{"id":26,"date":"2008-03-03T13:41:58","date_gmt":"2008-03-03T06:41:58","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=26"},"modified":"2008-03-03T13:41:58","modified_gmt":"2008-03-03T06:41:58","slug":"pemulung-makna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=26","title":{"rendered":"Pemulung Makna"},"content":{"rendered":"<p align=\"justify\">Cahaya pagi menyapu pucuk &#8211; pucuk pohon, bermesra bersama angin yang berlarian di tanah bumi. Aku disini duduk sendiri di antara hati dan pemikirannya, mencoba menulis sebuah kisah fantastis, Namun bagaimana aku harus menulis, sedangkan aku sendiri hanyalah sebuah karakter fiksi. Aku bukanlah seperti yang disebut orang &#8211; orang. Bukanlah karang yang tegar menahan gelombang, Bukan pula pilar &#8211; pilar penopang langit malam. Juga bukan emas ataupun perak. Sekali lagi, aku bukanlah itu semua. Aku hanyalah sekedar karakter fiksi. Sama halnya dengan karakter fiksi yang lain.<\/p>\n<p align=\"justify\"><!--more-->Aku tidaklah penting untuk dikenal, disebut atau bahkan dipikirkan. Aku hanyalah sebuah quark debu dipadang pasirNya yang luas. Hanyalah buih yang tersapu ke sana kemari oleh gelombang samudera. Aku hanyalah seorang pemulung makna yang hanya ingin memungut setiap hikmah yang tercecer.<\/p>\n<p align=\"justify\">Biarkan setiap malam berkata tentang kesunyian, dan biarkan setiap pagi berkata tentang harapan. Aku hanya ingin melakukan perjalanan ini diantara kota masa lalu dan masa depan sembari memungut satu persatu setiap hikmah yang tercecer dan setiap makna yang terbuang yang sering terabaikan dan terlupakan oleh orang-orang yang sedang terbuai dan terlena di dalam kota mainan mereka.<\/p>\n<p align=\"justify\">Jangan pernah hiraukan aku. Aku hanya ingin melakukan perjalanan dalam jalan-jalan yang sudah ditandaiNya. Melangkah, setapak demi setapak, dalam hari &#8211; hari yang selalu saja semakin sombong. Sembari berharap menemukan apa yang disebut hidup sejati dan sejatinya hidup.<\/p>\n<p align=\"right\"><i><br \/>\n<\/i><\/p>\n<p align=\"right\"> Yogyakarta, di Suatu siang yang lelah di Tahun 2008<\/p>\n<p align=\"right\">&nbsp;<\/p>\n<p align=\"right\">&nbsp;<\/p>\n<p align=\"right\"><i>Setelah sekian lama akhirnya selesei juga&#8230;<\/i><\/p>\n<p align=\"justify\">&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cahaya pagi menyapu pucuk &#8211; pucuk pohon, bermesra bersama angin yang berlarian di tanah bumi. Aku disini duduk sendiri di antara hati dan pemikirannya, mencoba menulis sebuah kisah fantastis, Namun bagaimana aku harus menulis, sedangkan aku sendiri hanyalah sebuah karakter fiksi. Aku bukanlah seperti yang disebut orang &#8211; orang. Bukanlah karang yang tegar menahan gelombang, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[2,6,8],"tags":[71,100,242,540],"jetpack-related-posts":[{"id":47,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=47","url_meta":{"origin":26,"position":0},"title":"Seseorang yang Hatiku Mencintainya 2","date":"25 Februari 2008","format":false,"excerpt":"Sang malam sekarang duduk dengan tenang dalam singgasana kesunyian, menyaksikan para pecinta yang sedang diliputi rasa rindu sembari mengagungkan nama Allah. Angin berkejar-kejaran dengan dingin di tanah gelap. Saat ini, tahukah duhai sahabat hatiku, seluruh elektron di hatiku yang selama ini mengorbit di lintasan valensi jiwaku, kini sedang dalam keadaan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":45,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=45","url_meta":{"origin":26,"position":1},"title":"Seseorang yang Hatiku Mencintainya","date":"12 Februari 2008","format":false,"excerpt":"Hari ini langit begitu kelabu, seolah mengerti akan hati jiwa ini yang sedang kelu. Sedih hati, tidak terasa oleh makna. Udara malam ini laksana busur panah yang melepaskan anak panah dinginnya hingga menikam seluruh tulang-tulangku Meski engkau dekat, tetapi kenapa masih ada jarak hati diantara kita. Mencoba meraihmu, tapi kenapa\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":1571,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1571","url_meta":{"origin":26,"position":2},"title":"Lupakan, Lupakan Saja","date":"17 Januari 2012","format":false,"excerpt":"Perlahan, kujejakkan kaki \u2013 kaki yang lelah menapaki jalan \u2013 jalan kecil diantara belantara metropolitan. Ditemani Senja yang berarak pulang di ufuk barat. Asap knalpot beterbangan menghias \u2013menyapa setiap sela \u2013 sela kendaraan. Diantara gedung \u2013 gedung tinggi yang angkuh menantang langit. Kebisingan sana \u2013 sini, kesibukan, keriuhan manusia yang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=26"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=26"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=26"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=26"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}