{"id":3854,"date":"2017-10-04T16:48:45","date_gmt":"2017-10-04T08:48:45","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3854"},"modified":"2017-10-04T22:50:01","modified_gmt":"2017-10-04T14:50:01","slug":"kereta-terakhir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3854","title":{"rendered":"Kereta Terakhir"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Jarum jam dinding di stasiun berputar pelan menuju angka Sebelas. Sebentar lagi kereta komuterline terakhir untuk malam ini tiba. Namun stasiun masih belum juga sepi,\u00a0 seakan masih enggan untuk beranjak tidur meski malam sudah larut. Menemani hilir mudik mereka\u00a0 yang bergegas pulang malam itu. Setiap penumpang yang menunggu kereta terakhir, sudah pasti dalam kondisi kelelahan, setelah seharian berjuang menjalani hidupnya yang beraneka ragam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masing &#8211; masing mereka pasti memiliki kisah dan\u00a0 cerita yang tidak pernah diketahui oleh orang lain. Kita memang tidak pernah mampu untuk mengetahuinya selain menumpuk prasangka &#8211; prasangka. Setiap mereka adalah tokoh utama dalam sebuah drama panjang yang sedang dijalani. Dengan masalah dan kesulitan yang silih berganti berupaya mendewasakan masing &#8211; masing dari mereka.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diantaranya ada yang berprofesi sebagai karyawan <em>kantoran<\/em> yang malam ini harus lembur\u00a0 karena mengejar target yang tidak masuk akal dari si bos. Ada juga petugas <em>cleaning service<\/em> yang baru bisa pulang setelah kantor di tempatnya berkerja tutup. Ia harus bergegas pulang dan beristirahat untuk kemudian harus datang keesokan pagi harinya. Ada juga penjaga toko di pusat perbelanjaan, dengan mata yang nampak mengantuk namun masih harus kuat berdiri dengan dengan sesekali memainkan gem di gawai dalam genggamannya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diantara sekian banyak orang yang menunggu kereta yang menjemputnya pulang, saya mengenali seseorang yang sedang duduk di di peron stasiun. Tanaka namanya, namun raut mukanya terlihat gelisah. Biasanya ia tidak pulang selarut ini.\u00a0 Ia harus rela lembur, dengan sedikit kompensasi, guna menyeleseikan tenggat pekerjaan yang harus selesei malam itu. Apakah itu yang membuatnya segelisah ini?\u00a0 Namun sepertinya\u00a0 bukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah mungkin masalah cinta? Ya, mungkin saja. Apalagi yang membuat seorang pemuda menjadi gelisah selain masalah satu itu. Memang ia\u00a0 bukan remaja lagi.\u00a0Ya tapi galau tidak hanya milik remaja. Ia juga milik segala usia. Ia adalah pelengkap penderita jika kau mengalami masalah asmara tidak perduli berapa tahun kelahiranmu. Cinta selalu membuat seseorang menjadi kanak &#8211; kanak.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3856\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3856\" data-orig-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/a8b757e8-befe-45dc-8194-d92bee079548.jpg?fit=1280%2C960&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1280,960\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"a8b757e8-befe-45dc-8194-d92bee079548\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/a8b757e8-befe-45dc-8194-d92bee079548.jpg?fit=300%2C225&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/a8b757e8-befe-45dc-8194-d92bee079548.jpg?fit=708%2C531&amp;ssl=1\" class=\"aligncenter wp-image-3856 size-large\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/a8b757e8-befe-45dc-8194-d92bee079548.jpg?resize=708%2C531\" alt=\"\" width=\"708\" height=\"531\" srcset=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/a8b757e8-befe-45dc-8194-d92bee079548.jpg?resize=1024%2C768&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/a8b757e8-befe-45dc-8194-d92bee079548.jpg?resize=300%2C225&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/a8b757e8-befe-45dc-8194-d92bee079548.jpg?resize=768%2C576&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/a8b757e8-befe-45dc-8194-d92bee079548.jpg?w=1280&amp;ssl=1 1280w\" sizes=\"(max-width: 708px) 100vw, 708px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siapapun yang memperhatikannya dengan seksama akan menyadari\u00a0kegelisahan yang menggangu pikirannya, sesekali ia melihat gawai yang tersimpan di sakunya. Berkali &#8211; kali melihat\u00a0 WhatsApp, sepertinya pemuda kita ini, menuggu balasan pesan dari seorang perempuan. Mungkin, ia gelisah karena pesan WhatsApp, yang sudah berstatus <em>delivered<\/em> itu\u00a0 tak kunjung dibaca, bahkan dibalas, meskipun perempuan itu berkali &#8211; kali menunjukan catatan jika dia sedang <em>online.