{"id":2867,"date":"2015-04-26T08:11:34","date_gmt":"2015-04-26T01:11:34","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2867"},"modified":"2015-04-26T08:11:34","modified_gmt":"2015-04-26T01:11:34","slug":"proxima-centauri-bagian-ke-7","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2867","title":{"rendered":"Proxima Centauri (Bagian ke &#8211; 7)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2980\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2980\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"599,590\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"wpid-img_20150419_221828.jpg\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=300%2C295&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-medium wp-image-2980\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?resize=300%2C295\" alt=\"wpid-img_20150419_221828.jpg\" width=\"300\" height=\"295\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?resize=300%2C295&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?w=599&amp;ssl=1 599w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>&#8220;Kamu tahu <em>nggak<\/em>, mengapa akhir &#8211; akhir ini begitu banyak pasangan\u00a0yang menikah namun kemudian rumah tangganya berantakan, bahkan banyak dari mereka yang\u00a0berpisah, padahal-<em>kan<\/em> <em>dulunya<\/em> mereka berjanji sehidup semati?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Memang mengapa?&#8221; Aku bertanya balik\u00a0pada Kiran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mungkin kesalahan terbesarnya &#8211; yang mungkin juga bisa menjadi kesalahan kita &#8211; adalah karena mereka\u00a0meniatkan pernikahan itu\u00a0untuk mencari kebahagiaan. Disangkanya bahagia dapat diraih hanya dengan\u00a0hidup bersama dengan\u00a0seseorang yang dicintai itu. Hasilnya, sudah pasti kecewa,\u00a0karena kebahagiaan\u00a0yang ditunggu &#8211; tunggu tidak kunjung diperoleh.&#8221;<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Harusnya mereka yang sudah berkomitmen untuk saling mencintai \u00a0adalah orang yang sudah bahagia hidupnya\u00a0dan\u00a0sudah selesei dengan masalah &#8211; masalah\u00a0dirinya, \u00a0sehingga ia siap untuk memberi dan berbagi kebahagiaan kepada orang yang dicintainya itu, bukan malah mencari.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Nah<\/em>, jika kau <em>terus &#8211; terusan<\/em> bersedih seperti itu, kebahagiaan apa yang bisa kamu bagikan\u00a0kepada Kimya?&#8221; Tanya Kiran sambil tersenyum padaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku tersentak dengan pertanyaan\u00a0Kiran. Sebuah pertanyaan yang\u00a0menyadarkanku akan banyak hal. Pertanyaan\u00a0yang malah membuatku bertanya &#8211; tanya sendiri. \u00a0Apakah \u00a0cinta yang kualami ini tak lebih dari\u00a0<em>selfish love.<\/em>\u00a0Cinta yang berpengharapan. Mencintai karena berharap akan kebahagiaan yang kudapatkan jika hidup bersamanya. Lalu jika kebahagiaan yang kuharapkan tak kunjung datang, apakah cintaku \u00a0akan masih sama atau berubah pula?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Terimakasih <em>ya\u00a0<\/em>sudah sudi mendengar ceritaku. Aku jadi menyadari\u00a0banyak hal.\u00a0Mereka yang mencintai haruslah orang yang paling pertama bahagia, sehingga dengan itu ia sudah siap lahir batinnya untuk berbagi kebahagiaannya dengan orang yang dicintainya&#8221; Jawabku sembari membalas senyum padanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Nah begitu <em>dong<\/em>\u00a0senyum. Iya, sama- sama\u00a0<em>mas ganteng<\/em>.