{"id":3950,"date":"2017-12-05T07:03:37","date_gmt":"2017-12-04T23:03:37","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3950"},"modified":"2017-12-05T07:07:01","modified_gmt":"2017-12-04T23:07:01","slug":"mudik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3950","title":{"rendered":"Semua Akan Kembali ke Tempat Dia Berasal"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Postingan<\/em> ini ditulis di hari kedua saya mudik di kampung halaman. Ya, Kediri. ini adalah kali kesekian saya kembali pulang ke sebuah kota kecil, tempat\u00a0dimana saya dulu dilahirkan.\u00a0<em>Mumpung<\/em> hari jumat libur dan\u00a0<em>long weekend,<\/em> maka saya telah menyiapkan jauh &#8211; jauh hari membeli tiket pergi &#8211; pulang Jakarta &#8211; kediri. Perjalanan dari Jakarta ke kediri menggunakan kereta api kelas eksekutif membutuhkan waktu kurang lebih 12 jam. Bagi sebagian orang yang pernah saya ceritakan, lama perjanan saya pulang kampung ini, 12 jam perjalanan darat disebutnya lama. Lama karena dengan 12 jam itu kita sudah bisa sampai di benua eropa menggunakan pesawat terbang. Lama dikarenakan dengan 12 jam itu mungkin bisa diseleseikan setidaknya 12 episode serial drama korea, atau mungkin dengan 12 jam itu cukup bagi kita untuk menyelamatkan dunia?<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi masalah lama, dan tidak itu menjadi pegangan yang tidak nisbi. Ia relatif. Tergantung subjek yang sedang melakukan perjalanan. Atau dengan siapa subjek itu melakukan perjalanan. Beberapa jam bagi satu orang bisa jadi teramat lama, dan mungkin bisa menjadi singkat bagi beberapa yang lain. Waktu bisa dirasakan memanjang ataupun menyusut. Jika dalam kondisi yang begitu sedih, waktu bisa terasa amat panjang. Namun jika perasaan kita sedang bahagia, waktu bisa teramat pendek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi ya bukan itu yang ingin sedang saya tulis, sebagian orang masih heran mengapa saya mengambil moda transportasi kereta, bukan pesawat misalnya. Meskipun kini, harga keduanya relatif bersaing. Ada beberapa alasan yang saya miliki, yang pertama, transportasi menggunakan kereta api lebih efektif, karena kereta bisa\u00a0 langsung\u00a0<em>njujug\u00a0<\/em>tiba di Stasiun Kediri. Sedangkan kalau harus menumpang pesawat terbang, harus turun Bandara Juanda, dan masih harus nyambung naik Bus di terminal\u00a0<em>bungur<\/em>, nambah waktu perjalanan 4 jam. Alasan kedua, saya orang\u00a0<em>ndeso,\u00a0<\/em>dan agak selalu parno jika harus berurusan dengan pesawat terbang <img src=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-includes\/images\/smilies\/mrgreen.png?w=708&#038;ssl=1\" alt=\":mrgreen:\" class=\"wp-smiley\" style=\"height: 1em; max-height: 1em;\" data-recalc-dims=\"1\" \/> tidak pernah merasa nyaman di dalam pesawat, karena pikiran saya selalu lalu lalang kemana &#8211; mana. Jika\u00a0naik mobil kemudian mogok, kita \u2018bisa turun, kemudian rame-rame\u00a0<em>ngedorong,\u00a0<\/em>atau dibawa ke bengkel.\u00a0Tapi kalau naik pesawat?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang, hidup mati ada di tangan Allah, tapi saya ini orang dengan iman yang lemah. Ada beribu \u2013 ribu pikiran mengahantui ketika saya di dalam kabin. Selalu ada potensi kemungkinan untuk tidak selamat dan tidak kembali utuh di bumi. Karena itulah, senyaman apapun kabin, sengantuk apapun, sulit bagi saya untuk bisa tidur, terlebih di detik \u2013 detik ketika pilot mengumumkan untuk\u00a0<em>take off<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>landing<\/em>. Ya, lebih baik\u00a0<em>banyakin<\/em>\u00a0berdoa agar pesawat dan seluruh awaknya selamat sampai ke bumi\u00a0<em>heehe&#8230;<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ya semua itu kembali kepada pilihan sebenarnya, orang boleh menggunakan moda transportasi apa saja, selama dia dengan moda itu bisa sampai di tempat tujuan. Dalam islam ada terminologi\u00a0<em>ghoyah<\/em> dan <em>wasilah<\/em>. Ghoyah itu tujuan, sedangkan wasilah berarti jalan. Maka sering kita mendengar nasehat dari orang &#8211; orang tua bahwa apa saja yang sedang kita alami sekarang ini, jadikan sebagai <em>wasilah<\/em> (jalan) untuk sampai kepada yang ingin manusia\u00a0 tuju. Apa lagi jika bukan Allah. Apa saja profesi yang ditekuni selalu temukan titik persambungannya dengan Allah. Maka semua profesi yang dijalani akan menjadi dzkir dan ibadah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap orang perlu kembali. Perlu pulang, pun