{"id":2724,"date":"2015-04-17T06:56:25","date_gmt":"2015-04-16T23:56:25","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2724"},"modified":"2015-04-17T06:56:25","modified_gmt":"2015-04-16T23:56:25","slug":"proxima-centauri-bagian-ke-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2724","title":{"rendered":"Proxima Centauri (Bagian ke &#8211; 4)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2648\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2648\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1200,724\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;Image enregistr\\u00e9e avec les ajustements inclus.&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;Image enregistr\\u00e9e avec les ajustements inclus.&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"Image enregistr\u00e9e avec les ajustements inclus.\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=300%2C181&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=708%2C427&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-medium wp-image-2648\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=300%2C181\" alt=\"Image enregistr\u00e9e avec les ajustements inclus.\" width=\"300\" height=\"181\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=300%2C181&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=768%2C463&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=1024%2C618&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Sampai suatu masa takdir mempertemukan aku dan Kimya di sebuah ruang dan waktu. Suatu takdir di sebuah gerbong kereta api yang melaju. \u00a0Sebuah takdir yang telah Tuhan rencanakan sebelum Dia menciptakan alam semesta ini. Sebuah takdir pertemuan yang \u00a0mengubah hidup seorang laki &#8211; laki untuk selamanya. Sebuah pertemuan yang menerobos\u00a0tidak hanya batas\u00a0satuan fisika, namun juga jarak hati antara manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa aku menyebutnya Takdir? Karena peluang untuk aku bertemu dengan Kimya dalam perhitungan probabilitas \u00a0adalah sangat kecil. Siapa yang bisa memastikan aku akan mengambil tempat duduk yang bersebelahan pada hari yang sama dengan Kimya? Karena lebih banyak kemungkinan aku dan Kimya\u00a0akan mengambil\u00a0kursi yang berbeda, gerbong berbeda, juga hari yang berbeda!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun akan lain ceritanya\u00a0jika Teori Feyman tentang &#8220;<em>historical sum over<\/em>&#8221; atau &#8220;jumlahan sejarah&#8221; berlaku \u00a0tidak hanya pada tingkatan kuantum\u00a0tapi juga pada manusia seperti kita. Menurut teori itu, setiap zarah tidak hanya memiliki satu sejarah, namun juga bisa\u00a0memiliki semua sejarah yang berbeda secara bersamaan, karena semua sejarah yang ada adalah &#8220;mungkin&#8221; <em>alias\u00a0<\/em>probabilitasnya tidak nol. Sehingga bisa saja\u00a0aku dan Kimya akan memiliki pengalaman yang bersamaan\u00a0terhadap perjalanan ini. Pengalaman saat kami bertemu, dan juga pengalaman saat aku dan Kimya tidak bertemu dan bersebelahan dengan orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti pada kereta yang aku dan Kimya\u00a0tumpangi\u00a0malam itu. Teori jumlahan sejarah seakan ingin mengatakan, bahwa tidak ada yang bisa memastikan\u00a0lintasan yang mana\u00a0yang akan dilalui si kereta.\u00a0Apakah ia akan menempuh perjalanan \u00a0melalui stasiun Yogyakarta, Semarang, ataukah &#8216;menyasar&#8217; terlebih dahulu ke bulan\u00a0sebelum tiba ke Stasiun Gambir? Tak ada yang tahu! Karena peluang untuk menempuh\u00a0semua lintasan itu tidaklah nol.\u00a0Tidak ada yang bisa menentukan secara pasti lintasan manakah yang dilalui sebuah kereta\u00a0ketika ia bergerak dari titik A ke titik B.