\u00a0 Lain kali cerita\u00a0saja jika ada masalah, jangan dipendam mulu, nanti <em>cepet<\/em> tua lho&#8221; ledek\u00a0Kiran padaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fajar mulai menyingsing\u00a0di langit\u00a0menyambut kedatangan kereta api yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Tugu Yogyakarta. Aku dan Kiran bergegas turun dari kereta. Setelah ini kami harus\u00a0melanjutkan perjalanan ke rumah nenek Kiran di Sleman, namun Kiran hanya punya alamat rumah neneknya sedangkan ia tak tahu transportasi umum apa yang digunakan ke sana. Untungnya aku ada <em>bulik<\/em> yang tinggal di sekitar sini. Jadi kami punya tempat transit untuk mencari informasi dan beristirahat sebentar sekaligus\u00a0membersihkan diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rumah <em>bulik<\/em>\u00a0memang tak jauh dari stasiun Tugu, sekitar satu sampai dua kilometer, di sekitar daerah Wirobrajan. Aku dan Kiran menumpang\u00a0becak untuk sampai ke rumah <em>bulik<\/em>. Pasti Kiran belum pernah merasakan transportasi tradisional yang satu ini,\u00a0diantarkan oleh becak melintasi jalanan kota Yogyakarta yang masih lengang, dan menghirup sejuknya udara\u00a0pagi Yogyakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sepanjang perjalanan aku bercerita\u00a0kepada Kiran arti dan\u00a0filosofi di balik masing &#8211; masing nama jalan yang kami lalui mulai dari jalan yang melewati Stasiun Tugu yaitu Jalan Margo Utomo, Jalan \u00a0Malioboro, Jalan Margo Mulyo hingga ke jalan Pangurakan yang menuju ke keraton Yogyakarta, meskipun jalan yang terakhir ini tidak kami\u00a0lalui karena becak yang kami tumpangi\u00a0harus berbelok ke kiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut cerita orang-orang tua dulu, Margo Utomo berarti \u00a0jalan keutamaan.\u00a0Dalam hidup kita akan menempuh Margo Utomo, menentukan mana yang utama mana yang tidak, mana yang primer dan mana yang sekunder. Melaksanakan perintah Sang Pencipta dengan mematuhi segala syariatNya dan menjauhi segala laranganNya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah selesei dan lulus dari Margo Utomo barulah perjalanan bisa diteruskan ke Jalan Malioboro. Malioboro berarti &#8220;jadilah engkau wali yang mengembara&#8221;. \u00a0Setiap manusia adalah wali\u00a0 atau \u00a0wakil Allah di muka bumi, maka begitu usai menempuh Margo Utomo, bersegeralah untuk merantau dan\u00a0mengembara di muka bumi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jalan berikutnya ialah Margo Mulyo, artinya jalan kemuliaan. Jalan ketika\u00a0manusia mencari kemuliaan di sisi TuhanNya. Jika\u00a0kemuliaan \u00a0itu bisa didapat, selanjutnya ia akan sampai pada \u00a0Jalan Pangurakan, jalan dimana manusia\u00a0sudah bisa &#8220;<em>urakan&#8221;<\/em> kepada dunia. Urakan yang\u00a0berarti lepas dari belenggu dan masalah-masalah duniawi. Hanya orang yang sudah mencapai &#8220;pangurakan&#8221;-lah, yang boleh dan pantas tinggal di Keraton dan bertahta sebagai raja, memegang tampuk kekuasaan serta\u00a0mengabdi untuk kesejahteraan rakyat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tak<\/em> terasa aku bercerita, arlojiku sudah menunjukan pukul setengah enam pagi. Becak yang aku dan Kiran tumpangi tiba di\u00a0rumah <em>bulik. <\/em>\u00a0Setelah membayar ongkos yang sudah aku dan tukang becak sepakati sebelumnya,\u00a0kami langsung\u00a0\u00a0bergegas masuk ke halaman\u00a0rumah <em>bulik<\/em>. Pintunya tertutup dan suasana terlihat sepi, mungkin masih pagi, pikirku.\u00a0&#8220;<em>Ting tong!!