{"id":3804,"date":"2017-09-20T01:31:20","date_gmt":"2017-09-19T17:31:20","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3804"},"modified":"2017-09-21T08:05:52","modified_gmt":"2017-09-21T00:05:52","slug":"sarjana-to-be","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3804","title":{"rendered":"Sarjana To be"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Setiap orang tua selalu ingin menyekolahkan anaknya setinggi &#8211; setingginya. si anak harus lebih baik daripada orang tuanya. Jangan menjadi orang kecil seperti mereka yang tidak tentu perbulan dapat berapa. Begitulah jika ditanya kepada setiap orang tua, mengapa mereka bersedia banting tulang lebih keras demi menyekolahkan si buah hati. Itu saja\u00a0 tidak cukup, jika bisa, dan mampu secara finansial, tidak segan &#8211; segan orangtua mencari tempat\u00a0 yang bergengsi, favorit, unggulan, agar si anak lebih cerah masa depannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah sekian lama, si anak bersekolah dari jenjang sekolah dasar, hingga perguruan tinggi, kemudian tibalah saat yang ditunggu &#8211; tunggu, hari dimana sang anak lulus dari universitas, begitu bahagianya\u00a0 orangtua melihat anaknya bisa menamatkan pendidikan-tingginya. Si anak pun tidak jauh berbeda, dengan paras berseri &#8211; seri\u00a0menjalani proses wisudanya, jerih payah yang dijalani selama beberapa tahun, tuntas sudah, dengan, selembar kertas ijazah, juga gelar Sarjana yang berhak disematkan dibelakang nama. Gelar itu dibawanya kemana &#8211; mana, mulai dari\u00a0 kartu nama, papan nama, bahkan juga undangan pernikahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ya, gelar pendidikan adalah impian setiap kita, membahagiakan rasanya punya gelar berderet &#8211; deret di depan atau belakang nama. Itulah status sosial yang baru. Itulah feodalisme\u00a0 modern masyarakat kita. Semakin panjang rentetan gelar, menandakan semakin intelektual dan berkelas.\u00a0 Orang &#8211; orang kecil yang tidak punya gelar atau bersekolah setinggi kita pastilah orang yang sungguh layak dikasihani, karena hanya memiliki impian &#8211; impian kecil, dan keinginan -keinginan sederhana. Bekerja dengan penuh peluh dan debu, disengat matahari kala siang, dan ditusuk udara dingin kala malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3809\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3809\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1370738959078.jpg?fit=1510%2C1258&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1510,1258\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;archana bhartia - Fotolia&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;hat tossing ceremony at graduation&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1238997478&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;archana bhartia - Fotolia&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;graduation&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"graduation\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1370738959078.jpg?fit=300%2C250&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1370738959078.jpg?fit=708%2C590&amp;ssl=1\" class=\"aligncenter wp-image-3809 \" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1370738959078.jpg?resize=448%2C373\" alt=\"\" width=\"448\" height=\"373\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1370738959078.jpg?resize=1024%2C853&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1370738959078.jpg?resize=300%2C250&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1370738959078.jpg?resize=768%2C640&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1370738959078.jpg?w=1510&amp;ssl=1 1510w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/1370738959078.jpg?w=1416 1416w\" sizes=\"(max-width: 448px) 100vw, 448px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan gelar itu si sarjana memanjat karir pribadi, mengejar gaji tinggi, meninggalkan orang &#8211; orang kecil, dengan\u00a0\u00a0sesekali berempati dengan bersedekah. Memberi seratus, dua ratus ribu, sembari memberi ceramah perihal jaminan rejeki Tuhan, menyuruhnya untuk sabar, seolah kita pernah merasakan dan paham betul apa yang dialami oleh mereka<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"text-align: justify;\">Memang apa salahnya, orang menginginkan gelar, sebagai konsekuensi dari pendidikan tinggi? Tentu tidak ada yang salah, sepanjang gelar itu bisa memotivasinya untuk lebih banyak berbuat menyumbangkan keilmuannya. Menumbuhkan kerja keras dan pencapaian untuk masyarakat. Sedemikian hingga namanya-lah yang lebih dominan dibandingkan gelarnya. