{"id":2621,"date":"2015-04-11T04:41:49","date_gmt":"2015-04-10T21:41:49","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2621"},"modified":"2015-04-11T04:41:49","modified_gmt":"2015-04-10T21:41:49","slug":"proxima-ceanturi-bagian-ke-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2621","title":{"rendered":"Proxima Centauri (Bagian Ke &#8211; 2)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2648\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2648\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1200,724\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;Image enregistr\\u00e9e avec les ajustements inclus.&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;Image enregistr\\u00e9e avec les ajustements inclus.&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"Image enregistr\u00e9e avec les ajustements inclus.\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=300%2C181&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=708%2C427&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-medium wp-image-2648\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=300%2C181\" alt=\"Image enregistr\u00e9e avec les ajustements inclus.\" width=\"300\" height=\"181\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=300%2C181&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=768%2C463&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=1024%2C618&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Pasti senyum itu sudah memikat banyak hati laki-laki sekaligus mematahkannya di saat yang sama.\u00a0Terlebih\u00a0lagi, nampaknya\u00a0 kau\u00a0sudah memiliki kekasih. Bagaimana mungkin gadis secantik kau tidak ada yang lelaki yang mengejar -ngejar. Pasti banyak lelaki yang berlomba &#8211; lomba ingin menawan hatimu. Pasti laki &#8211; laki itu\u00a0istimewa-kan? Tentu saja. Tidak seperti aku yang sering \u00a0tak\u00a0memiliki cukup <em>nyali<\/em> mendekatimu. Harusnya kusampaikan padamu saat\u00a0itu, mengenai senyum yang telah mematahkan teori relativitas einstein. Jujur, \u00a0aku mulai menyukai \u00a0saat dimana kau tersenyum.\u00a0\u00a0Kuncup bibirmu saja indah, apalagi sekarang sudah mekar sedemikian menawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ah, mungkin aku seperti proxima ceaunturi itu, bintang yang paling dekat \u00a0dengan\u00a0bumi, namun berukuran \u00a0hanya 1\/7 dari ukuran matahari. Ukurannya yang sedemikian kecil, membuat kita kesulitan\u00a0melihatnya, terlebih lagi 85% cahaya yang dipancarkan adalah infra merah. Inframerah adalah spektrum frekuensi cahaya yang berada di luar rentang \u00a0yang bisa dilihat manusia. Sehingga wajar saja, jika kita sering kesulitan melihatnya. Layaknya aku, yang sudah sedekat ini, namun selalu gagal terlihat di matamu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untungnya\u00a0waktu cukup berbesar hati di saat pertemuan pertama kita. Perjalanan di kereta api yang sedemikian panjang membuatku menjadi satu &#8211; satunya laki &#8211; laki yang bisa berbicara denganmu. Kitapun mulai banyak pembicaraan, dari masalah membahas tentang pekerjaan, <em>genre<\/em>\u00a0buku favorit bahkan hingga rahasia sifat di balik golongan darah. Pembicaraan\u00a0itu amat panjang\u00a0hingga tak terasa jarum jam menunjukan\u00a0pukul 21.30.\u00a0Aku sudah tak tahu, kereta ini sudah\u00a0melaju sampai stasiun mana. Yang kutahu hanya wajahmu cantikmu itu yang mulai sayu. sepertinya sedang mengantuk. Akupun segera menyudahi pembicaraan ini, memberikan kesempatan padamu\u00a0mengucap \u00a0selamat tidur yang ringkas, lalu\u00a0beranjak memejamkan mata. Percakapan yang teramat mengasyikan bukan waktu itu? Setidaknya kita sudah lebih dari sekedar bertegur sapa<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jam tangan di arlojiku menunjukan waktu\u00a020.42. Taman terlihat sudah mulai sepi, meskipun masih banyak lalu lalang motor dan mobil di jalan raya depan sana. Jakarta masih belum berubah. Masih macet seperti dulu, masih bising dan pengap. Aku heran bagaimana bisa ada bunga mawar bernama Kimya yang begitu indah bisa hidup di belantara beton\u00a0ibukota yang penuh dengan amarah, dendam dan dengki ini. Ya, Kimya, adalah gadis yang kukenal di kereta api itu. \u00a0Wanita\u00a0\u00a0yang begitu hatiku mencintainya. Pemilik ruas senyum yang seandainya Einstein masih hidup, ia akan\u00a0memeriksa kembali formulanya tentang waktu yang diakibatkan oleh senyum itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini dia meminta bertemu denganku, ada sesuatu yang penting yang hendak ia bicarakan. Dia tak menjelaskan lebih jauh lagi.