{"id":2843,"date":"2015-04-24T04:43:07","date_gmt":"2015-04-23T21:43:07","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2843"},"modified":"2015-04-24T04:43:07","modified_gmt":"2015-04-23T21:43:07","slug":"proxima-centauri-bagian-ke-6","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2843","title":{"rendered":"Proxima Centauri (Bagian ke &#8211; 6)"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2648\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2648\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1200,724\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;Image enregistr\\u00e9e avec les ajustements inclus.&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;Image enregistr\\u00e9e avec les ajustements inclus.&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"Image enregistr\u00e9e avec les ajustements inclus.\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=300%2C181&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=708%2C427&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-medium wp-image-2648\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=300%2C181\" alt=\"Image enregistr\u00e9e avec les ajustements inclus.\" width=\"300\" height=\"181\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=300%2C181&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=768%2C463&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=1024%2C618&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>&#8220;Tapi ada satu hal \u00a0dari kamu yang sekarang sudah berubah&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Apa itu?<\/em>&#8221; tanyaku penasaran.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dulu kamu <em>tuh<\/em>\u00a0anak kecil yang <em>jahil<\/em>,\u00a0<i>dekil but now&#8230; <\/i>y<em>ou are pretty hunky..<\/em>&#8221; Jawab Kiran singkat, sembari ia memandangi\u00a0jalan ibu kota melalui kaca\u00a0jendela mobil, kemudian sesaat ia menatapku sembari tersenyum. Aku kebingungan harus merespon jawaban tak terduga itu. Tak biasanya aku dipuji seperti itu oleh seorang wanita. Ia\u00a0benar &#8211; benar membuatku salah tingkah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Eh by the way<\/em>,\u00a0dalam rangka apa\u00a0<em>nih<\/em> ke datang ke Indonesia?&#8221; aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Berlibur\u00a0saja, sekalian mau ketemu kakek dan\u00a0nenek, kangen <em>nih<\/em>?&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Oh, rencananya berapa hari?&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Nggak<\/em> tahu juga, mungkin bakalan lama.\u00a0<em>Coz<\/em>\u00a0sekalian\u00a0<em>nyari\u00a0<\/em>peluang bisnis di sini.&#8221; Kiran menjawab dengan begitu\u00a0semangat. Aku baru tahu ternyata ia\u00a0berencana \u00a0membuka usaha di Indonesia. Mungkin dia akan membuka kafe, butik atau usaha yang lain. Dua bulan yang lalu ia\u00a0baru menyeleseikan tudi\u00a0Masternya di<em> Helsingin yliopisto. <\/em>Universitas terbesar di Finlandia. Ya, Kiran memang perempuan\u00a0yang cerdas, ia selalu ranking 3 besar semasa kita di SD dulu.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Rupanya baru kali ini Kiran datang ke Indonesia, setelah belasan tahun tinggal di negeri orang. Wajar saja ia begitu bersemangat. Semua tempat yang agak unik yang kami lewati ia tanyakan. Aku melayani\u00a0 satu persatu pertanyaannya, seperti seorang pemandu wisata. Sampai tiba &#8211; tiba pembicaraan kami terhenti\u00a0karena taxi yang kami tumpangi sudah tiba\u00a0di hotel di tempat Kiran akan menginap. Aku segera \u00a0bergegas membantu\u00a0mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi, lalu\u00a0kemudian mengantarkannya masuk menuju lobi Hotel.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kimya tunggu!&#8221; Panggilku sambil menahan tangannya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ada apa?