{"id":2992,"date":"2015-05-06T12:44:10","date_gmt":"2015-05-06T05:44:10","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2992"},"modified":"2015-05-06T12:44:10","modified_gmt":"2015-05-06T05:44:10","slug":"proxima-centauri-bagian-ke-9","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2992","title":{"rendered":"Proxima Centauri (Bagian ke &#8211; 9)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2980\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2980\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"599,590\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"wpid-img_20150419_221828.jpg\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=300%2C295&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-medium wp-image-2980\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?resize=300%2C295\" alt=\"wpid-img_20150419_221828.jpg\" width=\"300\" height=\"295\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?resize=300%2C295&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?w=599&amp;ssl=1 599w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>&#8220;<em>Begitu ya<\/em>?&#8221; Sahut Kiran. &#8220;Memang, waktu tak bisa dihentikan. Semuanya\u00a0akan berubah, kita tidak akan bisa mempertahankan kenangan lalu untuk bisa menjadi kenyataan hari ini. Sejarah memang bisa saja berulang. Tapi waktu tidak pernah berputar. Senja hari ini akan selalu saja berbeda dengan senja kemarin, dan akan berlainan di esok hari.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekilas aku memandang\u00a0Kiran, lalu kembali mengalihkan\u00a0pandanganku kearah langit\u00a0yang\u00a0kini sedang dipandangnya, \u00a0&#8220;<em>Ya<\/em>, segalanya akan berubah Kiran. Termasuk aku dan kamu. \u00a0Semua yang lahir dari inti bintang akan menua dan redup.\u00a0Seperti inti Uranium yang kelak berakhir menjadi timbal, unsur nomer atom 82 dalam tabel periodik. \u00a0Setiap dari manusia\u00a0memiliki waktu paruhnya. Waktu yang mengambil separuh hidup kita, lalu ia datang kembali, mengambil separuh dari sisanya. Dari anak &#8211; anak kita tumbuh dewasa, dan \u00a0perlahan seiring waktu, kita juga akan meluruh dalam\u00a0kenangan.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Yang bisa isotop itu lakukan dalam peluruhannya \u00a0hanya sekedar menetapi\u00a0\u00a0kodratnya untuk merelakan segala yang ada padanya terlepas, dari partikel\u00a0alfa, beta hingga\u00a0foton gamma yang selama ini dirangkulnya erat. Pada waktunya manusia juga harus merelakan tanggalnya semua yang telah diraihnya\u00a0mati &#8211; matian, baik itu\u00a0kekayaan, nama baik, gelar, atau jabatan. Semuanya mau tak mau, suka ataupun tak suka, mestilah dilepaskan, untuk kembali telanjang sebagaimana saat dilahirkan&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Karena itulah dalam hidup, kerelaan adalah bekal terbaik manusia. Terlebih manusia sepertiku, yang hanya memiliki dua kaki yang begitu \u00a0mudah untuk\u00a0terpeleset. Kehidupan yang kualami ini bukan tentang memiliki sesuatu, namun mengenai bagaimana kita belajar untuk melepaskan sesuatu itu jika \u00a0suatu saat waktu memintanya kembali&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Melepaskan <em>ya<\/em>? Mungkin terdengar sederhana <em>ya<\/em>, tapi melepaskan selalu menyisakan kehilangan, atau memang mungkin aku yang masih lemah, tak memiliki bekal kerelaan seperti yang kamu bilang?&#8221; Kiran melanjutkan ucapannya, dengan dengan pandangan yang belum mau\u00a0\u00a0lepas dari langit senja yang kini dihiasi burung &#8211; burung yang beterbangan kembali ke sarangnya.&#8221; Dulu aku juga pernah mencintai seseorang laki &#8211; laki. Ia bernama\u00a0Jarvi,\u00a0 kakak angkatanku semasa di <i>Helsingin yliopisto<\/i>. Seorang kakak angkatan\u00a0yang begitu menyebalkan. Setiap kali aku berpapasan denganya di kampus, ia selalu saja menggodaku sampai terkadang membuatku kesal. Namun seiring waktu, entah mengapa ia menjadi sosok\u00a0yang\u00a0 begitu baik, aku melihat dari senyumnya, dan perhatiannya yang diberikan padaku. Sampai di suatu malam, di sebuah kafe, ia mengatakan bahwa\u00a0ia mencintaiku.