{"id":63,"date":"2008-03-15T21:26:44","date_gmt":"2008-03-15T14:26:44","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=63"},"modified":"2008-03-15T21:26:44","modified_gmt":"2008-03-15T14:26:44","slug":"membaca-bulan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=63","title":{"rendered":"Menatap Bulan"},"content":{"rendered":"<div align=\"justify\">\n<blockquote>\n<h3> <i><b>&#8220;Mungkinkah kamu sedang menatap bulan?&#8221;<\/b><\/i><\/h3>\n<h3><i><b>&#8220;Bulan sabit yang sedang kupandangi&#8221;<\/b><\/i><\/h3>\n<\/blockquote>\n<\/div>\n<p align=\"justify\"> Pada malam yang cukup cerah dengan sedikit awan di langit, kita bisa melihat bulan yang bersinar di kegelapan malam. Kita semua tentu sudah tahu dari mana sinar bulan itu berasal. Bulan adalah satelit alami bumi yang berukuran seperempat ukuran Bumi dan beredar mengelilinginya setiap 27.3 hari, pada jarak rata-rata 384,400 kilometer di bawah tarikan gravitasi Bumi. Akibat peredarannya inilah bulan mengalami fase &#8211; fase dari fase bulan baru sampai fase bulan purnama dan kemudian mengalami fase yang disebut fase bulan mati. Jarak dar fase bulan baru ke bulan baru berikutnya atau dari bulan purnama ke bulan purnama berikutnya adalah 29,5306 hari yang kita sebut dengan periode sinodik.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2008\/03\/bulan2.gif?resize=398%2C235\" align=\"right\" height=\"235\" width=\"398\" data-recalc-dims=\"1\" \/>Ketika bulan berada diantara Bumi dan Matahari,<i> <\/i>sisinya yang gelap menghadap ke bumi sehingga sudah barang tentu bulan ini tidak akan terlihat oleh kita yang berada di bumi. Fase ini dinamakan fase bulan baru<i>. <\/i>Setelah bulan baru, maka fase berikutnya adalah fase bulan sabit yang nampak seperti benang yang bisa kita lihat di langit barat sesudah matahari tenggelam. Lama kelamaan sabit tersebut menjadi lebar hingga menjadi separuh, fase bulan ini kita sebut dengan fase bulan separuh. Kemudian tujuh hari setelah fase bulan separuh, kita bisa melihat gambaran penuh dari bulan, fase bulan ini kita sebut dengan bulan purnama. Tujuh hari kemudian penampakan bulan kita ini kembali menyusut sehingga kembali lagi kepada fase bulan separuh. Begitulah seterusnya hingga bulan kita ini kembali mengalami fase bulan sabit yang kemudian terus &#8211; menerus dan pada akhirnya dia menghilang. Fase ini kita sebut dengan bulan mati.<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Sungguh begitu Maha Bijaksananya Allah yang telah menciptakan Bulan dengan hikmah yang luar biasa terkandung di dalamnya. Sudah lama sekali bulan digunakan oleh orang zaman dahulu untuk menetapkan kapan waktu bertanam, kapan waktu baik untuk berlayar dan lain sebagainya. Penanggalanpun dibuat dengan menggunakan sistem kalender peredaran bulan yang kita kenal dengan kalender Qomariah.<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Namun selain itu saya baru sadar ternyata bulan kita adalah cermin dari kita sendiri, kita dulu diciptakan dari tidak ada (fase bulan mati) kemudian dilahirkan sebagai bayi oleh ibu kita (fase bulan sabit). Setelah itu kita tumbuh pelan dari masa kanak &#8211; kanak menuju masa remaja ( fase bulan separuh) lalu kemudian kita tumbuh dewasa dan mencapai puncak &#8211; puncak keemasan kita (fase bulan purnama). Namun setelah itu lama kelamaan kita pasti akan mengalami apa yang disebut penurunan. Semakin tua, maka kondisi tubuh kita akan semakin lemah, fisik kita akan terus menurun seperti halnya bulan yang kembali menyusut menjadi fase bulan separuh yang kemudian terus menerus menyusut menjadi bulan sabit. Di saat itu tubuh kita menjadi lemah dan rentan seperti bayi, kita akan mengalami kepikunan dan pikiran kita akan kembali seperti anak &#8211; anak. Kemudian lambat laun kita akan menghilang dari langit hidup ini, inilah yang disebut fase bulan mati.<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Sekarang, setiap saya melihat bulan di langit yang cerah ini, saya selalu ingat bahwa cepat ataupun lambat, kelak saya pasti akan menghadapi apa yang disebut mati&#8230;&#8230;<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Semoga kita digolongkan oleh Allah  sebagai orang &#8211; orang  yang Khusnul Khotimah&#8230;..<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Amiin&#8230;<\/p>\n<p align=\"justify\">____________________<\/p>\n<div align=\"justify\">\n<h4><b><i>Mereka bertanya kepada engkau dari hal hilal Katakanlah hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji  <\/i><\/b><b>(QS. 2:189)<\/b><\/h4>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Mungkinkah kamu sedang menatap bulan?&#8221; &#8220;Bulan sabit yang sedang kupandangi&#8221; Pada malam yang cukup cerah dengan sedikit awan di langit, kita bisa melihat bulan yang bersinar di kegelapan malam. Kita semua tentu sudah tahu dari mana sinar bulan itu berasal. Bulan adalah satelit alami bumi yang berukuran seperempat ukuran Bumi dan beredar mengelilinginya setiap 27.3 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[5,6,8,10],"tags":[84,100,135,242,272,540],"jetpack-related-posts":[{"id":3737,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3737","url_meta":{"origin":63,"position":0},"title":"Kini, (Semoga) Ramadhan Memasuki Kita","date":"25 Juni 2017","format":false,"excerpt":"Takbir berkumandang bersahutan memenuhi langit malam ini. Sebagai tanda masuknya bulan syawal. Dan berakhirnya Bulan Ramadhan. Orang - orang berpawai, berkendaraan, tumpah ruah di jalanan, merayakan sebuah kemenangan. Sementara saya masih menyepi di kamar sendiri, merenungi, tentang \u00a0satu bulan puasa yang telah dilakoni. Apakah saya termasuk golongan orang - orang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/1600992809.jpg?fit=750%2C500&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":4031,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=4031","url_meta":{"origin":63,"position":1},"title":"Meramadhankan Diri","date":"30 Mei 2018","format":false,"excerpt":"Bulan Ramadan hampir separuhnya dilewati. Milyaran hamba Allah berpuasa di muka bumi. Milyaran kaum muslim berislam (menyerahkan diri) untuk menyublimkan diri di bulan ini. Menghilangkan kotoran - kotoran yang selama setahun penuh melekat di hati. Menjadi pemisah antara manusia dengan sejatinya azali. Semua kita sepakat menyebut Bulan Ramadhan sebagai bulan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":2037,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2037","url_meta":{"origin":63,"position":2},"title":"Ramadhan Tak Berakhir, Karena Hadirnya Sepanjang Zaman","date":"7 Agustus 2013","format":false,"excerpt":"\u201cDi malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya.\u201d Demikian sebuah hadist Rasulullah Muhammad s.a.w tentang akhir bulan ramadhan. Para malaikat bersedih akan berlalunya Ramadhan, kita yang manusia biasa \u00a0-- bisa jadi ada yang bersedih, ada juga\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/63"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=63"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/63\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=63"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=63"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=63"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}