{"id":2939,"date":"2015-05-01T07:46:00","date_gmt":"2015-05-01T00:46:00","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2939"},"modified":"2015-05-01T07:46:00","modified_gmt":"2015-05-01T00:46:00","slug":"proxima-centauri-bagian-ke-8","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2939","title":{"rendered":"Proxima Centauri (Bagian ke &#8211; 8)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2980\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2980\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"599,590\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"wpid-img_20150419_221828.jpg\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=300%2C295&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-medium wp-image-2980\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?resize=300%2C295\" alt=\"wpid-img_20150419_221828.jpg\" width=\"300\" height=\"295\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?resize=300%2C295&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?w=599&amp;ssl=1 599w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Pandanganku terpaku pada jalanan\u00a0melalui sebuah jendela bus yang kami tumpangi, menyaksikan\u00a0pemandangan lalulintas Yogya\u00a0yang makin siang,\u00a0semakin dipenuhi\u00a0oleh\u00a0\u00a0kendaraan\u00a0bermotor. Beberapa diantaranya mungkin adalah mahasiswa yang hendak berangkat kuliah, beberapa lagi\u00a0bisa jadi memang warga asli sini, tapi tak kalah banyak juga kendaraan dengan platnomer luar kota \u00a0yang membanjiri .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku dan Kiran\u00a0sedang\u00a0berada di sebuah\u00a0bus yang melaju menuju Magelang. Bus ini akan melewati desa dimana nenek Kiran tinggal. Sebenarnya\u00a0kami sudah berniat hendak \u00a0<em>mencharter<\/em> mobil saja melalui jasa biro perjalanan, selain cepat sampai juga tidak perlu terlalu payah, meskipun dari sisi ongkos akan relatif mahal. Tapi sayang, semua mobil\u00a0yang disewakan hari ini sudah\u00a0sudah <em>full booking<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Daripada mesti mencari dari satu biro perjalanan ke biro perjalanan yang lain. Akhirnya aku dan Kiran memutuskan\u00a0menggunakan\u00a0alternatif yang kedua, seperti yang <em>bulik<\/em>\u00a0beritahukan\u00a0pada kami sebelumnya, yaitu dengan\u00a0menggunakan\u00a0sebuah bus kecil jurusan Magelang\u00a0yang berangkat dari terminal Giwangan.\u00a0Meskipun tentu waktu yang diperlukan akan jauh\u00a0lebih lama\u00a0untuk\u00a0tiba di tujuan, bus akan lebih\u00a0sering ngetem, untuk mencari penumpang, pikirku.\u00a0<span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Namun meskipun begitu kuperhatikan\u00a0Kiran hari ini tampak\u00a0begitu ceria, meskipun matahari begitu\u00a0terik siang ini. Mungkin ia gembira karena sebentar lagi bertemu dengan kakek neneknya, tebakku.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Bulik<\/em>mu baik banget <em>ya<\/em> orangnya, ramah, sampai\u00a0aku <em>dibawain<\/em> macam &#8211; macam <em>nih<\/em>&#8221; Kiran berbicara tentang <em>bulikku<\/em> dengan nada yang begitu gembira.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8221; <em>Yaah.. bulik tuh<\/em> orangnya gitu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Gitu gimana<\/em>?&#8221; tanya Kiran penasaran<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ya gitu gitu&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Gitu gitu gimana?