{"id":3930,"date":"2017-11-26T22:40:55","date_gmt":"2017-11-26T14:40:55","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3930"},"modified":"2017-11-26T23:14:55","modified_gmt":"2017-11-26T15:14:55","slug":"sepuluh-tahun-bersitensis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3930","title":{"rendered":"Sepuluh Tahun Bersitensis"},"content":{"rendered":"<blockquote>\n<p class=\"quoteText\" style=\"text-align: justify;\">\u201cOrang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.\u201d<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya membuka tulisan saya dengan kutipan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia, asal Blora yang dilahirkan 92 tahun silam. Meskipun jasad mas pram (panggilan akrab Pramoedya Ananta Toer) telah mengalami transformasi menyatu\u00a0 ke alam, namun karya dan pemikiran yang ditulisnya masih bisa dibaca hingga kini.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pesan yang kurang lebih sama dengan nasehat Sahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib r.a., yang dijuluki\u00a0\u00a0<em>babun Ilmi<\/em>, (Pintu gerbangnya ilmu pengetahuan)<\/p>\n<blockquote><p>Ilmu ibarat binatang buruan, maka Ikatlah\u00a0 dengan menuliskannya.<\/p><\/blockquote>\n<p><strong>Membaca, berilmu<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka tradisi dan kemampuan menulis pada suatu masyarakat, menjadi indikator penting peradaban pengetahuan masyarakat itu. Menulis adalah konsekuensi lebih lanjut dari tingkat literasi seseorang, yaitu\u00a0 membaca, yang merupakan ayat pertama perintah yang Allah turunkan kepada manusia,<\/p>\n<blockquote><p>Iqra, bismirabbika ladzi khalaq<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bacalah, dengan menyebut nama <em>Rabb<\/em>-mu yang menciptakan. Kewajiban membaca tidaklah berdiri sendiri, ia haruslah dengan disertai dengan menyebut nama\u00a0<span data-offset-key=\"cafgj-0-0\" data-reactid=\".1j7.1.0.1.0.0.$editor1.0.0.$cafgj.0:$cafgj-0-0\">Rabb\u00a0 yang telah menciptakan, yang telah menuliskan ayat-ayatnya tidak hanya pada Al-Quran, namun juga seluruh alam semesta ini (<em>universe<\/em>,\u00a0 jika <em>verse<\/em> diterjemahkan sebagai ayat, maka <em>universe<\/em> adalah kesatuan dari ayat-ayatNya). Allah menyebut diri-Nya sebagai <em>Rabbun<\/em> (Sang Maha Pengasuh), yang <em>ngemong,\u00a0<\/em> dan\u00a0mendidik manusia dalam melakukan proses ber-iqra. Dikemudian hari muncul istilah <em>tarbiyah<\/em> yang berarti pendidikan, turunan kata dari rabbun.<\/span><\/p>\n<blockquote><p>khalaqal insanna min Alaq<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa proses <em>Iqra<\/em>, haruslah disertai dengan <em>bismirabbika<\/em>? Karena\u00a0<em>Rabb<\/em> yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bagaimana mungkin manusia mampu membaca banyak hal yang lain sementara gagal memahami diri dan hakikat keberadaan dirinya. <em>Rabb<\/em>lah yang hakikatnya mengajarkan manusia dengan perantara kalam, mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya.<\/p>\n<p><strong>Menulis, berdialektika<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Usia manusia di alam ini teramat pendek, maka dengan membaca kemudian menuliskannya adalah bekerja untuk keabadian, sebagaimana disebutkan dalam awal tulisan ini tidaklah berlebihan,\u00a0 karena apa yang telah dituliskan oleh seseorang bisa menjadi bahan pustaka orang yang hidup setelahnya. Dan berkat adanya pemikiran yang dituliskan itu, ia bisa menjadi bahan dialektika bagi pembacanya. Sebagaimana dialektika Hegel yang didasarkan pada\u00a0<em>absolute idee, <\/em>dimana<em>\u00a0<\/em>pergerakan tanpa henti dari tesis dan antitesis menghasilkan sebuah sintesis terus menerus<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang selain Tuhan tidak ada yang sempurna, karena itulah manusia harus menulis, karena tulisannya akan diuji oleh waktu. Ia akan menjadi tesis ataupun antesis dari tulisan lain yang sedemikian hingga menghasilkan sebuah revisi sintesis yang lebih baik. Apa yang menurut kita benar sekarang ini, boleh jadi akan dibatalkan oleh yang lebih baik di keesokan harinya. Dan akan dibatalkan lusa oleh yang lebih sempurna, begitulah seterusnya. <em>Ad infinitum.