<\/em>&#8220;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Aku mencoba berbicara pada Kimya, setelah seharian aku berusaha untuk menghubunginya, berhari &#8211; hari\u00a0ini ia\u00a0\u00a0selalu seperti ingin\u00a0menghindar saat berpapasan\u00a0denganku.\u00a0Awalnya aku tak merasa ada yang aneh terhadap hubungan \u00a0kami. Namun kini makin lama, aku merasa ia semakin jauh saja.\u00a0Sekarang, aku menunggu di depan ruang kelasnya, menunggu hingga kursusnya\u00a0selesei. Aku ingin bertanya, mengapa akhir &#8211; akhir ini ia selalu menghindar. Apakah ada dari perilakuku yang\u00a0\u00a0salah? Atau aku pernah menyinggung perasaannya?<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Namun, belum sempat aku berbicara sepatah \u00a0kata, tiba &#8211; tiba sebuah\u00a0mobil avanza putih berhenti tak jauh di dekat aku dan Kimya\u00a0berdiri.\u00a0Aku tak bisa mengenali\u00a0dengan jelas siapa yang berada di belakang\u00a0kemudi. Pandanganku terhalang oleh kaca jendela gelap yang sengaja ia biarkan tertutup. Mungkin itu temannya Kimya atau bisa jadi sanak familinya. Atau mungkin\u00a0\u00a0juga\u00a0kekasihnya? Aku tak tahu pasti. Yang pasti begitu mobil itu tiba, ia langsung berpamitan denganku dan terburu &#8211; buru berlari masuk ke dalam mobil itu.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Nanti dulu ya <em>bicaranya<\/em>, sekarang aku <em>lagi<\/em>\u00a0<em>buru &#8211; buru<\/em> <em>nih!<\/em>&#8220;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Aku hanya terpaku terdiam, melihat\u00a0mobil yang\u00a0membawa Kimya itu melaju meninggalkanku seorang diri. Pandanganku tak bisa lepas hingga mobil itu\u00a0berlalu hilang berbelok ke kiri di perempatan ujung jalan sana. Aku tak tahu akan kemana Kimya, sehingga begitu terburu &#8211; burunya tanpa sempat mendengar satu kata\u00a0dariku. Semenjak itu pikiranku mulai tak menentu kemana. Aku hanya bisa menebak-nebak mengapa ia begitu menghindariku. Mungkin ia\u00a0memang tak menyukaiku, atau memang sengaja membuatku penasaran. Mungkin memang ada perilakuku yang tak disukainya, tapi apa?<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\"><em>Ah,<\/em> perempuan\u00a0memang terlalu rumit untuk bisa dimengerti. Mengapa kita tidak seperti Hidrogen\u00a0saja \u00a0dengan segala kesederhanaan sifatnya. Hidrogen yang hanya memiliki satu proton dalam intinya. Hidrogen yang hanya memiliki satu hal sederhana dalam batinnya. Mungkin akan lebih mudah jika aku dan Kimya adalah sepasang hidrogen itu, yang dipersatukan\u00a0Tuhan dalam sebuah reaksi fusi menjadi satu Helium dengan energinya yang sanggup menghias bintang &#8211; bintang di langit sana.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Mengapa kita tidak seperti Hidrogen saja\u00a0dengan satu \u00a0bilangan kuantum utama\u00a0yang begitu bersahaja. Hidrogen yang mencukukupkan diri dengan satu saja elektron yang berputar\u00a0di orbitnya. Elektron yang begitu setia menemani. Elektron yang berputar\u00a0\u00a0tanpa henti. Memenuhi takdir penciptaannya dalam jagad kuantum.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Atau mungkin memang kita\u00a0Hidrogen itu yang kini\u00a0sedang\u00a0merelakan dirinya terikat secara kovalen dengan\u00a0Oksigen kehidupan menjadi\u00a0setetes air? Air yang dilahirkan dari rahim mata air bukit &#8211; bukit. Setetes Air yang beranjak\u00a0dewasa dari\u00a0anak &#8211; anak sungai yang kemudian seiring\u00a0waktu menjadi\u00a0aliran sungai besar yang membelah pulau. Sungai yang \u00a0kemudian menerima begitu saja &#8212; tanpa bisa mengeluh\u00a0segala sampah manusia dan limbah pabrik perkotaan. Sampah yang berupa amarah, dendam, dan dengki. Limbah yang berupa penindasan dan nafsu untuk menjatuhkan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Namun\u00a0tak ada air yang kotor, yang ada hanya air yang mengalir bersama kotoran. Air telah dikodratkan Tuhan\u00a0selalu\u00a0jernih. Karena itulah betapapun keruhnya\u00a0air, ia selalu bisa dimurnikan, disuling, dipisahkan dari kotorannya sehingga kembali menjadi tetesan &#8211; tetesan air yang\u00a0jernih dan