&#8221; Kenang Kiran dengan senyumnya yang mengembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku sempat agak terkejut dengannya, awalnya aku mengindahkan perasaan Jarvi. Aku masih bersikap dingin dan agak acuh padanya, seperti biasanya aku bersikap padanya. Meski\u00a0kemudian, setelah sekian lama, sekian waktu ia masih tetap teguh dengan perhatian dan perasaannya itu padaku. Bagai air yang terus menetesi batu karang. Ia terus menetes, dan kelak akan melubangi batu. Sebagaimana hatiku yang mungkin mulai berlubang\u00a0dan menyadari\u00a0bahwa ternyata aku juga menaruh rasa yang sama. Namun sebisa mungkin perasaan itu aku tahan-tahan dan tepis-tepis. Wanita memang aneh ya, ia masih berkata <em>tidak<\/em> pada hal &#8211; hal yang sejatinya <em>iya. d<\/em>engan tujuan dan latar belakang yang kadang &#8211; kadang tidak jelas, seperti menguji ketangguhan hati\u00a0si lelaki\u00a0apakah ia benar &#8211; benar memperjuangkannya atau tidak.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Wanita memang terlalu angkuh sampai ia dibuat tersadar oleh waktu. Sampai waktu meniup peluit panjangnya jika semuanya sudah terlambat. Seperti juga diriku, yang bermain &#8211; main dengan waktu sampai&#8221; Kiran tiba &#8211; tiba menghentikan kalimatnya, seperti ada sesuatu yang berat yang tak bisa dikatakannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sampai apa&#8221; Akupun bertanya penasaran, karena ceritanya yang terputus itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sampai di suatu malam, aku bermimpi Jarvi menemuiku. Mimpi yang\u00a0serasa nyata, Ia berdiri di depanku, dan dengan senyumnya yang penuh ketulusan tak berujung. Namun kulihat di wajahnya ada semacam kesedihan dan kesakitan, sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya. \u00a0Ia menghampiriku\u00a0lalu\u00a0memelukku. Aku rasakan pelukan hangat itu di sekujur tubuhku.\u00a0Dalam pelukan itu, dengan nada sedih ia berbisik padaku, mengucapkan sebuah\u00a0salam perpisahan. Dengan suara yang tenang, ia meminta maaf, karena mulai sekarang tak bisa menjagaku lagi. Aku hanya diam tak berkata &#8211; kata dalam pelukan dan bisikannya. Hingga kemudian tubuh yang memelukku\u00a0itu\u00a0lenyap menghilang berpadu dengan\u00a0kabut malam&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Di\u00a0pagi harinya aku terbangun dengan pikiran yang dipenuhi dengan perasaan\u00a0heran akan datangnya mimpi \u00a0itu. Semalam aku tidak memikirkan Jarvi, mengapa ia datang di mimpiku, pikirku.\u00a0Akupun mengacuhkan mimpi itu dan menganggapnya seperti bunga tidur biasa, hingga\u00a0beberapa jam\u00a0kemudian aku mendapat\u00a0telepon dari\u00a0\u00a0temanku. Ia memberiku kabar bahwa kemarin tengah malam, Jarvi \u00a0terlibat sebuah kecelakaan di jalan raya,\u00a0\u00a0Ia dilarikan ke rumah sakit,\u00a0namun\u00a0nyawanya tak bisa ditolong setelah pendarahan \u00a0hebat yang ia derita&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Berita itu bak petir yang menyambarku di siang <em>bolong.<\/em>\u00a0Seluruh kakiku serasa lemas, tak bisa lagi menyangga tubuhku, aku hanya bisa menyangga tubuhku dengan duduk di sebuah kursi yang berada di dekatku. Tubuhku lemas\u00a0\u00a0menyesali hidupku. Menyesali tingkah laku bodohku. Menyesali\u00a0sifatku yang kekanak- kanakan. Harusnya kujawab saja bahwa aku juga mencintainya juga sebagaimana ia mencintaiku. Namun sayang takdir berkata lain, Tuhan telah menghendakiku untuk meminum \u00a0tetes empedu kehidupan. Apa dayaku selain memenuhi KehendakNya. Seperti katamu, kita bukanlah apa &#8211; apa di hadapanNya. Hanyalah atom &#8211; atom yang lemah dalam surga yang tak terbatas, kita hanya bisa berbakti dan pasrah kepada kehendakNya. Penyesalan memang tak pernah bisa\u00a0membayar semua yang terjadi&#8221; Kiran mulai menurunkan pandangannya. Kini ia menundukan kepalanya. Aku melihat\u00a0seperti\u00a0ada sebuah penyesalan di sana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Investigasi kepolisian selanjutnya menyebutkan bahwa \u00a0mobil yang dikendarai Jarvi terbalik setelah tertabrak sebuah truk yang melaju dari arah berlawanan.\u00a0Truk itu melaju melebihi ambang batas kecepatan yang diperbolehkan,\u00a0lalu\u00a0mengalami bocor ban tiba &#8211; tiba, sehingga membuatnya\u00a0kehilangan keseimbangan dan menabrak mobil Jarvi&#8221; Mata Kiran kini \u00a0mulai \u00a0basah berkaca &#8211; kaca.