{"id":3361,"date":"2015-11-22T17:52:38","date_gmt":"2015-11-22T10:52:38","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3361"},"modified":"2015-11-22T17:52:38","modified_gmt":"2015-11-22T10:52:38","slug":"mentalitas-harga-teman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3361","title":{"rendered":"Mentalitas Harga Teman"},"content":{"rendered":"<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Masak sama teman sendiri perhitungan?&#8221;<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalimat tersebut mungkin sering didengar bagi mereka yang sekarang merintis usaha. Entah yang kecil &#8211; kecilan \u00a0ataupun yang serius. Kalimat tersebut sering dilontarkan oleh teman dekat, teman agak dekat, atau bahkan teman yang\u00a0<em>nggak<\/em> dekat &#8211; dekat <em>amat<\/em>. Harga Teman, <em>ya<\/em> begitulah mereka menyebutnya, meminta keringanan dan perlakukan khusus dari segi harga demi sebuah pertemanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fenomena ha<a href=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/images-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3352\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3352\" data-orig-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/images-1.jpg?fit=259%2C194&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"259,194\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"images (1)\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/images-1.jpg?fit=259%2C194&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/images-1.jpg?fit=259%2C194&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-full wp-image-3352\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/10\/images-1.jpg?resize=259%2C194\" alt=\"images (1)\" width=\"259\" height=\"194\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>rga teman sepertinya sudah menjadi budaya dalam masyarakat kita, saya sendiri meskipun tidak mengalami langsung, namun pernah mengalami hal yang hampir serupa. Bagi pembeli yang merupakan teman si penjual, tentulah\u00a0ini menguntungkan, makin banyak teman dia yang berjualan maka semakin banyak dia mendapatkan harga murah. Namun pernahkah kita berpikir dari sudut pandang si penjual? Jika yang meminta harga teman hanya satu dua orang mungkin tidak masalah, namun bagaimana kalau dia mempunyai banyak teman di luar sana \u00a0dan semuanya meminta harga khusus? Akankah kita bisa berharap usaha produksinya untuk cepat maju.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ini adalah salah satu kekejaman budaya kita, secara sadar ataupun tidak, diam &#8211; diam kita tidak rela teman kita yang sedang berproduksi memperoleh laba dari aktivitas komersialnya, sehingga kita menuntut harga murah kepadanya bahkan kalaupun bisa, kita ingin merugikan teman kita dengan meminta gratis. Ya, sepertinya kita\u00a0kurang memiliki empati kepada teman kita yang sedang berusaha berwirausaha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada juga beberapa orang yang memang\u00a0tidak menuntut &#8220;harga teman&#8221;, namun bukan karena empati, tapi karena memang tidak berniat membeli\u00a0dan merasa nyaman untuk bertransaksi dengan orang\u00a0lain dibandingkan dengan temannya sendiri, \u00a0meskipun ia juga tahu kualitas dan \u00a0harganya relatif sama. Bahkan hampir &#8211; hampir mereka lebih\u00a0memilih ditipu orang lain dari pada membiarkan temannya memperoleh laba<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebiasaan inilah yang\u00a0menurut saya merupakan mentalitas miskin bangsa ini, dimana seringkali mereka memandang rendah atau bahkan tidak menghargai temannya yang sedang berproduksi. Mereka merasa tidak ada yang salah dengan harga teman, kerena mereka\u00a0mempunyai mentalitas buruh yang lebih nyaman mendapatkan gaji bulanan dan menjadi kacung orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cobalah sesekali berjualan kecil &#8211; kecilan, untuk bisa meraba bagaimana perasaan mereka yang selalu kita tagih harga teman ini. Degan empati ini, maka kita\u00a0akan\u00a0berani membayar lebih mahal ketika membeli barang dan jasa dari seorang teman bukan malah meminta harga murah. Mengapa? Karena itu adalah\u00a0bentuk aspresiasi kita\u00a0terhadap\u00a0usaha produksinya. Bayangkan jika lingkaran terdekat kita saling berproduksi dan \u00a0saling berani membayar lebih mahal\u00a0seperti itu. Maka akan terjadi perputaran ekonomi di lingkaran tersebut dan hasilnya akan semakin banyak orang &#8211; orang yang berwiurausaha dan jumlah ekonomi produksi di Indonesia akan meningkat. Sejalan dengan kemauan presiden RI yang ingin mengubah mesin ekonomi indonesia dari berbasis konsumsi menjadi produksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Masak sama teman sendiri perhitungan?&#8221; Kalimat tersebut mungkin sering didengar bagi mereka yang sekarang merintis usaha. Entah yang kecil &#8211; kecilan \u00a0ataupun yang serius. Kalimat tersebut sering dilontarkan oleh teman dekat, teman agak dekat, atau bahkan teman yang\u00a0nggak dekat &#8211; dekat amat. Harga Teman, ya begitulah mereka menyebutnya, meminta keringanan dan perlakukan khusus dari segi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[180,216],"jetpack-related-posts":[{"id":117,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=117","url_meta":{"origin":3361,"position":0},"title":"Dosen A atau B","date":"9 Mei 2008","format":false,"excerpt":"Suatu ketika seorang teman mengajak saya berdiskusi tentang dosen mana yang cara mengajarnya paling baik. Dosen A, B ataukah C, kemudian teman saya tersebut menyebut dosen A sebagai dosen yang paling baik cara mengajarnya, alasannya karena dengan dosen A tersebut, dia lebih mampu menyerap pelajaran yang diajarkan. Sedangkan dosen B\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2008\/05\/untitled.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":1560,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1560","url_meta":{"origin":3361,"position":1},"title":"Lintas Jogja dengan TransJogja","date":"23 Mei 2008","format":false,"excerpt":"Ah, akhir - akhir ini saya menjadi jarang posting. Bukan karena apa - apa, namun tidak tahu kenapa komputer kampus akhir-akhir ini jadi sering error, ketika saya mengklik menu new post, eh tiba - tiba browsernya nutup sendiri. Kira - kira kenapa ya? :roll: Namun bukan itu yang sebenarnya saya\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":48,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=48","url_meta":{"origin":3361,"position":2},"title":"Perpindahan Muatan Listrik Statis","date":"26 Februari 2008","format":false,"excerpt":"Tunol adalah seorang anak berumur 7 tahun, anak seorang pedagan kain wool. Dirumahnya banyak sekali potongan-potongan kain wol yang tidak terpakai, sehingga itu sering menjadi mainan Tunol, suatu ketika ibu Tunol membelikan Tunol penggaris plastik yang elastis, begitu senangnya dengan penggaris itu, Tunol selalu membawa penggaris plastiknya itu kemanapun dia\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Fisika\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3361"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3361"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3361\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3361"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3361"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3361"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}