\u00a0Semua lintasan berpeluang untuk dilalui. Yang bisa diketahui hanyalah informasi bahwa zarah tersebut bergerak dari titik A menuju titik B. Itu saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemahaman kita mengenai teori penjumlahan sejarah memang teramat membingungkan. Sama membingungkannya dengan peristiwa yang terjadi setelah aku dan Kimya bertemu. Semenjak pertemuan itu aku seolah &#8211; olah sering berhalusinasi, melihat bayang-bayangnya\u00a0selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Ia selalu nampak hadir di saat aku bekerja, makan, bahkan tidur. Seorang gadis dengan rambut hitam ikal mayang, bibir berkilauan bak batu rubi, mata hitam bercahaya dan jernih seperti cahaya rembulan di malam hari, kini berlari &#8211; lari di setiap pandanganku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku bertanya pada diriku sendiri, Kapan aku bisa berhenti dari kegilaan ini? Sepertinya aku harus bertemu dengannya. Entah itu untuk sekedar mengagumi pesonanya dari jauh\u00a0atau sekedar bertegur sapa satu dua kata.\u00a0 Syukur -syukur jika waktu mengijinkanku\u00a0mencuri masuk ke dalam mimpinya.\u00a0Namun, aku bukanlah lelaki yang pandai dalam urusan mendekati wanita.\u00a0Lebih mudah bagiku mengenali Nebula Crab pada rasi bintang taurus, yang berjarak 6000 tahun cahaya, dibanding harus \u00a0memahami seorang perempuan.\u00a0\u00a0Sungguh benar-benar kemalangan untuk seorang laki &#8211; laki sepertiku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terlebih lagi, hati perempuan bukanlah satu set hukum -hukum fisika yang bisa dimengerti dan diseleseikan dengan\u00a0perhitungan kalkulus ataupun deferensial. Setahuku belum ada satupun ilmuwan\u00a0yang bisa mengemukakan hukum yang bisa merumuskan tentang perilaku dan perasaan mereka.\u00a0Jika para ilmuwan sekarang sedang kebingungan berusaha menemukan teori terpadu agung yang menggabungkan antara Teori Relativitas Umum dengan Mekanika Kuantum. Aku tak yakin teori itu sanggup\u00a0membongkar apa yang ada di dalam\u00a0hati kaum\u00a0hawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin itulah mau Tuhan, Ia sekedar menentang\u00a0sikap pongah ilmuwan, bahwa segala keindahan \u00a0tidak selalu berasal\u00a0dari suatu tatanan hukum &#8211; hukum yang teratur dan bisa\u00a0mereka pahami. Buktinya ada yang disebut &#8220;perasaan wanita&#8221; \u00a0meskipun tidak teratur dan sulit dipahami, namun juga indah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seringkali aku \u00a0mengirim pesan-pesan instan ke ponsel Kimya untuk sekedar menanyakan kabar, dan berbicara satu dua patah kata. Namun \u00a0pesan &#8211; pesan itu \u00a0hanya direspon dengan jawaban yang tidak lebih panjang dari 5 kata.\u00a0&#8220;Mengapa sikapnya begitu berbeda dengan yang dulu\u00a0kita bertemu pertama kali? Dulu ia begitu hangat, <i>care. <\/i>dan menyenangkan.\u00a0Apakah ia hendak ingin menghindariku?&#8221; Heranku di dalam hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ah<\/em>, mungkin dia sedang sibuk&#8221; Aku mencoba \u00a0menghibur -hibur diriku sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Silahkan diisi di bagian sini, kemudian ditandatangani di sini <span style=\"text-decoration: underline;\">ya<\/span> pak&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang perempuan paruh baya menyodoriku di mejanya sebuah formulir pendaftaran sembari menaruh\u00a0jari telunjuknya di kotak &#8211; kotak yang dianggapnya penting untuk saya isi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku mengisi formulir yang disodorkanya dengan seksama, mencocokannya dengan data yang ada di KTP milikku. Begitu selesei\u00a0kemudian aku serahkan padanya kembali. Wanita itu melihat beberapa saat\u00a0formulir yang telah aku isi, sebelum ia kemudian mengumpulkannya dengan beberapa berkas yang ada di map. \u00a0Selembar kwitansi yang tersimpan di laci kemudian dikeluarkannya dan diisi dengan\u00a0nominal biaya\u00a0yang harus saya bayarkan.\u00a0Setelah melakukan pembayaran secara tunai, wanita itu kemudian memberiku\u00a0beberapa jilid buku\u00a0dan beberapa keping \u00a0CD yang nanti katanya akan digunakan saat kursus. Ada juga beberapa lembar kertas yang berisi jadwal kelas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jadwal kursusnya mulai sabtu depan ya pak&#8221; ujar wanita itu memberikan informasi kepadaku<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini aku telah resmi terdaftar di sebuah lembaga kursus bahasa. Ini adalah lembaga kursus yang konon sama dengan tempat kursus dimana Kimya juga terdaftar. Aku\u00a0separuh berjudi untuk hal ini. Karena aku tak punya informasi ia\u00a0\u00a0berada di kelas yang mana jam berapa, jadwalnya di hari apa saja. Ah, ada banyak hal yang tidak kutahu. Bagaimana mungkin aku bertemu jika terus begini. Tapi.. setidaknya\u00a0\u00a0aku sudah selangkah lebih dekat dengannya.