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tempat manapun dan di tempo apa pun gerakan tesis\u00a0 dan antitesis akan menghasilkan sintesis. Perubahan akan terus terjadi selama manusia ada. Perbaikan bukanlah sesuatu yang kosong, namun sesuatu yang terus diperbarui dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari tahun 3200 SM silam dimana aksara bangsa kuno Mesopotamia ditemukan hingga kini. Salah satu\u00a0 yang bisa kita urun lakukan untuk menjalani evolusi perubahan peradaban manusia\u00a0 salah satunya adalah dengan menyumbangkan pikiran kita dalam wujud tulisan. Meskipun itu satu kalimat, satu paragraf, satu halaman. Karena apapun yang tampak besar &#8211; besar selalu dimulai dari yang kecil &#8211; kecil. Perjalanan mengelilingi dunia selalu dimulai dengan satu langkah kaki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentu omongan saya sudah pasti akan terlalu muluk. Jika sepuluh tahun blog ini bisa memberikan sumbangan tesis dan antitesis bagi perubahan sintesis peradaban masyarakat yang kita tinggali sekarang. Tapi tentu pas jika yang dimaksud tesis dan antitesis itu ada pada skala diri pribadi saya sendiri, pergulatan pemikiran batin saya yang sedang belajar berproses menjadi lebih baik di keesokan harinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semoga.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cOrang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.\u201d Saya membuka tulisan saya dengan kutipan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia, asal Blora yang dilahirkan 92 tahun silam. Meskipun jasad mas pram (panggilan akrab Pramoedya Ananta Toer) telah mengalami transformasi menyatu\u00a0 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"jetpack-related-posts":[{"id":2396,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2396","url_meta":{"origin":3930,"position":0},"title":"Tujuh Tahun Merangkai Kata","date":"23 November 2014","format":false,"excerpt":"Tujuh tahun yang lalu,-- kala itu masih kuliah semester 1, saat pertama kali saya mencoba menulis di blog ini*. Sempat ada kekuatiran karena saya bukanlah seseorang dengan bakat menyusun kata - kata agar menjadi menarik untuk dibaca, -- dan mungkin hingga sekarang :D . Tiada bakat sama sekali, nekat untuk\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3596,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3596","url_meta":{"origin":3930,"position":1},"title":"Mengikat Ilmu","date":"8 Mei 2016","format":false,"excerpt":"Saya membuat tulisan\u00a0ini di kampung halaman, di kediri. Hari ini dan beberapa hari kedepan, setidaknya bagi saya, masih merupakan\u00a0hari libur,\u00a0meskipun besok terutama bagi banyak\u00a0orang sudah merupakan hari kerja,\u00a0hari dimana mereka memulai\u00a0\u00a0rutinitas. Sedangkan saya, baru mendapatkan\u00a0tiket kereta di hari selasa, jadi mau gak mau harus ngambil cuti, alasan yang dibuat -\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/13087703_10207233184401859_960125481567103708_n.jpg?fit=499%2C280&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3603,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3603","url_meta":{"origin":3930,"position":2},"title":"Mengalami Hidup","date":"9 Mei 2016","format":false,"excerpt":"Masih di hari (me)libur(kan diri), sehingga\u00a0agak\u00a0kurang kerjaan\u00a0 oleh karena itu\u00a0tumben - tumbenan bisa posting seminggu hingga sampai beberapa kali. Di kampung halaman memang tempat yang nyaman untuk beristirahat sejenak dari kumuh udara kotor ibukota. Sekaligus tempat yang tepat untuk menata hati kembali sebelum memulai rutintas lagi. Meskipun\u00a0kalo ngomongin kampung halaman\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3930"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3930"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3930\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3937,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3930\/revisions\/3937"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3930"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3930"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3930"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}