<\/em>&#8221; tanyanya lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>&#8220;Ya begitu, t<\/em><em>adikan<\/em> kamu\u00a0<em>ngasih<\/em> oleh &#8211; oleh ke <em>bulik<\/em>, nah <em>bulik tuh&#8230;<\/em>\u00a0jika ada seorang tamu yang memberinya sesuatu\u00a0maka ia akan berterimakasih dan merasa\u00a0berhutangbudi, <em>saking<\/em> berterimakasihnya, sehingga tidak ada yang lain dipikiran <em>bulik<\/em>\u00a0selain\u00a0bagaimana ia juga bisa membalas kebaikan orang yang memberinya.\u00a0Akhirnya <em>ya<\/em> <em>apa adanya<\/em> yang ada di rumah diberikan, \u00a0entah hasil kebun belakang rumah, \u00a0hasil sawah, <em>ya<\/em> apa saja asalkan jangan sampai tamunya pulang dengan tangan kosong&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Banyak orang di pelosok desa yang sedang kita lalui sekarang ini, juga berprinsip sama seperti <em>bulik<\/em>. Ia tidak mau hanya sekedar menerima pemberian orang lain, seakan &#8211; akan di hati dan pikirannya ada sebuah perlombaan siapa yang memberi paling banyak dia paling menang&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tentu itu akan sangat <em>njomplang<\/em> <em>kan<\/em> jika dibenturkan dengan teori ekonomi perkotaan. Anak &#8211; anak sekolah sejak lama <em>dicekoki<\/em> dengan teori ekonomi Adam Smith. Bagaimana caranya dengan\u00a0modal yang sedikit &#8211; dikitnya bisa didapatkan\u00a0laba\u00a0yang sebesar-besarnya. Teori <i>&#8220;curang&#8221;<\/i>\u00a0semacam itulah yang membuat manusia menjadi bermental miskin, hanya mau menerima, hanya mencari barang gratisan, namun\u00a0begitu berat hatinya untuk memberi \u00a0orang lain. Sedangkan sebaliknya orang &#8211; orang macam <em>bulik<\/em>, meskipun hidup sederhana, bahkan bisa dibilang kurang jika dilihat dari ukuran orang kota. Namun coba kau tanya apa yang diinginkan bulik,\u00a0pasti beliau\u00a0menjawab bahwa ia tidak\u00a0butuh apa &#8211; apa lagi. Asalkan besok masih bisa makan. Kaya itu\u00a0bahasa arabnya adalah <em>ghoni<\/em> artinya &#8220;tidak membutuhkan&#8221;. Semakin orang merasa butuh hakikatnya ia\u00a0semakin miskin bukan \u00a0kaya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jika kamu perhatikan sepanjang jalan ini, begitu\u00a0banyak orang &#8211; orang yang sepuh umurnya \u00a0masih terlihat sehat dan masih sanggup membawa kayu bakar di punggungnya. Aku heran, mengapa banyak orang yang ada\u00a0di pelosok desa ini berumur panjang &#8211; panjang\u00a0 \u00a0Padahal dari segi teori kesehatan moderen manapun, hidupnya\u00a0tidak memenuhi satupun standar hidup sehat.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Terlepas bahwa hidup mati adalah takdir Tuhan. Mungkin \u00a0kuncinya\u00a0ada pada\u00a0prinsip hidup mereka. Sudah sejak lama, orang &#8211; orang \u00a0ini memiliki\u00a0prinsip <em>nerimo ing pandum<\/em>, merasa cukup dengan apa saja yang diberikan\u00a0Tuhan. Mereka memandang rejeki itu adalah pemberian, bukan sesuatu yang dikejar mati-matian seperti halnya yang dilakukan orang kota. Namun itu tidak berarti orang &#8211; orang desa ini malas-malas, malah mereka lebih rajin dibandingkan orang perkotaan. Karena menurut pandangan\u00a0mereka kerja itu bukan untuk mencari laba, namun untuk menetapi kodrat kehidupannya dari sang Pencipta.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mendengarku bercerita panjang lebar, tiba &#8211; tiba Kiran tersenyum, namun kali ini seperti hendak menahan tawanya, meski akhirnya tak bisa ditahannya juga &#8220;Kamu <em>tuh<\/em> <em>ya<\/em>.. aku <em>tuh <\/em>sedang ngomongin <em>bulik<\/em> eh kamu <em>malah<\/em> cerita <em>macem &#8211; macem\u00a0<\/em>sampai teori ekonomi Adam Smith.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ya kita kan\u00a0<em>kalo\u00a0<\/em>melihat sesuatu jangan berhenti di sesuatu itu&#8221; Aku berusaha membela diri dan menjelaskan pada Kiran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Berhenti\u00a0bagaimana maksudmu?