&#8221;<\/em>\u00a0Suara bel berbunyi saat ku<em>pencet<\/em> tombol bertuliskan BEL di depan pintu rumah. Aku mengucapkan salam setengah berteriak sambil memanggil\u00a0<em>bulik, <\/em>sampai beberapa menit kemudian, seorang wanita berumur 50-an tahun muncul dari dalam rumah membukakan pintu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Eh<\/em> nak,\u00a0<em>kok<\/em> datang <em>gak<\/em> kasih kabar &#8211; kabar dulu. <em>Kayak<\/em> mimpi aja <em>bulik<\/em>&#8221; <em>Bulik<\/em> setengah terkejut dan tersenyum bahagia, melihat aku datang ke rumahnya pagi- pagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mau mampir sebentar kok <em>bulik<\/em>, ini <em>lagi\u00a0nganterin<\/em> temen ke rumah neneknya. Kita <em>nggak<\/em> tahu jalan, jadi mampir ke sini <em>deh<\/em>.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aduh siapa ini <em>den ayu..<\/em>&#8221; Tiba &#8211; tiba dengan wajah sumringah padangan <em>bu lik<\/em> menatap Kiran yang berdiri satu langkah di belakangku. Akupun memperkenalkan Kiran pada <em>bulik<\/em>. Sesaat kemudian \u00a0<em>bulik<\/em> memandangku sambil menepuk lenganku. &#8220;Pinter <em>kowe le<\/em>\u00a0<em>la\u00a0milih<\/em> calon,\u00a0<em>bocahe ayu koyo widodari, pokoke bulik setuju!\u00a0<\/em>&#8220;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ah bulik apaan sih<\/em>, <em>wong temen <\/em>juga<em>.<\/em>&#8221; Aku protes setengah berbisik kepada <em>bulik<\/em> dengan sedikit muka memerah menahan malu. Sementara kulihat Kiran \u00a0sekilas tersenyum lebar, ia tidak begitu paham bahasa jawa, mungkin hanya sepatah dua patah kata yang ia mengerti. Aku tak tahu apakah ia mengerti yang <em>barusan<\/em> diucapkan oleh bulikku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ada <em>wong <\/em>ayu <em>kok<\/em> dateng ke rumah <em>bulik<\/em>, mimpi <em>opo<\/em> <em>bulik<\/em> semalem. <em>Pantesan<\/em> kemarin banyak\u00a0burung\u00a0<em>prenjak<\/em>&#8221; <em>Bulik<\/em> berbicara sendiri dengan nada gembira dan\u00a0logat jawa yang kental sambil mempersilahkan aku dan Kiran masuk\u00a0ke ruang tamu lalu\u00a0bergegas\u00a0ke dapur untuk menyuguhkan\u00a0minuman dan\u00a0mempersilahkan kami beristirahat \u00a0serta\u00a0menggunakan kamar mandi untuk\u00a0membersihkan diri setelah perjalanan di kereta semalaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kamar mandi di rumah\u00a0<em>bulik<\/em> merupakan bangunan yang terpisah dari\u00a0rumahnya, meskipun jaraknya tidak jauh,\u00a0sekitar\u00a02\u00a0sampai 3\u00a0meter dari belakang rumah. Mungkin karena ini adalah bangunan lama, dimana kamar mandi pasti akan\u00a0dekat dengan sumur, maksudnya mungkin agar\u00a0tidak telalu payah jika menimba air untuk mengisi bak mandi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"text-align: justify; font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Yang jelas, air tanah di sini\u00a0memang lain\u00a0dengan yang\u00a0\u00a0di Jakarta. Di sini airnya dingin dan sejuk.\u00a0Usai mandi kurasakan<\/span><span style=\"text-align: justify; font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">\u00a0pikiranku yang tadinya\u00a0ruwet saat di kereta, sekarang\u00a0jadi <\/span><span style=\"text-align: justify; font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">lumayan segar<\/span><span style=\"text-align: justify; font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">. Begitupun badanku yang awalnya capek &#8211; capek dan\u00a0mengantuk, \u00a0kini sudah <\/span><span style=\"text-align: justify; font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">fit<\/span><span style=\"text-align: justify; font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">\u00a0lagi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selepas mandi aku memandang ke langit yang begitu biru pagi ini, ada pemandangan gunung merapi terlihat jelas di arah utara. Angin pagi yang sejuk berhembus menerpa