menyejukan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Mungkin kitalah setetes air di\u00a0sungai yang larut dalam arus waktu. Melalui\u00a0banyak peristiwa, banyak kenangan dan banyak hal yang bisa menjadikan kita lebih arif dan bijaksana. Mungkin kitalah setetes air yang menderita kerinduan dan keterpisahan dari hulu kelahiran melakukan perjalanan dan\u00a0bergerak mengalir menuju hilirnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Dan pada akhirnya kelak, di samuderalah segala sungai akan bermuara. Dari mata air bukit, menempuh rindu pada sekian jauh aliran. Mungkin Aku dan Kimya adalah\u00a0tetes air di sungai yang berbeda. Dan aku\u00a0percaya, pertemuan di ujung samudera itu akan tiba.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Malam sudah lepas dari pukul sembilan. Kereta yang aku tumpangi baru saja meninggalkan Stasiun Bekasi. Aku memandang langit dari jendela gerbong yang kutumpangi,\u00a0namun tak\u00a0kulihat satupun \u00a0bintang di langit malam ini. Langit begitu gelap. &#8220;Maaf, bintang tak berkelip malam ini tuan. Ia begitu\u00a0lelah memberi arah para pelaut dan nelayan.\u00a0Mungkin lain kali, jika kita punya kesempatan.&#8221; Sahut bintang &#8211; bintang itu dalam batinku sendiri.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Aku dalam perjalanan menuju Yogyakarta, menemani Kiran, yang hendak\u00a0berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di Sleman. Ia sudah agak lupa dengan jalan menuju rumah kakek dan neneknya, terlebih ia terbilang baru di Indonesia, maka\u00a0akupun tak tega membiarkannya berangkat sendiri\u00a0dan menawarkan\u00a0diriku untuk menemaninya.\u00a0<em>Toh,<\/em>\u00a0besok jumat adalah tanggal merah, sehingga besok\u00a0merupakan akhir pekan yang panjang.\u00a0Aku ingin sejenak mengistirahatkan pikiranku dari Kimya. Mungkin setelah melakukan perjalanan ini, aku bisa berpikir jenih.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Namun harapan dan kenyataan memang selalu berlawanan.\u00a0Alih &#8211; alih\u00a0melupakan Kimya. Justru di dalam kereta ini, malah membuatku teringat pada pertemuan pertamaku dengannya. &#8220;Kereta ini\u00a0ibarat\u00a0mesin waktu saja&#8221; pikirku. Bisa membawa orang pergi menembus masa lalu. Pelan namun pasti tiba-tiba bayang-bayang tentang Kimya\u00a0terputar sempurna dalam ingatanku. Ia seperti tersenyum manis di depanku, hingga kemudian sebuah suara mengagetkanku.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Heh<\/em>, dari tadi kamu <em>ngelamun\u00a0aja,\u00a0<\/em>ada masalah <em>ya<\/em>?&#8221; Ternyata itu Kiran yang duduk di sebelahku. Agak kaget aku mendengarnya, namun kuusahakan kututupi. Sepertinya\u00a0Kiran sedari tadi sudah memperhatikan tingkahku yang lain\u00a0dari biasanya. Ia\u00a0kemudian\u00a0mendesakku untuk bercerita.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ih, mas ganteng lagi <\/em>patah hati<em> ya, ciee.. S<\/em>iapa memang perempuan yang begitu tega membuat sahabatku ini patah hati?&#8221; Goda Kiran sembari setengah menghiburku.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Karena sedari tadi\u00a0didesak, akhirnya aku\u00a0<em>ceritakan<\/em> padanya\u00a0tentang masalah yang menjadi racun dalam otakku selama ini. Aku bercerita panjang mengenai \u00a0bagaimana\u00a0awal pertemuanku\u00a0dengan Kimya, perasaanku padanya, hingga apa yang sering membuatku gelisah dan bersedih.\u00a0Aku sering\u00a0menebak &#8211; nebak sendiri\u00a0apa yang ada di dalam hati Kimya. Seperti orang yang berjudi di sebuah kasino, yang setiap kali bertaruh hampir pasti selalu kalah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Kiran mendengarkan ceritaku \u00a0yang begitu panjang itu dengan sabar. Mimik wajahnya, nampak sekali begitu memperhatikan. Ia tak banyak berkomentar ataupun mengkritik. Sepertinya\u00a0Kiran\u00a0paham benar, bahwa ketika laki &#8211; laki semacam diriku sedang\u00a0bercerita tentang masalah pribadinya<em>,<\/em>\u00a0itu bukan berarti ia menginginkan\u00a0sebuah\u00a0solusi. Namun, itu