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ya<\/em> misalkan kita berbicara tentang warna merah, maka kita harus juga berbicara mengapa warna merah itu ada. Mulai dari frekuensi spektrum gelombang warna merah, bagaimana ia bisa sampai ke mata kita dan bagaimana kemudian \u00a0otak kita menafsirkan itu sebagai merah.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kiranpun tertawa lagi mendengarnya, malah kali ini lebih lepas dari sebelumnya, meskipun sebisa mungkin ia tahan karena ia sadar sedang berada di tempat\u00a0umum.\u00a0&#8220;<em>Lha<\/em> malah <em>ketawa<\/em> lagi&#8221;, sahutku heran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Nggak kok,\u00a0<\/em>lucu aja <em>kalo<\/em>\u00a0dengar\u00a0kamu <em>ngomong<\/em>\u00a0seperti itu&#8221;. Jawab Kiran sambil tak henti &#8211; hentinya tertawa, \u00a0merasa ditertawakan aku bingung harus bicara apa lagi. Entah mengapa \u00a0aku merasa\u00a0ikut terhibur\u00a0mendengar\u00a0suara tawanya itu.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Lho<\/em> kok <em>gak<\/em>\u00a0dilanjutin lagi&#8221; tanya Kiran, setelah \u00a0sadar aku tiba &#8211; tiba berhenti berbicara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Nggak<\/em> <em>tau<\/em> mau bicara apa lagi, diketawain <em>terus<\/em> <em>sih<\/em>.&#8221; Jawabku dengan nada bercanda sembari pura &#8211; pura memasang wajah\u00a0dingin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Yah<\/em>\u00a0<em>kok udahan<\/em>, ayo cerita lagi <em>dong!<\/em>&#8221; Rajuk\u00a0Kiran masih dengan tawanya, sembari\u00a0<em>menyenggol<\/em> pundakku dengan pundaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, bus yang kami tumpangi tiba di sebuah terminal kecil, tertulis di sana sebuah nama terminal seperti yang sebelumnya telah ditunjukan bulik kepadaku. Menurut bulik, dari sana kami tinggal berjalan kaki beberapa ratus meter ke arah timur. Setelah yakin kami tiba di terminal yang dimaksud, aku dan Kiran turun dari bus, lalu berjalan kaki ke arah yang telah diisyaratakan bulik sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kami\u00a0berjalan kaki menyusuri sebuah jalan kecil beraspal dengan lebar sekitar 2 meter. Di kanan kiri jalan terdapat sebuah parit yang digunakan masyarakat sebagai saluran irigasi\u00a0untuk mengairi\u00a0sawah miliknya. Suara gemericik air jernih dari sungai terdengar samar &#8211; samar bagaikan alunan\u00a0orkestra musik yang mendinginkan hati. Hanya ada beberapa kendaraan motor yang lalu lalang melintasi jalan yang kami lewati. Begitu damai dan tenang. Sepanjang mata memandang \u00a0terhampar tanaman padi yang daunnya sudah mulai menguning, dengan latar belakang \u00a0pemandangan gunung Merapi nan berdiri gagah di sebelah utara. Orang &#8211; orang\u00a0yang sedang berpapasan dengan kami, dengan ramahnya tersenyum sembari sedikit membungkukkan kepala, sebuah tanda keramahan dan kesopanan bagi masyarakat jawa. Kami pun membalasnya dengan senyuman dan bungkuk kepala yang serupa. Pemandangan yang sulit dijumpai &#8211; jika tidak ingin dikatakan mustahil bisa terjadi di jakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nampaknya Kiran perlahan sudah mulai ingat dengan daerah\u00a0yang kami lalui ini. Tidak ada banyak yang berubah, katanya, meski sudah belasan tahun yang lalu. Sepertinya pembangunan hanya menyentuh sedikit desa ini. Yang berbeda hanyalah jalan ini sekarang sudah beraspal, dan beberapa rumah penduduk\u00a0yang sudah lebih bagus dari sebelumnya. Sepanjang jalan Kiran mengingat &#8211; mengingat saat\u00a0\u00a0dulu ia bermain ke rumah kakek neneknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Disitu tempatku