{"id":3320,"date":"2015-08-03T22:08:45","date_gmt":"2015-08-03T15:08:45","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3320"},"modified":"2015-08-03T22:08:45","modified_gmt":"2015-08-03T15:08:45","slug":"logika-kulit-pisang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3320","title":{"rendered":"Logika Kulit Pisang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/kulit-pisang.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3322\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3322\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/kulit-pisang.jpg?fit=303%2C192&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"303,192\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"kulit-pisang\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/kulit-pisang.jpg?fit=300%2C190&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/kulit-pisang.jpg?fit=303%2C192&amp;ssl=1\" class=\"alignleft wp-image-3322 size-full\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/kulit-pisang.jpg?resize=303%2C192\" alt=\"kulit-pisang\" width=\"303\" height=\"192\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/kulit-pisang.jpg?w=303&amp;ssl=1 303w, https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/kulit-pisang.jpg?resize=300%2C190&amp;ssl=1 300w\" sizes=\"(max-width: 303px) 100vw, 303px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Beberapa yang membaca tulisan saya sebelumnya tentang <a href=\"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3307\">Ojek Nasibmu Kini<\/a>,\u00a0\u00a0berkomentar bahwa tulisan saya tersebut\u00a0seakan memberikan justifikasi \u00a0akan\u00a0tindakan intimadasi ataupun kekerasan yang akhir &#8211; akhir ini marak dilakukan tukang ojek tradisional. Meskipun jika anda membacanya dengan penuh pemahaman saya yakin anda akan mengetahui bahwa maksud saya tidaklah demikian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya hanya hendak menyampaikan perimbangan pandangan, dari \u00a0suatu pandangan mainstream yang selama ini ada. Karena ada terlalu banyak kemungkinan yang ada di luar sana yang kita tidak tahu. Karena itu langkah yang paling tepat adalah berhati &#8211; hati dalam bersikap dan menilai. Manusia kecil seperti kita hanya mampu melihat satu potret kejadian yang diberitakan di media massa, terlepas entah informasi itu telah mengalami distorsi, pengurangan, penambahan, atau bahkan\u00a0menggiring suatu opini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berangkat dari\u00a0peristiwa intimidasi tukang ojek tradisional. Saya kembali menggarisbawahi\u00a0dengan agak panjang. Bahwa suatu peristiwa itu tidak berdiri sendiri dalam proses sejarah. Ia bagian dari keseluruhan. Ia muncul dari suatu proses yang panjang. Karena itu saya harap kita tidak melihat suatu cerita hanya sepenggal tapi melihat sebab &#8211; sebab suatu proses dan kejadian itu terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya permisalkan seseorang pemuda pengangguran yang tertangkap\u00a0maling\u00a0ayam di kampung sebelah lalu ramai &#8211; ramai digiring ke kantor polsek. Kebanyakan kita berhenti\u00a0hanya pada\u00a0peristiwa pencurian itu. Mencuri itu dosa. Tindakan kriminal. Itu benar. Namun bukankah kita harus mengarifi dengan menarik benang kebelakang, mengapa orang itu mencuri? Karena dia kelaparan? Apa tetangga dan lingkungannya selama ini <em>cuek<\/em> dan tidak perduli padanya? Lalu\u00a0mengapa ia tidak punya uang untuk membeli makan? Mungkin karena susahnya mencari lapangan pekerjaan. Bisa juga karena ada suatu proses pemiskinan dan pembodohan yang selama ini berlangsung di lingkungannya bertahun &#8211; tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka moralitas seorang pencuri. Tidak berdiri sendiri dan seratus persen menjadi tanggung jawab pribadinya. Seorang sarjana, dengan pekerjaan tetap dan gaji lumayan, meskipun dengan moral yang sama dengan seorang maling\u00a0tadi. Ia tidak akan mungkin melakukan tindakan bodoh seperti \u00a0si maling ayam itu lakukan. Sebab tingkat intelektualitas dan pengetahuan hidupnya telah membawa dirinya ke dalam suatu bentuk teknik pencurian yang lebih halus dan tak kentara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun sayangnya hukum di negeri ini dan juga pola pikir kita kebanyakan,\u00a0hanya memandang kerangka peristiwa selama beberapa detik yaitu momen dimana\u00a0pemuda itu melakukan tindakan kriminal. Kita mengasumsikan bahwa tidak ada apa &#8211; apa yang berlangsung di belakang dan sebelum tindakan kriminal itu. Kita mengansumikan negara dalam keadaan baik &#8211; baik saja. Lingkungan sosialnya baik &#8211; baik saja. Tidak ada masalah yang terjadi sebelumnya. Kita sungguh memiliki kemalasan berpikir untuk melihat lebih lebar lagi ada apa\u00a0yang terjadi dibalik\u00a0peristiwa pencurian ayam itu? Cobalah mundur di satu jam sebelumnya? Atau satu bulan sebelumnya? Satu tahun sebelumnya? bahkan sepuluh tahun sebelumnya? Mungkin penilaian kita bisa lain jadinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hidup tidaklah selinier segaris lurus yang kita kira. Dia memiliki lipatan &#8211; lipatan yang sulit kita mengerti. Terlalu banyak variabel yang ada. Untuk itulah dari waktu ke waktu kita harus berendah hati untuk terus belajar \u00a0akan banyak hal dan realitas. Sehingga kita sampai pada kesadaran objektif yang lepas dari asumsi &#8211; asumsi relatif itu\u00a0.