{"id":3307,"date":"2015-08-02T12:11:17","date_gmt":"2015-08-02T05:11:17","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3307"},"modified":"2015-08-02T12:11:17","modified_gmt":"2015-08-02T05:11:17","slug":"nasib-tukang-ojek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3307","title":{"rendered":"Tukang Ojek, Nasibmu Kini"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3308\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3308\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=620%2C354&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"620,354\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=300%2C171&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=620%2C354&amp;ssl=1\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3308\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?resize=620%2C354\" alt=\"Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike\" width=\"620\" height=\"354\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?w=620&amp;ssl=1 620w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?resize=300%2C171&amp;ssl=1 300w\" sizes=\"(max-width: 620px) 100vw, 620px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Akhir &#8211; akhir ini mulai marak mengenai pemberitaan konflik antara tukang ojek tradisional konvensional yang biasanya <em>mangkal<\/em> di gang &#8211; gang dan sudut &#8211; sudut perumahan, dengan tukang ojek pesanan online melalui aplikasi seperti Gojek dan Grabbike. Di beberapa sudut gang marak spanduk &#8211; spanduk provokatif yang melawan kehadiran ojek pesanan melintasi suatu kawasan tertentu. Saya prihatin sekaligus entah tidak tahu harus bersikap apa, terlebih media sosial begitu ramai memperbincangkan banyak konflik yang terjadi seperti pemukulan terhadap pengemudi ojek online\u00a0dan lain sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada baiknya sebelum menilai, kita mengambil langkah mundur untuk menilai dengan jernih persoalan ini. Tentu penolakan dari tukang ojek pangkalan itu ada, sebagai sebuah resistensi terhadap terancamnya keberlangsungan mata pencaharian mereka. Siapa yang melindungi nasib mereka dari arus deras teknologi informasi yang menyerbu dan mengancam piring nasi istri dan anak mereka selain \u00a0diri mereka sendiri?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adanya tindakan anarkis tentu bukan hal yang berdiri sendiri, melainkan pasti ada sebuah sebab yang melatarbelakanginya, saya merasakan ada sebuah sebuah perasaan terancam, dan ketidakpercayaan terhadap negara yang harusnya menjaga dan menjamin mereka untuk mencari nafkah.\u00a0Maka jika kita melihat di sisi ini, kita tidak bisa seratus persen menyalahkan tindakan preman para tukang ojek pangkalan. Mereka bukan seorang yang melek IT &#8211; seperti anak muda jaman sekarang yang mahir\u00a0menggunakan\u00a0<em>smartphone,<\/em>\u00a0sehingga bagaimana mungkin mereka bisa \u00a0bergabung dengan arus baru &#8220;ojek online&#8221;. Jangan salahkan mereka.\u00a0Siapakah yang\u00a0digaji dengan uang pajak sehingga memiliki tugas memberikan pelatihan dan pemahaman IT kepada rakyat termasuk tukang ojek?<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/banner-anti-gojek-grabbike.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3309\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3309\" data-orig-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/banner-anti-gojek-grabbike.jpg?fit=668%2C405&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"668,405\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"banner-anti-gojek-grabbike\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/banner-anti-gojek-grabbike.jpg?fit=300%2C182&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/banner-anti-gojek-grabbike.jpg?fit=668%2C405&amp;ssl=1\" class=\"aligncenter wp-image-3309 size-full\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/banner-anti-gojek-grabbike.jpg?resize=668%2C405\" alt=\"banner-anti-gojek-grabbike\" width=\"668\" height=\"405\" srcset=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/banner-anti-gojek-grabbike.jpg?w=668&amp;ssl=1 668w, https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/banner-anti-gojek-grabbike.jpg?resize=300%2C182&amp;ssl=1 300w\" sizes=\"(max-width: 668px) 100vw, 668px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi ketika para tukang ojek itu gaptek, tentu itu bukan dosa mereka, para orang kecil itu sudah terlalu sibuk untuk menyambung hidup keluarganya, sehingga lupa akan