{"id":3182,"date":"2015-05-16T09:09:34","date_gmt":"2015-05-16T02:09:34","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3182"},"modified":"2015-05-16T09:09:34","modified_gmt":"2015-05-16T02:09:34","slug":"proxima-centauri-bagian-ke-11","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3182","title":{"rendered":"Proxima Centauri (Bagian ke &#8211; 11)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3173\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3173\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?fit=1900%2C1267&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1900,1267\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"e16\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?fit=300%2C200&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?fit=708%2C472&amp;ssl=1\" class=\"alignleft wp-image-3173 size-medium\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?resize=300%2C200\" alt=\"e16\" width=\"300\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?resize=1024%2C683&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?w=1900&amp;ssl=1 1900w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?w=1416 1416w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Pandangan mataku masih kulayangkan di jendela bus di sampingku. Mengharapkan ada sesuatu yang baru dapat kutemui saat itu. Mengamati toko-toko yang berjajar, kantor &#8211; kantor dan bank serta bangunan &#8211; bangunan lain di\u00a0pinggir jalan, juga kendaraan bermotor yang berebut jalan &#8211; seperti anak kecil yang berebut\u00a0kue. Mungkin memang mereka adalah\u00a0anak kecil, yang begitu gemar bermain\u00a0klakson tanpa bisa menggunakan nalarnya bahwa\u00a0jalanan tidak akan menjadi lengang\u00a0hanya dengan membunyikan suara &#8211; suara gaduh itu. Ya, namanya juga anak kecil, jadi tentu tidak bisa disalahkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitulah suasana jakarta\u00a0<em>after hours<\/em>, saat \u00a0jam pulang kerja. \u00a0Suasana ibukota yang selalu\u00a0begitu terburu-buru. Terburu &#8211; buru di jalanan, terburu &#8211; buru mengejar kereta, terburu &#8211; buru mengejar bus, terburu &#8211; buru menyeleseikan pekerjaan. Begitu terburu &#8211; buru seolah tak ada waktu lagi. Begitu terburu -buru sehingga merasa\u00a0\u00a0tidak ada kesempatan menunggu,\u00a0termasuk menunggu seseorang yang hidupnya sedang mengalami rasa gelisah dan patah hati. Seperti aku. Ya, seperti aku yang hampir saja tertinggal bus. Seperti aku \u00a0yang dipaksa terengah &#8211; terengah\u00a0berlari, jika tidak ingin harus menunggu bus berikutnya setengah jam lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menjalani rutinitas di jakarta kadang memang berat, juga bisa jadi\u00a0\u00a0membosankan. Begitulah setidaknya kata banyak orang. Untungnya aku memiliki sistem imun untuk rasa bosan. Untungnya aku adalah sejenis orang yang selalu dapat mengenakan pakaian yang sama dan melahap makanan yang sama serta pergi ke tempat yang sama selama beratus &#8211; ratus\u00a0tahun tanpa harus merasa bosan dengan semua itu, sepanjang aku bisa selalu memperbarui setiap cara pandangku terhadap setiap aktivitas yang kujalani secara rutin setiap hari itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukan rutinitas yang membuatku bosan. Mungkin itu disebabkan oleh\u00a0kesendirianku, meski ada beberapa\u00a0teman dekat. Namun entah mengapa, terkadang, seperti saat sekarang ini, aku sering merasa kesendirian itu semakin sering menghampiriku, bahkan mungkin ia\u00a0sudah berteman akrab denganku, dan sebagaimana teman baik, ia selalu punya cara untuk hadir di setiap kesempatan dan berusaha menyesuaikan dirinya denganku dimanapun aku berada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kesendirian sering memberiku beberapa kesempatan, seperti saat ini, saat di dalam bus dengan\u00a0pandangan\u00a0yang masih mengarah ke\u00a0jendela -memikirkan\u00a0kelak ada\u00a0seorang\u00a0gadis yang cukup \u00a0cerdas dan berwawasan luas, yang membuat kesendirian angkat kaki\u00a0dariku. Seorang gadis yang bisa menjadi teman diskusi akan banyak hal, termasuk tentang buku &#8211; buku yang kubaca. Seorang gadis yang bisa menemaniku ke bioskop dan menyelamatkanku dari bengong sendirian saat jeda iklan diputar sebelum film dimulai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku berharap\u00a0gadis itu\u00a0\u00a0ialah Kimya. Aku mungkin bermimpi terlalu tinggi. Pikirku sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku kini\u00a0menumpang sebuah bus antar kota yang membawaku, dalam perjalananku pulang setelah seharian penuh bekerja. Namun aku kini tidak menumpang bus yang biasanya langsung membawaku ke tempat kos\u00a0&#8211; di \u00a0daerah di jakarta selatan, semenjak beberapa minggu\u00a0yang lalu, aku menumpang bus yang lain. Bus yang ini membawaku mampir terlebih dahulu ke suatu tempat, tidak hanya membawa ragaku namun juga &#8211; yang lebih penting, kenanganku.