mencari belut bersama kakek&#8221; Kenang\u00a0Kiran\u00a0sembari jari telunjuknya mengarah pada\u00a0sepetak sawah\u00a0tak jauh dari tempat kami berdiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah beberapa menit kami berjalan kaki, aku tiba di sebuah rumah\u00a0di kanan jalan. Nampak di depan seorang wanita yang sudah cukup\u00a0<em>sepuh\u00a0<\/em>sibuk menganyam daun pandan yang sudah dikeringkan. Kiranpun menghampiri nenek itu kemudian memanggilnya\u00a0&#8220;Eyang&#8221; lalu sungkem kepadanya. Ternyata itu adalah Nenek Kiran, namanya\u00a0Eyang Sumi. Sepertinya Eyang Sumi berusia berkisar 70an tahun, mungkin bisa lebih. Aku memang tidak terlalu pandai menebak usia seseorang. Namun\u00a0meski di usianya yang sudah \u00a0relatif senja, eyang Sumi masih nampak bugar dan sehat. Berbeda sekali dengan orang perkotaan yang seusia itu\u00a0pasti sudah\u00a0menghabiskan berbungkus &#8211; bungkus obat\u00a0dari rumah sakit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa saat kemudian, seorang laki &#8211; laki\u00a0<em>sepuh<\/em> dengan rambut\u00a0putih keluar dari dalam rumah. Ia adalah Kakek Kiran namanya Eyang Pardjo, seorang veteran pada masa Perang kemerdekaan, aku bisa mengetahuinya karena Kiran sempat bercerita padaku tentang mereka saat di perjalanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sambutan kakek dan nenek Kiran begitu hangat\u00a0padaku. Setelah dikenalkan oleh Kiran, aku dipersilahkan masuk di ruang tamunya. Seperti halnya kebanyakan orang di desa umumnya, mereka selalu sudi merepot &#8211; repotkan diri ketika ada seorang tamu jauh datang. Menyuguhkan\u00a0anekan\u00a0makan, minum yang nampaknya\u00a0sengaja baru disediakan ketika aku datang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah menikmati suguhan tuan rumah dan berbincang beberapa\u00a0lama.\u00a0Aku rasa sudah saatnya aku berpamitan kepada mereka, karena kupikir tugasku mengantarkan Kiran telah selesei. Kini saatnya mempersiapkan diri untuk kembali\u00a0<em>balik\u00a0<\/em>ke Jakarta. Namun sepertinya \u00a0eyang Sumi dan eyang Pardjo agak menahanku, bahkan ia sudah menyiapkan kamar untukku menginap semalam, ia menyarankan\u00a0agar aku pulang besok\u00a0pagi saja. Namun aku merasa \u00a0<em>pekewuh<\/em>\u00a0untuk menerima tawaran mereka. \u00a0Akupun terpaksa berbohong merekayasa cerita, <em>kalau\u00a0<\/em>aku bakal\u00a0menginap di rumah bulik. Sepertinya sudah menjadi watakku, gampang\u00a0ngerasa pekewuh untuk terlalu merepotkan siapapun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak terkecuali\u00a0Kiran, \u00a0ia\u00a0ingin mengajakku untuk keluar\u00a0sebentar ke suatu tempat, dimana ia pernah diajak ayahnya semasa\u00a0kecil. Sebenarnya kali ini aku agak <em>ngerasa\u00a0<\/em>tidak enak untuk menerima ajakannya itu, tapi Kiran kali ini setengah memaksa, dan berjanji hanya sebentar. Ya sudahlah\u00a0tak apa pikirku,\u00a0aku juga penasaran, dimana sih tempat itu<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Indah <em>banget<\/em> <em>kan<\/em>\u00a0di sini!!&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kiran berteriak gembira \u00a0sambil melepas pandangannya ke arah langit. Ini adalah tempat yang tadi Kiran bicarakan padaku. Sebuah \u00a0daerah dataran tinggi di lereng\u00a0gunung Merapi. Tempat ia dulu pernah diajak oleh kedua orangtuanya semasa kecil. Tempat ini tidak jauh memang dari rumah nenek Kiran, cukup beberapa menit perjalanan menggunakan sepeda motor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku melihatnya raut muka Kiran begitu ceria ketika tiba di sini, keceriaan yang sama yang kutemui semasa kita dulu masih duduk di sekolah dasar.