{"id":2758,"date":"2015-04-19T00:54:52","date_gmt":"2015-04-18T17:54:52","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2758"},"modified":"2015-04-19T00:54:52","modified_gmt":"2015-04-18T17:54:52","slug":"proxima-centauri-bagian-ke-5","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2758","title":{"rendered":"Proxima Centauri (Bagian ke &#8211; 5)"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><a href=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2648\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2648\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1200,724\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;Image enregistr\\u00e9e avec les ajustements inclus.&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;Image enregistr\\u00e9e avec les ajustements inclus.&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"Image enregistr\u00e9e avec les ajustements inclus.\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=300%2C181&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=708%2C427&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-medium wp-image-2648\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=300%2C181\" alt=\"Image enregistr\u00e9e avec les ajustements inclus.\" width=\"300\" height=\"181\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=300%2C181&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=768%2C463&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=1024%2C618&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>\u201c<em>Oh iya<\/em>, \u00a0Kamu dari tadi di sini <em>ya<\/em>? \u00a0Mengapa <em>tak\u00a0<\/em>langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? \u201c<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Oh, Maaf, aku kira kamu\u00a0sedang\u00a0menunggu seseorang. Jadi aku merasa tidak enak bila mengganggu&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ah<\/em>, sudahlah. Menyebalkan memang. Lain kali saya tidak mau lagi bertemu\u00a0dengan dia. Dua jam! Coba bayangkan, dua jam! Dan dia tak kunjung datang.&#8221; Kimya-pun menggerutu, sembari menahan kesal.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Melihat Kimya sedang kesal, aku tak tega hati meneruskan pembicaraan tentang seorang dungu\u00a0yang tak tahu diuntung itu.\u00a0Kucoba \u00a0sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan untuk menghiburnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kimya tahu <em>gak? Coba <\/em>kau perhatikan di luar sana sedang <em>mendung<\/em>. Terkadang bila aku sedang \u00a0lelah menunggu seseorang yang tak kunjung datang. Aku sering resah dan menatap\u00a0ke luar. Berharap seseorang yang kutunggu datang. Meskipun\u00a0aku tak pernah tahu kapan orang yang aku\u00a0tunggu itu datang.\u00a0Aku tak pernah tahu di detik keberapa, di menit keberapa, di jam keberapa. Itu \u00a0semua adalah di luar kuasa kita. Kita tidak bisa menginginkan segala sesuatu pasti terjadi pada kita. Kita tak bisa mengatur apakah besok akan cerah atau berawan. Ada banyak hal di luar sana\u00a0yang berada di luar\u00a0kendali kita.&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tapi&#8230; respon \u00a0kita sendiri terhadap sesuatu itu yang menjadi \u00a0kuasa penuh kita. Kita bisa memilih salah satu dari dua kemungkinan: Kemungkinan pertama, kita bisa menjadi orang yang reaktif &#8211; yang dengan mudah bereaksi dari\u00a0apa\u00a0yang terjadi di sekitarnya. Seperti bensin yang mudah tersulut api. Seperti alkali, logam yang paling reaktif dalam tabel periodik, begitu mudah melepaskan elektronnya. <em>Moody,<\/em>\u00a0mudah murung jika suasana mendung, dan baru gembira bila di luar sana cerah.&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sedangkan kemungkinan yang kedua, kita bisa \u00a0menjadi orang yang &#8220;proaktif&#8221;, orang yang berdaulat dengan dirinya sendiri. Yang mampu menciptakan sendiri cuacanya. Jikalau di luar sana sedang mendung. Maka jangan biarkan mendung itu membuatmu gelisah. Ciptakanlah mataharimusendiri, sehingga cerah terbit menerangi&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kamu tahu bagaimana kita bisa menciptakan mentari di saat mendung\u00a0gini?