saya. Kembali pulang itu mencari kembali jati diri sebagai manusia. Jika di Jakarta, manusia terlalu diriuhkan dengan warna &#8211; warna yang tidak sejati, oleh suara-suara yang sementara. Di kampung halaman, kita berusaha kembali menemukan warna sejati kita, suara dari kedalaman hati. Menemui Ibu, bukanlah sekedar menemui manusia mulia yang mempertaruhkan hidup matinya untuk melahirkan kita di dunia. Bukan sekedar menemui sosok bayangan Rabb, yang mengasuh dan mengajari kita. Namun ini tentang usaha kita untuk menyadari akan\u00a0<em>sangkan\u00a0<\/em><em>paran,<\/em> tentang dari mana kita berasal, dan kepada siapa kita kembali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sehebat &#8211; hebatnya manusia, dia bukanlah apa &#8211; apa tanpa Ibu yang membesarkannya. Tanpa kasih perempuan mulia yang\u00a0 di tiap malamnya, selalu terbangun mendoakan keselamatan anak &#8211; anaknya di\u00a0 rantau. Maka kembali pulang mengunjungi ibu, menurut hemat saya, adalah pernyataan sikap dan kritik kepada dunia modern yang\u00a0 semakin menelantarkan sosok Ibu, dan mengalienisasikan perannya dalam kehidupan. Ia adalah penegasan posisi bahwa <em>we are human being not human resource<\/em>, Kita adalah manusia, bukanlah mesin\u00a0 produksi yang diharuskan bekerja untuk mencari apa &#8211; apa yang tidak pernah mampu dibawa hingga mati. Pulang ke kampung halaman tidak sekedar menyetuhkan kaki di tempat dimana kita dulu dilahirkan, tapi ia adalah sebuah kesaksian, bahwa kemanapun kita pergi, pasti akan kembali. <em>Innalillahi wa inailahi Rajiun<\/em>. Semua berasal akan kembali ke tempat dimana ia berasal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Postingan ini ditulis di hari kedua saya mudik di kampung halaman. Ya, Kediri. ini adalah kali kesekian saya kembali pulang ke sebuah kota kecil, tempat\u00a0dimana saya dulu dilahirkan.\u00a0Mumpung hari jumat libur dan\u00a0long weekend, maka saya telah menyiapkan jauh &#8211; jauh hari membeli tiket pergi &#8211; pulang Jakarta &#8211; kediri. Perjalanan dari Jakarta ke kediri menggunakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[],"jetpack-related-posts":[{"id":4054,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=4054","url_meta":{"origin":3950,"position":0},"title":"Mudiknya Pak Imron","date":"15 Juni 2018","format":false,"excerpt":"Pak Imron, sebut saja namanya demikian- karena saya juga lupa melihat tanda pengenal yang biasanya terpasang di setiap taksi. Berprofesi sebagai pengemudi taksi yang, aku tumpangi di perjalanan menuju stasiun Gambir, senin lalu. Dari percakapan kami sepanjang perjalanan, saya tahu kalo pak Imron berasal dari Padang, Sumatera Barat. Namun pada\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":1919,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1919","url_meta":{"origin":3950,"position":1},"title":"Seribu Cemas di Dalam Kabin","date":"14 April 2013","format":false,"excerpt":"Kecelakaan Lion Air yang terjadi kemarin, mengagetkan kita semua, begitupun saya dan juga mereka yang sering naik pesawat untuk berpergian. Namun bukan kecelakaan tersebut yang ingin saya ceritakan, tapi perasaan dan pengalaman saya ketika berpergian naik pesawat terbang. Sudah hampir dua tahun ini saya sering berpergian dengan pesawat terbang, entah\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2013\/04\/4e9acab0c5281f4450bff4d984451727.jpg?fit=700%2C385&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":155,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=155","url_meta":{"origin":3950,"position":2},"title":"Liburan","date":"15 Juli 2008","format":false,"excerpt":"Sepertinya ngeblog saya yang ini berbeda dari yang biasanya, kenapa? karena ngeblog saya yang ini bukan di lab. komp kampus seperti biasa, namun di warnet kampung halaman saya, Kediri yang tercinta. :mrgreen: Yups kali ini disini saya sedang menjalani liburan panjang setelah sekian lama menjalani rutinitas yang cukup menguras tenaga\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3950"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3950"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3950\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3953,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3950\/revisions\/3953"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3950"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3950"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3950"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}