\u00a0\u00a0Yang jelas, Kimya\u00a0memang ahli dan membuat laki &#8211; laki sepertiku penasaran. Ini adalah pertemuan pertama aku dan Kimya, setelah 2 tahun \u00a0aku harus meninggalkan tanah kelahiranku\u00a0untuk melanjutkan studi Master-ku di\u00a0Istanbul, \u00a0Turki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada jam yang telah ditentukan, kitapun bertemu di taman ini. aku mengucapkan salam, menanyakan kabar, lalu menyalami tangannya. Tangan yang kurasakan masih terasa lembut\u00a0semenjak pertama kali aku berjumpa dengannya. Aku memandangnya sekilas, dan menatap rona wajahnya. Kimya\u00a0masih cantik seperti dulu, dengan keanggunan yang mungkin akan membuat Yusuf-pun tak sengaja mengiris jarinya sendiri kala\u00a0mengupas apel \u00a0karena terpesona akan jelita parasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita kemudian memutuskan duduk berdua di sebuah kursi taman ini. Saat itu, aku dan Kimya\u00a0hanya saling melihat sekitar aja. Suasana yang teramat canggung. Yang bisa ku dengar sekarang hanyalah suara jantungku sendiri yang berdetak &#8211; detak. Aku bisa merasakan pula aroma, \u00a0hela nafas Kimya yang begitu harum berpadu dengan udara malam\u00a0itu. Sekat &#8211; sekat\u00a0udara yang terjadi di antara kami, memaksaku memulai pembicaraan terlebih dahulu. Aku kemudian bercerita \u00a0bagaimana pertemuan pertama kami\u00a0dulu dan membahas banyak hal\u00a0tentang studi masterku di Istanbul. \u00a0Aku memberinya sedikit waktu hingga\u00a0hingga kuyakin\u00a0sudah siap\u00a0untuk bercerita apa yang ingin dia katakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kimya, Tadi kau bilang, kau ingin mengatakan sesuatu? Katakanlah apa yang ingin kau katakan, jangan ragu. Kau sendiri pernah bilang. bahwa \u00a0Terlalu banyak keraguan membuat kita semakin dekat dengan\u00a0\u00a0kegagalan. \u00a0Jangan khawatir, aku akan siap mendengarkan apapun \u00a0yang ingin kau ucapkan malam ini&#8221;. Ujarku\u00a0meyakinkannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suasa agak hening sejenak, Kimya\u00a0menghela nafas dalam sebelum dia mengatakan sesuatu,\u00a0sementara aku sekilas menikmati hitam bola matanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Iya, aku tadi ingin berkata sesuatu&#8221;, Kimya memulai pembicaraan. &#8220;namun\u00a0aku sudah mulai agak lupa apa yang tadi hendak \u00a0kubicarakan.\u00a0Iya, aku ingat pertemuan itu. Sudah lama memang. Tapi aku tidak mungkin lupa kejadian tepat empat tahun itu. Kau adalah lelaki berkaos\u00a0hitam dengan pakaian\u00a0hampir basah kuyup bersandal jepit. Ternyata, kau\u00a0<em>habis\u00a0<\/em>kehujanan di luar sana <em>ya<\/em>, aku baru tahu setelah kau cerita. Memang hujan seringkali tidak bersabahat dengan manusia seperti kita. Tapi kita mungkin lebih beruntung, karena di \u00a0bumi hanya menerima\u00a0hujan air.\u00a0Paling ekstrim <em>ya\u00a0<\/em>hujan salju, atau es. Aku ingat, kamu\u00a0dulu pernah bercerita, <em>kalo\u00a0<\/em>planet tetangga kita, Venus \u00a0mengalami hujan belerang dan air keras. Bahkan ada\u00a0hujan berlian cair, di Uranus dan Neptunus. Aku hampir tidak bisa\u00a0membayangkan, jika kita sedang di hidup di \u00a0Neptunus, lalu kamu \u00a0datang ke\u00a0\u00a0gerbong dengan basah kuyup akan\u00a0berlian&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku pasti ingat\u00a0pertemuan itu&#8221;. Kau melanjutkan ceritamu lagi. &#8220;Kamu adalah lelaki aneh yang satu &#8211; satunya dan pertama kalinya memanggilku dengan sebutan\u00a0sebutan &#8216;nona&#8217;. Sudah lama tidak mendengar orang memanggil wanita dengan sebutan itu. Lucu sekali kedengarannya, \u00a0rasanya seperti kembali ke era tahun\u00a070an. Dari