\u00a0Keceriaan yang bahkan sulit kudapatkan lagi ada pada diriku. Raut muka yang begitu ceria seolah &#8211; olah tidak ada masalah yang menghampirinya. Raut muka yang begitu ceria yang seolah mengatakan padaku bahwa ia memiliki hati yang lebih besar dari seluruh masalah-masalahnya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akupun menikmati keindahan pemandangan yang sedang kusaksikan.\u00a0Hamparan pohon pinus hijau yang terbentanng, dengan beberapa warung di pinggir jalan yang menjual beberapa minuman dan jagung bakar. Karena sedari tadi haus, akupun berinisiatif untuk membeli minuman dari warung itu<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku\u00a0<em>pengen\u00a0<\/em>beli minum sebentar, di warung sana, kamu<em> mau nitip nggak<\/em>?&#8221; Tanyaku pada Kiran<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Boleh, Es kelapa ada <em>nggak<\/em>!&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ya <em>mudah &#8211; mudahan<\/em> ada <em>ya<\/em>, <em>kalo nggak,<\/em>\u00a0nanti aku panjat pohonnya&#8221; Jawabku dengan nada bercanda, sembari berlari menuju warung tersebut. Selang beberapa menit, aku kembali menemui Kiran, namun ia tidak berada di tempatnya. Rupanya ia sedang duduk berteduh di sebuah gardu tak jauh dari tempatnya tadi. Entah ia sedang memikirkan apa, namun nampaknya begitu serius. Aku mendatanginya dan\u00a0setengah berteriak kepadanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kiran, kamu sedang\u00a0<em>mikirin apa<\/em> <em>di situ?<\/em>\u00a0<em>Ntar<\/em> <em>kesambet<\/em> lho!!&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Nggak mikirin apa \u00a0-apa kok. \u00a0Hanya duduk &#8211; duduk aja di sini.&#8221; Jawab Kiran, dengan\u00a0nada datar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ya sudah duduk-duduk saja di sana, aku juga ingin duduk &#8211; duduk\u00a0disini&#8221; jawabku sembari menghampiri dan duduk di sebelahnya lalu\u00a0memberikan\u00a0es kelapa yang <em>tadi\u00a0<\/em>dipesannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku rindu dengan masa &#8211; masa kecil dulu, tidak ada beban, selalu ceria, tak ada patah hati, melakukan apapun yang disukai&#8221; Tiba &#8211; tiba\u00a0Kiran bercerita, dengan tatapan matanya yang\u00a0tertuju pada langit yang kini mulai menampakan kuning senjanya. Aku rasa\u00a0Kiran sedang mengingat kejadian yang tidak <em>mengenakkan<\/em> dalam hidupnya, mungkin masalah patah hati, kecewa seperti yang sedang aku alami. Mungkin juga yang lain. Aku tak tahu pasti.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ya<\/em>, masa kecil memang menyenangkan.&#8221; Sahutku\u00a0&#8220;Kita bisa bebas melakukan apa saja\u00a0yang disukai bermain sepanjang siang dan malam. Namun seiring waktu \u00a0semakin banyak tanggung jawab yang harus kita pikul. Saat\u00a0SD mulai disuruh belajar dan membatasi diri bermain, hingga sekarang ini, kita diwajibkan untuk bekerja dengan tanggung jawab yang makin banyak di tiap harinya. Seiring dengan waktu itu, kita tumbuh dan mulai mengenali batasan &#8211; batasan bahwa ada hal &#8211; hal yang semestinya\u00a0tidak kita lakukan, meskipun itu disukai, dan hal &#8211; hal yang mesti kita kerjakan, meskipun itu tidak kita sukai&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Namun, bukankah sesuatu yang kita sukai itu boleh jadi membahayakan? Begitu juga pada sesuatu yang kita benci, bisa jadi ia justru yang menyelamatkan. Kita tidak pernah tahu. Jikapun tahu, yang kita ketahui tak ada seujung kuku dari keseluruhan ilmu yang ada.