{"id":3755,"date":"2017-07-20T08:10:11","date_gmt":"2017-07-20T00:10:11","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3755"},"modified":"2017-07-25T18:45:59","modified_gmt":"2017-07-25T10:45:59","slug":"negeri-para-pegawai-negeri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3755","title":{"rendered":"Negeri Para Pegawai (Negeri)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah pesan whatsapp masuk di nomer ponsel saya. <em>Ah<\/em>, ternyata isinya adalah <em>chat<\/em> dari seorang teman, yang membagikan informasi tentang \u00a0adanya pembukaan penerimaan pegawai negeri sipil yang kabar &#8211; kabarnya akan dibuka di bulan agustus nanti. Saya membalasnya langsung dengan \u00a0ucap terimakasih, meski \u00a0saya bukan salah satu orang yang berkeinginan untuk mendaftar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi toh, saya rupanya hanyalah segelintir minoritas dari sekian banyak rakyat indonesia yang mengidam-idamkan profesi PNS di hati kecilnya.<a href=\"https:\/\/tirto.id\/pns-profesi-yang-banyak-dicari-orang-csAB\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Survei Litbang Media Group pada 2007 yang dikutip oleh Tirto.id \u00a0menunjukkan<strong> jika sekitar 70 persen responden ingin menjadi PNS<\/strong>.<\/a> Survei lain dari Pusat Kajian Reformasi Administrasi yang dilakukan di tiga universitas terkemuka di Indonesia itu, menunjukkan jika 43,1 persen mahasiswa memilih untuk berkarier di instansi pemerintah. Angka itu memang lebih rendah ketimbang mahasiswa yang memilih sektor swasta dengan persentase 50,1 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lantas mengapa <em>sih\u00a0<\/em>\u00a0banyak orang begitu menjadikan profesi PNS sebagai idaman? Tentu bukan tanpa sebab. Secara umum orang akan \u00a0beralasan karena dengan bekerja di instansi pemerintah adalah satu langkah ke depan untuk \u00a0jaminan hidup,\u00a0\u00a0tidak ada PHK, dan nanti di hari tua terjamin. Berbeda dengan yang bekerja di sektor\u00a0<em>private<\/em>, tidak perduli sebesar apapun perusahaan tempat dia bekerja, tetap ada ancaman PHK jika perusahaan tempatnya berkerja merugi. Apalagi yang memilih berwirausaha, lebih <em>ga<\/em> pasti lagi. Konon <em>sih<\/em>\u00a0begitu katanya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3761\" aria-describedby=\"caption-attachment-3761\" style=\"width: 2170px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3761\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3761\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?fit=2170%2C1300&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"2170,1300\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;5.6&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;NIKON D40&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1255604587&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;20&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;280&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.008&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"j1\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?fit=300%2C180&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?fit=708%2C424&amp;ssl=1\" class=\"wp-image-3761 size-full\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?resize=708%2C424\" alt=\"\" width=\"708\" height=\"424\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?w=2170&amp;ssl=1 2170w, https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?resize=300%2C180&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?resize=768%2C460&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?resize=1024%2C613&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?w=1416 1416w\" sizes=\"(max-width: 708px) 100vw, 708px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3761\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi foto Seleksi CPNS 2012 TRIBUNNEWS.COM\/HERUDIN<\/figcaption><\/figure>\n<p>Faktor lainnya adalah lingkungan masyarakat indonesia yang masih menyisakan budaya feodal terutama di lingkungan pedesaan yang masih menganggap tinggi perkerjaan menjadi abdi negara. \u00a0Setiap orang tua akan menginginkan anaknya menjadi seorang pegawai negeri, atau paling tidak, \u00a0mantunya yang jadi\u00a0\u00a0PNS. Sementara mereka yang bekerja sebagai \u00a0&#8220;buruh&#8221; pabrik biasanya dianggap sebelah mata, sebagai kasta nomer dua dalam susunan sosial masyarakat mereka, sebagai \u00a0&#8220;orang buangan&#8221; yang tidak lulus seleksi masuk pegawai negeri. Kultur ini kemudian bak DNA diteruskan oleh anak &#8211; anaknya. Sehingga di dalam hati Mereka pun \u00a0meskipun pendidikan sudah tinggi, sudah kuliah sarjana, magister, hingga doktor lulusan kampus &#8211; kampus besar di eropa. Cita &#8211; citanya akan tidak jauh untuk <em>ngawula<\/em>\u00a0di sekitar pemerintahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kultur feodal ini semakin diperparah, kala di pikiran mereka, menganggap bahwa asal usul uang gaji yang diterimanya di tiap bulan berasal dari