semata &#8211; mata ia ingin didengarkan. Ya, didengarkan saja memang sudah lebih dari cukup bagiku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kiran, aku tak tahu apakah memang\u00a0benar waktu itu berputar ataukah ia melaju lurus. Aku hanya berharap jika waktu ini berputar \u00a0maka yang aku harapkan adalah perjumpaan ulang dengan Kimya. Jika ia melaju lurus. Maka yang \u00a0bisa kuharap hanyalah pertemuan yang tak putus. Namun seberapa tahu aku\u00a0akan waktu, jika aku\u00a0dijalankan diantaranya. Berputar ataukah melaju lurus, manusia\u00a0hanya bisa \u00a0terseret dalam gelombangnya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akupun terdiam lama, dan bertanya\u00a0apa tanggapannya tentang masalahku. Kiranpun kemudian tersenyum padaku sesaat, kemudian\u00a0berkata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jangan terlalu terburu &#8211; buru\u00a0dan juga jangan terlalu lamban\u00a0ketika kesempatan memberikan isyarat. Sehingga kamu bisa menghindari\u00a0kesalahan &#8211; kesalahan penting. Perempuan terkadang tidak menyukai laki &#8211; laki yang terlalu\u00a0agresif, tapi ia juga tidak menyukai pria yang terlalu lamban dalam bersikap. Memang teramat rumit untuk menjadi seorang laki &#8211; laki. Di sisi lain ia dituntut untuk tidak boleh terlalu agresif,\u00a0sedangkan di saat yang sama ia\u00a0tidak boleh juga terlalu lamban. Jadilah saja dirimu sendiri yang apa adanya seperti ini, maka aku yakin perempuan yang akan datang padamu\u00a0akan hadir juga dengan apa adanya dirinya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kamu tahu apa bagian terbaik dari hidup seorang manusia? Ia adalah\u00a0perbuatan-perbuatan baik, cinta dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain. Ia adalah kebaikan yang tersembunyi dalam bilik hati. Yang sangat berhati &#8211; hati menjaga perasaan orang yang dicintai. Yang selalu memahami\u00a0bagaimana mungkinnya terbuka sebuah luka, meski itu oleh satu patah kata.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kamu memiliki itu, sebagai salah satu bagian terbaik dalam hidupmu. Kamu\u00a0begitu menyukai\u00a0seorang gadis. Lalu berusaha sebisa mungkin menjaga perasaan dan memperhatikan dengan seksama gadis itu, meski ia\u00a0sedikit atau tidak\u00a0menghargainya, atau mungkin malah merasa terganggu dengannya. Begitulah, cinta memang bukan sebuah transaksi yang\u00a0selalu berharap akan timbal balik dan\u00a0\u00a0untung rugi.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dulu, saat\u00a0remaja ketika kita mulai beranjak menyukai lawan jenis, seolah-olah kita yakin sedang mencintai orang lain, padahal masih berharap akan balasan. Pada tahap berikutnya kita sadar, kita tidak sedang mencintai orang lain. Kita hanya belajar seolah-olah mencintai orang lain, sebenarnya yang kita cintai adalah\u00a0diri kita sendiri dengan jalan melalui orang lain.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku sering\u00a0meminta\u00a0nasihat kepada orangtuaku, jika aku merasa gelisah sepertimu. Karena\u00a0aku percaya, mata mereka telah menatap wajah tahun demi tahun dan telinga mereka telah mendengar banyak suara kehidupan. Bahkan jika nasihat mereka tidak menyenangkanku, aku akan masih tetap memperhatikan orangtuaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dulu aku juga pernah mengalami perasaan patah hati sepertimu. Tapi aku berpikir, lebih\u00a0baik aku tidak usah terlalu larut dalam kesedihan tak berujung.\u00a0Kau\u00a0lihat anak kecil\u00a0itu!&#8221; Kiran pun berbisik padaku \u00a0menunjuk anak balita di kursi belakang\u00a0yang sedang meminum susu di dalam botol. &#8220;Begitu gembiranya ia saat meminum susu itu.\u00a0Namun saat si bayi beranjak\u00a0besar, ia\u00a0akan mulai bosan dengan susu lalu mulai menyukai teh, sirup, jus ataupun kopi. Mengapa bayi senang saat diberi susu oleh ibunya? Karena pada usia seperti anak itu, hanya itulah minuman \u00a0yang diketahui olehnya.