{"id":3479,"date":"2016-04-02T20:30:13","date_gmt":"2016-04-02T13:30:13","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3479"},"modified":"2016-04-02T20:30:13","modified_gmt":"2016-04-02T13:30:13","slug":"negeri-sabar-dan-syukur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3479","title":{"rendered":"Negeri Sabar Dan Syukur"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_3528\" aria-describedby=\"caption-attachment-3528\" style=\"width: 462px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/antarafoto-antri-penyerahan-spt-310315-zk-4.jpg\" rel=\"attachment wp-att-3528\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3528\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3528\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/antarafoto-antri-penyerahan-spt-310315-zk-4.jpg?fit=3000%2C1999&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"3000,1999\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;4.5&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;Antara Foto&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;NIKON D750&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;Seratusan  wajib pajak mengantre menyerahkan Surat Pajak Tahunan (SPT) di hari terakhir penyerahan SPT di Kantor Pelayanan Pajak Pratama wilayah DJP Jawa Timur I, Surabaya, Selasa (31\\\/3). Menurut data Ditjen Pajak penerimaan pajak hingga minggu keempat Maret 2015 tercatat masih sekitar 10 persen dari total target penerimaan pajak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 sekitar Rp.1.296 triliun. ANTARA FOTO\\\/Zabur Karuru\\\/pd\\\/15&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1427812097&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;Antara Foto&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;17&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;1600&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.033333333333333&quot;,&quot;title&quot;:&quot;Puluhan wajib pajak mengantri menyerahkan Surat Pajak Tahunan (SPT) di hari terakhir penyerahan SPT di Kantor Pelayanan Pajak Pratama wilayah DJP Jawa Timur I, Surabaya, Selasa (31\\\/3).&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"Puluhan wajib pajak mengantri menyerahkan Surat Pajak Tahunan (SPT) di hari terakhir penyerahan SPT di Kantor Pelayanan Pajak Pratama wilayah DJP Jawa Timur I, Surabaya, Selasa (31\/3).\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/antarafoto-antri-penyerahan-spt-310315-zk-4.jpg?fit=300%2C200&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/antarafoto-antri-penyerahan-spt-310315-zk-4.jpg?fit=708%2C472&amp;ssl=1\" class=\" wp-image-3528\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/antarafoto-antri-penyerahan-spt-310315-zk-4.jpg?resize=462%2C310\" alt=\"Foto Antara\" width=\"462\" height=\"310\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/antarafoto-antri-penyerahan-spt-310315-zk-4.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/antarafoto-antri-penyerahan-spt-310315-zk-4.jpg?zoom=2&amp;resize=462%2C310 924w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/antarafoto-antri-penyerahan-spt-310315-zk-4.jpg?zoom=3&amp;resize=462%2C310 1386w\" sizes=\"(max-width: 462px) 100vw, 462px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-3528\" class=\"wp-caption-text\">Foto Antara<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di <a href=\"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2392\" target=\"_blank\">Negera Syukur Republik Indonesia<\/a>. Rakyat begitu murah hati. Meskipun telah menyetorkan sejumlah uang yang disebut &#8220;pajak&#8221;\u00a0kepada pemerintahnya. Mereka juga masih harus rela meluangkan waktunya &#8211; yang seharusnya digunakan untuk bekerja mencari nafkah- untuk berdesak-desakan antri melaporkan SPT kepada petugas pajak yang duduk manis di kantornya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para akademisi dan pengamat sosial politik di negara seberang tak akan mampu memahami fenomena yang terjadi di negeri rasa syukur dan sabar kita ini. Para pakar yang katanya ahli dalam bidangnya itu pasti akan \u00a0hanya bisa \u00a0geleng &#8211; geleng kepala, sambil bergumam dalam hati<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Lalu apa gunanya pajak yang kalian bayar, jika pemerintah tidak memberikan pelayanan primanya kepada kalian? Bukankah harusnya petugas pajak itu yang datang ke tempat &#8211; tempat keramaian untuk mengambil SPT, bukan malah kalian yang harus antri seperti akan ada bazar\u00a0sembako murah&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para cerdik cendekia dari negeri seberang itu tidak akan kunjung paham karena mereka hanya mengandalkan rasionalitas cara berpikir, bukan kebijaksanaan. Bukankah sudah jelas bahwa &#8220;Orang bijak bayar pajak&#8221;. Hanya orang yang memiliki keluasan hatilah yang akan rela menyerahkan penghasilan yang didapat dari cucuran keringatnya kepada pemerintah yang lebih banyak menyusahkannya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika mengandalkan\u00a0rasionalitas, seorang