{"id":601,"date":"2009-08-16T14:56:59","date_gmt":"2009-08-16T07:56:59","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=601"},"modified":"2009-08-16T14:56:59","modified_gmt":"2009-08-16T07:56:59","slug":"nasionalisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=601","title":{"rendered":"Nasionalisme.."},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><div class=\"jetpack-video-wrapper\"><span class=\"embed-youtube\" style=\"text-align:center; display: block;\"><iframe class='youtube-player' type='text\/html' width='708' height='429' src='https:\/\/www.youtube.com\/embed\/sc-Eko3Z4-I?version=3&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;autohide=2&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;wmode=transparent' allowfullscreen='true' style='border:0;'><\/iframe><\/span><\/div><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Jangan Tanya Apa Yang Negara Bisa Kasih Buat Elo..<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tanya apa yang Elo bisa kasih buat Negara<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kira &#8211; kira begitulah penggalan lagu rap bertajuk &#8220;Untuk Indonesia&#8221; yang dibawakan Pandji Pragiwaksono ( presenter &#8220;Kena Deh&#8221; ). Dan &#8211; memang lagu tersebut begitu mengena terhadap situasi dan kondisi bangsa Indonesia sekarang ini. Nasionalisme &#8211; mungkin itu yang sepertinya perlu didefinisikan ulang, apakah Nasionalisme itu??<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nasionalisme, menurut definisi saya adalah mencitai tanah air dan tumpah darahnya serta mengerahkan segala potensi yang dimilikinya untuk tanah air dan tumpah darah yang dicintainya itu. Cinta &#8211; yah mungkin itulah inti sari dari nasionalisme. Tidaklah cukup cinta hanya diucapkan dengan kata &#8211; kata. Cinta yang dimiliki haruslah dibenarkan dalam hati, lisan, dan juga perbuatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Telisik saja sepasang sedjoli yang sedang dimabuk asmara, tidak hanya berjuta kata asmara yang diucapkan namun setiap perbuatan yang dilakukan akan menjadi manisfestasi cinta itu sendiri, ketika sang kekasih dihina oleh orang lain, tentu dia akan marah &#8211; karena bagaimanapun menghina kekasihnya adalah sama dengan menghina dirinya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitupula Cinta kepada Negara. Cinta kepada negara tak cukup dilakukan dengan upacara bendera tiap hari senin atau pekik Merdeka yang sering diucapkan menjelang peringatan Kemerdekaan. Cinta kepada negara tak cukup pula dilakukan dengan melaksanakan berbagai lomba atau serangkaian acara seremonial &#8211; meskipun hal itu juga perlu. Cinta kepada negara juga tidak cukup dengan mengirimkan relawan <em>ganyang<\/em> Malaysia ke Blok Ambalat &#8211; meskipun hal tersebut juga tidaklah salah. Cinta kepada Negara, adalah mencintai semua elemen di dalam negara tersebut, mulai dari mencintai rakyatnya, pemerintahnya, parlemennya, budayanya, dan segala apapun yang ada di negaranya dan menjadikan hal tersebut sebagai potensi untuk kemajuan negara ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika ada pertanyaan, manakah yang lebih anda sukai &#8211; Ayam Goreng Amerika ataukah Ayam pop khas padang? Manakah yang lebih anda suka pelajari- Break Dance asal barat ataukah Tari Kecak asal Bali. Manakah yang anda lebih anda sukai musik Hip Hop ataukah Musik Dangdut? Manakah yang lebih anda suka tonton, film buatan Hollywood ataukan wayang kulit khas Jawa? Manakah yang lebih suka anda kenakan, sepatu kulit merek Import atau sepatu khas Tunggulangin Sidoarjo?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mencintai sebuah negeri berarti menyingkirkan pola pikir inferior yang sejak lama ditanamkan penjajah kepada kita. Sudah lama kita di doktrin oleh belanda bahwa bangsa kita adalah bangsa yang harus <em>nurut<\/em> pada dominasi bangsa lain. Meskipun kita telah merdeka selama 64 tahun, pola pikir tersebut &#8211; sadar atau tidak sadar masih menjadi racun didalam otak kita, kita sering tidak mempercayai potensi bangsa sendiri bahkan lebih mempercayai potensi bangsa asing. Padahal sudah berpuluh &#8211; puluh tahun putra &#8211; putri bangsa membuktikan bahwa kita tidak hanya bisa sejajar dengan bangsa lain namun mampu