{"id":3110,"date":"2015-05-11T21:26:16","date_gmt":"2015-05-11T14:26:16","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=3110"},"modified":"2015-05-11T21:26:16","modified_gmt":"2015-05-11T14:26:16","slug":"proxima-centauri-bagian-ke-10","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3110","title":{"rendered":"Proxima Centauri (Bagian ke &#8211; 10)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/clock.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3171\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3171\" data-orig-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/clock-1.jpg?fit=309%2C163&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"309,163\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"clock\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/clock-1.jpg?fit=300%2C158&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/clock-1.jpg?fit=309%2C163&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-medium wp-image-3171\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/clock.jpg?resize=300%2C158\" alt=\"clock\" width=\"300\" height=\"158\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Alarm ponselku berdering tiba &#8211; tiba, bergetar mengagetkanku yang tadinya larut dalam tidur. Spontan tanganku meraih ke arah sumber bunyi\u00a0itu.\u00a0Dengan mata yang masih setengah terbuka aku menengok\u00a0jam duduk di dekat tempatku tidur, masih belum terlihat jelas namun\u00a0samar dari jarum panjang dan pendeknya aku menebak kalau sekarang\u00a0jam\u00a0tiga pagi. Suasa masih sepi, hanya ada\u00a0desis kipas angin di kamarku yang sebentar berputar ke kiri, sebentar ke kanan, &#8220;<em>Hoaaempphh<\/em>!!&#8221; Aku menguap menahan kantuk, sembari memaksa membuka mata menatapi\u00a0langit &#8211; langit kamarku. \u00a0Sekujur tubuh \u00a0masih terasa begitu\u00a0lelah karena belum genap 12 jam aku baru\u00a0tiba di jakarta menggunakan pesawat terbang setelah sebelumnya \u00a0mengantar Kiran berkunjung\u00a0ke rumah neneknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasa kantuk masih menyergap erat menahanku untuk bangkit dari tempat tidur, sebisa mungkin aku lawan, aku paksa &#8211; paksa diriku \u00a0agar tetap\u00a0terjaga. Memang, yang paling berat kala bangun tidur sepagi ini adalah perjuangan untuk menjauhkan diri sebisa mungkin dari kasur<em>.<\/em>\u00a0Segera aku beranjak berdiri\u00a0lalu menghidupkan\u00a0ketel elektrik, memanaskan air\u00a0guna menyeduh secangkir kopi, seperti kebiasaanku setiap harinya setelah\u00a0bangun tidur. Sambil menunggu air mendidih,\u00a0dengan langkah yang gontai aku menengok keluar kamar, berjalan ke balkon lantai dua yang hanya berjarak beberapa langkah dari pintu kamarku. Biasanya dengan melihat &#8211; lihat\u00a0suasana di luar ruangan cukup membantu untuk menghilangkan rasa kantuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku bisa perhatikan\u00a0jalanan dini hari ini\u00a0begitu lengang, \u00a0hanya ada \u00a0lampu jalan yang terkadang\u00a0melakukan permainan gelap terang bersama aspal dan paving jalan. Tak seperti kala\u00a0siang\u00a0yang begitu padat dengan lalu lalang kendaraaan, \u00a0juga\u00a0suara -suara klakson yang\u00a0memecah\u00a0telinga. Seperti halnya dua semesta yang berbeda, kini \u00a0kulihat\u00a0hanya sesekali satu dua kendaraan yang melintas begitu terburu &#8211; buru membelah sunyi ke arah\u00a0perempatan jalan nun di sana, sebelum kemudian ia hilang dalam pekat\u00a0kabut. \u00a0Suara bisik angin terdengar\u00a0lirih sedang bercengkerama dengan daun &#8211; daun\u00a0pohon di sekitar pinggiran jalan seraya embun pagi yang\u00a0berkejaran lalu terbentur pada rumput dan jendela kaca,\u00a0menjadi butiran\u00a0air, seolah ia sedang\u00a0menangis dan meratap, tapi entah karena apa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Apa kabar Kimya?