mana kau dapat ide panggilan itu? Aku kira kau manusia dari masa lalu yang melakukan perjalanan lintas waktu ke masa depan&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku pasti ingat pertemuan itu. Lelaki yang paling\u00a0banyak bicara di gerbong nomer 1. Kamu bercerita banyak hal mulai dari masalah &#8211; masalah kecil \u00a0hingga masalah &#8211; masalah besar. Semuanya bisa kamu bicarakan dengan\u00a0cara yang menarik dan bisa kau ambil\u00a0benang\u00a0 merah antara satu cerita dengan cerita lain. Kamu pandai mengaitkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang menurutku waktu itu tak ada hubungannya&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Seperti halnya kisahmu\u00a0tentang kelahiran alam semesta, planet &#8211; planet, dan bintang &#8211; bintang itu.\u00a0Kamu bilang, bahwa semuanya dulu, apa yang ada di alam semesta ini, berasal dari tempat yang sama. Dari satu titik bervolume nol, lalu kemudian terpisah dengan tiba &#8211; tiba oleh sebuah ledakan besar. Kaupun mengatakan, bahwa Edwin Hubble, seorang Astronom Amerika, \u00a0menemukan perilaku bahwa galaksi bergerak menjauhi satu sama lain. Kau menggambarkan Alam semestea\u00a0layaknya balon yang sedang ditiup ditiup membesar. Begitulah\u00a0 Alam semesta yang kita tinggali saat ini mengembang dan tumbuh membesar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kelak, saat kecepatan gerak galaksi &#8211; galaksi yang saling menjauh itu sudah sampai pada nilai kritisnya, saat gaya &#8211; gaya geraknya tidak mampu lagi melawan gaya tarik menarik\u00a0yang terjadi. Maka waktu itulah, \u00a0semua benda di dalam semesta ini akan kembali. Galaksi &#8211; galaksi itu \u00a0akan bergerak saling mendekati dan bertubrukan. Suatu peristiwa yang disebut dengan &#8216;rengkuhan besar'&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;<em>Innanilahi wa innailahi rajiun<\/em>, katamu. Semua dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan. Bahwa ternyata hakikat hidup itu siklikal. Layaknya ledakan besar yang berakhir pada rengkuhan besar. Seperti\u00a0elektron yang berputar pada valensinya. Bagaikan\u00a0planet &#8211; planet yang berputar pada orbitnya. Maka hidup adalah <em>tawaf<\/em>. Semakin kita menjauh dari posisi awal keberangkatan kita, <em>toh<\/em> pada akhirnya mau <em>nggak<\/em> mau\u00a0kita akan menjumpai asal muasal kita. Kau pernah-kan\u00a0\u00a0menasehatiku, bahwa jika kita\u00a0lupa kemana tujuan\u00a0kita, maka selalu ingatlah dari mana asal\u00a0kita. Karena tidak akan kemana &#8211; mana kita pergi, selain hanya untuk menuju kembali&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sadar, atau tidak. Ceritamu inilah yang terus menerus menghantui pikiranku hingga saat ini. Bahwa ternyata\u00a0semakin lama aku menghindarimu, justru itu akan semakin mendekatkanku padamu. Semakin aku berusaha menjauhimu, \u00a0nyata &#8211; nyata itu adalah cara termudah untuk semakin mendekatkanku padamu. Lalu buat apa aku menghindar, pikirku. Mungkin lebih baik kukatakan saja terus terang\u00a0apa adanya\u00a0padamu&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Karena itulah\u00a0aku ingin meminta\u00a0maaf padamu, karena\u00a0terlalu bersikap tertutup dan cenderung menghindarimu selama ini. Terlebih, setelah pertemuan\u00a0itu. Kala\u00a0itu aku memang agak berlebihan <em>ya<\/em>, bersikap dingin, dan <em>acuh.\u00a0M<\/em>enjawab singkat-singkat dan seperlunya pesan-pesan yang kau kirim ke ponselku. Aku tidak ingin memberi banyak\u00a0harapan padamu.