pemerintah yang berkuasa. Tanpa memiliki kesadaran lebih lanjut bahwa pemerintah tidak bisa menghasilkan uang seain dari partisipasi rakyat dalam membayar pajak. Maka semangat pengabdian mereka harusnya terutama ditujukan \u00a0bukan kepada siapa yang berkuasa, tapi kepada rakyat yang menggaji mereka. Harusnya entah staf kelurahan, pejabat kecamatan hingga yang menteri dan presiden hanya mengabdi kepada satu hal saja yaitu rakyat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi toh kenyataannya tidak demikian. Para PNS semenjak era orde baru, selalu dijadikan alat untuk meraup suara, \u00a0digiring untuk memilih partai politik penguasa, \u00a0bahkan pada jaman yang katanya orde reformasi yang sekarang ini pun, sering ada desas -desus (meski dengan malu &#8211; malu) tentang ajakan \u00a0untuk memilih salah satu partai tertentu atau capres <em>incumbent<\/em> yang berkuasa. Ditambah bumbu argumentasi bahwa karena penguasa-lah ia bisa duduk di posisi empuk yang sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka selamat datang di Indonesia, sebuah \u00a0negeri para pegawai negeri. Negeri dengan birokrat yang begitu gemuk. Negeri dengan anggaran pendapatan belanja negara dan daerahnya yang sebagian besar dihabiskan hanya \u00a0untuk belanja rutin menggaji staf dan pegawai daerahnya. Meskipun masih banyak masyarakat mengeluh dengan <i>ruwetnya\u00a0<\/i>mengurus surat &#8211; surat seperti KTP, KK, dan lain sebagainya yang harusnya menjadi hak mereka, dan kebutuhan pemerintah dalam menyelenggarakan administrasi untuk rakyat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para pegawai di kantor pelayanan pemerintah mulai dari staf hingga \u00a0pejabatnya sering\u00a0berlaku sebagai priyayi alih &#8211; alih pelayan rakyat. Maka tak heran &#8211; meskipun sudah dorongan untuk perbaikan di sana &#8211; sini untuk melakukan efisiensi birokrasi &#8211; peringkat kelayakan usaha di \u00a0indonesia masih tergolong yang rendah dari seluruh dunia.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bank Dunia memberikan penilaian terhadap tata kelola negara. Indikator yang diberi nama\u00a0<a href=\"http:\/\/data.worldbank.org\/data-catalog\/worldwide-governance-indicators\"><i>The Worlwide Governance Indicators Reports<\/i><\/a>\u00a0ini melakukan penilaian atas 6 dimensi, yaitu pendapatan dan akuntabilitas, stabilitas politik dan ketiadaan kekerasan, efektivitas pemerintah, kualitas regulasi, aturan hukum dan pengendalian korupsi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan data tersebut, nilai rata-rata indikator efektivitas pemerintahan (<i>Government Effectiveness<\/i>) Indonesia masuk dalam kategori rendah. Pada 2010, skor Indonesia sebesar-0,20 dan menurun menjadi -0.22 di 2015. Di tingkat ASEAN, pada 2015, skor Indonesia masih kalah jauh dengan Singapura (2,3), Malaysia (1,0), Thailand (0,36) dan Vietnam (0,08).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Dikutip Dari Tirto.id)<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teknologi Informasi yang sekarang mencaplok semua lini dan mempermudah hidup banyak masyarakat masih belum berpengaruh banyak di sektor pelayanan pemerintahan. Terbukti di sistem penerimaan pegawai negeri di tahun ini \u00a0yang konon katanya sudah bisa dilakukan secara online pun masih memerlukan pengiriman berkas lewat pos &#8211; praktis menjadikannya hanya sebagai \u00a0<em>gimmick<\/em> belaka. <em>Lha<\/em> buat apa mendaftar online jika masih perlu mengirim berkas lewat pos?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitupula banyak alur birokrasi seperti pembuatan paspor<i>,\u00a0<\/i>\u00a0pembayaran pajak kendaraan bermotor dan lainnya, yang memang sudah bisa dilaksanakan secara online, namun kemudian menjadi batal alias percuma karena masyarakat masih diperlukan datang ke kantor instansi yang bersangkutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inovasi dan semangat melayani adalah sesuatu yang teramat langka di sebagian besar lingkungan birokrasi kita, bukan karena orang &#8211; orang yang bekerja di lingkungan itu dungu dan tidak mau berpikir. Tapi memang kultur kerja di sebagian besar kementerian kita memang menyuburkan status quo dan kejumudan semacam itu.<a href=\"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2431\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Berapa puluh tahun lagi pelayanan pemerintahan kita bisa sampai pada tahap yang benar &#8211; benar memudahkan rakyatnya?<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka bagi pembaca yang sedang ingin berkeinginan mendaftar sebagai pegawai negeri, saya harap tulisan ini menjadi titipan saya, orang kecil, \u00a0untuk anda mulai bisa membenahi, sejauh yang dimampu, kualitas aparatur pemerintah di negeri yang kita cintai. Jadikan proses anda masuk ke birokrasi pemerintah sebagai sebuah perjuangan panjang untuk memperbaiki tata layanan negeri ini dimanapun nanti anda ditempatkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Jangan Salah Niat dan Orientasi Hidup<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua pekerjaan itu baik, menjadi PNS baik, tidak kalah baiknya dengan menjadi buruh pabrik, karyawan kantoran hingga jadi driver ojek onlne, sopir taksi, tukang becak hingga penjual bakso.