datangnya\u00a0tsunami teknologi informasi yang hampir &#8211; hampir menyapu bersih dan menenggelamkannya. Pun juga, kita tidak bisa menyalahkan 100 persen atas tindakan kekerasan yang mereka lakukan, karena melalui pengalaman hidup seperti apa sehingga mereka bisa berlaku lembut, di suatu atmosfir indonesia yang penuh dengan kekerasan ekonomi, kekerasan politik, kekerasan budaya dan sosial akhir &#8211; akhir ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para tukang ojek itu\u00a0tidak seperti sarjana &#8211; sarjana yang berjejer-jejer gelarnya, yang dengan mudah membuat proposal untuk mengemis sumbangan perusahaan &#8211; perusahaan, mereka tidak seberuntung orang yang bercelana dan berkemeja rapi yang hidupnya serba terlindungi dan tercukupi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka dalam hal ini,\u00a0alangkah bijak untuk\u00a0tidak\u00a0terlalu cepat menilai sebelum menganalisis masalah &#8211; masalah ini dalam beberapa lapisan yang coba saya utarakan sedikit dalam beberapa bagian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pesatnya Arus Teknologi Informasi<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan era teknologi informasi benar &#8211; benar merevolusi cara pandang kita tentang batas &#8211; batas daerah mulai dari kota, provisi hingga negara. \u00a0Sekat &#8211; sekat itu praktis hampir tidak ada. Seseorang yang berjauhan berbeda pulau bahkan berbeda negara bisa saling berkirim pesan singkat di ponselnya dalam hanya beberapa detik dengan biaya yang murah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Era transaksi yang dahulu menggunakan uang tunai dan membutuhkan waktu berhari &#8211; hari untuk mengirimkan sejumlah rupiah ke daerah sebrang, kini hanya memerlukan waktu beberapa detik saja dengan teknologi e-banking. Mungkin besok &#8211; besok kita bisa buang hajat tiap pagi juga secara online.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari kemudahan mengirim\u00a0uang melalui internet, berkembanglah era jual beli online, model belanja gaya baru\u00a0yang tidak membutuhkan tatap muka antara penjual dan pembeli, semua transaksi &#8211; mulai dari pemesanan barang hingga pembayaran cukup dilakukan lewat internet. Mudah dan sederhana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lambat laun, semua orang bisa menjadi penjual\u00a0asalkan terknoneksi dengan internet, mereka\u00a0dengan mudah menjajakan banyak komoditas, tanpa harus\u00a0membuka kios toko di pasar, di mall, atau di pinggir &#8211; pinggir jalan dengan menanggung resiko bermain \u00a0petak umpet dengan satpol pp. Semuanya dilakukan\u00a0dengan sekali klik, menjual\u00a0komoditas\u00a0\u00a0di Internet.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin nanti pasar dan mall tidak akan lagi ramai seperti sekarang, lambat laut mereka semua akan beralih berdagang secara online. tidak ada lagi tatap muka, tidak ada lagi obrolan ibu &#8211; ibu warung dengan penjual sayur keliling. Tidak ada lagi sentuhan manusia dengan manusia. Semua berubah menjadi kapitalisme, apa yang dihargai dari anda tidak lebih dari kepemilikan rupiah di kantong dan di rekening tabungan\u00a0anda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka kini kita semua menjadi saksi nyata dari \u00a0masa transisi dari sebuah era yang disebut orang sebagai jaman \u00a0&#8220;kegelapan&#8221; yang konvensional trandisional, menuju sebuah abad &#8220;pencerahan&#8221; yang serba\u00a0moderen dan digital. Dan di setiap\u00a0masa transisi, sebuah\u00a0konflik tak akan bisa dihindari, antara kaum pembaharu yang mencoba masuk di satu pihak melawan\u00a0pihak lain yang merupakan\u00a0kaum konservatif yang bertahan dengan nilai &#8211; nilai lama yang telah dipegangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam tulisan\u00a0ini saya membuat satu penafian\u00a0 bahwa apa yang baru itu tak selalu baik, dan yang\u00a0konservatif \u00a0tradisional juga tak selamanya buruk.