = 3Volt*2Volt =60 mW<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sehingga, kita bisa memilih resistor dengan resistansi 150 ohm dan rating daya \u00bc watt.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Resistor Tanpa Pembatas Arus<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya, kita harus mengerti, mengapa kita ingin menyingkirkan resistor dalam rangkaian kita? Ada dua alasan yang pokok. Pertama resistor membuang energi, karena resistor merubah energi listrik menjadi panas padahal kita menginginkan agar energi listrik tersebut diubah menjadi cahaya LED. Hal kedua\u00a0 yang tak kalah penting adalah dengan menghilangkan resistor kita akan mengurangi jumlah komponen yang berarti harga rangkaian akan lebih murah dan setidaknya kita juga akan menghemat ruang dalam PCB.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada dua cara untuk mem-<em>bypass<\/em> resistor. Cara pertama dengan menggunakan tegangan yang lebih kecil. Jika kita bisa untuk menggerakkan rangkaian kita dengan tegangan yang sama dengan tegangan forward LED maka \u2013sempurna &#8211; tidak ada resistor yang dibutuhkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Metode lain yang digunakan adalah dengan menggunakan Modulasi Lebar Pulsa atau <em>Pulse Width Modulation<\/em> (PWM) yang berarti kita men<em>switch<\/em> LED bergantian hidup dan mati. Jika kita melakukan <em>switching<\/em> dengan sangat cepat, maka mata kita tidak akan sanggup melihat peralihan hidup dan mati tersebut. Cara yang terakhir ini begitu rumit dan panjang sehingga tidak akan dijelaskan di sini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya dalam beberapa kasus tertentu, adalah aman jika kita menggunakan LED tanpa pembatas arus sama sekali. Disinilah perlunya melihat lebih dekat spesifikasi sebuah komponen sehingga dapat menjadi pertimbangan kita dalam merancang sebuah rangkaian elektronika<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika kita berhubungan dengan LED, kita akan diingatkan oleh setiap orang bahwa kita membutuhkan sebuah resistor pembatas arus tapi sebagian besar dari mereka tidak akan mengatakan alasannya. Pada tulisan kali ini saya akan berusaha menunjukkan mengapa menggunakan resistor pembatas arus dalam mencatu LED adalah sebuah ide bagus. Dan kapan kita aman untuk mencatu LED tanpa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":828,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[5,10],"tags":[126,279,470],"jetpack-related-posts":[{"id":1134,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1134","url_meta":{"origin":826,"position":0},"title":"Hal Yang Wajib Diketahui dari LED","date":"17 September 2010","format":false,"excerpt":"LED, apa itu? Light Emitting Diodes atau lebih sering disebut LED adalah komponen semikonduktor yang mampu merubah energi listrik menjadi cahaya. Sekarang\u00a0 ini hampir semua alat atau instrumen\u00a0 menggunakan LED sebagai salah satu komponennya. LED bentuknya kecil dan\u00a0 harganya murah sehingga sangat\u00a0 sederhana untuk digunakan. LED bisa memancarkan cahaya yang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Elektronika dan Robotik\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/bey12.png?fit=993%2C547&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":906,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=906","url_meta":{"origin":826,"position":1},"title":"Merakit dan Memprogram Sensor Warna","date":"20 Mei 2010","format":false,"excerpt":"Setelah tulisan saya yang lalu yang membahas tentang konsep dasar sensor warna, sekarang akan dibahas mengenai bagaimana merakit sendiri dan memprogram sebuah sensor warna sederhana. Untuk mendeteksi dari sejumlah warna. Yang dibutuhkan hanyalah satu LED dan satu sensor seperti sensor detektor pemancar inframerah , dapat dilihat pada gambar LED bening\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Elektronika dan Robotik\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/05\/image0081.jpg?fit=359%2C391&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":1163,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1163","url_meta":{"origin":826,"position":2},"title":"Menurunkan Tegangan 5 volt menjadi 3 volt","date":"28 November 2010","format":false,"excerpt":"Dalam posting kali ini, saya ingin menjawab pertanyaan dari saudara Arso dalam blog Belajar Elektronika Yuk tentang bagaimana cara menurunkan tegangan 5 Volt (semisal dari USB) menjadi tegangan semisal 3 volt. Untuk menurunkan tegangan dari 5 volt menjadi 3 volt bisa digunakan metode voltage divider atau pembagi tegangan sebagai berikut\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Elektronika dan Robotik\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/bey12.png?fit=993%2C547&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/826"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=826"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/826\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/828"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=826"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=826"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=826"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}