{"id":2591,"date":"2015-04-09T13:30:20","date_gmt":"2015-04-09T06:30:20","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2591"},"modified":"2015-04-09T13:30:20","modified_gmt":"2015-04-09T06:30:20","slug":"proxima-ceanturi-bagian-ke-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2591","title":{"rendered":"Proxima Centauri (Bagian Ke &#8211; 1)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2648\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2648\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"1200,724\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;Image enregistr\\u00e9e avec les ajustements inclus.&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;Image enregistr\\u00e9e avec les ajustements inclus.&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"Image enregistr\u00e9e avec les ajustements inclus.\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=300%2C181&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=708%2C427&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-medium wp-image-2648\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=300%2C181\" alt=\"Image enregistr\u00e9e avec les ajustements inclus.\" width=\"300\" height=\"181\" srcset=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=300%2C181&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=768%2C463&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?resize=1024%2C618&amp;ssl=1 1024w, https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?w=1200&amp;ssl=1 1200w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Kita duduk sedekat ini, malam ini, di bangku taman, disaksikan pohon palem, dan lampu &#8211; lampu redup ibu kota. Kau dan aku terpisah hati di beberapa sentimeter ruang udara. Ruang udara yang membuatku bertanya. Mengapa tidak sedikit lagi kita singkirkan sisa ruang ini untuk sementara waktu mengisinya dengan cerita &#8211; cerita, dengan kisah apa yang terjadi hari ini, dengan apa yang kau temui di pagi itu.\u00a0Ya! untuk sementara waktu saja, mungkin itu beberapa menit, beberapa bulan, beberapa tahun, atau bisa beberapa puluh hingga\u00a0ratus tahun yang kita sanggup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukankah segala\u00a0yang ada di dunia ini memang sementara. Aku, kamu, dan juga konsep &#8211; konsep lain buatan manusia, bahkan teori &#8211; teori sains yang dikemukakan oleh\u00a0para\u00a0ilmuwan -ilmuwan nan cerdik pandai itu\u00a0juga bersifat sementara. Teori hanyalah hipotesis yang tak pernah bisa dibuktikan benar. Tak perduli seberapa banyak hasil percobaan yang sesuai teori, kita tak bisa memastikan bahwa kelak suatu hasil tak akan bertentangan dengan teori. Suatu teori bisa dipatahkan\u00a0dengan menemukan satu saja pengamatan yang tak cocok dengan prediksi teori itu. Tak ada yang harga mati untuk semua buatan manusia. Semua yang ada dalam kerangka waktu pastilah sementara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Lantas bagaimana dengan komitmen sebuah hubungan, apakah ia harus meranggas seiring waktu layaknya daun &#8211; daun kering di ujung jalan sana? Apakah sebuah ikatan bisa dengan mudah dilanggar hanya karena alasan waktu?&#8221;. Kau bertanya heran, setengah tidak setuju.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ya, komitmen, ikatan, aku tahu tentang satu itu. Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Namun komitmen juga buatan manusia yang dibuat satu manusia kepada manusia lainnya, ia teramat rapuh untuk bisa dilanggar. Satu &#8211; satunya yang membuat itu terawat adalah kepercayaan. Tak ada komitmen tanpa adanya saling percaya. \u00a0Tak ada saling percaya tanpa adanya saling mengenal. Lantas seberapa jauh kita bisa mengenal manusia lainnya? Jangan tersinggung, manusia tak akan pernah bisa mengenal manusia lainnya, berapa tahunpun engkau menjalin hubungan, \u00a0yang hanya bisa kau lakukan tak lebih dari sekedar menumpuk &#8211; numpuk persangkaan kepada seseorang. Persangkaan itu ada yang benar, kadang sering banyak yang salah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lantas jika begitu bagaimana kita bisa membuat komitmen kepada seseorang yang tidak benar kita kenal? Itulah mengapa kadang komitmen seiring waktu juga akan rapuh dan lapuk. Karena banyak kejadian, kita sering membuat komitmen kepada orang yang salah. Kepada seseorang yang kita sangka bisa kita percaya.