lebih unggul terhadap bangsa lain. Kita juga sering digiring pada pemikiran yang tidak <em>matching <\/em>dalam menyikapi suatu masalah. Sebut saja masalah Nuklir, masyarakat Indonesia akan bulat setuju terhadap program Nuklir Iran, namun menolak mentah &#8211; mentah program Nuklir yang telah dirintis lama oleh putra &#8211; putri terbaik bangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mencintai sebuah negeri berarti menyingkirkan semua ego yang ada di hati kita, entah itu golongan, ras, Partai, dan segala macam latar belakang dan motif pribadi untuk sebuah tujuan yang lebih besar lagi yakni membangun negeri ini. Apakah kita hanya akan marah dan berteriak di depan Televisi ketika saudara kita disiksa di negeri tetangga? ketika batas kedaulatan negara kita dilanggar? Ketika bangsa lain memandang remeh bangsa kita? Apakah permasalahan akan selesei hanya dengan saling umpat ? Lalu manakah aksi kita, kita mampu membuat perubahan untuk negeri ini, karena memang kita ditakdirkan untuk itu. Marilah bersama gandengkan tangan untuk Indonesia yang lebih baik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jangan Tanya Apa Yang Negara Bisa Kasih Buat Elo.. Tanya apa yang Elo bisa kasih buat Negara Kira &#8211; kira begitulah penggalan lagu rap bertajuk &#8220;Untuk Indonesia&#8221; yang dibawakan Pandji Pragiwaksono ( presenter &#8220;Kena Deh&#8221; ). Dan &#8211; memang lagu tersebut begitu mengena terhadap situasi dan kondisi bangsa Indonesia sekarang ini. Nasionalisme &#8211; mungkin itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":564,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[6,8,11],"tags":[35,79,96,199,229,235,326,353,362,378,386,440],"jetpack-related-posts":[{"id":716,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=716","url_meta":{"origin":601,"position":0},"title":"Berterimakasih Kepada Malaysia","date":"2 Oktober 2009","format":false,"excerpt":"Hari ini 2 Oktober 2009 berbeda dari biasanya,\u00a0 dalam rangka memperingati diakuinya batik sebagai warisan budaya dari Indonesia oleh UNESCO,\u00a0 setiap orang - tidak perduli tua muda, pria maupun wanita, mulai dari pegawai negeri ini hingga karyawan swasta mengenakan batik. Tidak biasa? ya, tidak biasa - karena kesan batik adalah\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2009\/10\/indonesia.jpg?fit=400%2C300&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":1424,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1424","url_meta":{"origin":601,"position":1},"title":"Nasionalisme Taklid \"Komodo\"","date":"2 November 2011","format":false,"excerpt":"Akhir - akhir ini marak, pemberitaan soal komodo yang masuk sebagai salah satu\u00a0nomine 7 Keajaiban Dunia Baru oleh New 7 (Seven) Wonders of Nature (atau saya singkat saja N7W)\u00a0\u00a0tentu membuat bahagia. Setidaknya, akan ada satu lagi kekayaan Indonesia yang mendapat pengakuan dari dunia internasional. Maka, ramai-ramai \u00a0publik figur, mulai dari\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/ruangtedy.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/comodo-island-11.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":667,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=667","url_meta":{"origin":601,"position":2},"title":"Malaysia dan Sikap Kita","date":"2 September 2009","format":false,"excerpt":"Gerakan Mahasiswa Hukum Jakarta (GMHJ) berencana \"menyegel\" Kedutaan Besar Malaysia di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (1\/9), sebaga unjuk protes terhadap prilaku negara tetanga itu kepada Indonesia belakangan ini. Begitulah kutipan dari Republika Online tentang rencana GMHJ ( Gerakan Mahasiswa Hukum Jakarta ) yang akan berunjuk rasa di\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/republika.co.id\/images\/news\/2009\/09\/20090901085552.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/601"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=601"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/601\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/564"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=601"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=601"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=601"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}