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"text-align: justify;\">Gelar boleh ada boleh tidak. Karya yang dipersembahkannyalah yang harusnya lebih banyak berbicara daripada gelar-gelar. <\/span><span style=\"text-align: justify;\">Namun jika berhenti akan kebanggaan akan status, gelar sarjana, Magister, Doktor, tentu efeknya tidak akan pernah baik. karena dia hanya menumpang\u00a0<em>crentelan<\/em> gelar lalu merasa puas dengannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kurangnya Kepedulian Sosial<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya pribadi, bisa memaklumi mengapa kecenderungan kita berpikir dan bersikap menjadi sedemikian. Sarjana bagi sebagian orang adalah pencapaian, bukan dianggap sebagai sebuah tanggung jawab. Mau tidak mau, kurikulum pendidikan nasional dimana kita dididik\u00a0 turut serta, sedikit banyak, membuatnya tumbuh subur. Pendidikan formal kita masih bersifat satu arah, anak didik dianggap bagaikan gelas kosong, dicekoki beragam pengetahuan, mana yang baik, mana yang buruk. Mereka telah disiapkan seperangkat hukum &#8211; hukum, tata aturan yang harus dihafalkan, tak perduli ia memahami atau tidak.<\/p>\n<blockquote><p>Bahwa kebiasaan menghafal itu tidak menambah kecerdasan, malah menjadikan saya bodoh, mekanis, seperti mesin<\/p>\n<p>Tan Malaka, Madilog<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anak didik tidak pernah diberikan atmosfer untuk mengenali, menemukan hukum, dan aturan itu dengan menggali dari caranya sendiri, melalui proses diskusi, eksperimen dan dialektika yang panjang. Tidak perduli sudah berapa kali diubah,\u00a0 Kurikulum kita, masih\u00a0 belum sanggup memberikan pengalaman kehidupan yang nyata yang terkait dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sebuah Taman Kanak &#8211; Kanak misalnya, murid mendapatkan pelajaran mengenai jenis &#8211; jenis dinosaurus,\u00a0 dan seluk beluk tentang hewan purba yang hidup di jaman mesozolikum itu. Sementara si anak sendiri kesehariannya hidup di lingkungan dengan ayam atau bebek yang dipelihara di belakang rumah.<\/p>\n<blockquote><p>Apakah artinya kesenian<br \/>\nBila terpisah dari derita lingkungan<br \/>\nApakah artinya berpikir<br \/>\nBila terpisah dari masalah kehidupan<\/p>\n<p>~WS Rendra, Sajak Sebatang lisong.<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebiasaan &#8211; kebiasaan konsumtif, sedikit banyak akan membuat manusia menjadi pasif, lalu perlahan,\u00a0 mematikan daya kritis dan kreatif seseorang. Maka yang\u00a0 yang diinginkan sarjana &#8211; sarjana\u00a0 kita kebanyakan, pasti yang praktis &#8211; praktis saja, dan kurang begitu bisa menikmati proses. ingin langsung cepat enak, gampang cepat menyerah, tidak <em>thaft<\/em> dalam menghadapi masalah. Hal ini kemudian berdampak lebih lanjut pada toleransi akan ketidakberesan yang terjadi di lingkungannya<\/p>\n<blockquote><p>Sikat pasif dan konsumtif amat dekat dengan apatisme. Sebab ia tidak melatih tenaga berjuang, militansi, sikap perlawanan untuk mengubah keburukan jadi kebaikan. Apatisme bisa bisa menutup pandangan terhadap gerak kenyataan<\/p>\n<p>Emha Ainun Nadjib, Indonesia Bagian dari Desa Saya<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka jangan heran, jika yang dimaksud dengan pencapaian oleh pemuda kita adalah sesuatu yang bersifat temporer dan singkat sifatnya. Baginya pendidikan hanyalah cara untuk meraih karir pribadi. Sekolah, juga kampus, bukan lagi tempat mencari ilmu, terutama. Namun sebagai suatu instrumen investasi. layaknya reksadana, yang diharapkan memberikan imbal balik materi sebanyak &#8211; banyaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka hanya mampu berpikir satu jengkal, tanpa kesigapan kuda &#8211; kuda dan nafas pajang untuk sanggup melanjutkan ke jengkal berikutnya.