&#8217;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Bagaimana?&#8221; tanyanya penasaran.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dengan tersenyum!&#8221; Akupun menatap mata\u00a0Kimya, sembari tersenyum. Kimyapun merespon dengan senyum manisnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Nah kan!<\/em>&#8221; <em>Barusan<\/em>\u00a0kamu sudah\u00a0membuat matahari\u00a0sendiri. Memang,\u00a0<em>Senyum<\/em> biayanya jauh \u00a0lebih murah\u00a0\u00a0dibanding dengan listrik, tapi dijamin akan lebih banyak cahayanya &#8220;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Semenjak pertemuanku malam itu dengan Kimya. Aku jadi sering banyak menghabiskan waktu\u00a0di kafe ini. Aku tak tahu secara pasti\u00a0mengapa. Mungkin di sini aku bisa berharap bertemu lagi dengannya, meskipun sudah beberapa hari ia tak terlihat. \u00a0Pesan &#8211; pesan yang aku kirimkan ke ponselnya masih jarang \u00a0dibalas, namun ia begitu nampak ramah\u00a0saat kami\u00a0berpapasan. Tatapan matanya dan senyumnya seperti mengatakan kepadaku bahwa tak ada masalah di antara kami. Aku\u00a0sering bertemu dengannya hampir setiap minggu, \u00a0di tempat kursus bahasa\u00a0itu. Tidak sia &#8211; sia juga ternyata aku mendaftar. Kadang aku sering sengaja menunggunya hingga kelasnya selesei, agar kami bisa pulang dan bicara bersama.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Kadang pikiranku menebak &#8211; nebak apa yang ada di lubuk hatinya. Sebagaimana cahaya yang bisa dianggap sebagai gelombang, namun pada saat yang lain\u00a0juga bisa dianggap sebagai\u00a0partikel. \u00a0Mengapa Kimya juga seperti dua sosok yang berbeda? Di satu sisi adalah sosok yang hangat, sedangkan di satu sisinya begitu dingin. \u00a0Apakah ia juga menaruh perasaan yang sama padaku, atau \u00a0aku yang terlalu menaruh harapan yang berlebih?<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Karena itulah aku sering berkunjung ke kafe ini, karena ini adalah satu &#8211; satunya cara untuk mengobati\u00a0penyakit rinduku pada Kimya\u00a0tanpa harus terlihat menganggunya. Aku suka\u00a0atmosfir dan suasananya. Albert Einstein pernah mengatakan bahwa waktu adalah relatif bergantung pada kerangka\u00a0pengamat. Waktu adalah hal yang bersifat pribadi. Masing &#8211; masing pengamat bisa memiliki pengukuran waktu yang berbeda dengan yang lain. Mungkin itulah yang kurasakan di kafe ini. Aku merasakan waktu \u00a0berulang \u00a0di sini. Waktu dimana\u00a0ia masih duduk di kursi sebelah sana. Waktu dimana ia\u00a0tersenyum\u00a0manis padaku. Waktu dimana bisa kutatap indah hitam\u00a0matanya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Aku memesan secangkir kopi hitam seperti biasa. Kopi yang sama yang kupesan saat Kimya ada di depanku. Kopi hitam yang pahitnya kuminum perlahan, yang hangatnya kurasakan menyentuh lembut\u00a0kerongkongan. Kopi hitam yang kuajak berteman dengan\u00a0buku &#8211; buku\u00a0yang \u00a0kubaca hingga\u00a0\u00a0membuatku tenggelam dalam jutaan kilo meter samudera kata.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Bip bip!!<\/em>&#8221;\u00a0Dering notifikasi berbunyi di ponsel pintarku. Membangunkanku yang sedang larut di dalam buku &#8211; buku yang kubaca. Aku berharap itu notifikasi pesan instan dari Kimya. Tapi seperti biasa, \u00a0aku salah. Itu bukan notifikasi pesan instan dari Kimya, melainkan\u00a0sebuah\u00a0<em>friend request<\/em>\u00a0dari akun media sosial milikku. Sejenak aku perhatikan, itu f<em>riend request<\/em>\u00a0dari seorang wanita, namanya Kiran. \u00a0&#8220;Sepertinya aku pernah mengenal nama ini.&#8221; Aku bergumam sendiri. &#8220;Tapi aku lupa dimana ya?&#8221; Butuh waktu beberapa menit sampai\u00a0aku bisa ingat dan memastikan bahwa ternyata\u00a0ia Kiran temanku sewaktu SD. Aku hampir lupa, jika tak melihat foto &#8211; foto masa kecilnya yang juga diunggahnya di akun media sosialnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Kiran adalah teman satu kelasku\u00a0sewaktu\u00a0Sekolah Dasar. Seorang gadis kecil dengan rambut hitam panjang yang selalu\u00a0terkuncir. Aku tidak ingat kapan pertama kali mengenal Kiran. Aku masih berumur 6 tahun kala masuk Sekolah Dasar, sehingga tidak begitu\u00a0mengenali seluruh teman kelasku\u00a0yang berjumlah 40 an.