{"id":3377,"date":"2015-12-22T22:46:16","date_gmt":"2015-12-22T15:46:16","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3377"},"modified":"2015-12-22T22:46:16","modified_gmt":"2015-12-22T15:46:16","slug":"menabung-emas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3377","title":{"rendered":"Menabung Emas"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/images-3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3379\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3379\" data-orig-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/images-3.jpg?fit=275%2C183&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"275,183\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"images (3)\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/images-3.jpg?fit=275%2C183&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/images-3.jpg?fit=275%2C183&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-full wp-image-3379\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/images-3.jpg?resize=275%2C183\" alt=\"images (3)\" width=\"275\" height=\"183\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Emas adalah unsur kimia di dalam tabel periodik yang memiliki simbol Au, singkatan dari bahasa Latin: &#8216;<em>aurum<\/em>&#8216;, Memiliki nomor atom 79. Sebagai sebuah logam, emas begitu penting dalam kehidupan manusia, karena sejak dulu dijadikan sebagai alat tukar dan pembayaran. Lalu mengapa emas? bukan logam lain? Saya juga bertanya &#8211; tanya, dan mencari beberapa literatur tentang ini, ada 4 syarat yang membuat emas begitu penting.\u00a0Ternyata salah satu jawabannya adalah dari banyak unsur di tabel periodik, emas salah satu logam pertama yang digunakan di awal peradaban yang cukup langka untuk didapatkan \u00a0meskipun tidak bisa dibilang mustahil ditemukan. Dan menurut saya, karena bentuk fisik emas itu sendiri yang istimewa membuatnya disukai\u00a0sehingga banyak\u00a0dijadikaan perhiasan \u00a0sejak dulu kala.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Emas sebagai sistem tukar<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Itulah yang mebuat emas disepakati sebagai alat tukar\u00a0karena nilai intrisiknya yang tinggi dan\u00a0cenderung stabil. Sulitnya penambangan emas, membuat tidak mungkinnya\u00a0dunia mengalami kelebihan (mata uang) secara tiba-tiba Berbeda dengan uang kertas yang dengan mudah dicetak dan mudah dikendalikan peredarannya, sehingga tentu juga mudah dipermainkan nilainya. Uang kertas tidak lebih dari\u00a0kertas biasa yang\u00a0memiliki nilai\u00a0hanya karena jaminan dari negara yang mengedarkan uang tersebut. Seandainya negara yang mengedarkan uang tersebut bubar, maka uang kertas tersebut juga hangus nilainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Devisa sebuah negara harusnya berupa emas, sehingga sejumlah emas itupula negara berhak mensuplai uang kertas kepada rakyat, alias uang kertas itu sendiri dijamin oleh emas yang menjadi cadangan kekayaan negara itu. Di\u00a0indonesia, sebagian besar cadangan devisanya dalam bentuk dolar amerika serikat \u00a0dan valutas asing lain yang juga tak lebih merupakan uang kertas. Hanya kurang dari 5 persen yang berbentuk\u00a0emas. Saya kira\u00a0inilah sebabnya kondisi moneter\u00a0indonesia dengan mudah dipukul jatuh, dan begitu mudahnya krisis moneter satu negara menginfeksi negara lain termasuk indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya sendiri sedikit demi sedikit mulai berusaha merubah perimbangan &#8216;devisa&#8217;\u00a0saya dari rupiah menjadi logam mulia. Menyimpan rupiah dalam jumlah besar tentu berpotensi merugikan, karena kondisi inflasi tiap tahun indonesia dan rapuhnya kurs rupiah, membuat uang simpanan kita di bank dirampok nilainya secara halus. Satu juta rupiah sekarang tidak akan sama lagi dengan satu juta rupiah 10 tahun yang akan datang. Lain halnya dengan\u00a0logam mulia yang relatif tahan terhadap inflasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tabungan Emas Pegadaian<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun saya<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3380\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3380\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/IMG_20151126_135235-e1450798855180.jpg?fit=623%2C467&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"623,467\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"IMG_20151126_135235\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/IMG_20151126_135235-e1450798855180.jpg?fit=300%2C225&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/IMG_20151126_135235-e1450798855180.jpg?fit=623%2C467&amp;ssl=1\" class=\"alignleft  wp-image-3380\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/IMG_20151126_135235-e1450798855180.jpg?resize=310%2C235\" alt=\"IMG_20151126_135235\" width=\"310\" height=\"235\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/IMG_20151126_135235-e1450798855180.jpg?zoom=2&amp;resize=310%2C235 620w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/IMG_20151126_135235-e1450798855180.jpg?zoom=3&amp;resize=310%2C235 930w\" sizes=\"(max-width: 310px) 100vw, 310px\" data-recalc-dims=\"1\" \/>ng entah\u00a0kenapa, semua bank, entah syariah ataupun konvensional tidak menyediakan produk\u00a0tabungan emas ini. Menyimpan emas dalam bentuk fisik di rumah\u00a0akan cukup riskan, dan bank adalah tempat yang cukup aman untuk menyimpannya.