&#8221; Pikiran yang tiba &#8211; tiba muncul lagi di ingatanku. Perlahan, aku melihat dengan jelas bayang &#8211; bayang parasnya\u00a0berputar menghiasi\u00a0langit gelap yang kupandang. Sudah\u00a0berapa hari ku tak melihat dan mendengar kabarnya? Mungkin dua tiga hari. &#8220;Apa yang sedang ia mimpikan malam ini? Ataukah kau\u00a0sedang terjaga sama sepertiku?&#8221; Gumamku sendiri.\u00a0<em>Ah,\u00a0<\/em>buru &#8211; buru saja bayangan\u00a0itu \u00a0aku tepis, seketika itu aku\u00a0beringsut kembali masuk di\u00a0dalam kamar, menyeduh secangkir kopi, \u00a0membuka beberapa buku, menyalakan komputer jinjing\u00a0 di atas meja yang bersebelahan dengan\u00a0tempat tidurku. Sebuah\u00a0rutinitas harian, yang sudah kumulai di saat yang lain masih <em>asyik<\/em> terlelap\u00a0di dalam mimpinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Mubazir <\/em>rasanya, jika waktu yang ada\u00a0hanya dihabiskan untuk mendengkur dan bermimpi,\u00a0sedang masih\u00a0banyak hal produktif yang masih bisa dikerjakan. Sudah sejak lama aku hanya menjatah\u00a0diriku untuk hanya tidur\u00a0sekitar \u00a0enam jam. Selebihnya sebisa mungkin digunakan untuk\u00a0hal &#8211; hal yang lebih produktif, seperti membaca buku, berolahraga, bekerja, atau juga aktivitas\u00a0yang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Uap kopi panas putih mengepul mengembun membasahi gelas kaca dengan sunyinya menemaniku dini hari\u00a0ini. Ada banyak hal yang biasanya kupelajari di kala seperti ini,\u00a0 mulai \u00a0dari materi &#8211; materi tentang\u00a0fisika, sejarah, politik, bahasa, hingga perkembangan teknologi termutakhir. Sepertinya Tuhan sudah menuliskan sejak lahir di dalam kromosomku bahwa\u00a0\u00a0aku terlahir dengan \u00a0rasa keingintahuan yang besar. Kadang aku tak mengerti bagaimana\u00a0harus menyikapinya. Apakah aku harus menganggapnya\u00a0sebagai anugerah\u00a0ataukah kutukan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terkadang aku \u00a0begitu bersyukur, menganggapnya sebuah anugerah karena ia mendorongku untuk terus banyak belajar\u00a0dan mencari, namun terkadang ini juga bak kutukan tak kunjung usai. Bagaimana tidak? Kala aku berada pada level tertentu untuk mengetahui sesuatu yang sebelumnya tak kuketahui, maka terbuka pula di depanku ketidaktahuan &#8211; ketidaktahuan baru yang kuantitasnya\u00a0naik secara eksponensial\u00a0dari sebelumnya. Ketidaktahuan ini makin hari makin membuatku tak\u00a0mengerti, mengapa manusia\u00a0sepanjang hidup\u00a0harus\u00a0 banyak menghabiskan waktu untuk sekedar mencari tahu jika <em>toh<\/em>\u00a0pada puncak pencapaiannya, yang didapatinya adalah\u00a0\u00a0ketidaktahuan yang tak terhingga?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi orang lain membaca mungkin adalah suatu tanda orang berilmu, tapi nyatanya tidak demikian, setidaknya menurutku. Aku gemar\u00a0membaca, karena ia\u00a0selalu mengalihkan perhatianku dari kegelisahan dan kesedihanku yang tersembunyi, kegelisahan yang setiap waktu muncul tiba &#8211; tiba dalam batinku, kegelisahan akan banyak hal seperti\u00a0tentang Kimya misalnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Membaca bagiku seperti suatu tempat pelarian yang tersembunyi bagi seorang buronan yang dikejar &#8211; kejar akan masalah &#8211; masalah hidupnya. \u00a0 \u00a0Ia sejenak memberikanku tempat perlindungan yang aman dari berbagai masalah yang ada. Mungkin benar, seseorang\u00a0yang\u00a0suka\u00a0membaca mungkin akan mendapatkan beberapa manfaat akan sebuah informasi, namun\u00a0bisa jadi seseorang suka membaca semata &#8211; mata bukan karena informasi yang bisa diperolehnya, namun\u00a0\u00a0karena\u00a0\u00a0ia adalah orang dengan sosok sama sepertiku &#8212; yang\u00a0hanya sanggup\u00a0melarikan dan mengasingkan dirinya dari masalah dan\u00a0duduk di belakang kata &#8211; kata\u00a0tanpa bisa melakukan apa-apa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi\u00a0seberapa lama seorang buronan sanggup bersembunyi, kelak ia akan keluar dari tempat persembunyiannya. Entah cepat atau lambat tapi pasti.