\u00a0Aku mulai\u00a0\u00a0menyadari keberadaan Kiran\u00a0di\u00a0saat\u00a0kelas 3 SD. Saat guru kami waktu itu sengaja mengatur tempat duduk ,murid &#8211; muridnya\u00a0untuk\u00a0meredam keramaian yang sering terjadi di kelas. \u00a0Murid \u00a0pria \u00a0sengaja disandingkan dengan \u00a0murid perempuan. Aku kebetulan yang mendapat bagian bersebelahan dengan Kiran di dalam satu bangku.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Sekilas aku memperhatikan Kiran saat\u00a0itu \u00a0adalah anak perempuan yang rapi, \u00a0aku bisa perhatikan dari aksesoris rambutnya, tas dan kotak pensil yang ia gunakan\u00a0selalu saja tertata\u00a0dan ia \u00a0akan mengecek ulang semua barangnya sudah tersusun rapi sebelum bel pulang sekolah berbunyi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">\u00a0Sejak saat itu\u00a0kami mulai\u00a0berteman akrab, kami memiliki banyak kesamaan, sehingga sering bermain dan belajar bersama. Rumah kami cukup\u00a0berdekatan, meskipun berbeda kampung beberapa ratus meter.\u00a0Rumah Kiran berada di\u00a0rute\u00a0yang aku sering lewati saat pulang sekolah, sehingga tak jarang kala orang tua Kiran memergokiku\u00a0lewat di depan rumahnya, aku dan beberapa temanku hampir pasti dimintanya untuk mampir. Aku dengar ayah Kiran bekerja di perusahaan teknologi yang berada\u00a0di Singapura. Tapi aku heran mengapa \u00a0Kiran hanya \u00a0disekolahkan di SD Negeri, bukan di sekolah &#8211; sekolah swasta dengan\u00a0fasilitas yang &#8220;<em>wah<\/em>&#8220;? Mungkin karena SD kami yang paling dekat dengan rumahnya, atau \u00a0orang tuanya ingin mendidik Kiran agar tumbuh menjadi gadis \u00a0sederhana, yang tidak membeda &#8211; bedakan teman? Entahlah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Saat kami menginjak kelas 4 SD. \u00a0Orang tuanya pindah ke Jakarta, sehingga Kiran juga harus pindah bersekolah di sana. Selang satu\u00a0tahun kemudian aku mendengar kabar ia pindah sekolah ke luar negeri, mengikuti kedua orang tuanya yang bekerja di sana.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Kini, setelah belasan tahun aku tak tahu menahu kabarnya, tak kusangka ia\u00a0sekarang\u00a0menjadi seorang gadis cantik. Ia\u00a0 memiliki pesonanya sendiri yang membuat hati laki &#8211; laki tertarik. Ia \u00a0pandai sekali dalam \u00a0hal memadupadankan pakaian yang ia kenakan. Pakaian, syal, sepatu hingga\u00a0apa saja yang dikenakannya\u00a0selalu nampak pantas ia kenakan<em>.<\/em>\u00a0Aku\u00a0bisa menilainya melalui\u00a0foto- foto <em>selfie &#8211;<\/em>nya\u00a0yang dia unggah di akun media sosial-nya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\"><em>Klik<\/em>! Aku menyetujui <em>friend request <\/em>darinya. Tak lama kemudian, muncul \u00a0lagi notifikasi di ponsel pintarku, kali ini\u00a0<em>chat <\/em>dari Kiran. &#8220;<em>Hii&#8230; are\u00a0u still remember me?<\/em>&#8221; Sapanya. Ia\u00a0bertanya\u00a0apakah aku masih mengingatnya. Akupun membalas pesan itu, hingga terjadilah pembicaraan yang panjang. Kami bertukar kabar, juga \u00a0cerita. Cerita &#8211; cerita semasa kami di SD dulu. Aku tersenyum &#8211; senyum sendiri membacanya. Kenangan kami dibawa jauh melintasi waktu belasan tahun yang lalu di saat usia\u00a0kami masih 9 tahun. Mulai dari si Amir yang terkenal suka nangis di kelas, hingga Bima yang paling nakal dan sering dihukum oleh Bu Erna, Guru kami di SD. <em>Ah<\/em>, memang mengasyikkan suasana semasa SD. Tidak ada\u00a0beban apapun, gembira selalu, bermain dan bermain.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\"><em>&#8220;i want to go to Indonesia,\u00a0next week. Ketemu yuk, sekalian jemput\u00a0aku ya di airport\u00a0:p. c u&#8221;\u00a0<\/em><\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Kiran memberitahuku jika ia akan berkunjung\u00a0ke Indonesia,\u00a0setelah sekian lama ia tinggal, bersekolah dan kuliah di Helsinki.\u00a0Sebagai teman SD yang baik, tak ada pilihan lain bagiku selain meng-iya-kan ajakannya itu. Lagipula\u00a0semua keluarganya sudah menetap\u00a0di Helsinki.