istri tidak wajib melayani suami yang tidak menjalankan kewajibannya menanggung nafkah lahir batin seorang istri. Begitupula pada rakyat, tidak wajib membayar pajak, sementara banyak haknya akan pelayanan serta fasilitas publik yang memanusiakan mereka tidak terpenuhi. Dibutuhkan suatu \u00a0kebijaksanaan pada tingkat tertentu sehingga rakyat yang lebih tidak dipenuhi haknya itu \u00a0memiliki kesanggupan untuk melakukan sesuatu yang secara rasional\u00a0\u00a0tidak diwajibkan lagi untuk itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belum lagi, jika mendengar istilah yang disebut \u00a0&#8220;pajak terutang&#8221; dalam PPH pasal 21. &#8220;Apa? Pajak terhutang&#8221; demikan para pakar itu kaget setengah mati, sembil seketika melompat dari kursinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sejak kapan rakyat memiliki hutang kepada pemerintah?&#8221; Dengan sangat\u00a0heran, para ahli negeri seberang itu mencari &#8211; cari \u00a0fenomena baru itu. Dikelilinginya perpustakaan yang berisi banyak literatur mulai dari Plato, Aristoteles, Ratu Sima, Jayabaya, Adam Smith\u00a0hingga\u00a0Karl Max, namun tak ditemukannya. Mereka tak kunjung mengerti pada peristiwa yang bagaimana sehingga\u00a0pemerintah disebut\u00a0memberikan piutang kepada rakyat, yang kemudian pada kondisi selanjutnya \u00a0rakyat disebut memiliki hutang.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Lho, bukankah\u00a0\u00a0negara ini, berserta infrastruktur dan birokrasinya adalah milik rakyat?&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sudahlah, para pengamat di negeri seberang itu tak akan pernah paham dengan apa yang kita jalani. Dan\u00a0kita juga\u00a0<em>toh,\u00a0<\/em>\u00a0tidak menuntut mereka untuk mengerti. Kita mahfum,\u00a0latar belakang budaya\u00a0mereka\u00a0yang penuh dengan rasionalitas tentu berbeda dengan latar belakang bangsa kita yang luhur\u00a0\u00a0yang lebih\u00a0didominasi oleh rasa sabar dan syukur ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Negera Syukur Republik Indonesia. Rakyat begitu murah hati. Meskipun telah menyetorkan sejumlah uang yang disebut &#8220;pajak&#8221;\u00a0kepada pemerintahnya. Mereka juga masih harus rela meluangkan waktunya &#8211; yang seharusnya digunakan untuk bekerja mencari nafkah- untuk berdesak-desakan antri melaporkan SPT kepada petugas pajak yang duduk manis di kantornya. Para akademisi dan pengamat sosial politik di negara seberang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3528,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[11],"tags":[372,454],"jetpack-related-posts":[{"id":2392,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2392","url_meta":{"origin":3479,"position":0},"title":"Negara Syukur Republik Indonesia","date":"19 November 2014","format":false,"excerpt":"Selamat datang, di negeriku tercinta Indonesia. Sebuah negara rasa syukur. Tidak ada di belahan dunia lain di seluruh dunia, ada sebuah negara yang memiliki rakyat dengan manajemen syukur melebihi apa yang dimiliki bangsa Indonesia. Peristiwa termutakhir ini pun semakin memperkuat prestasi dari manjemen sabar - syukur yang tiada taranya di\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/10918009-indonesia-flag-painted-on-old-brick-wall.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3755,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3755","url_meta":{"origin":3479,"position":1},"title":"Negeri Para Pegawai (Negeri)","date":"20 Juli 2017","format":false,"excerpt":"Sebuah pesan whatsapp masuk di nomer ponsel saya. Ah, ternyata isinya adalah chat dari seorang teman, yang membagikan informasi tentang \u00a0adanya pembukaan penerimaan pegawai negeri sipil yang kabar - kabarnya akan dibuka di bulan agustus nanti. Saya membalasnya langsung dengan \u00a0ucap terimakasih, meski \u00a0saya bukan salah satu orang yang berkeinginan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?fit=1200%2C719&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2312,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2312","url_meta":{"origin":3479,"position":2},"title":"Demokrasi (Fotokopi) Borjuasi","date":"15 April 2014","format":false,"excerpt":"Entah mau bagaimana dunia mempercayai, namun saya meyakini, bahwa nenek moyang kita adalah bangsa dengan peradaban dan pengetahuan tinggi, entah itu dari sisi teknologi, politik atau sistem kenegaraan, namun \u00a0entah kenapa, setelah sekian dekade, \"civilization\" oleh belanda, kita menjadi menganggap remeh nenek moyang kita, dengan mempercayai bahwa mereka adalah primitif,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3479"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3479"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3479\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3528"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3479"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3479"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3479"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}