{"id":541,"date":"2009-07-01T15:08:08","date_gmt":"2009-07-01T08:08:08","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=541"},"modified":"2009-07-01T15:08:08","modified_gmt":"2009-07-01T08:08:08","slug":"sepotong-kisah-majnun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=541","title":{"rendered":"Sepotong Kisah Majnun"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2009\/07\/majnun_eavesdrops_large.jpg?resize=63%2C88\" alt=\"\" width=\"63\" height=\"88\" data-recalc-dims=\"1\" \/>Orang tua Laila melarang Majnun mendekati kemah mereka. Tetapi Majnun, yang dimabuk cinta, meminjam kulit domba dari seorang gembala di gurun, di mana suku Laila memancangkan kemahnya. Ia membungkukkan diri dan mengenakan kulit domba, lalu katanya pada gembala itu,<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dengan nama Tuhan, biarlah aku ikut merangkak di tengah domba-dombamu, kemudian bawalah kawanan domba itu melintasi kemah Laila, agar mudah-mudahan aku dapat mencium wewangiannya yang nikmat, dan dengan menyembunyikan diri dalam selubung kulit ini mudah-mudahan aku dapat mengusahakan sesuatu.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Gembala itu berbuat seperti yang dikehendaki Majnun, dan ketika mereka melintasi kemah Laila, Majnun melihat gadis itu, lalu pingsan. Si gembala kemudian menggotongnya dari kemah itu ke gurun, lalu menyiram mukanya dengan air untuk menyejukkan cintanya yang menyala.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di hari lain, Majnun ada bersama beberapa kawannya di gurun, dan salah seorang bertanya kepadanya,<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Bagaimana dapat seorang yang terhormat seperti engkau, pergi ke mana-mana dengan bertelanjang saja? Biarlah kucari pakaian untukmu jika kau ingin.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Majnun berkata,<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tak ada pakaian yang kupakai yang akan layak bagi kekasihku, maka bagiku tiada yang lebih baik dari tubuhku yang telanjang atau selembar kulit domba. Laila, bagiku, seperti <em>Ispand<\/em> penangkal pengaruh jahat. Aku tentulah akan senang memakai pakaian-pakaian sutera dan kain kencana, tetapi aku lebih suka dengan kulit domba ini, karena dengan memakai ini aku akan dapat melihat sepintas wajah Laila.&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitulah sepotong kisah Layla &#8211; Majnun yang tersohor di seluruh jagad raya. Dari penggalan kisah tersebut dapatlah kita mengetahui, memanglah benar, Bahwa <em>Cinta mestilah merobek-buangkan kehati-hatian. Cinta mengubah sikapmu. Mencinta adalah mengorbankan kehidupanmu yang biasa dan meninggalkan kesenangan-kesenanganmu yang menyolok mata.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang tua Laila melarang Majnun mendekati kemah mereka. Tetapi Majnun, yang dimabuk cinta, meminjam kulit domba dari seorang gembala di gurun, di mana suku Laila memancangkan kemahnya. Ia membungkukkan diri dan mengenakan kulit domba, lalu katanya pada gembala itu, &#8220;Dengan nama Tuhan, biarlah aku ikut merangkak di tengah domba-dombamu, kemudian bawalah kawanan domba itu melintasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1635,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[8],"tags":[96,412],"jetpack-related-posts":[{"id":3182,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3182","url_meta":{"origin":541,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 11)","date":"16 Mei 2015","format":false,"excerpt":"Pandangan mataku masih kulayangkan di jendela bus di sampingku. Mengharapkan ada sesuatu yang baru dapat kutemui saat itu. Mengamati toko-toko yang berjajar, kantor - kantor dan bank serta bangunan - bangunan lain di\u00a0pinggir jalan, juga kendaraan bermotor yang berebut jalan - seperti anak kecil yang berebut\u00a0kue. Mungkin memang mereka adalah\u00a0anak\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Novel\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?fit=1200%2C800&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":21,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=21","url_meta":{"origin":541,"position":1},"title":"Eksistensi Aneh","date":"8 Januari 2008","format":false,"excerpt":"Ketika langit mulai temaram, ketika sang malam mulai memakai jubah hitamnya. Mereka mengeluh pada hati apa itu cinta??Hati menjawab Cinta tidak pernah mengeluh, tiada sakit, dia adalah di dalam mata yang basah dan di dalam jiwa yang tulus. Namun terlepas dari semua itu lidahku kelu kelam dan telinga tiada mengerti\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":1863,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1863","url_meta":{"origin":541,"position":2},"title":"Perjalanan Hati","date":"21 Oktober 2012","format":false,"excerpt":"Seorang lelaki di fajar kehidupan\u00a0 duduk di atas balkon rumahnya yang sepi.\u00a0 Ia melihat langit ditaburi bintang \u2013 bintang gemerlapan diselimuti gelap langit malam. Rona wajahnya merefleksikan kisah \u2013 kisah hidupnya yang kemudian menjadi warna \u2013 warna dalam pikirannya Kemudian untuk sejenak, ia melihat gambar seorang gadis yang selalu tersimpan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/541"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=541"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/541\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}