{"id":3705,"date":"2017-03-26T22:33:22","date_gmt":"2017-03-26T15:33:22","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3705"},"modified":"2017-03-26T22:33:22","modified_gmt":"2017-03-26T15:33:22","slug":"3705","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3705","title":{"rendered":"Kita Bagian dari Sistem Transportasi Indonesia Yang Payah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3308\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3308\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=620%2C354&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"620,354\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=300%2C171&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=620%2C354&amp;ssl=1\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3308\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?resize=620%2C354\" alt=\"\" width=\"620\" height=\"354\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?w=620&amp;ssl=1 620w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?resize=300%2C171&amp;ssl=1 300w\" sizes=\"(max-width: 620px) 100vw, 620px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3307\">Dalam tulisan saya sekitar satu tahun yang lalu, saya sempat membahas tentang fenomena dari konflik ojek online dan transportasi lokal<\/a> yang sudah lebih dulu berpuluh -puluh tahun hadir. Namun akhir &#8211; akhir ini isu tersebut kembali <em>mencuat<\/em> lagi.\u00a0Konflik angkutan umum dengan ojek online di beberapa daerah, seperti Malang, Jogja, Bandung, Tangerang. Juga pemberlakuan\u00a0<a href=\"https:\/\/id.techinasia.com\/6-aturan-baru-menteri-perhubungan-untuk-uber-grabcar-dan-go-car\">revisi\u00a0Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No.32 Tahun 2016<\/a>. Peraturan\u00a0tersebut memberikan beberapa pengaturan dan regulasi terhadap kendaraan pribadi yang difungsikan sebagai angkutan umum sewa berbasis aplikasi, termasuk salah satu diantaranya, yang kontroversial, pemberlakuan tarif batas bawah, juga batas atas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam pembuatan sebuah kebijakan tentu akan menuai pro dan kontra, dan disitulah, menurut saya, tugas pemerintah untuk memberikan jalan tengah terhadap aspirasi semua pihak. Pesatnya perkembangan teknologi memang akan mengubah kebiasaan lama orang dalam menjalani hidup, termasuk dalam bergaul, berjual-beli, hingga cara mereka \u00a0menggunakan angkutan umum. \u00a0Mereka yang tidak mengadopsi teknologi akan tergilas dan tertinggal, itu adalah satu hal, yang tidak bisa dibantah. Namun tugas pemerintah sebagai regulator dalam bidang transportasi salah satunya adalah menjaga proses transisi tersebut agar tidak menimbulkan konflik horisontal. Ini juga merupakan sisi lain yang jangan sampai diabaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebenarnya, saya sedang tidak berencana ingin menulis apa &#8211; apa tentang <em>isu \u00a0<\/em>satu ini. <em>Toh<\/em>, saya juga pernah membahasnya. Namun sedemikian lama, setelah melihat reaksi di para pejabat di berbagai macam situs berita, hingga masyarakat umum di media sosial, dan kolom komentar. Saya begitu sedih atas ketidakmampuan pejabat dan juga masyarakat umum seperti kita untuk melihat prespektif masalah utuhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya juga tidak sedang ingin\u00a0<em>berceramah,\u00a0<\/em>seperti banyak motivator <em>dadakan<\/em>\u00a0lain di media \u00a0sosial yang tiba &#8211; tiba \u00a0menasehati para sopir angkutan umum atau taksi yang terkena dampak dari maraknya \u00a0transportasi online akhir &#8211; akhir ini.<\/p>\n<blockquote><p>&#8220;Rejeki dari Allah, sudah ada yang ngatur. usaha sama sabar, udah..nanti juga rejekinya datang sendiri..&#8221;<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya sangat setuju dengan kutipan nasehat itu. Bahwa Rejeki semua makhluk bahkan pada binatang melata sudah tertulis di &#8220;lauhul mahfudz&#8221;.\u00a0Ya. Kita tidak akan membantah. \u00a0Namun saya tidak akan pernah memiliki cukup keberanian untuk menasehati mereka, terlebih tentang apa itu rejeki. Karena kalimat itu akan menjadi tidak\u00a0<em>pas,\u00a0<\/em>jika diucapkan oleh saya &#8211; yang belum pernah\u00a0<em>ngerasain\u00a0<\/em>susahnya jadi sopir angkot,\u00a0satpam, tukang ojek kepada masyakat kecil seperti mereka.