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka sungguh tidak bijak\u00a0jika kita tidak hanya menghakimi seorang pelacur sebagai sampah masyarakat, tanpa melihat\u00a0kondisi dan sistem tatanan sosial di sekitarnya yang menyebabkan seseorang perempuan dipaksa untuk melacur. Kita harus memiliki kerendahan hati dan kewaspadaan ekstra, jangan &#8211; jangan, kita ternyata salah satu roda &#8211; roda pendukung yang ikut berkontribusi terbentuknya suatu tatanan yang menyebabkan seseorang perempuan untuk melacur?\u00a0Sialnya lagi\u00a0kebudayaan kita cenderung kurang\u00a0adil, hanya meletakan seorang perempuan tertentu dengan predikat pelacur. Padahal ada banyak praktik pelacuran lain di bidang politik, budaya, hukum, dan keilmuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitupun dengan\u00a0tayangan &#8211; tayangan di\u00a0televisi umpamanya yang membuat generasi muda kita rusak mental dan ruhaninya, sehingga\u00a0memiliki kebiasaan hidup yang hedonis dan menjauhkan diri dari Allah. Lantas \u00a0apakah kemudian anak-anak itu\u00a0yang paling besar menanggung dosa, ataukah produsen tayangan televisi itu akan lebih dimintai pertanggungjawaban oleh Allah?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya mengakhiri tulisan saya ini dengan logika sederhana. Jika ada seorang pejalan kaki yang\u00a0tak berhati &#8211; hati lantas\u00a0terpeleset\u00a0akibat\u00a0kulit pisang di jalan, apakah orang yang membuang kulit pisang lantas bisa\u00a0bebas dari tanggung jawab?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa yang membaca tulisan saya sebelumnya tentang Ojek Nasibmu Kini,\u00a0\u00a0berkomentar bahwa tulisan saya tersebut\u00a0seakan memberikan justifikasi \u00a0akan\u00a0tindakan intimadasi ataupun kekerasan yang akhir &#8211; akhir ini marak dilakukan tukang ojek tradisional. Meskipun jika anda membacanya dengan penuh pemahaman saya yakin anda akan mengetahui bahwa maksud saya tidaklah demikian. Saya hanya hendak menyampaikan perimbangan pandangan, dari \u00a0suatu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3322,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[8,11],"tags":[161,166,269,364],"jetpack-related-posts":[{"id":3307,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3307","url_meta":{"origin":3320,"position":0},"title":"Tukang Ojek, Nasibmu Kini","date":"2 Agustus 2015","format":false,"excerpt":"Akhir - akhir ini mulai marak mengenai pemberitaan konflik antara tukang ojek tradisional konvensional yang biasanya mangkal di gang - gang dan sudut - sudut perumahan, dengan tukang ojek pesanan online melalui aplikasi seperti Gojek dan Grabbike. Di beberapa sudut gang marak spanduk - spanduk provokatif yang melawan kehadiran ojek\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=620%2C354&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3705,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3705","url_meta":{"origin":3320,"position":1},"title":"Kita Bagian dari Sistem Transportasi Indonesia Yang Payah","date":"26 Maret 2017","format":false,"excerpt":"Dalam tulisan saya sekitar satu tahun yang lalu, saya sempat membahas tentang fenomena dari konflik ojek online dan transportasi lokal yang sudah lebih dulu berpuluh -puluh tahun hadir. Namun akhir - akhir ini isu tersebut kembali mencuat lagi.\u00a0Konflik angkutan umum dengan ojek online di beberapa daerah, seperti Malang, Jogja, Bandung,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=620%2C354&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3436,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3436","url_meta":{"origin":3320,"position":2},"title":"Tulisan Minggu Malam","date":"27 Maret 2016","format":false,"excerpt":"Sudah sekitar satu\u00a0bulan saya tidak mengisi blog ini. Sebenarnya saya masih aktif blogging, namun di blog sebelah, elektronika.ruangtedy.net. Agak menyusahkan memang mempunyai banyak blog. Agak? \u00a0Susah banget kali ya. Ya, mungkin pas awal bikin banyak blog dalam kondisi masih kuliah, alias kurang kerjaan. Dan kini berhubung sudah banyak kerjaan. ya\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3320"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3320"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3320\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3322"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3320"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3320"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3320"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}