\u00a0<span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Untung saja, baru &#8211; baru ini pegadaian, meluncurkan produk baru yang disebutnya tabungan emas. Dalam produk tabungan emas, <\/span><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">nasabah<\/span><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">\u00a0bisa membeli emas lalu kemudian &#8220;menitipkannya&#8221; ke pegadaian. Besaran pembeliannya pun tidak harus mengikuti standar pecahan nominal emas batangan yang ada (1 gram, 3 gram, 5 gram dan seterusnya). Kita bisa menabung emas dengan pecahan 0.01 gram atau sekitar \u00a05000-an rupiah saja ( relatif berdasarkan harga jual emas waktu itu). Jumlah gram emas yang kita tabung akan dicetak dalam buku tabungan layaknya buku tabungan biasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah emas yang disimpan terkumpul cukup banyak, kita bisa meminta pegadaian untuk mencetak tabungan\u00a0kita sebagai emas batangan, dengan terlebih dahulu membayar sejumlah ongkos cetak. Atau jika kita tidak ingin membayar ongkos cetak, kita bisa meminta pencarian langsung menjadi\u00a0dana tunai. Pihak pegadaian akan mengkonversi gram yang ingin kita cairkan dengan nilai buyback emas di hari itu. Mudah bukan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kekurangan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada beberapa kekurangan mendasar yang saya rasakan setelah mencoba produk tabungan emas milik PT. Pegadaian ini. Di era teknologi informasi sekarang, tidak adanya fasilitas online untuk cek saldo, menabung ataupun transfer dana akan sangat merepotkan bagi saya, sehingga mau tidak mau, nasabah harus meluangkan waktunya\u00a0ke kantor pegadaian. Terlebih layanan tabungan emas ini hanya buka pada hari senin &#8211; jumat mengikuti pembukaan harga emas yang memang ada secara dinamis di tiap hari kerja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya berharap institusi keuangan lain terutama bank syariah yang mulai bermunculan mulai mengikuti jejak PT Pegadaian untuk membuka produk yang serupa dengan tabungan emas. Karena tentu institusi perbankan akan memiliki sejumlah infrastruktur yang memadai untuk menjalankan\u00a0transaksi online yang sekarang sudah menjadi kebutuhan dunia perbankan moderen.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Emas adalah unsur kimia di dalam tabel periodik yang memiliki simbol Au, singkatan dari bahasa Latin: &#8216;aurum&#8216;, Memiliki nomor atom 79. Sebagai sebuah logam, emas begitu penting dalam kehidupan manusia, karena sejak dulu dijadikan sebagai alat tukar dan pembayaran. Lalu mengapa emas? bukan logam lain? Saya juga bertanya &#8211; tanya, dan mencari beberapa literatur tentang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[128,389,530],"jetpack-related-posts":[{"id":510,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=510","url_meta":{"origin":3377,"position":0},"title":"Hari - Hari Yang Sibuk","date":"7 Mei 2009","format":false,"excerpt":"Sudah lama sekali saya tidak mengupdate blog saya ini yang\u00a0 mungkin disebabkan kesibukan kuliah saya akhir - akhir ini. Bagaimana tidak, satu minggu ini terhitung setidaknya empat laporan praktikum yang harus diseleseikan. Ini belum termasuk tugas - tugas lain yang harus diseleseikan. Belum lagi jabatan saya di Himpunan Mahasiswa Elektronika\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/04\/sdc10676c.jpg?fit=1200%2C460&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2107,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2107","url_meta":{"origin":3377,"position":1},"title":"Bertahan Hidup di 'Jaman Edan'","date":"20 Oktober 2013","format":false,"excerpt":"Sebuah Catatan Untuk Diri Saya Survival skill, sebuah seni bertahan hidup. Ini bukan tentang menyimpan koin emas dan perak, ataupun mengumpulkan makanan kaleng, bukan juga tentang membeli senjata AK-47. Ini adalah tentang menyelamatkan hati, nilai, pemikiran, keyakinan, idealisme, dan kebenaran anda dari tekanan - tekanan nilai 'baru' yang berasal dari\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":131,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=131","url_meta":{"origin":3377,"position":2},"title":"Mengapa Menolak PLTN? (Bagian 2)","date":"10 Juni 2008","format":false,"excerpt":"Pada tulisan saya sebelumnya, saya telah membahas 3 prasangka negatif kebanyakan orang tentang teknologi yang satu ini. Sekarang, mari hirup nafas dalam - dalam, dan lanjutkan ke pertanyaan ke empat. Bukankah Radiasi di sekitar PLTN sangat berbahaya? Lebih dulu tentu kita harus mengetahui, apa sih radiasi itu?Radiasi biasanya berarti transmisi\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Energi Nuklir\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3377"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3377"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3377\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3377"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3377"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3377"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}