\u00a0Masing &#8211; masing ibarat dua sisi mata uang dengan \u00a0plus minusnya\u00a0yang silih berganti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika sebuah nilai baru mulai\u00a0diterapkan, akan ada beberapa respon masyarakat terhadap nilai &#8211; nilai yang masuk tersebut. Di satu\u00a0sisi ekstrim ada pihak dengan tangan terbuka menerima pembaruan \u00a0dan langsung menjadikannya\u00a0sebagai\u00a0nilai &#8211; nilainya yang baru seraya membuang jauh &#8211; jauh nilai &#8211; nilai lama yang dulu dipakainya. Saya coba menyebutnya \u00a0sebagai adopsi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi ekstrim yang lain, ada yang mencoba bertahan dengan nilai yang ada, dan menolak mentah &#8211; mentah nilai baru yang masuk. Mereka sebisa mungkin bertahan, dan mencoba mengalahkan nilai baru tersebut. Hasilnya ada dua\u00a0kemungkinan, mereka tergerus nilai baru\u00a0lalu mati, atau jika mereka beruntung, mereka masih bertahan meskipun dengan gerak terbatas, sedangkan kemungkinan kedua mereka menjadi besar hingga\u00a0mengalahkan nilai baru tersebut. Ekstrim ini saya sebut sebagai sebuah proses resistensi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di antara keduanya, ada pihak yang menerima nilai &#8211; nilai baru meskipun dengan kehati-hatian, dan kewaspadaan sikap untuk\u00a0memilah dan memilih, sedemikian hingga nilai &#8211; nilai baru ini bisa hidup berdampingan dengan nilai -nilai lama dan\u00a0menghasilkan suatu nilai baru yang berbeda dengan dua nilai yang sudah ada\u00a0sekaligus\u00a0masih sesuai dan kompatibel dengan keduanya, saya sebut proses itu sebagai alkuturasi atau adaptasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka di pihak manakah kita harusnya ikut mengambil barisan. <em>khairul umuri ausatuha<\/em>. Sebaik &#8211; baik urusan adalah di pertengahan. Maka konsekuensinya di barisan ini adalah kejernihan pandangan dalam\u00a0\u00a0mengaspresiasi\u00a0\u00a0dua ekstrim yang ada untuk kemudian mengambil sikap di tengah -tengah. mengambil apa yang baik dan membuang segala yang buruk dari keduanya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam jual beli online sebenarnya juga ada potensi konflik, para penjual tradisional yang menjual barang dagangannya di toko saya yakin sudah banyak yang mengeluh akan omzetnya yang menurun, namun konflik tidak terjadi seperti halnya kasus tukang ojek, karena penjual online dan penjual tradisional tidak pernah bertemu secara fisik, berbeda dengan tukang ojek yang lebih rentan gesekan karena pertemuan fisik yang tidak bisa dihindarkan antara mereka berdua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tukang Ojek, Sebagai Indikator Transportasi Publik<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut teori ekonomi, suatu penawaran terjadi dikarenakan adanya banyak permintaan. Ojek hadir di tengah masyarakat dikarenakan sistem transportasi publik yang ada tidak mencukupi masyarakat untuk berpergian dari satu titik ke titik yang lain. Di negara &#8211; negara maju yang memiliki transportasi publik yang bagus, jasa transportasi seperti ojek \u00a0akan mengalami perkembangan yang\u00a0terbatas dan tidak sepesat di Indonesia\u00a0yang belum memiliki transportasi publik yang memadai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari hipotesis ini, maka kita bisa \u00a0menilai kinerja suatu pemerintah di sektor transportasi umum ditandai dengan pesatnya pertumbuhan tukang ojek. Semakin banyak tukang ojek di suatu daerah menandakan semakin <em>gak becusnya<\/em> pemerintah meladeni kebutuh transportasi massal rakyatnya, begitupun pula sebaliknya.\u00a0Maka dari pesatnya pertumbuhan tukang ojek online, harusnya menjadi tamparan keras dan bahan kajian serta instrospeksi bagi pemangku kepentingan mengenai jauhnya jarak antara permintaan dengan\u00a0 pelayanan pemerintah terhadap angkutan umum bagi rakyat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Berhati &#8211; hati<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyaknya konflik yang diangkat di media mengenai konflik tukang ojek kadang berat sebelah, di beberapa media yang saya baca, banyak yang terlalu mendiskreditkan tukang ojek tradisional, dengan kesan bahwa ojek online telah dizalimi. Pun begitu saya cenderung menaruh kewaspadaan pada beberapa media sosial yang memberitakan konflik ini, terlebih jika konflik yang diberitakan cenderung\u00a0dibumbui oleh opini &#8211; opini sepihak yang boleh jadi terkesan menyudutkan satu pihak saja. Boleh jadi itu trik pemasaran dari ojek online agar semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat, karena yang saya tahu layanan ojek online belum ada yang secara resmi mengiklankan dirinya di media mainstream seperti televisi atau koran. Semoga kecurigaan saya itu salah. Karena itu bukanlah cara pemasaran yang sehat jika anda mempromosikan diri sembari\u00a0menjatuhkan yang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rakyat memang merupakan pihak yang selalu dijadikan korban\u00a0oleh kemalasan berpikir pemerintahnya, begitu lama, hingga lama