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ya, kebahagiaan\u00a0memang suatu\u00a0bentuk yang \u00a0misterius dan tersembunyi, kita tak tahu dalam bentuk apakah ia hadir menyapa kita. Ia bisa datang dalam aneka rupa,\u00a0bergerak dari satu sudut ke sudut lain. Ia bisa mendadak mempertontonkan\u00a0keindahannya pada butir air hujan, lalu meresap ke biji\u00a0mawar, dan kecantikan\u00a0pokok\u00a0mawar saat ia muncul dari dalam bumi&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kebahagiaan memang bisa datang dari makanan dan minuman, ataupun \u00a0kecantikan. Bisa juga dari barang &#8211; barang dan harta benda. Sampai suatu hari kita sadar bahwa kebahagiaan\u00a0bukanlah itu semua. Maka sejak itu aku tak ingin menyesali\u00a0jika suatu saat yang kusangka kebahagiaan itu hilang dariku, karena aku yakin ia akan kembali lagi dalam bentuknya yang lain.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bersambung<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Tapi ada satu hal \u00a0dari kamu yang sekarang sudah berubah&#8221; &#8220;Apa itu?&#8221; tanyaku penasaran. &#8220;Dulu kamu tuh\u00a0anak kecil yang jahil,\u00a0dekil but now&#8230; you are pretty hunky..&#8221; Jawab Kiran singkat, sembari ia memandangi\u00a0jalan ibu kota melalui kaca\u00a0jendela mobil, kemudian sesaat ia menatapku sembari tersenyum. Aku kebingungan harus merespon jawaban tak terduga itu. Tak biasanya aku dipuji [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2648,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[2,7],"tags":[72,125,149,186,260],"jetpack-related-posts":[{"id":2758,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2758","url_meta":{"origin":2843,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 5)","date":"19 April 2015","format":false,"excerpt":"\u201cOh iya, \u00a0Kamu dari tadi di sini ya? \u00a0Mengapa tak\u00a0langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? \u201c \"Oh, Maaf, aku kira kamu\u00a0sedang\u00a0menunggu seseorang. Jadi aku merasa tidak enak bila mengganggu\" \"Ah, sudahlah. Menyebalkan memang. Lain kali saya tidak mau lagi bertemu\u00a0dengan dia. Dua jam! Coba bayangkan, dua jam! Dan dia\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2724,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2724","url_meta":{"origin":2843,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 4)","date":"17 April 2015","format":false,"excerpt":"Sampai suatu masa takdir mempertemukan aku dan Kimya di sebuah ruang dan waktu. Suatu takdir di sebuah gerbong kereta api yang melaju. \u00a0Sebuah takdir yang telah Tuhan rencanakan sebelum Dia menciptakan alam semesta ini. Sebuah takdir pertemuan yang \u00a0mengubah hidup seorang laki - laki untuk selamanya. Sebuah pertemuan yang menerobos\u00a0tidak\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2939,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2939","url_meta":{"origin":2843,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 8)","date":"1 Mei 2015","format":false,"excerpt":"Pandanganku terpaku pada jalanan\u00a0melalui sebuah jendela bus yang kami tumpangi, menyaksikan\u00a0pemandangan lalulintas Yogya\u00a0yang makin siang,\u00a0semakin dipenuhi\u00a0oleh\u00a0\u00a0kendaraan\u00a0bermotor. Beberapa diantaranya mungkin adalah mahasiswa yang hendak berangkat kuliah, beberapa lagi\u00a0bisa jadi memang warga asli sini, tapi tak kalah banyak juga kendaraan dengan platnomer luar kota \u00a0yang membanjiri . Aku dan Kiran\u00a0sedang\u00a0berada di sebuah\u00a0bus\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Novel\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2843"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2843"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2843\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2648"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2843"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2843"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2843"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}