\u00a0Tinggal Kakek dan neneknya yang masih bertahan tinggal di Sleman. Jadi siapa lagi teman yang ia punya selain teman kecilnya seperti aku? <em>Oke<\/em>, kamipun\u00a0<em>janjian\u00a0<\/em> bertemu di bandara.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Hari ini adalah Minggu. Jam digital di Bandara menujukan pukul 08.00. Suasana pagi yang\u00a0lumayan cerah. Langit begitu biru dengan sedikit awan. Bandara Soekarno Hatta, seperti biasanya, selalu dipenuhi oleh kerumunan manusia, yang hendak berangkat ke berbagai penjuru ataupun baru datang di Jakarta. Diantara ribuan kerumunan manusia itu ada seorang laki &#8211; laki berkemeja putih dengan motif bergaris dan\u00a0celana jeans warna biru. Laki &#8211; laki itu adalah aku, \u00a0yang\u00a0sampai saat ini sudah menghabiskan waktu lebih dari dua jam\u00a0untuk menunggu\u00a0di pintu\u00a0kedatangan Internasional dan masih belum \u00a0ada tanda &#8211; tanda kedatangan pesawat yang ditumpangi Kiran. Terakhir ia berkirim pesan padaku\u00a0bahwa\u00a0pesawatnya mengalami\u00a0<em>delay<\/em> saat transit di Abu Dhabi, jadi mungkin ia akan terlambat saat tiba di Jakarta. Aku menunggu dengan resah, <em>bolak &#8211; balik<\/em> sembari melihat informasi kedatangan penerbangangan yang ditampilkan\u00a0\u00a0di sebuah layar\u00a0monitor\u00a0di bandara.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Karena terlalu lama\u00a0menunggu aku tertidur entah berapa menit \u00a0sampai tiba &#8211; tiba\u00a0seseorang menepuk pundakku, sembari memanggil namaku dari belakang, seperti setengah hendak mengagetkanku. Sontak aku berdiri dan menengok ke belakang, ternyata seorang wanita cantik dengan rambut sepundak, dan tinggi semampai\u00a0tersenyum ke arahku..<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kiran?&#8221; aku bertanya, untuk memastikan bahwa aku tak salah orang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Siapa <em>lagii..<\/em>&#8220;. jawabnya dengan begitu ceria.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ohh<\/em>, <em>Hay\u00a0<\/em>Kiran, <em>apa kaa&#8230;.<\/em>&#8221; aku hendak menjabat\u00a0tangannya, tapi belum sempat aku mengulurkan\u00a0tanganku, Kiran tiba &#8211; tiba saja merangkul badanku\u00a0dan\u00a0memeluknya. Aku sedikit terkejut, tak biasanya aku dipeluk oleh seorang gadis. Mungkin karena ia begitu lama terbiasa dengan kultur di eropa dimana berpelukan adalah suatu ungkapan persahabatan yang biasa. Cukup lama ia memelukku, sekitar lima detik. \u00a0Aku hanya bisa diam, dan sedikit <em>kik kuk<\/em> untuk merespon sambutannya itu.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Tak kusangka ternyata Kiran jauh lebih cantik\u00a0dibandingkan yang di foto. Pakaian yang ia kenakan, meskipun sederhana\u00a0namun membuatnya terlihat\u00a0berkelas dan elegan. Aku yakin ia pasti menjadi\u00a0pusat perhatian banyak orang disekitarnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Eh kamu <em>diem<\/em> aja,\u00a0gak seneng <em>ya<\/em> ketemu <em>temen<\/em> lama?&#8221; tanya Kiran heran melihat responku yang agak <em>canggung<\/em><\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Nggak<\/em> kok, <em>seneng banget malahan<\/em>, <em>saking<\/em> <em>senengnya <\/em><span style=\"text-decoration: underline;\">sampai<\/span> bingung bingung aku mau ngomong\u00a0apa. <em>Oh<\/em> iya sini aku <em>bawain<\/em> kopernya&#8221;\u00a0Akupun mencoba membantu membawakan\u00a0koper Kiran\u00a0yang lumayan\u00a0banyak, namun ia mencegahku.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Nggak<\/em> <em>usahlah<\/em>, aku masih bisa bawa sendiri <em>kok<\/em>. Kamu sudah mau jemput di <em>airport<\/em> saja aku sudah <em>seneng<\/em>&#8221;\u00a0Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, ia ternyata masih\u00a0ramah seperti dulu. Seperti saat kami masih di Sekolah Dasar.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Aku mengantarkan Kiran pergi ke Hotel \u00a0tempat dimana ia akan menginap. Dalam perjalanan Aku dan Kiran bicara panjang lebar. Cerita &#8211; cerita masa kecil kami. Kekonyol &#8211; kekonyolan kami yang pernah kami lakukan dulu.