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Malam menenggelamkan cahaya mentari dan menyisakan sisa cahayanya di langit menyambut bus yang aku tumpangi tiba di tempat tujuanku. Aku sudah bersiap berdiri di depan pintu bus, sebelum bus itu berhenti sebentar di depan halte untuk memberikan \u00a0waktu sekitar 3 detik untukku turun dan menginjak jalanan beraspal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini, di depanku sebuah kafe dengan <em>plang<\/em> nama yang dibuat dari huruf-huruf yang tersusun <em>apik<\/em> diatas pintu masuknya bertuliskan <em>Najma Cafe<\/em>. Ya, Najma Cafe adalah kafe dimana aku pernah bertemu Kimya dulu. Namun aku tidak hendak mampir untuk memesan kopi dan membaca buku seperti biasanya, tidak ada waktu untuk itu di hari kerja seperti ini. Aku hanya sekedar melewati pintu depan kafe ini sambil\u00a0berharap tak sengaja melihat dan berpapasan dengan Kimya, Atau mengharapkan\u00a0Kimya\u00a0mengagetkanku tiba &#8211; tiba, menepuk pundaku dari belakang, Tapi harapan yang terakhir itu sepertinya mustahil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak beberapa hari yang lalu, hampir di setiap sore aku berjalan kaki dari kafe ini\u00a0menyusuri trotoar, melintasi deretan\u00a0kafe dan rumah makan, toko buku, apotek, tanpa menghiraukan lalu lalang di sekitarku\u00a0sepasang muda mudi yang bergandengan tangan layaknya proton dan elektron yang enggan untuk lepas kala ia sudah berdekatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku berjalan sekitar lima belas menit, hingga menyebrangi satu perempatan jalan, yang cukup padat, sebelum akhirnya berbelok kekiri beberapa meter, \u00a0sampai aku bertemu \u00a0sebuah bangunan yang menyerupai\u00a0rumah susun namun lebih kecil, hanya ada\u00a0tiga lantai, dengan cat tembok warna biru, begitu terlihat megah di pinggir jalan raya dengan pagar berteralis besi yang cukup tinggi mengelilinginya.\u00a0Namun pagar itu tak menghalangi pandanganku \u00a0untuk menatap balkon &#8211; balkonnya \u00a0yang berjejer di lantai dua dan tiga. Aku\u00a0bahkan bisa menghitung jumlahnya di masing sisi- sisi bangunan, total aku memperkirakan ada dua puluh kamar &#8212; dengan asumsi satu balkon merepresentasikan satu kamar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangunan ini adalah tempat\u00a0<em>indekos<\/em> khusus putri, siapa pemiliknya, aku tak tahu. Di salah satu kamar <em>indekos<\/em>\u00a0inilah Kimya tinggal. Aku tak tahu menahu Kimya\u00a0berada di kamar sebelah mana, tapi aku tak terlalu memusingkannya, karena ketidaktahuan itu tetap tak menghalangi jantungku berdegup kencang ketika menatap dan melintasi sisi bangunan ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak orang menggapku aneh, atau setengah sinting dan tak waras, kala aku begitu canggung jika melewati bangunan ini. Ini hanya sekedar bangunan dengan tembok, yang terdiri beton atau batubata, yang dilapisi semen, dan seterusnya. Sama halnya dengan bangunan &#8211; bangunan lain di seantero jakarta. Namun bukankah masjid &#8211; tempat ibadah umat muslim, \u00a0juga terdiri susunan batu bata, semen, lantai dan atap? Ia juga tidak lebih dari bangunan sebagaimana bangunan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah bangunan hanya bisa disebut\u00a0\u00a0masjid \u00a0kala ia\u00a0dijadikan tempat bersujud &#8211; sebagaimana kata <em>masjid<\/em>\u00a0sendiri yang artinya\u00a0&#8220;tempat bersujud&#8221;. Jadi tembok, atap, lantai, hanyalah\u00a0bentukan jasad, sedangkan yang menjadikan ia\u00a0sebagi <em>masjid<\/em> adalah ruhnya.