\u00a0Sehingga peluangku untuk bertemu dengannya agak sedikit lebih besar dari sebelumnya. <em>Sedikit<\/em>!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di hari sabtu, keesokan harinya adalah hari pertamaku masuk kursus.\u00a0Pukul 10.00 seperti yang dijadwalkan, kelas dimulai. Para peserta, termasuk aku sudah duduk dengan rapi di beberapa kursi yang disediakan. Hanya ada sekitar 9-10 peserta di kelas itu. Kabarnya memang jumlah siswa per kelas sengaja dibatasi, untuk menjaga fokus dalam belajar. \u00a0Seorang instruktur masuk ke dalam kelas dan\u00a0memperkenalkan dirinya. Ternyata lembaga ini menggunakan para <em>native speaker<\/em> sebagai pengajarnya. Pantas saja biayanya mahal. &#8220;Apa memang\u00a0<em>nggak<\/em> ada orang indonesia yang <i>jago\u00a0<\/i>bahasa inggris ? Pikirku dalam hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Ah<\/em> meskipun para pengajarnya adalah seorang\u00a0<em>native<\/em> <em>speaker,\u00a0<\/em>\u00a0<em>toh<\/em> aku tetap\u00a0<em>gak<\/em> bisa fokus selama kelas berlangsung. Pikiranku dibawa berputar\u00a0&#8211; putar oleh bayangan Kimya, seperti halnya elektron yang berputar &#8211; putar menggoda di valensi inti atom. Biasanya aku orang yang mudah untuk berkonsentrasi pada\u00a0suatu pelajaran. Namun kenapa sekarang begitu susah? Satu &#8211; satunya yang membuatku bertahan duduk dan mengikuti uraian panjang lebar\u00a0<em>bule<\/em> itu\u00a0adalah karena aku sudah mendaftar mahal untuk mengikuti\u00a0kursus ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untungnya dua jam yang melelahkan itu pun usai. Aku \u00a0bergegas keluar, mencari informasi sebanyak &#8211; banyaknya tentang Kimya, entah itu dengan bertanya atau melihat &#8211; lihat papan pengumuman yang penuh dengan daftar nama peserta kursus. <em>Ah<\/em>, namun semuanya sia &#8211; sia. Hingga beberapa jam lamanya\u00a0aku tak mendapatkan informasi apapun tentang gadis cantik itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Begitulah\u00a0<em>kalo\u00a0<\/em> belajar niatnya nggak tulus. Ilmu gak dapet, Kimya\u00a0<em>gak dapet.\u00a0<\/em>Dimana &#8211; mana <em>kalo\u00a0<\/em>orang kursus itu untuk mencari ilmu, bukan mencari wanita&#8221; gumamku\u00a0sendiri di dalam hati, mengkritik ketololanku.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Malam sudah mulai menebarkan selimut hitamnya. Jingga langit mulai diganti lampu &#8211; lampu penerang di tiap &#8211; tiap\u00a0\u00a0toko. Aku dalam perjalanan pulang\u00a0\u00a0 berjalan menyusuri\u00a0 sebuah blok pertokoan yang dipenuhi dengan lalu lalang banyak orang yang sedang sibuk berbelanja untuk akhir pekan. Suasana begitu ramai, terlebih\u00a0hari ini adalah sabtu. Pasti makin banyak orang keluar ke jalan untuk mencari hiburan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tiba &#8211; tiba\u00a0ada sesuatu yang menghentikan langkahku. Tak sengaja aku melihat\u00a0Kimya sedang duduk di\u00a0sebuah\u00a0\u00a0kafe seberang jalan tak jauh dari tempatku berdiri. Parasnya\u00a0yang anggun tampak terlihat jelas di balik kaca tembus pandang kafe itu. Namun aku sedikit ragu &#8211; ragu. Apakah itu hanya sekedar halusinasiku atau memang benar &#8211; benar Kimya? &#8220;Aku tidak sedang gila kan?&#8221; Aku bertanya &#8211; tanya sendiri, setengah tak percaya dengan yang kulihat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Agak lama aku perhatikan sosok cantik dibalik kaca transparan kafe itu. <em>Ya<\/em>, sepertinya aku memang tidak sedang berhalusinasi. Itu memang benar Kimya! Tak bisa kututupi perasaan gembiraku waktu itu\u00a0meskipun \u00a0juga terbesit\u00a0penasaran, sedang apa Kimya sendirian di sana? \u00a0Sebenarnya aku ingin menghampiri gadis manis itu, sekedar untuk mengucapkan salam, tapi segera kuurungkan niat itu. Aku tidak ingin terlihat mengganggu ataupun tampil begitu mencolok sedang mendekatinya.