{"id":618,"date":"2009-08-19T12:50:26","date_gmt":"2009-08-19T05:50:26","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=618"},"modified":"2009-08-19T12:50:26","modified_gmt":"2009-08-19T05:50:26","slug":"jeprat-jepret-sana-sini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=618","title":{"rendered":"Jeprat &#8211; Jepret Sana &#8211; Sini"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"619\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=619\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2009\/08\/samsung-digicam-pmp.jpg?fit=250%2C300&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"250,300\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"samsung-digicam-pmp\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2009\/08\/samsung-digicam-pmp.jpg?fit=250%2C300&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2009\/08\/samsung-digicam-pmp.jpg?fit=250%2C300&amp;ssl=1\" class=\"alignright size-full wp-image-619\" title=\"samsung-digicam-pmp\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2009\/08\/samsung-digicam-pmp.jpg?resize=250%2C300\" alt=\"samsung-digicam-pmp\" width=\"250\" height=\"300\" data-recalc-dims=\"1\" \/>Dulu, ketika kamera yang tersedia di pasaran masih analog. Orang bakalan dianggap aneh ketika <em>jeprat &#8211; jepret <\/em>ria di dalam mall atau berfoto bersama teman -teman di depan tugu Jogjakarta , anda pasti dikiran sok turis atau memang orang mampir di Yogyakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kamera saku berfilm waktu dulu bisa dikatakan barang mewah, hanya sedikit orang menentengnya, itu juga <em>bakal dikeluarin<\/em> <em>kalo<\/em> sedang liburan atau memang sedang ada hajatan. Jika tidak, anda pasti bakal dikira wartawan dari koran <em>anu <\/em>yang sedang sibuk mencari berita, atau malah sialnya anda bisa saja dikira tukang foto keliling<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Hasil fotonya pun <em>ngga <\/em>bisa langsung dilihat, mungkin harus menunggu berhari &#8211; hari (sampai habisnya rol film) untuk bisa mencetak hasil <em>jepretannya<\/em>. Na&#8217;asnya <em>kalo penjepret ngga <\/em>tahu cara <em>ngejepret,<\/em> bisa &#8211; bisa gagal semua hasil jepretannya. Belum lagi <em>kalo<\/em> yang difoto pada merem gara &#8211; gara <em>ngga<\/em> tahan kena sorot lampu blitz. Serasa sempurnalah kesengsaraan ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Foto yang sudah jadi harus dirawat baik &#8211; baik dalam album foto dan disimpan pada ruangan yang berudara kering agar tidak <em>jamuran. <\/em>Jika ingin memasukkannya dalam format digital, orang harus susah &#8211; susah men-<em>scan<\/em> dulu. Sehingga bisa dikatakan foto &#8211; foto yang berformat digital jumlahnya masih sangat sedikit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitu <em>booming<\/em>nya era kamera digital yang harganya makin lama makin murah, bahkan fasilitas ponsel pun dikatakan belum lengkap jika tidak ada fitur kamera di dalamnya (semakin tinggi resolusi tentu semakin bagus ponselnya). Maka tak ayal dunia <em>perjepretan<\/em> pun menjadi semakin murah meriah, Orang <em>ngga <\/em>perlu mikir jumlah roll film yang masih tersisa, yang penting <em>jepret,<\/em> hajar. Selama kartu memori masih kuat, ya <em>jepret aja <\/em>terus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jeleknya, orang jadi tidak<em> <\/em>selektif dalam memfoto, apa saj dan siapa saja difoto, bahkan <em>ngefoto<\/em> diri sendiri dengan pose &#8211; pose <em>ngga<\/em> pentingpun sudah <em>ngga <\/em>sungkan lagi. Entah itu berfoto di jalan tol, jembatan, atau di trotoar, orang -orang sekitarpun juga<em> udah ngga<\/em> peduli, kecuali jika ada sesi khusus pemotretan model cantik apalagi dengan busana super minim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orangpun jadi jarang mencetak foto, kecuali untuk momen &#8211; momen khusus seperti foto wisuda atau pernikahan (massal). Mereka lebih senang menyimpannya di dalam <em>hardisk <\/em>komputernya, atau meng<em>upload<\/em>nya ke facebook dengan berharap dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar ada komentar dari orang yang melihat fotonya tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rekayasa atau <em>editing<\/em> foto pun juga marak &#8211; dan semakin banyak orang mempelajarinya, Orang bisa dibuat seakan &#8211; akan berfoto dan bersalaman <em>bareng<\/em> presiden, atau seakan &#8211; akan pernah pergi ke New York, USA atau Paris di Prancis meskipun sebenarnya ke bantul pun belum pernah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di jaman pra sejarah orang hanya berkomunikasi dengan gambar &#8211; gambar di dinding gua. Begitupula di jaman sejarah, arca &#8211; arca di dinding &#8211; dinding candi &#8211; candipun membuat sebuah komunikasi sendiri tentang keadaan di jaman itu. Sekarang, foto &#8211; foto digital yang tersimpan dalam hardisk atau dalam facebook mungkin kelak akan menceritakan tentang suatu hal kepada kita, itupun jika kita ingat. Bukan begitu? saya berharap jawabannya bukanlah kata &#8220;bukan&#8221; \ud83d\ude42<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dulu, ketika kamera yang tersedia di pasaran masih analog. Orang bakalan dianggap aneh ketika jeprat &#8211; jepret ria di dalam mall atau berfoto bersama teman -teman di depan tugu Jogjakarta , anda pasti dikiran sok turis atau memang orang mampir di Yogyakarta. Kamera saku berfilm waktu dulu bisa dikatakan barang mewah, hanya sedikit orang menentengnya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":619,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[12,13],"tags":[106,134,143,221,222],"jetpack-related-posts":[{"id":3361,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3361","url_meta":{"origin":618,"position":0},"title":"Mentalitas Harga Teman","date":"22 November 2015","format":false,"excerpt":"\"Masak sama teman sendiri perhitungan?\" Kalimat tersebut mungkin sering didengar bagi mereka yang sekarang merintis usaha. Entah yang kecil - kecilan \u00a0ataupun yang serius. Kalimat tersebut sering dilontarkan oleh teman dekat, teman agak dekat, atau bahkan teman yang\u00a0nggak dekat - dekat amat. Harga Teman, ya begitulah mereka menyebutnya, meminta keringanan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":611,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=611","url_meta":{"origin":618,"position":1},"title":"Hacker Bukan Sekedar Hacker","date":"18 Agustus 2009","format":false,"excerpt":"Jaksa penuntut umum federal AS mendakwa seorang mantan informan pemerintah dengan tuduhan membobol 130 juta kartu kredit. Ini adalah pembobolan kartu kredit dan debet terbesar di AS. Begitulah kutipan berita yang saya baca dari kompas.com . Sang hacker yang dulu mantan seorang informan Secret Service AS telah membobol 13o juta\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sains dan Teknologi\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/04\/sdc10676c.jpg?fit=1200%2C460&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2758,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2758","url_meta":{"origin":618,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 5)","date":"19 April 2015","format":false,"excerpt":"\u201cOh iya, \u00a0Kamu dari tadi di sini ya? \u00a0Mengapa tak\u00a0langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? \u201c \"Oh, Maaf, aku kira kamu\u00a0sedang\u00a0menunggu seseorang. Jadi aku merasa tidak enak bila mengganggu\" \"Ah, sudahlah. Menyebalkan memang. Lain kali saya tidak mau lagi bertemu\u00a0dengan dia. Dua jam! Coba bayangkan, dua jam! Dan dia\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/618"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=618"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/618\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/619"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=618"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=618"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=618"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}