wajahku. Aku bisa merasakan\u00a0ini adalah\u00a0angin kehidupan, angin yang berbeda dari angin ibukota. Di Jakarta tidak ada angin seperti ini. yang ada hanyalah kipas &#8211; kipas angin raksasa yang dipasang \u00a0di atas atap, juga <em>air conditioner <\/em>yang dipasang di dalam gedung &#8211; gedung beton pecakar langit. Angin yang dibuat oleh pabrik &#8211; pabrik dengan modal besar. \u00a0Air Conditioner atau pengkondisi udara, mereka begitu <em>pedenya<\/em> mengatakan itulah angin, \u00a0seolah &#8211; olah udara tidak lebih dari\u00a0masalah\u00a0suhu dan kelembaban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Padahal angin itu kehidupan, ia yang mempertemukan serbuk sari kepada putik bunga sehingga tanaman\u00a0berbuah. Tanaman yang berbuah bukan untuk dirinya. Tanaman yang berbuah untuk makhluk sekitarnya. Buah yang menjadi manfaat bagi \u00a0serangga, burung, mamalia, juga manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Angin itu kehidupan, ia berhembus \u00a0dari gunung ke dataran rendah bukan untuk dirinya. Mengawinkan mangga, salak dan tanaman yang lain\u00a0bukan untuk dirinya. Mengantarkan spora tanaman untuk tumbuh ke tempat lain, bukan untuk dirinya.\u00a0Angin itu perlambang kehidupan yang tulus. Memberi begitu saja. Menjalankan \u00a0kodrat penciptaan Tuhan padanya begitu saja tanpa mengharapkan balas jasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Angin itu kehidupan, ia tidak terlihat, namun memberikan kesejukan. Ia tak terlihat namun menghidupi. Ia tak terlihat namun kita rasakan maanfaatnya. Angin bukanlah sekedar udara yang bergerak.\u00a0Ia menyadarkan pada manusia sepertiku bahwa apa yang terpenting di dunia ini adalah apa yang tidak bisa kita lihat. Sebagaimana jantung yang mengalirkan darah meskipun tak terlihat, seperti juga paru &#8211; paru yang terus memompa udara meskipun tak nampak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku memang\u00a0masih belum bisa setulus angin. Aku masih berharap akan balasan Kimya kepadaku. Aku tidak bisa menampikkan bahwa bayangan\u00a0Kimya masih terus berputar -putar \u00a0dalam ingatan. Sejenak kulihat akun media sosial Kimya dari ponsel pintarku untuk sekedar mengetahui bagaimana kabarnya, tampaknya ia baik &#8211; baik saja. tidak mencari diriku, setelah pertemuan terakhir kita. <em>Ah<\/em>, aku memang \u00a0terlalu <em>ge er<\/em> jadi manusia<em>.<\/em>\u00a0Merasa dirinya adalah pusat\u00a0tata surya. Sehingga siapapun harus\u00a0mengitari dan memperhatikanku. Dan kala seseorang tidak memperhatikanku sebagaimana yang kuharapkan\u00a0maka yang disisakan hanyalah kecewa dan\u00a0sakit hati. Memang,\u00a0\u00a0kecewa hanyalah milik orang &#8211; orang yang tidak tulus hidupnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ya, aku memang belum bisa setulus angin. Aku perlu banyak belajar kepada angin, kepada daun &#8211; daun, kepada rumput &#8211; rumput liar.\u00a0Manusia sepertiku\u00a0memang belum bisa setulus angin Yang bisa kulakukan dalam hidup tidak lebih dari menabung ketulusan. Yang bisa kuusahakan\u00a0hanyalah menyicil kerelaan, sedikit demi sedikit. Sehingga sampai waktunya\u00a0nanti, bisa terbangun bukit tempatku\u00a0berpijak\u00a0untuk tidak ingin menagih siapa &#8211; siapa yang ada di bumi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lamunanku tiba &#8211; tiba terhenti\u00a0oleh suara\u00a0samar \u00a0&#8211; samar \u00a0<em>bulik <\/em>yang sedang\u00a0berbincang\u00a0dengan Kiran di ruang tamu. Mereka nampak begitu akrab padahal baru saja bertemu. Sepertinya Kiran pandai sekali mengambil hati <em>bulik<\/em>, pikirku. Banyak hal yang sepertinya mereka perbincangkan\u00a0mulai