\u00a0<em>Toh<\/em>\u00a0mungkin ia sedang menunggu seseorang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun karena\u00a0rasa penasaran yang begitu kuat. Akhirnya kuambil jalan tengah, \u00a0kuputuskan untuk masuk ke dalam kafe itu agar bisa sedikit lebih dekat memandanginya tanpa harus diketahui olehnya. Aku sengaja masuk dari \u00a0pintu yang berada agak jauh di belakang posisinya duduk. Aku usahakan agar kedatanganku tidak terlihat oleh Kimya. Begitu masuk aku pilih tempat yang strategis. Di sebuah sudut yang terpaut tiga \u00a0hingga empat meja. Tidak terlalu jauh, tidakpula terlalu dekat.Tersembunyi\u00a0namun masih bisa memandangi cantiknya dengan leluasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kuperhatikan sekian lama, nampaknya Kimya\u00a0sedang menunggu seseorang. Aku bisa lihat dari di garis &#8211; garis parasnya.\u00a0Bibirnya yang mengerucut dan \u00a0cemberut sembari \u00a0berulang kali ia tengok layar\u00a0ponselnya. &#8220;Mungkin sedang\u00a0menunggu\u00a0sebuah pesan dari seseorang, kekasihnya mungkin&#8221;, batinku<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Betapa tak tahu dirinya seseorang\u00a0yang membuat bunga mawar secantik itu menunggu&#8221;. Gumamku dalam hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku heran, mengapa kau tak\u00a0\u00a0tinggalkan saja laki &#8211; laki seperti itu. <em>Toh\u00a0<\/em>masih\u00a0banyak laki-laki baik yang lebih pantas untukmu. Yang bisa menemanimu \u00a0minum kopi, memilih baju, ataupun menonton film drama&#8221;. \u00a0Aku berbicara sendiri di dalam hati \u00a0seolah &#8211; olah Kimya dapat mendengarku<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Andai saja akulah laki &#8211; laki itu, pastilah aku tak akan membuatmu seresah\u00a0itu&#8221;. Akupun melamun sendiri memandang kopi hitam yang baru saja dihidangkan pelayan kafe di mejaku, sampai aku lihat sosok bayang &#8211; bayang yang tiba &#8211; tiba samar muncul\u00a0di kopiku. &#8220;Halusinasi lagi&#8221;. pikirku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Eh, kamu disini?&#8221;. Tiba &#8211; tiba suara lembut itu terdengar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Aduh<\/em>, Ya Tuhan.. Mataku tiba &#8211; tiba terbelalak mendengar \u00a0suara merdu itu. Leherku yang tadinya menunduk sontak tegak. Ternyata Kimya benar &#8211; benar sudah di depan mata. Padahal <em>perasaan\u00a0tadi\u00a0<\/em>aku sudah memilih tempat duduk yang paling tersembunyi. \u00a0Aku memang tidak berbakat jadi detektif.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Eh anu.<\/em>.&#8221; Aku kebingungan memilih kata -kata.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Anu apa?<\/em>&#8220;.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ngg<\/em>&#8230;\u00a0<em>Nggak kok<\/em>, aku sedang merenung sehabis membaca buku ini&#8221;. Langsung saja kutunjukan\u00a0buku yang untungnya sedang kutaruh di atas meja.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Eh iya<\/em> silahkan duduk&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Buku apa itu?&#8221;, tanyanya lagi penasaran<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ini, Sejarah Singkat Waktu&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8221; Terus sekarang \u00a0merenung apa? Serius begitu <em>kelihatannya?<\/em>&#8221; Kimya mengejarku dengan pertanyaan demi pertanyaan, \u00a0bak seorang polisi yang menginterogasi seorang tersangka.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Merenungi kopi ini&#8221; Jawabku asal saja.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Lha kok merenungi kopi?&#8221;.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku merenungi kopi ini, \u00a0Mengapa <em>ya<\/em>, meskipun kopi itu\u00a0pahit, namun banyak orang yang menggemarinya. Padahal\u00a0masih banyak minuman manis lainnya?&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Memang <em>kenapa<\/em>? Kamu tahu?&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Entahlah,\u00a0<\/em>\u00a0Mungkin karena\u00a0kopi adalah kopi&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">Aku berhenti sejenak di kalimatku itu, sedikit membuat jeda, untuk membuatnya penasaran, sembari sekilas memperhatikan indah matanya.\u00a0\u00a0Aku suka caranya melihatku saat aku bicara. Ada sesuatu di hitam matanya, dan itu aku.