\u00a0Untuk seorang buronan yang dikejar &#8211; kejar sepertiku, adzan shubuh yang menggema pagi itu menjadi penanda pelarian dan permainanku di dini hari itu telah usai dan saatnya menghadapi kembali kenyataan pahit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenyataan pahit itu diawali dengan suara muadzin di masjid dekat rumah kosku yang menggema setiap fajar itu, ia melantunkan adzan dengan\u00a0mentah dan hampir tanpa penggarapan yang memenuhi unsur\u00a0estetika, sehingga seringkali adzan yang dikumandangkannya tergelincir sebagai &#8220;sebuah\u00a0gangguan&#8221; bukannya seruan. &#8220;Harusnya ada semacam seleksi untuk\u00a0para muadzin di tiap &#8211; tiap masjid, mereka yang memenuhi syarat estetika dan kemerduan pada tingkat tertentulah yang hanya diperbolehkan untuk mengumandangkan panggilan sholat \u00a0di masjid.&#8221; Gerutuku dalam hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Usai menunaikan sholat shubuh, segera aku berganti pakaian, kali ini mengenakan kaos dan\u00a0\u00a0celana training. Setidaknya setiap pagi, seminggu tiga kali aku usahakan \u00a0untuk\u00a0<em>jogging barang<\/em> sebentar, entah itu satu atau dua\u00a0kilometer, agar tubuhku jadi serasa bugar, dan bisa lebih bersemangat\u00a0nanti di kala masuk kerja, pikirku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masih \u00a0pukul 5.15 pagi kala itu, suasana memang masih gelap, aku berlari kecil melintasi jalan raya menuju ke sebuah pasar tradisional kemudian berbelok kiri melewati blok pertokoan, rumah makan, bengkel motor, dan minimarket yang berderet &#8211; deret, semuanya masih tutup, hanya menampakkan\u00a0plang yang mencantumkan nama-nama\u00a0toko yang tak terbaca jika tidak diterangi\u00a0lampu neon di atasnya. Tak terkecuali juga warung &#8211; warung kecil, dan kios &#8211; kios penjaja rokok yang memakan\u00a0hampir seluruh badan trotoar. Membuatku tak punya pilihan lain selain berlari di pinggiran jalan raya, dengan siap menanggung resiko \u00a0disrempet kendaraan bermotor kapan saja. Untungnya saat\u00a0itu masih pagi, sehingga tidak banyak kendaraan yang\u00a0melintas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa menit aku berlari kecil melintasi rute yang telah kurencanakan, tiba &#8211; tiba perhatianku tertuju pada\u00a0kedai bunga yang dari kejauhan kuperhatikan sudah mulai buka, beberapa orang berkaos oblong sedang sibuk menyirami tanaman &#8211; tanaman dengan telaten dan memotong beberapa daunnya yang layu. Aku seperti\u00a0melihat ada unsur sosok keindahan yang kukenal\u00a0yang bersembunyi di setiap mekarnya\u00a0bunga &#8211; bunga di kedai itu. Aku tak bisa memastikan keindahan itu bersembunyi di mana, apakah di kelopak bunganya yang memerah bagai pipi Kimya, ataukah di batang dan daun &#8211; daunnya yang hijau itu? Aku tak tahu. Yang jelas\u00a0aku merasakannya, perasaan yang kembali mengingatkanku pada Kimya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"3173\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=3173\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?fit=1900%2C1267&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1900,1267\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"e16\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?fit=300%2C200&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?fit=708%2C472&amp;ssl=1\" class=\"alignright size-medium