<\/em>\u00a0&#8220;Mungkin dia sibuk? Ah tidak ada yang sebenarnya benar &#8211; benar sibuk, masalahnya hanya pada kita berada di prioritas berapa. Mungkin saja dia lagi\u00a0<em>chatting\u00a0<\/em> dengan\u00a0<em> cowok <\/em>lain<em>? <\/em>Tunangannya barangkali? Atau gebetan baru yang lebih ganteng, baik, bertanggung jawab, sholeh, ciri khas idaman perempuan jaman sekarang&#8221;. Gumam hatinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanaka, anak dari keluarga biasa saja, dia baik memang, seorang pekerja keras. menjadi penjaga toko hingga sekarang, karyawan kantoran, pernah ia lakoni. Namun mengenai apakah dia laki &#8211; laki bertanggung jawab atau tidak, dia harus menikah terlebih dahulu untuk membuktikannya. Mengenai kadar kesholehan, hanya Tuhan yang bisa menilai, bukan? Apesnya, pemuda seperti ini pastilah luput di pandangan kaum hawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang <em>sih\u00a0<\/em>Di dalam dunia teknologi informasi yang serba canggih sekarang.\u00a0 tanda\u00a0terkirim namun belum dibalas, bahkan dibaca meskipun si tujuan sedang online, menimbulkan perasaan terabaikan bagi si pengirim. Terlebih jika pengirim memiliki harapan lebih terhadap percakapan online yang sedang dibangun. Merasa diabaikan memang tidak enak.\u00a0Elie Wiesel, seorang pemikir dan peraih Nobel Perdamaian, pernah mengatakan: \u201cLawannya cinta bukanlah benci, melainkan perasaan diabaikan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siapa sih perempuan yang sedang membuatnya segelisah itu? Saya sendiri juga belum mengenalnya. Dia begitu merahasiakan masalah satu itu. Tapi tentu pastilah ia istimewa, hingga membuat pemuda kita, seperti itu. Memang\u00a0<em>sih,<\/em>\u00a0perempuan itu jenis cipataan Tuhan yang rumit.\u00a0 Sebegitu rumitnya, sampai &#8211; sampai Ibnu Arabi, seorang sufi, pernah berkata bahwa &#8220;perempuan adalah bayang &#8211; bayang Tuhan di muka bumi&#8221;. Mungkin karena perasaan mereka tidak pernah terjangkau oleh laki &#8211; laki. Terlebih oleh pria seperti Tanaka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi jangan dipikir hanya laki &#8211; laki saja yang menderita karena masalah cinta.\u00a0perempuan juga tak kalah bermasalahnya dengan ini. Entah hukum kodrat darimana, bahwa perempuan dilarang untuk bersikap agresif kepada laki &#8211; laki. Dia harus menunggu hingga si lelaki\u00a0 menyadari perasaannya. Perempuan hanya bisa merindu, dan menyimpan rasa itu, sampai Tuhan menggerakan kaki &#8211; kaki sang lelaki idaman untuk mengetuk pintu rumahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanaka bukan tidak ingin mendatangi rumah perempuan yang hatinya mencintainya itu. Ia pernah mengutarakan keinginan tersebut, namun sepertinya si gadis belum cukup siap, atau belum cukup mengenal dan mencintai Tanaka. Atau mungkin ia sedang meperbandingkannya dengan lelaki yang lain. Hanya Tuhan yang tahu misteri macam apa dibalik ini semua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanaka begitu lugunya mengenai wanita, dan di usianya yang sekarang tetap saja tidak begitu pandai menghadapi masalah semacam ini. Ia belum menyadari bahwa terutama yang lebih penting\u00a0 dari mencintai adalah kesiapan untuk merelakannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terlalu mencintai segala sesuatu memang tidak pernah baik. seperti menggegam pasir. Terlalu erat kau mengenggamnya, maka semakin ia terlepas. Di dalam rasa cinta yang menggebu itu,\u00a0 haruslah tetap disiapkan kemungkinan untuk sanggup merasa kehilangan. Karena\u00a0<em>toh<\/em> pada akhirnya, yang bisa dimiliki manusia hanyalah kehilangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang\u00a0<em>sih<\/em> kehilangan itu\u00a0 menyakitkan, terlebih jika itu adalah orang yang begitu dicintai. Mungkin seperti itulah\u00a0 yang\u00a0 juga dirasakan oleh inti- inti \u00a0atom\u00a0saat menemukan\u00a0 proton-proton penyusun intinya terlepas. Kehilangan proton dalam suatu unsur\u00a0akan mengakibatkan nomer atom unsur itu berubah dan itu sama dengan ia telah \u00a0menjadi unsur yang lain. Sebagaimana Polonium-210 yang berubah menjadi Timbal, karena kehilangan 2 proton dari dalam intinya.