\u00a0Dimanapun seorang muslim bersujud maka di tempat\u00a0itu seketika berubah menjadi\u00a0masjid. Ketika\u00a0seorang muslim menemukan kehadiran Tuhannya di setiap tempat, maka \u00a0sejatinya, hidupnya itu\u00a0bersujud, dan ia menemukan masjid di setiap jengkal\u00a0tanah ciptaan Tuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pun begitu bagiku. Memang, bangunan ini\u00a0hanyalah kehadiran jasad, sama dengan bangunan &#8211; bangunan lain. Yang membuat bangunan\u00a0ini menjadi begitu membuatku canggung hingga terkadang seolah\u00a0membuat jantungku berdegup tak teratur adalah ruh didalamnya, ruh itu adalah keindahan\u00a0Kimya yang tinggal di salah satu kamarnya dan perasaanku sendiri yang menggebu &#8211; gebu dan larut di\u00a0dalam setiap sisi bangunan\u00a0ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka karena begitu canggungnya, kadang aku menjadi begitu kehilangan kepercayaan diri kala melewati rumah <em>indekos<\/em> ini. Serasa\u00a0tak sanggup menahan beban kepala, hingga membuat kepalaku menunduk kala melewatinya, dengan perasaan sedikit was &#8211; was, kalau &#8211; kalau, tiba &#8211; tiba berpapasan dengan\u00a0Kimya\u00a0atau ia memanggil namaku dengan setengah\u00a0berteriak dari balkon kamarnya. Ada semacam perasaan takut, canggung, yang\u00a0bercampur dengan harapan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun kejadian itu mungkin hampir mustahil, sejauh ini aku belum pernah berpapasan dengannya. Kadang jika aku beruntung, sesekali aku bisa melihat Kimya dari kejauhan, berjalan masuk atau keluar pagar rumah indekosnya, jika sudah begitu, maka aku akan menghentikan langkahku lalu\u00a0menepi beberapa saat di tepi dalam\u00a0trotoar, berusaha agar tak terlihat olehnya. Aku bisa perhatikan \u00a0ia mengenakan rok panjang anggun yang tertutup, rambut hitam ikal yang tergerai, dengan leher\u00a0jenjang \u00a0dengan\u00a0cara berjalan yang begitu mempesona. Aroma parfumnya masih bisa kucium samar, ketika kemudian aku melewati tempat dimana ia tadi berdiri \u00a0meskipun itu sudah beberapa menit\u00a0yang lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suatu hari, saat aku melintasi sisi depan bangunan ini,\u00a0\u00a0kuberanikan diri untuk menatap deretan balkon itu satu persatu, \u00a0 tak sengaja pandanganku terarah pada \u00a0pot rosmarun yang berada di sebuah\u00a0balkon \u00a0lantai dua. Ya,balkon kedua dari kiri. Aku setengah ragu &#8211; ragu &#8212; khawatir jika salah, namun setelah sekian lama memandang, aku\u00a0\u00a0hampir bisa memastikan jika itu\u00a0adalah mawar rosmarun\u00a0yang beberapa hari lalu aku kirimkan pada Kimya. Tidak ada rosmarun lain yang dijual di jakart, selain di kedai yang kubeli kemarin. Setidaknya begitu yang kudengar dari\u00a0\u00a0bapak penjual bunga kemarin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untunglah Kimya sudi menerima mawar itu dan bersedia\u00a0merawatnya, <em>Duh<\/em> aku jadi iri, betapa beruntungnya menjadi mawar\u00a0rosmarun itu, yang bisa bersanding tiap hari melihat kecantikan Kimya dari dekat. Melihatnya pertama kala bangun tidur, dan mendapatkan perhatiannya di tiap pagi dan juga sore.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi setidaknya mawar\u00a0itu sudah cukup\u00a0membantuku untuk menemui si pemilik\u00a0kecantikan itu\u00a0\u00a0tinggal. \u00a0Setidaknya mulai sekarang, aku bisa memandangi\u00a0balkon itu di setiap sore dari kejauhan, dan jika aku beruntung, ia keluar dari dalam kamarnya suatu waktu<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah melintasi\u00a0rumah indekos itu, dengan debar hati yang begitu sedih bercambur bahagia, aku bersegera melanjutkan perjalanan untuk mencapai halte terdekat, menunggu bus yang membawaku pulang, berbekal kenangan yang lebih dari cukup kusimpan untuk semalam ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti biasanya, di setiap malam, seusai sepulang kerja aku akan beristirahat sebentar duduk di balkon rumah\u00a0mencari udara, sebelum kemudian mandi dan bersiap untuk beristirahat. Hari ini adalah hari jumat, dan besok adalah jadwalku untuk kursus bahasa inggris. Aku sudah memutuskan untuk <em>mbolos<\/em> saja besok, <em>toh<\/em> aku tidak akan mendapatkan apa &#8211; apa lagi di kursus yang membosankan itu. Begitupun Kimya sudah pasti ia akan menghindar bertemu denganku. Sekian minggu aku tidak berpapasan lagi\u00a0dengannya di tempat kursus, mungkin ia mengambil kelas di jam\u00a0lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku sudah mulai membuka ruang untuk \u00a0menerima itu sebagai sebuah kenyataan hidup. Meski mungkin, aku tak tahu sampai kapan perhatianku padanya bisa hilang. Aku mungkin masih akan melintasi jalan &#8211; jalan dari kafe menuju kosnya, di beberapa hari, beberapa minggu, atau beberapa bulan berikutnya sampai benar &#8211; benar \u00a0rindu yang kurasakan ini hilang. Tapi aku tidak akan lagi berusaha\u00a0menampak-nampakan\u00a0diriku padanya, atau merebut perhatiannya, yang mungkin dianggapnya terlalu