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>im sorry to hear that <\/em>Kiran&#8221;. Sahutku, tanda bahwa\u00a0aku turut berduka dengan apa yang terjadi padanya. &#8220;<em>Innalillahi wainnailaihirajiun<\/em>&#8221; Secara refleks aku merangkul\u00a0pundak\u00a0Kiran\u00a0agar ia\u00a0\u00a0tak\u00a0terlalu bersedih. Aku tak tega lagi ia melanjutkan ceritanya. Aku kebingungan apa yang harus dilakukan oleh orang sepertiku jika di sebelahku ada seorang sahabat kecil yang sedang mengalami hal\u00a0seperti ini. Tentu aku bukan berada pada kapasitas \u00a0orang\u00a0yang berhak menasehati Kiran dengan ungkapan &#8216;<em>yang<\/em> tabah <em>ya!<\/em>&#8216; dan \u00a0ungkapan sejenisnya. Pengalaman hidup Kiran berbeda dengan pengalaman hidupku. Aku tidak pernah mengalami apa yang dia rasakan saat ini, kesedihannya, penyesalannya dan belum tentu mampu menanggung apa yang dia\u00a0alami. Lantas ada hak apa aku menasehati seseorang agar tabah, sementara aku sendiri belum tentu sanggup mengalami hal serupa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka kupikir yang terbaik yang bisa kulakukan hanyalah menemaninya, menjadi pendegar dan teman bicaranya yang baik.\u00a0Aku mulai berpikir, mungkin itu \u00a0salah satu alasan Kiran datang di Indonesia &#8211; di samping alasannya yang lain, yaitu untuk berusaha melupakan kisah penyesalannya\u00a0yang terjadi di finlandia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>its okay<\/em>, kejadian itu sudah lama, n<em>ggak<\/em>\u00a0apa-apa <em>kok<\/em>&#8221; jawab Kiran seperti hendak menghibur dirinya, dengan suara yang seolah sengaja dibuat &#8211; buat tenang.&#8221;\u00a0Akupun segera menyodorkan tisu yang kusimpan di tas yang kubawa. Ia mengambil beberapa lembar seraya mengucap terimakasih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kamu sendiri, bagaimana \u00a0perasaanmu dengan Kimya? Apakah masih tidak menentu seperti kemarin malam?&#8221; Kiran pun mengalihkan pembicaraanya padaku. Aku mulai mengehela nafas panjang, sebelum bisa menjawab pertanyaannya itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kamu tahu sendiri kan! Sampai kini\u00a0aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku pada Kimya, mungkin perasaan yang ada ini bukanlah miliku, entah ia muncul dari mana. Seperti hujan yang \u00a0diteteskan dari langit, jatuh ke bumi menumbuhkan berbagai aneka bunga berwarna. Namun kelak bunga akan layu pada waktunya, jika sampai usia mekarnya tiada seorang gadispun\u00a0memetiknya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mungkin banyak orang menilaiku lemah. Aku bukannya tidak berusaha sama sekali, tapi\u00a0sebagaimana\u00a0pasir dalam genggaman tangan, semakin keras aku mencoba\u00a0menggengamnya, semakin ia lepas dari genggamanku.\u00a0Memang mungkin kedengarannya aneh, aku masih merindukan Kimya hingga detik ini. Entah mengapa, apakah aku orang yang teramat naif dan dungu, sudah\u00a0jelas &#8211; jelas ia selalu berusaha menghindariku. Namun memang Cinta\u00a0tak pernah masuk akal bagi manusia sampai\u00a0ia merasakan sendiri apa itu Rindu. Dan, tetap ia tak nalar sampai kita sendiri mengalaminya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sepanjang hari aku merenungin\u00a0nasehatmu di kereta kemarin malam. Sekarang aku juga belajar dari mentari yang kini menuju senja itu.&#8221; Aku terdiam sesaat. Kemudian mengalihkan pandanganku pada mentari yang memerah\u00a0dan\u00a0akan terbenam itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ia setia bersinar hingga detik ini, dan tak sekalipun hingga terbenamnya, ia ucapkan kepada bumi bahwa bumi berhutang budi pada dirinya<i>. <\/i>Mungkin seperti itulah bagiku Cinta yang menyinari kegelapan.\u00a0Mungkin itulah yang harus manusia jalani, menjadi \u00a0matahari yang menerangi. Seperti namamu kan? Kiran yang dalam bahasa sanskrit berarti Cahaya.\u00a0Jadi kurasa,\u00a0tujuan hidup kita tidak lain adalah menjadikan apapun yang kita punya, \u00a0dan\u00a0\u00a0cinta yang kita miliki ini\u00a0sebagai\u00a0penerang. Minimal menerangi diri kita sendiri, dan juga diri teman &#8211; teman, dan sahabat kita&#8221; Aku tersenyum pada Kiran, hendak ingin menghiburnya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kamu tahu Kiran, sudah sejak lama mataku\u00a0ini menderita rabun jauh, namun kuusahakan untuk tidak mengenakan kacamata. Kamu tahu apa sebabnya?