dari\u00a0sejak kapan Kiran mengenalku hingga menceritakan sifat dan perilakuku serta cerita &#8211; cerita dan kenakalanku di waktu kecil. Bahkan sepertinya\u00a0<em>bulik<\/em>\u00a0hendak menjodoh &#8211; jodohkan Kiran denganku. <em>Bulik<\/em>\u00a0sempat\u00a0bicara\u00a0<em>\u00a0<\/em>kepada Kiran bahwa\u00a0\u00a0 jika dilihat dari segi\u00a0<em>katuranggan,<\/em> kami cocok jadi suami istri, karena itu buru &#8211; buru saja \u00a0kami berdua menikah, biar <em>langgeng<\/em> sampai di surga, katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Duh<\/em> <em>bulik<\/em> ini ada &#8211; ada saja.&#8221; Pikirku dalam hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Bersambung<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Kamu tahu nggak, mengapa akhir &#8211; akhir ini begitu banyak pasangan\u00a0yang menikah namun kemudian rumah tangganya berantakan, bahkan banyak dari mereka yang\u00a0berpisah, padahal-kan dulunya mereka berjanji sehidup semati?&#8221; &#8220;Memang mengapa?&#8221; Aku bertanya balik\u00a0pada Kiran. &#8220;Mungkin kesalahan terbesarnya &#8211; yang mungkin juga bisa menjadi kesalahan kita &#8211; adalah karena mereka\u00a0meniatkan pernikahan itu\u00a0untuk mencari kebahagiaan. Disangkanya bahagia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2980,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"jetpack-related-posts":[{"id":2843,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2843","url_meta":{"origin":2867,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 6)","date":"24 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Tapi ada satu hal \u00a0dari kamu yang sekarang sudah berubah\" \"Apa itu?\" tanyaku penasaran. \"Dulu kamu tuh\u00a0anak kecil yang jahil,\u00a0dekil but now... you are pretty hunky..\" Jawab Kiran singkat, sembari ia memandangi\u00a0jalan ibu kota melalui kaca\u00a0jendela mobil, kemudian sesaat ia menatapku sembari tersenyum. Aku kebingungan harus merespon jawaban tak terduga\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3705,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3705","url_meta":{"origin":2867,"position":1},"title":"Kita Bagian dari Sistem Transportasi Indonesia Yang Payah","date":"26 Maret 2017","format":false,"excerpt":"Dalam tulisan saya sekitar satu tahun yang lalu, saya sempat membahas tentang fenomena dari konflik ojek online dan transportasi lokal yang sudah lebih dulu berpuluh -puluh tahun hadir. Namun akhir - akhir ini isu tersebut kembali mencuat lagi.\u00a0Konflik angkutan umum dengan ojek online di beberapa daerah, seperti Malang, Jogja, Bandung,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=620%2C354&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":1834,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1834","url_meta":{"origin":2867,"position":2},"title":"Puasa Cara Sederhana untukmu Berbahagia","date":"26 Juli 2012","format":false,"excerpt":"Semua orang di dunia ini melakukan hal apa saja dalam hidupnya sebenarnya bertujuan ingin bahagia, ingin sejahtera, ingin tentram, hingga dia habiskan usianya, darahnya, keringatnya untuk mengejar \u2013 mengejar sesuatu yang menurutnya itu kebahagiaan. Karena dalam pikirannya, kebahagiaan itu sesuatu yang harus dicari, dibeli dibangun dengan komponen \u2013komponen materi. Namun\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/07\/happines_thumb.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2867"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2867"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2867\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2980"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}