kelamaan mereka\u00a0menganggap penindasan itu bukanlah penindasan. Baik ojek tradisional, ojek online ataupun penumpangnya, sebenarnya merupakan korban dari sebuah sistem transportasi yang bobrok akibat pemerintahan yang \u00a0tidak becus mengelola dan melayani rakyat yang telah membayarnya. Hal itulah yang menyebabkan masing &#8211; masing pihak akhirnya bertindak sendiri &#8211; sendiri untuk menyelamatkan kepentingan dan dapurnya, sehingga berujung pada gesekan dan konflik horisontal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanpa mencoba meyederhanakan masalah. Kita harus mahfum bahwa para tukang ojek tradisional yang melakukan tindakan preman itu sudah barang tentu bukanlah dari golongan orang yang mengenyam sekolah hingga ke pendidikan tinggi, bukan seperti pemilik dan pendiri ojek online. Mereka tidak punya kepekaan dan kewaspadaan untuk cerdas mengantisipasi dan\u00a0menghimpun diri mereka dalam sebuah organisasi seperti koperasi atau semacamnya untuk menjadi alternatif gerakan dari ojek online. Strategi dan penyikapannya sudah barang tentu akan cenderung lebih emosional, bahkan\u00a0mungkin cenderung merupakan sikap &#8220;bunuh diri&#8221;. Maklum, selama ini\u00a0mereka hanya menjadi <em>ojekan<\/em>\u00a0dan tunggangan para calon kepala daerah dan politisi partai tiap lima tahun sekali untuk sampai ke tujuan karir politiknya, lalu begitu tiba di tujuan, jasa mereka akan dilupakan hanya dengan 10 ribu dan 20 ribu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oh tukang ojek, nasibmu kini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akhir &#8211; akhir ini mulai marak mengenai pemberitaan konflik antara tukang ojek tradisional konvensional yang biasanya mangkal di gang &#8211; gang dan sudut &#8211; sudut perumahan, dengan tukang ojek pesanan online melalui aplikasi seperti Gojek dan Grabbike. Di beberapa sudut gang marak spanduk &#8211; spanduk provokatif yang melawan kehadiran ojek pesanan melintasi suatu kawasan tertentu. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3308,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[11],"tags":[161,166,364,379],"jetpack-related-posts":[{"id":3320,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3320","url_meta":{"origin":3307,"position":0},"title":"Logika Kulit Pisang","date":"3 Agustus 2015","format":false,"excerpt":"Beberapa yang membaca tulisan saya sebelumnya tentang Ojek Nasibmu Kini,\u00a0\u00a0berkomentar bahwa tulisan saya tersebut\u00a0seakan memberikan justifikasi \u00a0akan\u00a0tindakan intimadasi ataupun kekerasan yang akhir - akhir ini marak dilakukan tukang ojek tradisional. Meskipun jika anda membacanya dengan penuh pemahaman saya yakin anda akan mengetahui bahwa maksud saya tidaklah demikian. Saya hanya hendak\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3705,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3705","url_meta":{"origin":3307,"position":1},"title":"Kita Bagian dari Sistem Transportasi Indonesia Yang Payah","date":"26 Maret 2017","format":false,"excerpt":"Dalam tulisan saya sekitar satu tahun yang lalu, saya sempat membahas tentang fenomena dari konflik ojek online dan transportasi lokal yang sudah lebih dulu berpuluh -puluh tahun hadir. Namun akhir - akhir ini isu tersebut kembali mencuat lagi.\u00a0Konflik angkutan umum dengan ojek online di beberapa daerah, seperti Malang, Jogja, Bandung,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=620%2C354&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3436,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3436","url_meta":{"origin":3307,"position":2},"title":"Tulisan Minggu Malam","date":"27 Maret 2016","format":false,"excerpt":"Sudah sekitar satu\u00a0bulan saya tidak mengisi blog ini. Sebenarnya saya masih aktif blogging, namun di blog sebelah, elektronika.ruangtedy.net. Agak menyusahkan memang mempunyai banyak blog. Agak? \u00a0Susah banget kali ya. Ya, mungkin pas awal bikin banyak blog dalam kondisi masih kuliah, alias kurang kerjaan. Dan kini berhubung sudah banyak kerjaan. ya\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3307"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3307"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3307\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3308"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3307"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3307"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3307"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}