\u00a0Aku sengaja memelihara kelemahan ini untuk membuatku selalu ingat, agar sepanjang hidupku untuk tidak usah memandang\u00a0hal &#8211; hal yang terlalu jauh yang tak dapat kugapai. Agar\u00a0aku selalu belajar bagaimana menghargai apa yang ada\u00a0di dekat dan disekelilingku. Agar aku terlatih mensyukuri apa &#8211; apa yang telah kumiliki terlebih dahulu sebelum menginginkan yang lainnya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Orang &#8211; orang\u00a0sering menasehatiku dengan kalimat bahwa hidup akan indah pada waktunya.\u00a0Tapi aku pikir tidak ada bagian dalam hidup ini yang tak indah.\u00a0Keindahan bukan berada fungsi waktu.\u00a0Apakah ada satu saja ciptaan Tuhan di semesta ini yang tak indah? Tidak ada yang salah dari pagi, tiada yang berdosa dari siang ataupun malam. Keindahan ada pada bagaimana cara kita\u00a0memandang\u00a0pagi, siang, senja ataupun malam.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Yang kita pandang\u00a0sebagai keburukan sebenarnya hanya keindahan yang belum dikupas kulitnya. Mungkin yang kita\u00a0alami ini adalah bentukan kulit terluar, aku harus mengupasnya, hingga menemukan daging buahnya yang segar.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bersambung<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Begitu ya?&#8221; Sahut Kiran. &#8220;Memang, waktu tak bisa dihentikan. Semuanya\u00a0akan berubah, kita tidak akan bisa mempertahankan kenangan lalu untuk bisa menjadi kenyataan hari ini. Sejarah memang bisa saja berulang. Tapi waktu tidak pernah berputar. Senja hari ini akan selalu saja berbeda dengan senja kemarin, dan akan berlainan di esok hari.&#8221; Sekilas aku memandang\u00a0Kiran, lalu kembali [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2980,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"jetpack-related-posts":[{"id":2843,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2843","url_meta":{"origin":2992,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 6)","date":"24 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Tapi ada satu hal \u00a0dari kamu yang sekarang sudah berubah\" \"Apa itu?\" tanyaku penasaran. \"Dulu kamu tuh\u00a0anak kecil yang jahil,\u00a0dekil but now... you are pretty hunky..\" Jawab Kiran singkat, sembari ia memandangi\u00a0jalan ibu kota melalui kaca\u00a0jendela mobil, kemudian sesaat ia menatapku sembari tersenyum. Aku kebingungan harus merespon jawaban tak terduga\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2939,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2939","url_meta":{"origin":2992,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 8)","date":"1 Mei 2015","format":false,"excerpt":"Pandanganku terpaku pada jalanan\u00a0melalui sebuah jendela bus yang kami tumpangi, menyaksikan\u00a0pemandangan lalulintas Yogya\u00a0yang makin siang,\u00a0semakin dipenuhi\u00a0oleh\u00a0\u00a0kendaraan\u00a0bermotor. Beberapa diantaranya mungkin adalah mahasiswa yang hendak berangkat kuliah, beberapa lagi\u00a0bisa jadi memang warga asli sini, tapi tak kalah banyak juga kendaraan dengan platnomer luar kota \u00a0yang membanjiri . Aku dan Kiran\u00a0sedang\u00a0berada di sebuah\u00a0bus\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Novel\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2758,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2758","url_meta":{"origin":2992,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 5)","date":"19 April 2015","format":false,"excerpt":"\u201cOh iya, \u00a0Kamu dari tadi di sini ya? \u00a0Mengapa tak\u00a0langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? \u201c \"Oh, Maaf, aku kira kamu\u00a0sedang\u00a0menunggu seseorang. Jadi aku merasa tidak enak bila mengganggu\" \"Ah, sudahlah. Menyebalkan memang. Lain kali saya tidak mau lagi bertemu\u00a0dengan dia. Dua jam! Coba bayangkan, dua jam! Dan dia\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2992"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2992"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2992\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2980"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2992"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2992"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2992"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}