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Eh<\/em> dulu itu kamu <em>tomboy<\/em> banget, sekarang jadi kok jadi feminim <em>gini<\/em> ya?&#8221; Tanyaku setengah <em>meledeknya<\/em>.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Kenapa<\/em>? Jatuh cinta ya&#8221; Jawabnya dengan bercanda, membalas <em>ledekanku<\/em>.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\"><em>&#8220;Ya Iyalah<\/em>, \u00a0namanya juga perempuan setelah dewasa pasti \u00a0jadi feminim. \u00a0Kamu \u00a0<em>tuh <\/em>yang\u00a0masih belum berubah&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Belum berubah <em>gimana<\/em> ?&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ya<\/em>, belum berubah. Masih sama seperti dulu. Ya, potongan rambut kamu, gaya kamu bicara, cara kamu berjalan. masih sama&#8221; Kiran-pun tertawa renyah. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyumku seperti biasa.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tapi ada satu hal \u00a0dari kamu yang sekarang sudah berubah&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Apa itu?<\/em>&#8221; tanyaku penasaran.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\"><strong>Bersambung<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cOh iya, \u00a0Kamu dari tadi di sini ya? \u00a0Mengapa tak\u00a0langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? \u201c &#8220;Oh, Maaf, aku kira kamu\u00a0sedang\u00a0menunggu seseorang. Jadi aku merasa tidak enak bila mengganggu&#8221; &#8220;Ah, sudahlah. Menyebalkan memang. Lain kali saya tidak mau lagi bertemu\u00a0dengan dia. Dua jam! Coba bayangkan, dua jam! Dan dia tak kunjung datang.&#8221; Kimya-pun menggerutu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2648,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[2,7],"tags":[33,114,576],"jetpack-related-posts":[{"id":2621,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2621","url_meta":{"origin":2758,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian Ke - 2)","date":"11 April 2015","format":false,"excerpt":"Pasti senyum itu sudah memikat banyak hati laki-laki sekaligus mematahkannya di saat yang sama.\u00a0Terlebih\u00a0lagi, nampaknya\u00a0 kau\u00a0sudah memiliki kekasih. Bagaimana mungkin gadis secantik kau tidak ada yang lelaki yang mengejar -ngejar. Pasti banyak lelaki yang berlomba - lomba ingin menawan hatimu. Pasti laki - laki itu\u00a0istimewa-kan? Tentu saja. Tidak seperti aku\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2843,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2843","url_meta":{"origin":2758,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 6)","date":"24 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Tapi ada satu hal \u00a0dari kamu yang sekarang sudah berubah\" \"Apa itu?\" tanyaku penasaran. \"Dulu kamu tuh\u00a0anak kecil yang jahil,\u00a0dekil but now... you are pretty hunky..\" Jawab Kiran singkat, sembari ia memandangi\u00a0jalan ibu kota melalui kaca\u00a0jendela mobil, kemudian sesaat ia menatapku sembari tersenyum. Aku kebingungan harus merespon jawaban tak terduga\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2724,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2724","url_meta":{"origin":2758,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 4)","date":"17 April 2015","format":false,"excerpt":"Sampai suatu masa takdir mempertemukan aku dan Kimya di sebuah ruang dan waktu. Suatu takdir di sebuah gerbong kereta api yang melaju. \u00a0Sebuah takdir yang telah Tuhan rencanakan sebelum Dia menciptakan alam semesta ini. Sebuah takdir pertemuan yang \u00a0mengubah hidup seorang laki - laki untuk selamanya. Sebuah pertemuan yang menerobos\u00a0tidak\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2758"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2758"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2758\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2648"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2758"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2758"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2758"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}