{"id":61,"date":"2008-03-14T15:42:44","date_gmt":"2008-03-14T08:42:44","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=61"},"modified":"2008-03-14T15:42:44","modified_gmt":"2008-03-14T08:42:44","slug":"kisah-cinta-x-y-z","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=61","title":{"rendered":"Kisah Cinta X Y Z"},"content":{"rendered":"<p align=\"justify\">Kali ini saya ingin bercerita tentang kisah 2 orang laki-laki. Laki &#8211; laki pertama kita sebut saja bernama X, sedangkan lelaki kedua kita sebut saja dengan nama Y. X dan Y merupakan teman satu kampus meskipun tidak terlalu akrab. X dan Y ternyata menyukai satu orang wanita yang kita sebut saja bernama Z.<\/p>\n<p align=\"justify\"><!--more--><br \/>\nDengan bermodalkan wajah dan penampilan yang lumayan, maka Y pun mengutarakan perasaan sukanya itu kepada Z. ( atau kata anak muda bilang &#8220;nembak&#8221;lah ). Maka diterimalah Y itu menjadi <i>pacar<\/i>nya Z. Lalu bagaimana dengan X ? Berbeda dengan Y, ternyata X memilih untuk tidak dulu mengatakan perasaan cintanya itu kepada Z. Maka jelaslah siapa yang untuk sementara memenangkan &#8220;persaingan&#8221; ini.<\/p>\n<p align=\"justify\">Dari sini sekilas kita bisa tahu tentang sifat X dan Y. Y merupakan lelaki yang pemberani dan benar &#8211; benar jantan mengungkapkan perasaannya kepada orang yang disukainya. Lalu bagaimana penilaian anda tentang X ? Pengecutkah X ? Banci-kah X? Tentu tidak adil bila kita menilai seseorang hanya sekilas saja, Seperti yang pepatah bilang <i>&#8220;Jangan Pernah Menilai Buku dari Sampulnya&#8221;.<\/i><\/p>\n<p align=\"justify\">Belakangan diketahui ternyata X memiliki pemikiran bahwa dia tidak ingin mencari pacar, tetapi lebih kepada &#8220;Calon Istri&#8221;. Karena itu dia merasa belum pantas untuk mengatakan perasaannya itu kepada Z. X ingin bahwa wanita yang dicintainya benar &#8211; benar bahagia lahir dan batin dalam hidupnya. Karena itulah, X ingin lebih berkosentrasi dalam kuliahnya dengan tujuan ilmu yang akan diperolehnya di bangku kuliah akan membuka kesempatan lebih luas untuk mendapat pekerjaan yang lebih layak. Dengan pekerjaan yang layak, setidaknya X telah memenuhi satu syarat sebagai lelaki yang bertanggung jawab terhadap istrinya kelak.<\/p>\n<p align=\"justify\">Baru kemudian setelah X mendapatkan pekerjaan yang layak, mungkin X akan berani menyatakan perasaan cintanya itu kepada siapapun orang yang telah ditakdirkan untuk dicintainya.<\/p>\n<p align=\"justify\">Namun kisah ini tidak serta merta mengklaim bahwa X lebih baik dari Y, ataupun sebaliknya. Dalam cerita ini saya membiarkan anda untuk menerka &#8211; nerka apa yang ada di dalam pikiran Y.<\/p>\n<p align=\"justify\">Apakah kisah ini secara kebetulan sama dengan yang anda alami ? Apakah anda memiliki posisi dan pemikiran yang sama dengan X? Apakah anda pernah menjadi Y ? Manakah yang lebih baik untuk Z ?X ataukah Y?<\/p>\n<p align=\"justify\">Ditunggu komentarnya \ud83d\ude42<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kali ini saya ingin bercerita tentang kisah 2 orang laki-laki. Laki &#8211; laki pertama kita sebut saja bernama X, sedangkan lelaki kedua kita sebut saja dengan nama Y. X dan Y merupakan teman satu kampus meskipun tidak terlalu akrab. X dan Y ternyata menyukai satu orang wanita yang kita sebut saja bernama Z.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[96,100,242,250,540],"jetpack-related-posts":[{"id":3854,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3854","url_meta":{"origin":61,"position":0},"title":"Kereta Terakhir","date":"4 Oktober 2017","format":false,"excerpt":"Jarum jam dinding di stasiun berputar pelan menuju angka Sebelas. Sebentar lagi kereta komuterline terakhir untuk malam ini tiba. Namun stasiun masih belum juga sepi,\u00a0 seakan masih enggan untuk beranjak tidur meski malam sudah larut. Menemani hilir mudik mereka\u00a0 yang bergegas pulang malam itu. Setiap penumpang yang menunggu kereta terakhir,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/a8b757e8-befe-45dc-8194-d92bee079548.jpg?fit=1200%2C900&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":1872,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1872","url_meta":{"origin":61,"position":1},"title":"Manusia Tanpa Hak","date":"27 November 2012","format":false,"excerpt":"Manusia \u2013 manusia modern berteriak-teriak memperjuangkan yang disebut kebebasan, memperjuangkan yang mereka sebut dengan hak asasi dan demokrasi. Meyakini seyakin \u2013 yakinnya bahwa ia sangat bebas untuk menentukan pilihannya dan nasibnya sendiri. Hingga kemudian aturan konstitusi dasar\u00a0 di-amandemen, dengan memperbanyak pasal \u2013 pasal tentang Hak Asasi Manusia. Lantas dengan dalih\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":2609,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2609","url_meta":{"origin":61,"position":2},"title":"Kisah Sebatang Coklat","date":"8 April 2015","format":false,"excerpt":"Perkenalkan, aku adalah sebatang coklat yang dijual di toko manisan di sebuah ujung jalan. Hampir setiap hari, toko ini ramai didatangi pengunjung yang\u00a0lalu - lalang, entah untuk untuk sekedar melihat - lihat ataupun\u00a0membeli sebatang - dua batang coklat dari tokoku. Namun ada pemandangan yang tak biasa hari ini,, sedari tadi\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/coklat3.jpg?fit=650%2C325&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/61"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=61"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/61\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=61"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=61"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=61"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}