{"id":4031,"date":"2018-05-30T00:10:21","date_gmt":"2018-05-29T16:10:21","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=4031"},"modified":"2018-06-15T03:13:40","modified_gmt":"2018-06-14T19:13:40","slug":"meramadhankan-diri-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=4031","title":{"rendered":"Meramadhankan Diri"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Bulan Ramadan hampir separuhnya dilewati. Milyaran hamba Allah berpuasa di muka bumi. Milyaran kaum muslim berislam (menyerahkan diri) untuk menyublimkan diri di bulan ini. Menghilangkan kotoran &#8211; kotoran yang selama setahun penuh melekat di hati. Menjadi pemisah antara manusia dengan sejatinya azali.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua kita sepakat menyebut Bulan Ramadhan sebagai bulan suci, tentu tanpa hendak menyebut bulan selain ramadhan tidak suci. Karena kita semua <em>mahfum<\/em>, suci tidak suci sebuah ruang waktu tidak bergantung pada ruang dan waktu itu melainkan bersifat subjektif bergantung pada pelakunya, manusia, khalifatullah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesucian adalah sesuatu yang manusia anggap sakral, dan dihormati. Sesuatu yang membuat manusia mengalami transenden dan menjumpai misteri di jantung eksistensi segala sesuatu. Manusia cenderung mencari pengalaman semacam ini, pengalaman yang membuat\u00a0 takjub, takut, bersemangat, damai, cemas dan mendorong mereka untuk melakukan aktivitas moral. Sebuah hal yang dirasakan dari kedalam diri manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitu kita terpisah dari rahim ibu kita, ada perasaan keterasingan yang silih berganti menemui perjalanan hidup kita dalam berbagai bentuk. Karena itulah kita memandang hidup tidak seharusnya seperti ini. Berbekal rasa keterpisahan itu, manusia mengalami kerinduan, sehingga dengannya ia mencari muasal dari adanya. Itulah yang membuatnya tertarik pada kesakralan dan kesucian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam dimensi ruang, manusia akan menganggap sakral terhadap sebuah tempat yang mengingatkan\u00a0ia akan peristiwa penting dalam hidupnya. Itulah mengapa seseorang yang dilanda patah hati terkadang menganggap tempat pertama bertemu kekasihnya adalah sebuah tempat yang &#8220;sakral&#8221;, karena tempat itu memiliki nilai ruhani dan memiliki makna yang tidak bisa dan belum tentu orang lain bisa lihat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pun, dalam waktu. Itulah mengapa setiap tahun, kita selalu bersuka cita merayakan tanggal kelahiran. Karena tanggal kelahiran adalah sesuatu yang menurut manusia sebagai hal yang sakral, bermakna, dan memiliki nilai historis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ramadhan adalah suci, karena kita, umat islam yang menyucikannya, dengan kerelaan untuk berlapar dan berhaus sepanjang hari dan berjuang untuk men-tidakkan segala kenikmatan dan untuk <em>nyicil<\/em> hutang cinta kasih\u00a0 kepada Allah.<\/p>\n<blockquote><p>Puasa itu jalan sunyi. Tersedia makanan tapi tak<br \/>\ndimakan. Tersedia kursi tapi tak diduduki. Tersedia<br \/>\ntanah tapi tak dipagari.<br \/>\nPuasa itu jalan sunyi. Menggambar tapi tak terlihat.<br \/>\nBernyanyi tapi tak terdengar. Menangis tapi tak<br \/>\ndiperhatikan.<br \/>\nPuasa itu jalan sunyi. Menjadi tanpa eksistensi. Pergi<br \/>\nmenuju kembali. Hadir tapi tak dikenali. &#8220;Menuju Makan<br \/>\nSejati&#8221;<\/p>\n<p>Emha Ainun Nadjib<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita berharap setelah sebulan penuh, menjalani nenepi, laku sunyi. Kita berhasil meramadhankan diri. Sedemikian hingga, kesadaran yang kita jalani setiap hari, menit, detik, nantinya, adalah kesadaran Ramadhan. Kesadaran menahan diri. Kesadaran berpuasa. Sehingga kita sanggup memasuki kesucian, dan kesakralan di bulan apapun, siang ataupun malam.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bulan Ramadan hampir separuhnya dilewati. Milyaran hamba Allah berpuasa di muka bumi. Milyaran kaum muslim berislam (menyerahkan diri) untuk menyublimkan diri di bulan ini. Menghilangkan kotoran &#8211; kotoran yang selama setahun penuh melekat di hati. Menjadi pemisah antara manusia dengan sejatinya azali.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[456],"jetpack-related-posts":[{"id":3292,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3292","url_meta":{"origin":4031,"position":0},"title":"Meramadhankan Diri","date":"13 Juli 2015","format":false,"excerpt":"Ramadhan penuh\u00a0keharuan, kesunyian, kotemplasi, perenungan. Ramadhan membuat kita menepi sejenak,\u00a0mengkhilafi setiap kesalahan, memperbarui setiap sel rohani kita, yang menua, melapuk oleh kotoran. Berlapar - lapar sebulan penuh, menghidupkan sepertiga malam, dalam hubungan intim denganNya, mengembalikan hakikat\u00a0kehambaan pada Tuhan. Belajar kembali tentang ketulusan dari puasa. Menyadari kembali bahwa sisi terbaik dari\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/A_Dark_Starry_Night_Wallpaper_by_s3vendays.jpg?fit=960%2C768&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2037,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2037","url_meta":{"origin":4031,"position":1},"title":"Ramadhan Tak Berakhir, Karena Hadirnya Sepanjang Zaman","date":"7 Agustus 2013","format":false,"excerpt":"\u201cDi malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya.\u201d Demikian sebuah hadist Rasulullah Muhammad s.a.w tentang akhir bulan ramadhan. Para malaikat bersedih akan berlalunya Ramadhan, kita yang manusia biasa \u00a0-- bisa jadi ada yang bersedih, ada juga\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3737,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3737","url_meta":{"origin":4031,"position":2},"title":"Kini, (Semoga) Ramadhan Memasuki Kita","date":"25 Juni 2017","format":false,"excerpt":"Takbir berkumandang bersahutan memenuhi langit malam ini. Sebagai tanda masuknya bulan syawal. Dan berakhirnya Bulan Ramadhan. Orang - orang berpawai, berkendaraan, tumpah ruah di jalanan, merayakan sebuah kemenangan. Sementara saya masih menyepi di kamar sendiri, merenungi, tentang \u00a0satu bulan puasa yang telah dilakoni. Apakah saya termasuk golongan orang - orang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/1600992809.jpg?fit=750%2C500&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4031"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4031"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4031\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4038,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4031\/revisions\/4038"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4031"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4031"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4031"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}