\u201c<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasa kehilangan akan membuat siapa yang mengalaminya, layaknya Polonium-210, akan bertransformasi menjadi sesuatu yang lain. Mungkin itu\u00a0 bisa lebih stabil, layaknya timbal,\u00a0 dalam menempuh perjalanan sisa umur paruhnya. Perlahan tapi pasti, layaknya unsur radioaktif,\u00a0 kita juga akan kelak habis meluruh dalam ingatan setiap orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi rasa kehilangan juga sanggup menguak tabir sebenarnya dari sesuatu yang sebelumnya tidak disadari. \u00a0Seiring dengan waktu, kehilangan,\u00a0 akan menempatkan seseorang pada suatu jarak, sehingga membuatnya lebih obyektif dalam menilai . Manusia semacam kita memang seringkali baru merasakan pentingnya sesuatu saat sesuatu itu tak ada. Sehat baru dirasakan nikmatnya dikala sakit. Dan memang, terkadang kehilangan adalah bentuk kehadiran yang lebih terasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegelisahan yang dialami Tanaka tiba &#8211; tiba terhenti, kala kereta terakhir, yang ditunggunya datang. Ia langsung memasukan kembali gawainya ke dalam saku. Masih dengan status pesan <em>delivered<\/em> yang belum terbalas. Tanaka, kemudian menyatu kedalam kerumunan dan masuk ke kereta yang kemudian melaju seperti waktu,\u00a0 tidak pernah perduli apa yang sedang terjadi pada manusia fana seperti Tanaka.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jarum jam dinding di stasiun berputar pelan menuju angka Sebelas. Sebentar lagi kereta komuterline terakhir untuk malam ini tiba. Namun stasiun masih belum juga sepi,\u00a0 seakan masih enggan untuk beranjak tidur meski malam sudah larut. Menemani hilir mudik mereka\u00a0 yang bergegas pulang malam itu. Setiap penumpang yang menunggu kereta terakhir, sudah pasti dalam kondisi kelelahan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3856,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[611,94],"jetpack-related-posts":[{"id":2867,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2867","url_meta":{"origin":3854,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 7)","date":"26 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Kamu tahu nggak, mengapa akhir - akhir ini begitu banyak pasangan\u00a0yang menikah namun kemudian rumah tangganya berantakan, bahkan banyak dari mereka yang\u00a0berpisah, padahal-kan dulunya mereka berjanji sehidup semati?\" \"Memang mengapa?\" Aku bertanya balik\u00a0pada Kiran. \"Mungkin kesalahan terbesarnya - yang mungkin juga bisa menjadi kesalahan kita - adalah karena mereka\u00a0meniatkan pernikahan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Novel\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2621,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2621","url_meta":{"origin":3854,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian Ke - 2)","date":"11 April 2015","format":false,"excerpt":"Pasti senyum itu sudah memikat banyak hati laki-laki sekaligus mematahkannya di saat yang sama.\u00a0Terlebih\u00a0lagi, nampaknya\u00a0 kau\u00a0sudah memiliki kekasih. Bagaimana mungkin gadis secantik kau tidak ada yang lelaki yang mengejar -ngejar. Pasti banyak lelaki yang berlomba - lomba ingin menawan hatimu. Pasti laki - laki itu\u00a0istimewa-kan? Tentu saja. Tidak seperti aku\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":111,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=111","url_meta":{"origin":3854,"position":2},"title":"The Never Ending Indonesian Hero","date":"6 Mei 2008","format":false,"excerpt":"Siapakah jenderal pertama dan termuda yang pernah dimiliki bangsa Indonesia? Kalau anda menjawab Soedirman, maka jawaban anda tepat. Sang Jenderal Besar ini dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916 di Bodas Karangjati Purbalingga dari pasangan Karsid Kartowirodji yang merupakan seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, dan Siyem istrinya yang merupakan keturunan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Tokoh\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3854"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3854"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3854\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3865,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3854\/revisions\/3865"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3856"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3854"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3854"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3854"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}