\u00a0Manusia hanya memiliki\u00a0dua mata yang hanya mampu melihat frekuensi gelombang cahaya dari\u00a0790 hingga 400 terahertz. Sebuah nilai yang sangat kecil\u00a0jika dibandingkan keseluruhan\u00a0frekuensi gelombang elektromagnetik yang ada dan luput dari pandangan\u00a0kita. Mulai dari spektrum sinar ultraviolet, sinar X, sinar gamma dan lain sebagainya.&#8221; Aku tersenyum pada Kiran yang duduk di sebelahku, kemudian\u00a0melanjutkan perkataanku. &#8220;Karena itulah, tanda seseorang bisa disebut\u00a0dewasa adalah ketika ia sanggup untuk melakukan sesuatu bukan terutama karena ia suka. Namun karena itu baik dan bermanfaat. Meskipun itu\u00a0berarti ia harus menanggung banyak hal yang bahkan dibencinya sekalipun.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bersambung<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pandanganku terpaku pada jalanan\u00a0melalui sebuah jendela bus yang kami tumpangi, menyaksikan\u00a0pemandangan lalulintas Yogya\u00a0yang makin siang,\u00a0semakin dipenuhi\u00a0oleh\u00a0\u00a0kendaraan\u00a0bermotor. Beberapa diantaranya mungkin adalah mahasiswa yang hendak berangkat kuliah, beberapa lagi\u00a0bisa jadi memang warga asli sini, tapi tak kalah banyak juga kendaraan dengan platnomer luar kota \u00a0yang membanjiri . Aku dan Kiran\u00a0sedang\u00a0berada di sebuah\u00a0bus yang melaju menuju Magelang. Bus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2980,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[7],"tags":[89,146],"jetpack-related-posts":[{"id":2758,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2758","url_meta":{"origin":2939,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 5)","date":"19 April 2015","format":false,"excerpt":"\u201cOh iya, \u00a0Kamu dari tadi di sini ya? \u00a0Mengapa tak\u00a0langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? \u201c \"Oh, Maaf, aku kira kamu\u00a0sedang\u00a0menunggu seseorang. Jadi aku merasa tidak enak bila mengganggu\" \"Ah, sudahlah. Menyebalkan memang. Lain kali saya tidak mau lagi bertemu\u00a0dengan dia. Dua jam! Coba bayangkan, dua jam! Dan dia\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2843,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2843","url_meta":{"origin":2939,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 6)","date":"24 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Tapi ada satu hal \u00a0dari kamu yang sekarang sudah berubah\" \"Apa itu?\" tanyaku penasaran. \"Dulu kamu tuh\u00a0anak kecil yang jahil,\u00a0dekil but now... you are pretty hunky..\" Jawab Kiran singkat, sembari ia memandangi\u00a0jalan ibu kota melalui kaca\u00a0jendela mobil, kemudian sesaat ia menatapku sembari tersenyum. Aku kebingungan harus merespon jawaban tak terduga\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2992,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2992","url_meta":{"origin":2939,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 9)","date":"6 Mei 2015","format":false,"excerpt":"\"Begitu ya?\" Sahut Kiran. \"Memang, waktu tak bisa dihentikan. Semuanya\u00a0akan berubah, kita tidak akan bisa mempertahankan kenangan lalu untuk bisa menjadi kenyataan hari ini. Sejarah memang bisa saja berulang. Tapi waktu tidak pernah berputar. Senja hari ini akan selalu saja berbeda dengan senja kemarin, dan akan berlainan di esok hari.\"\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Novel\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2939"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2939"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2939\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2980"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2939"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2939"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2939"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}