<\/p>\n<div class=\"text_exposed_show\">\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0Mereka lebih pakar tentang kehidupan daripada saya. Mereka rela menjadi sopir angkutan umum, menjadi satpam, menjadi tukang parkir atau menjadi pembantu rumah tangga seumur hidup. Sedangkan kita, tak akan mampu juga tak rela menjalani profesi seperti itu untuk menutup kebutuhan primer kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Angkutan Umum Payah<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang,\u00a0sebagai salah satu pengguna transportasi publik saya \u00a0juga tidak akan membantah bahwa angkutan umum dari kebanyakan daerah di indonesia jauh dari standar kelayakan: Aman, cepat, terjangkau dan nyaman. Angkutan umum mulai dari angkutan kota, bus, bahkan hingga taksi (konvensional) tidak memiliki standar yang jelas tentang bagaimana mereka melayani penumpang. Fasilitas yang tesediapun begitu minim, jika tidak ingin dikatakan tidak manusiawi, sering\u00a0<em>ngetem<\/em> sembarangan, terkadang ada\u00a0<em>copet, <\/em>yang kemudian\u00a0mencipatakan rasa <em>insecure<\/em> kepada penggunanya. Salah siapa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jangankan Angkot. Saya bahkan sering menemui taksi konvensional dari perusahaan taksi ternama dimana mobilnya begitu\u00a0bau. Dan saya tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Jikapun saya tahu, mungkin harus telpon ke nomer\u00a0pengaduan yang menjemukan, dan kemudian dilempar-lempar tidak jelas oleh si operator.<\/p>\n<div class=\"text_exposed_show\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Masyarakat juga jadi terpolarisasi, berpihak pada satu kubu, kebanyakan berpihak mendukung keberadaan transportasi online. Mengapa?Mungkin selain harganya yang murah (karena strategi bakar uang yang sedang diterapkan), salah satunya dikarenakan mereka memiliki \u00a0apa yang disebut &#8220;standar pelayanan&#8221; kepada penumpangnya. Begitupula saat penumpang merasa dirugikan, mereka tahu harus mengadu kepada siapa. Hal seperti ini \u00a0yang tidak ditemui pada transportasi umum konvensional. Lantas salah siapa?<\/p>\n<p><strong>Salah Siapa? Sopir?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sopir Angkot, meskipun saya juga sering dibuat kesal. Juga berada dalam sebuah lingkaran keapabolehbuatan. Mereka (para sopir) tidak mendapatkan pelatihan standar pelayanan kepada konsumen misalnya.\u00a0Jangankan standar pelayanan. Standar keselamatan penumpang juga jangan &#8211; jangan mereka tidak paham. Sebagian besar mereka\u00a0mungkin hanyalah\u00a0<em>&#8220;sopir tembak&#8221;<\/em> yang hanya tahu\u00a0<em>kejar setoran<\/em> karena satu &#8211; satunya kewajibannya adalah menyetor sekian puluh ribu rupiah kepada pemilik angkot.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka atas posisi tersebut, saya juga tidak akan menyalahkan mereka. Jikapun salah, kesalahannya karena mereka tidak hidup menjadi orang berpendidikan seperti kita, lulusan Universitas terkenal yang selalu bermimpi dan bercita &#8211; cita ingin mengubah dunia. Lantas siapa yang berkewajiban untuk menata mereka? memberikan pendidikan yang memadai hingga memperbaiki infrastruktur angkutan kota yang layak, yang aman, yang tidak <em>ngetem sembarangan<\/em>, yang tidak kejar setoran. Tanggung jawab siapa ?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ya. Benar. Tanggung jawab pemerintah. Maka jangan arahkan tudingan telunjuk kita kepada rakyat kecil seperti mereka. Mereka juga sama seperti kita. Juga bagian dari \u00a0sistem transportasi indonesia yang payah.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cMatriks adalah sistem, Neo. Sistem itulah musuh kita. Tetapi ketika kau berada di dalamnya dan melihat sekitar, apa yang kau saksikan? Pedagang, guru, pengacara, tukang kayu. Pikiran merekalah yang hendak kita selamatkan. Tetapi hingga kita melakukannya, orang-orang itu masih bagian dari sistem dan itulah yang membuat mereka musuh kita. Kau harus mengerti, sebagian besar dari mereka tidak siap dibebaskan. Dan banyak dari mereka begitu terbiasa, begitu tanpa-asa, bergantung pada sistem, hingga mereka akan bertempur untuk melindunginya!\u201d<br \/>\n.