wp-image-3173\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?resize=300%2C200\" alt=\"e16\" width=\"300\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?resize=1024%2C683&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?w=1900&amp;ssl=1 1900w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/e16.jpg?w=1416 1416w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Perasaan aneh itu memunculkan niat\u00a0hatiku\u00a0untuk memesan bunga dan mengirimkan pada Kimya. Aku menghentikan lariku, dan berjalan mendatangi kedai yang berjarak hanya beberapa meter dari aku berdiri. Aku memandang di setiap sudutnya dipenuhi dengan beraneka tanaman hias dan bunga, entah yang bermekaran ataupun yang masih malu &#8211; malu dalam kuncupnya.\u00a0Seorang laki &#8211; laki berusia sekitar 40an \u00a0tahun sesaat kemudian muncul\u00a0dari dalam kedai menghampiriku. Sepertinya ia adalah pemilik kedai ini, aku bisa melihat dari penampilannya juga bagaimana ia memberikan instruksi kepada orang &#8211; orang di sekitarnya &#8211; yang belakangan aku tahu adalah karyawannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pagi mas, ada yang\u00a0bisa saya bantu? Sedang mencari\u00a0bunga yang bagaimana?&#8221; Tanya orang itu kepadaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku sedikit kebingungan untuk\u00a0menjawab pertanyaan\u00a0itu. Aku sendiri tak tahu bunga jenis apa yang sedang kucari. maka\u00a0spontan saja aku utarakan bahwa aku ingin mengirim bunga kepada seorang gadis yang kusukai. Namun aku tak tahu bunga apa yang pantas untuknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Oh<\/em> kita punya banyak jenis bunga di sini mas, biasanya wanita paling suka dengan mawar, kita punya aneka macam mawar mulai dari \u00a0cipanas, thalita, shananda.. &#8221; Jawab bapak \u00a0itu menjelaskan satu persatu koleksi yang dimilikinya sembari menunjukan bunga yang dimaksud. Jujur, aku tidak mengerti sama sekali\u00a0tentang bunga, sama tak mengertinya\u00a0aku\u00a0tentang wanita. Aku hanya pura &#8211; pura menganggukan kepala, seolah &#8211; olah mengerti yang telah dibicarakan pemilik kedai bunga tadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah berpikir dan kebingungan yang cukup lama, akhirnya tanganku menunjuk sebuah\u00a0pohon kecil mawar rosmarun yang saat itu tergantung di dalam potnya. Aku tertarik pada rosmarun itu karena bapak pemilik kedai tadi sempat menyebutkan jika rosmarun memiliki wangi yang sangat harum di kala mekarnya. Tiba &#8211; tiba saja hatiku tergerak untuk memilih bunga itu\u00a0untuk kuberikan pada Kimya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pak tolong diantar ke alamat ini <em>ya<\/em>&#8221; Pintaku setelah menyeleseikan pembayaran, \u00a0sembari menujukan sebuah alamat yang ada di ponselku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mau ditulis dari siapa mas nama pengirimnya?&#8221; Tanya bapak penjual bunga seraya memegang sebuah buku yang berisi deretan panjang daftar pesanan. Aku berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan bapak tadi.\u00a0Sebenarnya aku ingin sekali mencantumkan namaku saja, Aku ingin menujukan bahwa aku memiliki perhatian padanya. Namun ada perasaan khawatir di sisi lain, jika kemudian Kimya enggan menerima bunga itu\u00a0hanya karena itu adalah pemberianku. Aku menjadi begitu tidak percaya diri. Maka\u00a0kuputuskan saja menggunakan nama samaran,\u00a0biarlah bunga ini diterimanya sebagai\u00a0bunga adanya, tanpa embel &#8211; embel namaku di belakangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tulis saja dari Proxima Centauri&#8221; Jawabku seraya menuliskan di sebuah kertas yang disediakan oleh si tukang bunga. Aku juga menuliskan secarik pesan yang nantinya disertakan pada bunga itu, semoga Kimya membacanya :<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kimya, mawar yang kini