mengganggu. Cinta bukan datang karena terbiasa, ia adalah kecocokan hati, demikian kata salah seorang penyair asal Lebanon dalam bukunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai gantinya, besok aku berencana akan berkunjung ke\u00a0\u00a0kedai kopi milik Kiran yang baru buka beberapa hari yang lalu. Setelah beberapa minggu ia tinggal di Indonesia &#8212; pembicaraan kita saat kujemput ia di bandara kini terbukti, \u00a0ia mencoba peruntungannya, kini dengan membuka sebuah\u00a0kedai kopi kecil &#8211; kecilan di daerah Depok, cukup dekat dengan kawasan kampus. Memang, seiring waktu\u00a0tren penikmat kopi di Indonesia semakin meningkat. Entah karena semakin maraknya film \u00a0dan novel yang mengangkat tema kopi, sehingga semakin banyak orang yang terdampak untuk ikut-ikutan menyukai minuman hitam itu, atau memang makin banyak orang yang gemar bergadang sepertiku, dengan ditemani kesendirian yang pahit dari secangkir kopi hitam?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi kopi tidak benar &#8211; benar pahit, jika lidah kita sudah menyesuaikan diri dengannya. Seiring dengan waktu kita bisa sangat menikmati kopi pahit tanpa gula. Mungkin begitupula dengan kisahku, mungkin seiring waktu aku akan mulai terbiasa dan berdamai dengannya, menyruput\u00a0takdirku yang dihidangkanNya dalam cangkir kehidupan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bersambung<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pandangan mataku masih kulayangkan di jendela bus di sampingku. Mengharapkan ada sesuatu yang baru dapat kutemui saat itu. Mengamati toko-toko yang berjajar, kantor &#8211; kantor dan bank serta bangunan &#8211; bangunan lain di\u00a0pinggir jalan, juga kendaraan bermotor yang berebut jalan &#8211; seperti anak kecil yang berebut\u00a0kue. Mungkin memang mereka adalah\u00a0anak kecil, yang begitu gemar bermain\u00a0klakson [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3173,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[7],"tags":[87,257,482],"jetpack-related-posts":[{"id":3656,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3656","url_meta":{"origin":3182,"position":0},"title":"Puncak Prestasi","date":"30 Januari 2017","format":false,"excerpt":"Tidak terasa, (padahal kerasa banget) empat bulan\u00a0nglaju Jakarta Tangerang bolak-balik \u00a0menjadi seorang komuter. Beberapa tahun yang lalu, saat masih di kantor yang lama, saya juga sering\u00a0sih,\u00a0bolak balik jakarta tangerang. Meskipun\u00a0ngga setiap hari. Dulu, pilihan transportasi yang saya gunakan adalah bus, karena itu moda yang paling dekat dengan\u00a0kosan saya, \u00a0sekitar 200\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":2843,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2843","url_meta":{"origin":3182,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 6)","date":"24 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Tapi ada satu hal \u00a0dari kamu yang sekarang sudah berubah\" \"Apa itu?\" tanyaku penasaran. \"Dulu kamu tuh\u00a0anak kecil yang jahil,\u00a0dekil but now... you are pretty hunky..\" Jawab Kiran singkat, sembari ia memandangi\u00a0jalan ibu kota melalui kaca\u00a0jendela mobil, kemudian sesaat ia menatapku sembari tersenyum. Aku kebingungan harus merespon jawaban tak terduga\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3110,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3110","url_meta":{"origin":3182,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 10)","date":"11 Mei 2015","format":false,"excerpt":"Alarm ponselku berdering tiba - tiba, bergetar mengagetkanku yang tadinya larut dalam tidur. Spontan tanganku meraih ke arah sumber bunyi\u00a0itu.\u00a0Dengan mata yang masih setengah terbuka aku menengok\u00a0jam duduk di dekat tempatku tidur, masih belum terlihat jelas namun\u00a0samar dari jarum panjang dan pendeknya aku menebak kalau sekarang\u00a0jam\u00a0tiga pagi. Suasa masih sepi,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Novel\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16-300x200.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3182"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3182"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3182\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3173"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3182"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3182"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3182"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}