<\/p>\n<blockquote><p>Semua pekerjaan akan menjadi ibadah jika anda bisa menarik sisi spritualnya kepada Allah<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka alangkah baiknya jika kita semua mulai mengevaluasi niat yang terbesit di dalam \u00a0hati kecil kita. Apakah niatan kita menjadi pegawai negeri adalah sebuah takdir Allah, atau dikarenakan desakanbudaya, sosial, atau hal &#8211; hal lain yang bukan berasal dari diri kita. Bersyukurlah bagi anda yang menjadikan pekerjaan PNS sebagai panggilan hidup, sebagai jalan pengabdian. \u00a0bukan karena faktor &#8211; faktor lain seperti mencari keamanan hari tua ataupun pertimbangan dunia yang lain.<\/p>\n<blockquote><p>Segala perbuatan itu bergantung pada niatnya.<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu penting agar tidak salah niat, agar tidak rugi hidup kita. Jika niat menjadi pegawai negeri untuk jaminan hari tua, bukankah Allah sediri sudah menjamin rezeki setiap yang melata di bumi? <em>Wamaa min dabbaatin fil ardi illaa\u2019alallaahi rizquha. Harrik yadaka unzil alaika rizqon.<\/em> Maka kita patut \u00a0merasa kuatir \u00a0jika salah niat ini, kelak \u00a0akan membuat tauhid kita batal di hadapan Allah.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jangan takut hidup. Yang penting iman kuat. Jaga kehormatan, insyaallah cukup rezeki.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selamat berikhtiar bagi anda yang sedang menanti lowongan penerimaan Pegawai Negeri Sipil, \u00a0semoga yang terbaik dari Tuhanlah yang berlaku pada hidup kita semua.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebuah pesan whatsapp masuk di nomer ponsel saya. Ah, ternyata isinya adalah chat dari seorang teman, yang membagikan informasi tentang \u00a0adanya pembukaan penerimaan pegawai negeri sipil yang kabar &#8211; kabarnya akan dibuka di bulan agustus nanti. Saya membalasnya langsung dengan \u00a0ucap terimakasih, meski \u00a0saya bukan salah satu orang yang berkeinginan untuk mendaftar. Tapi toh, saya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3761,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[8,11],"tags":[608,606,607,605],"jetpack-related-posts":[{"id":716,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=716","url_meta":{"origin":3755,"position":0},"title":"Berterimakasih Kepada Malaysia","date":"2 Oktober 2009","format":false,"excerpt":"Hari ini 2 Oktober 2009 berbeda dari biasanya,\u00a0 dalam rangka memperingati diakuinya batik sebagai warisan budaya dari Indonesia oleh UNESCO,\u00a0 setiap orang - tidak perduli tua muda, pria maupun wanita, mulai dari pegawai negeri ini hingga karyawan swasta mengenakan batik. Tidak biasa? ya, tidak biasa - karena kesan batik adalah\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2009\/10\/indonesia.jpg?fit=400%2C300&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2216,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2216","url_meta":{"origin":3755,"position":1},"title":"Membunuh Pelan - Pelan Indonesia","date":"16 Maret 2014","format":false,"excerpt":"Yang saya tuliskan ini bukanlah dongeng ataupun kisah film. Semua ini benar - benar sungguh terjadi. Tapi sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya \u00a0menyarankan anda untuk tidak melanjutkan membaca tulisan ini, jika anda merasa sudah tahu banyak, dan tidak sebegitu perduli bahwa selalu tentang kemungkinan bahwa yang \u00a0kita ketahui ternyata\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":633,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=633","url_meta":{"origin":3755,"position":2},"title":"Pak Harto Yang Pro - Nuklir","date":"22 Agustus 2009","format":false,"excerpt":"Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir, jauh yang diperkirakan masyarakat- sebenarnya\u00a0 bukanlah barang baru di Indonesia. Ketika bangsa\u00a0 - bangsa di negara lain masih\u00a0 memperjuangkan kemerdekaan dan menata negerinya .\u00a0 Presiden pertama negeri ini Ir. Soekarno pernah mencita - citakan Indonesia sebagai\u00a0 negara nuklir (Baca : negara yang menggunakan tenaga nuklir\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Energi Nuklir\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3755"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3755"}],"version-history":[{"count":28,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3755\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3790,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3755\/revisions\/3790"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3761"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3755"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3755"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3755"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}