mekar<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menebar wanginya ke sekeliling<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menengadahkan\u00a0dirinya pada langit<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keindahan sementara kelak layu<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua yang dipetik kelak mengering dan\u00a0mati<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keindahan ada pada kehidupan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan kehidupan ada di balik penjagaan,<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>\u00a0Bersambung<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alarm ponselku berdering tiba &#8211; tiba, bergetar mengagetkanku yang tadinya larut dalam tidur. Spontan tanganku meraih ke arah sumber bunyi\u00a0itu.\u00a0Dengan mata yang masih setengah terbuka aku menengok\u00a0jam duduk di dekat tempatku tidur, masih belum terlihat jelas namun\u00a0samar dari jarum panjang dan pendeknya aku menebak kalau sekarang\u00a0jam\u00a0tiga pagi. Suasa masih sepi, hanya ada\u00a0desis kipas angin di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3171,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[7],"tags":[87,482],"jetpack-related-posts":[{"id":2867,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2867","url_meta":{"origin":3110,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 7)","date":"26 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Kamu tahu nggak, mengapa akhir - akhir ini begitu banyak pasangan\u00a0yang menikah namun kemudian rumah tangganya berantakan, bahkan banyak dari mereka yang\u00a0berpisah, padahal-kan dulunya mereka berjanji sehidup semati?\" \"Memang mengapa?\" Aku bertanya balik\u00a0pada Kiran. \"Mungkin kesalahan terbesarnya - yang mungkin juga bisa menjadi kesalahan kita - adalah karena mereka\u00a0meniatkan pernikahan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Novel\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2939,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2939","url_meta":{"origin":3110,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 8)","date":"1 Mei 2015","format":false,"excerpt":"Pandanganku terpaku pada jalanan\u00a0melalui sebuah jendela bus yang kami tumpangi, menyaksikan\u00a0pemandangan lalulintas Yogya\u00a0yang makin siang,\u00a0semakin dipenuhi\u00a0oleh\u00a0\u00a0kendaraan\u00a0bermotor. Beberapa diantaranya mungkin adalah mahasiswa yang hendak berangkat kuliah, beberapa lagi\u00a0bisa jadi memang warga asli sini, tapi tak kalah banyak juga kendaraan dengan platnomer luar kota \u00a0yang membanjiri . Aku dan Kiran\u00a0sedang\u00a0berada di sebuah\u00a0bus\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Novel\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2758,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2758","url_meta":{"origin":3110,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 5)","date":"19 April 2015","format":false,"excerpt":"\u201cOh iya, \u00a0Kamu dari tadi di sini ya? \u00a0Mengapa tak\u00a0langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? \u201c \"Oh, Maaf, aku kira kamu\u00a0sedang\u00a0menunggu seseorang. Jadi aku merasa tidak enak bila mengganggu\" \"Ah, sudahlah. Menyebalkan memang. Lain kali saya tidak mau lagi bertemu\u00a0dengan dia. Dua jam! Coba bayangkan, dua jam! Dan dia\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3110"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3110"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3110\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3171"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3110"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3110"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3110"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}