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mungkin karena\u00a0kopi adalah kopi. Ia tidak hanya punya rasa pahit. Tapi coba kau cium aromanya. Harumnya tidak dapat kau\u00a0temukan di minuman yang lain kan? Mungkin juga orang meminum kopi tidak karena mencari\u00a0rasa pahitnya. Mungkin untuk kafeinnya. Mungkin karena semangat yang ia tawarkan.&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Seperti kopi,\u00a0kita tidak harus menjadi semanis gula, agar disukai banyak orang. Jika yang kita punya adalah rasa pahit, maka orang akan tetap menyukaimu asalkan itu disajikan dengan\u00a0cara yang\u00a0hangat dan dengan niat yang tulus&#8221;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Ohh.. gitu, <\/em>iya juga<em> ya. <\/em>Kok kamu bisa <em>kepikiran sampe<\/em> ke situ?&#8221;. Kimya<em>\u00a0<\/em>sejurus tersenyum mendegar perkataanku.<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Oh iya<\/em>, \u00a0Kamu dari tadi di sini <em>ya<\/em>? \u00a0Mengapa <em>tak\u00a0<\/em>langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? &#8220;<\/p>\n<p dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\">\u00a0<strong>Bersambung<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sampai suatu masa takdir mempertemukan aku dan Kimya di sebuah ruang dan waktu. Suatu takdir di sebuah gerbong kereta api yang melaju. \u00a0Sebuah takdir yang telah Tuhan rencanakan sebelum Dia menciptakan alam semesta ini. Sebuah takdir pertemuan yang \u00a0mengubah hidup seorang laki &#8211; laki untuk selamanya. Sebuah pertemuan yang menerobos\u00a0tidak hanya batas\u00a0satuan fisika, namun juga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2648,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[2,7],"tags":[137,265],"jetpack-related-posts":[{"id":2843,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2843","url_meta":{"origin":2724,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 6)","date":"24 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Tapi ada satu hal \u00a0dari kamu yang sekarang sudah berubah\" \"Apa itu?\" tanyaku penasaran. \"Dulu kamu tuh\u00a0anak kecil yang jahil,\u00a0dekil but now... you are pretty hunky..\" Jawab Kiran singkat, sembari ia memandangi\u00a0jalan ibu kota melalui kaca\u00a0jendela mobil, kemudian sesaat ia menatapku sembari tersenyum. Aku kebingungan harus merespon jawaban tak terduga\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2621,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2621","url_meta":{"origin":2724,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian Ke - 2)","date":"11 April 2015","format":false,"excerpt":"Pasti senyum itu sudah memikat banyak hati laki-laki sekaligus mematahkannya di saat yang sama.\u00a0Terlebih\u00a0lagi, nampaknya\u00a0 kau\u00a0sudah memiliki kekasih. Bagaimana mungkin gadis secantik kau tidak ada yang lelaki yang mengejar -ngejar. Pasti banyak lelaki yang berlomba - lomba ingin menawan hatimu. Pasti laki - laki itu\u00a0istimewa-kan? Tentu saja. Tidak seperti aku\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2686,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2686","url_meta":{"origin":2724,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 3)","date":"13 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Kau meminjami aku sebuah buku, yang masih kusimpan hingga kini. Buku yang\u00a0berjudul 'Sejarah Singkat Waktu' tulisan\u00a0Stephen Hawking. Sebuah buku tentang fisika, namun tidak memilliki rumus matematika apapun di dalamnya selain e=m.c2. Sebuah rumus tentang\u00a0kesetaraan antara massa dan energi. Bahwa massa yang kecil dapat diubah menjadi energi yang\u00a0luar biasa besar\". \"Aku\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2724"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2724"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2724\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2648"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2724"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2724"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2724"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}