\u00a0Aku tahu, harapan itu layaknya neutron termal di dalam sebuah reaktor nuklir fisi. Hanya diperlukan 1 neutron termal untuk kemudian bereaksi dengan 1 inti atom dan\u00a0menghasilkann 2-3 neutron yang\u00a0masing &#8211; masing\u00a0neutron itu juga akan bereaksi lagi dengan inti atom yang lain, sehingga\u00a0lama kelamaan\u00a0akan dihasilkan banyak neutron dengan laju eksponensial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku tidak ingin \u00a0satu harapan yang tidak sengaja\u00a0kuberikan, dapat memicu harapan &#8211; harapan lain, dan aku khawatir itu bisa\u00a0menjadi harapan yang tak terkedali. Meskipun sebagaimana reaksi nuklir fisi di dalam reaktor, neutron &#8211; neutron termal itu bisa\u00a0dikendalikan perkembangannya melalui suatu mekanisme \u00a0di dalam reaktor. Aku yakin di dalam internal manusia seperti \u00a0kita juga memiliki pengendalian alami akan harapan, aku yakin kau juga punya. Jadi harusnya perilaku ku waktu itu tidak beralasan, tapi entahlah. Aku sendiri tidak mengerti. Itu sesuatu yang \u00a0memang rumit&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Aku ingat, pernah membuatmu menunggu berjam &#8211; jam di sebuah kedai kopi\u00a0untuk sebuah janji bertemu denganku. Aku lupa bahwa \u00a0saat itu aku ada janji denganmu, sialnya,\u00a0ponselku waktu itu\u00a0mengalami kesulitan sinyal, sehingga begitu susah kau hubungi. Tiga jam aku membuatmu menunggu, sampai kita bertemu. Namun tak kulihat seraut-pun wajah kesal di \u00a0wajahmu.\u00a0Meskipun pertemuan itu hanya untuk meminjamiku sebuah buku, dan itu berlangsung cepat, 15 menit. Lalu aku bergegas begitu saja\u00a0 tanpa perasaaan. Meninggalkan seorang laki &#8211; laki yang telah menungguku\u00a0selama 3 jam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bersambung<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasti senyum itu sudah memikat banyak hati laki-laki sekaligus mematahkannya di saat yang sama.\u00a0Terlebih\u00a0lagi, nampaknya\u00a0 kau\u00a0sudah memiliki kekasih. Bagaimana mungkin gadis secantik kau tidak ada yang lelaki yang mengejar -ngejar. Pasti banyak lelaki yang berlomba &#8211; lomba ingin menawan hatimu. Pasti laki &#8211; laki itu\u00a0istimewa-kan? Tentu saja. Tidak seperti aku yang sering \u00a0tak\u00a0memiliki cukup nyali [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2648,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[2,7],"tags":[70,280,468],"jetpack-related-posts":[{"id":2686,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2686","url_meta":{"origin":2621,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 3)","date":"13 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Kau meminjami aku sebuah buku, yang masih kusimpan hingga kini. Buku yang\u00a0berjudul 'Sejarah Singkat Waktu' tulisan\u00a0Stephen Hawking. Sebuah buku tentang fisika, namun tidak memilliki rumus matematika apapun di dalamnya selain e=m.c2. Sebuah rumus tentang\u00a0kesetaraan antara massa dan energi. Bahwa massa yang kecil dapat diubah menjadi energi yang\u00a0luar biasa besar\". \"Aku\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2724,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2724","url_meta":{"origin":2621,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 4)","date":"17 April 2015","format":false,"excerpt":"Sampai suatu masa takdir mempertemukan aku dan Kimya di sebuah ruang dan waktu. Suatu takdir di sebuah gerbong kereta api yang melaju. \u00a0Sebuah takdir yang telah Tuhan rencanakan sebelum Dia menciptakan alam semesta ini. Sebuah takdir pertemuan yang \u00a0mengubah hidup seorang laki - laki untuk selamanya. Sebuah pertemuan yang menerobos\u00a0tidak\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2758,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2758","url_meta":{"origin":2621,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 5)","date":"19 April 2015","format":false,"excerpt":"\u201cOh iya, \u00a0Kamu dari tadi di sini ya? \u00a0Mengapa tak\u00a0langsung menghampiriku ke mejaku di sebelah sana? \u201c \"Oh, Maaf, aku kira kamu\u00a0sedang\u00a0menunggu seseorang. Jadi aku merasa tidak enak bila mengganggu\" \"Ah, sudahlah. Menyebalkan memang. Lain kali saya tidak mau lagi bertemu\u00a0dengan dia. Dua jam! Coba bayangkan, dua jam! Dan dia\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2621"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2621"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2621\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2648"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2621"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2621"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2621"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}