{"id":481,"date":"2009-03-24T12:20:41","date_gmt":"2009-03-24T05:20:41","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=481"},"modified":"2009-03-24T12:20:41","modified_gmt":"2009-03-24T05:20:41","slug":"mengenal-diri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=481","title":{"rendered":"Mengenal Diri"},"content":{"rendered":"<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>&#8220;Barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya&#8221; <\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tulisan ini saya buka dengan sebuah pertanyaan. Siapa yang lebih dekat dengan kita? Sahabat karib kitakah? Saudarakah? Atau siapa? Sungguh, tiada yang lebih dekat dengan diri kita melainkan diri kita sendiri. Karena itulah mengenal diri sendiri menjadi sesuatu yang sangat penting dan esensial. Karena pengetahuan tentang diri adalah sebuah kunci untuk mengenal Tuhan. Jika kita tidak sanggup mengenali siapa diri kita, lantas bagaimana kita mampu mengenal Tuhan kita?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Lalu apa yang dimaksud dengan mengetahui diri sendiri? Mungkin yang baru kita ketahui hanyalah bentuk lahiriah seperti badan, wajah dan anggota-anggota badan lainnya. Sungguh, pengetahuan seperti itu tidak akan pernah bisa menjadi kunci pengetahuan tentang Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikian pula halnya jika pengetahuan kita hanyalah sekedar bahwa jika lapar maka kita makan, dan jika marah maka kita akan melampiaskan ke seseorang. Akankah kita dapatkan kemajuan-kemajuan lebih? Mengingat dalam hal ini tidak ada perbedaan yang berarti antara kita dengan binatang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang dimaksud pengetahuan diri yang sebenarnya disini adalah pemhaman tentang hal &#8211; hal berikut :<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siapakah kita? Dari mana kita datang? Kemana kita pergi, apa tujuan kita datang dan tinggal sebentar di sini? Di manakah kebahagiaan dan kesedihan kita yang sebenarnya berada? Sebagian sifat yang kita miliki adalah sifat-sifat binatang, sebagian yang lain adalah sifat-sifat setan dan selebihnya merupakan sifat-sifat malaikat. Kita mestinya menemukan mana di antara sifat-sifat ini yang pokok dan mana yang bukan. Sebelum kita mengetahui ini, adalah mustahil, menemukan letak kebahagiaan kita<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Oleh karena itu, jika kita tidak jauh berbeda dengan seekor hewan, marilah menyibukkan diri kita dengan pekerjaan-pekerjaan ini. Begitupula dengan Setan, ia selalu sibuk mengobarkan kejahatan, siasat dan kebohongan. Jika kita termasuk golongan ini, maka kerjakanlah pekerjaan ini. Sedangkan Malaikat-malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sama sekali bebas dari kualitas-kualitas hewan. Jika kita mempunyai sifat-sifat malaikat, maka berjuanglah untuk mencapai sifat-sifat awal kita agar bisa kita bisa mengenali dan merenungi Dia Yang Maha Tinggi, serta merdeka dari perbudakan nafsu dan amarah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain hal itu kita harus menemukan sebab-sebab mengapa kita diciptakan Allah dengan kedua insting hewan ini. Haruskah keduanya menundukkan dan memerangkap kita? Ataukah kita yang mesti menundukkan mereka? Dan menjadikan salah satu di antaranya sebagai kuda tunggangan serta yang lainnya sebagai senjata<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bersambung..<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya&#8221; Tulisan ini saya buka dengan sebuah pertanyaan. Siapa yang lebih dekat dengan kita? Sahabat karib kitakah? Saudarakah? Atau siapa? Sungguh, tiada yang lebih dekat dengan diri kita melainkan diri kita sendiri. Karena itulah mengenal diri sendiri menjadi sesuatu yang sangat penting dan esensial. Karena pengetahuan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1635,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[8],"tags":[207,461],"jetpack-related-posts":[{"id":1319,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1319","url_meta":{"origin":481,"position":0},"title":"Tidak Boleh Kecewa","date":"21 Juli 2011","format":false,"excerpt":"Memang, terkadang Tuhan memberikan cobaan yang hampir-hampir\u00a0 saja membuat kita putus asa dan hilang kesabaran. Cobaan yang diberikan terkadang membuat diri kita seolah olah ditinggalkan begitu saja oleh Tuhan. Haruslah diakui, setiap manusia dalam hidupnya pasti akan mengalami saat dimana dia kecewa dengan Tuhan. Sadar ataupun tidak, kita pernah mengalaminya.\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/ilustrasi_101122120315.jpg?fit=360%2C260&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":1878,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1878","url_meta":{"origin":481,"position":1},"title":"Bersungguh\u2013sungguh Tahun Baru","date":"1 Januari 2013","format":false,"excerpt":"Tahun 2012 telah dilewati, Satu lintasan orbit kehidupan telah dijalani. 12 orbit bulan,\u00a0 telah bersama kita saksikan. Semoga yang terlewat ini tidak lepas dari proses pembelajaran kita bersama, sehingga\u00a0 kini\u00a0 di tahun 2013, kita memulai sebuah pembelajaran baru, naik kelas, ke kelas yang baru. Karena bukankah kita menjalani hidup ini\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":1367,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1367","url_meta":{"origin":481,"position":2},"title":"Nation Character Building -  Bagian 2","date":"4 Oktober 2011","format":false,"excerpt":"Marilah kita tengok, bahwa sebenarnya bangsa ini memiliki falasafah yang sangat bagus sekali, Sila Pertama dalam Pancasila berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Falsafah tersebut menjiwai semuanya. Kalau diterjemahkan dalam prespektif Islam artinya \u00a0Lailahaillah, kalimat ini harusnya tidak hanya menjadi ucapan saja namun juga harus menjelma menjadi pergerakan ataupun pemikiran. Jadi\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/481"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=481"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/481\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=481"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=481"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=481"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}