<br \/>\n(Morpheus, The Matrix)<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun apa yang membuat saya heran hingga saat ini \u00a0adalah bahwa sangat jarang (jika tidak ingin disebut tidak ada) dari pemerintah daerah &#8211; dimana terjadi benturan antara transportasi umum konvensional dengan transportasi berbasis online, yang merasa bahwa itu adalah tanggung jawab dan kesalahan mereka.Bahwa tidak ada yang salah dengan pengelolaan transportasi publik di wilayahnya. Bahwa semua itu hanyalah masalah kesalahpahaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Padahal dalam hukum ekonomi yang diajarkan sejak Sekolah Menengah pun kita sudah paham, bahwa tidak ada penawaran jika sebelumnya tidak ada <em>demand\u00a0<\/em>. \u00a0Ambil saja contoh, ojek online. Ia \u00a0hadir di tengah masyarakat dikarenakan sistem transportasi publik yang ada tidak mencukupi masyarakat untuk berpergian dari satu titik ke titik yang lain. Di negara &#8211; negara maju yang memiliki transportasi publik yang bagus, jasa transportasi seperti ojek \u00a0akan mengalami perkembangan yang\u00a0terbatas atau bahkan mungkin dilarang dan tidak sepesat di Indonesia\u00a0yang belum memiliki transportasi publik yang memadai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Coba saja anda bayangkan, seandainya transportasi publik di suatu daerah antara satu titik ke titik lain sudah demikian begitu mudah\u00a0dijangkau, aman, cepat dan nyaman. \u00a0Maka saya rasa \u00a0ojek online (bahkan yang konvensional) tidak akan mungkin bisa mendapatkan tempat, di tengah &#8211; tengah kita seperti sekarang ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka itulah kesedihan saya, kita begitu sibuk bertengkar sendiri mendukung ataupun anti transportasi online, sampai lalai melihat inti masalah sebenarnya. Bahkan pemerintah daerah yang bertanggung jawab pun sering &#8211; sering tidak\u00a0sadar akan hal ini, ataupun jika sadar, tidak segera bergegas untuk memperbaiki kesalahan yang merupakan bagian dari tanggung jawabnya. Menciptakan transportasi publik yang nyaman dan dapat diandalkan oleh rakyat yang menggajinya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam tulisan saya sekitar satu tahun yang lalu, saya sempat membahas tentang fenomena dari konflik ojek online dan transportasi lokal yang sudah lebih dulu berpuluh -puluh tahun hadir. Namun akhir &#8211; akhir ini isu tersebut kembali mencuat lagi.\u00a0Konflik angkutan umum dengan ojek online di beberapa daerah, seperti Malang, Jogja, Bandung, Tangerang. Juga pemberlakuan\u00a0revisi\u00a0Peraturan Menteri Perhubungan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3308,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[11],"tags":[165,364,569],"jetpack-related-posts":[{"id":3307,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3307","url_meta":{"origin":3705,"position":0},"title":"Tukang Ojek, Nasibmu Kini","date":"2 Agustus 2015","format":false,"excerpt":"Akhir - akhir ini mulai marak mengenai pemberitaan konflik antara tukang ojek tradisional konvensional yang biasanya mangkal di gang - gang dan sudut - sudut perumahan, dengan tukang ojek pesanan online melalui aplikasi seperti Gojek dan Grabbike. Di beberapa sudut gang marak spanduk - spanduk provokatif yang melawan kehadiran ojek\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=620%2C354&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3320,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3320","url_meta":{"origin":3705,"position":1},"title":"Logika Kulit Pisang","date":"3 Agustus 2015","format":false,"excerpt":"Beberapa yang membaca tulisan saya sebelumnya tentang Ojek Nasibmu Kini,\u00a0\u00a0berkomentar bahwa tulisan saya tersebut\u00a0seakan memberikan justifikasi \u00a0akan\u00a0tindakan intimadasi ataupun kekerasan yang akhir - akhir ini marak dilakukan tukang ojek tradisional. Meskipun jika anda membacanya dengan penuh pemahaman saya yakin anda akan mengetahui bahwa maksud saya tidaklah demikian. Saya hanya hendak\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3656,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3656","url_meta":{"origin":3705,"position":2},"title":"Puncak Prestasi","date":"30 Januari 2017","format":false,"excerpt":"Tidak terasa, (padahal kerasa banget) empat bulan\u00a0nglaju Jakarta Tangerang bolak-balik \u00a0menjadi seorang komuter. Beberapa tahun yang lalu, saat masih di kantor yang lama, saya juga sering\u00a0sih,\u00a0bolak balik jakarta tangerang. Meskipun\u00a0ngga setiap hari. Dulu, pilihan transportasi yang saya gunakan adalah bus, karena itu moda yang paling dekat dengan\u00a0kosan saya, \u00a0sekitar 200\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3705"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3705"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3705\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3308"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3705"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3705"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3705"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}