\u00a0Masalah yang paling aktual misalnya, bagaimana saat masyarakat menengah kita merespon konflik sosial antara ojek online dan angkutan umum, juga antara taksi online dan taksi konvensional. Sebagian besarnya hanya bisa berpikir selangkah kedepan.Ikut arus\u00a0 mendukung salah satu pihak, tanpa ada pengenalan lebih terstruktur dan panjang bahwa kedua pihak hanyalah korban dari\u00a0 pemerintah yang abai akan transportasi publik warganya. (baca: <a href=\"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3705\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kita Bagian dari Sistem Transportasi Yang Payah<\/a>)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ilmu yang harusnya bersifat ruhani,\u00a0 sudah menjadi komoditas yang diperjualbelikan, juga dikapitalkan, sebuah alat modal\u00a0 untuk menambang kekayaan sebanyak-banyaknya. Maka jangan heran jika sebagian besar kita menjadi tidak perduli lagi apa yang bisa diperbuat setelah sarjana itu tercapai, <em>what can yo do<\/em>. Alih &#8211; alih, yang lebih kita inginkah adalah <em>what can you have<\/em>, kepemilikan materi, gaji, rumah, mobil dan, yang tidak ketinggalan<em>\u00a0what can you be<\/em>. Disinilah mengapa gelar dan status begitu penting, setidaknya di republik ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika Bung Karno pernah berpidato,<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ini Dadaku, mana dadamu.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka harusnya para lulusan perguruan tinggi yang disebut agen perubahan, memiliki semangat dan ekspresi serupa.&#8221;Ini Dadaku, mana dadamu. Ini Karyaku, mana karyamu. Ini sumbangsihku, mana sumbangsihmu. Bukannya &#8220;ini gelarku, mana gelarmu.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tan Malaka, Madilog<\/p>\n<\/blockquote>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap orang tua selalu ingin menyekolahkan anaknya setinggi &#8211; setingginya. si anak harus lebih baik daripada orang tuanya. Jangan menjadi orang kecil seperti mereka yang tidak tentu perbulan dapat berapa. Begitulah jika ditanya kepada setiap orang tua, mengapa mereka bersedia banting tulang lebih keras demi menyekolahkan si buah hati. Itu saja\u00a0 tidak cukup, jika bisa, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3809,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[8,11],"tags":[610,399,609],"jetpack-related-posts":[{"id":3755,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3755","url_meta":{"origin":3804,"position":0},"title":"Negeri Para Pegawai (Negeri)","date":"20 Juli 2017","format":false,"excerpt":"Sebuah pesan whatsapp masuk di nomer ponsel saya. Ah, ternyata isinya adalah chat dari seorang teman, yang membagikan informasi tentang \u00a0adanya pembukaan penerimaan pegawai negeri sipil yang kabar - kabarnya akan dibuka di bulan agustus nanti. Saya membalasnya langsung dengan \u00a0ucap terimakasih, meski \u00a0saya bukan salah satu orang yang berkeinginan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?fit=1200%2C719&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3978,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3978","url_meta":{"origin":3804,"position":1},"title":"Tinggalkan Negerimu dan Hidup Asing","date":"25 Desember 2017","format":false,"excerpt":"Akhir pekan ini adalah akhir pekan yang panjang, mulai dari sabtu hingga selasa, adalah hari libur,\u00a0 praktis Jakarta akan menjadi sepi dikarenakan mulai ditinggal penduduknya untuk berwisata ataupun pulang ke kampung\u00a0 halaman. Bagaimana dengan saya dengan libur panjang ini? Tidak kemana - mana? Ya, tidak kemana - mana. Tidak ada\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":919,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=919","url_meta":{"origin":3804,"position":2},"title":"Jangan Rendahkan Kita..","date":"1 Juni 2010","format":false,"excerpt":"Gambar berikut menampakkan keedanan dunia yang sudah mulai tua ini.\u00a0 Yong Fai umur 8 tahun\u00a0 diikat oleh ayahnya sendiri Yong Tsui , dengan rantai di tiang listrik di tengah Kota Wuhan. Ternyata sang ayah tersebut mencoba menjual anaknya\u00a0 kepada orang asing yang lewat di sana. Kisah tragis ini bukan dongeng\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/static.liputan6.com\/201005\/100527bjual-anak.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3804"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3804"}],"version-history":[{"count":34,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3804\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3840,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3804\/revisions\/3840"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3809"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3804"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3804"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3804"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}