\u00a0Komitmen itu begitu rapuhnya karena sekuat apapun kita\u00a0memegangnya, seberapa banyak kita membuktikan teguh padanya. Itu semua bisa dipatahkan cukup dengan satu kali tindakan yang melanggarnya. Panas setahun, akan dihapus hujan sehari.\u00a0Maka, yang bisa kita persiapkan ialah ruang pemaafan, dan kesabaran yang seluas-luasnya. Ruang pemaafaan itu paling terutama untuk \u00a0memaafkan diri kita sendiri. Pemaafan karena kesalahan kita terlalu mudah mempercayai. Pemaafaan karena kesalahan terlalu cepat mengambil persangkaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Mungkin karena itulah Tuhan menyediakan\u00a0<\/span><em style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">insurance<\/em><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\"> berupa pernikahan untuk manusia. \u00a0 Pernikahan tidak sekedar komitmen antara manusia dengan manusia. Ia adalah segitiga komitmen antara dua orang manusia dengan Tuhan. Jika komitmen dengan manusia bisa kau langgar, maka bagaimana kau\u00a0bisa menghindar dari komitmen dengan\u00a0Tuhan. Tuhan itu mengatasi ruang waktu, sehingga komitmen dengan Tuhan itu melintasi ruang waktu. Kelak ketika waktu mengrogoti sepasang manusia\u00a0hingga rapuh dan terurai. Komitmen pernikahanlah \u00a0yang menjamin mereka\u00a0akan bertemu kembali, meskipun\u00a0itu bukan di ruang &#8211; waktu yang sekarang ini. Itu karena manusia\u00a0melibatkan Tuhan dalam komitmennya, yang kemudian dikenal dengan nama pernikahan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitulah, segalanya yang di kolong langit ini akan menuju entropi seiring dengan waktu. Ia bisa jadi menabrak waktu hanya kita melibatkan &#8220;Sang pencipta waktu&#8221;. Namun, bersyukurlah, karena waktu itu pengurai yang paling kuat. Aku yakin masalah &#8211; masalah kita juga akan mengurai sendirinya seiring dengan waktu. Juga pintumu yang terkunci itu pasti kelak akan rapuh bersama waktu. Aku berharap, jika tiba saatnya, itu bisa\u00a0memberiku kesempatan untuk masuk ke dalam dan\u00a0\u00a0menemui dirimu sebenarnya. Dirimu yang apa adanya seperti dulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tahu, tidak? Tiap benda di alam semesta saling tarik menarik dengan benda lain melalui suatu gaya yang makin kuat apabila massa benda makin besar dan kuadrat jarak benda makin kecil.\u00a0Seperti apel yang jatuh ke tanah, seperti bulan yang mengitari bumi, juga pada benda &#8211; benda angksa lainnya seperti bintang.\u00a0Tarikan bintang pada jarak tertentu tepat seperempat\u00a0kali\u00a0tarikan gravitasi bintang berukuran serupa pada jarak setengah jarak semula. Lalu, aku dan kamu, saat\u00a0duduk sedekat ini, apakah engkau tak merasa bahwa ternyata Hukum Newton itu juga bisa berlaku pada manusia fana\u00a0seperti kita?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin karena kita, manusia &#8211; sama dengan bintang, juga mengalami\u00a0kelahiran dan kematian. Bintang lahir akibat sebagian besar gas hidrogen yang berada di semesta runtuh karena tarikan gravitasi, lalu melakukan reaksi nuklir fusi menjadi\u00a0Helium. Reaksi itu yang\u00a0memunculkan\u00a0cahaya bintang yang bisa kita nikmati malam ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bintang dilahirkan dari Hidrogen, inti atom paling sederhana dalam unsur periodik, memiliki\u00a01 jumlah proton.\u00a0Begitupun\u00a0kita juga dilahirkan dari sepasang manusia sederhana yang mengikatkan diri dalam sebuah pertalian gravitasinya sendiri yang diciptakan Tuhan.\u00a0Kita manusia juga sama layaknya bintang, namun bintang berumur lebih panjang dibanding kita, matahari saja punya setidaknya sisa \u00a0lima miliar tahun lagi sebelum akhirnya \u00a0bahan bakarnya habis lalu mati.\u00a0Bintang &#8211; bintang yang lebih masif ukurannya,\u00a0bisa menghabiskan bahan \u00a0bakar dalam hanya dalam seratus juta tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Seratus juta tahun kau sebut hanya?&#8221;, sahutmu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ya, begitulah ilmu astronomi\u00a0memiliki ukuran usianya sendiri. Jika seratus juta tahun disebut dengan kata &#8220;hanya&#8221;, lantas bagaimana dengan usia kita yang sekedar beberapa puluh tahun ini? Namun manusia memang suka mendramatisir ya? Mendapatkan kesulitan dan masalah sedikit saja seolah sudah paling menderita sedunia. Karena itu, aku sering \u00a0memandang ke angkasa luas sana saat bersedih, agar aku sadar bahwa banyak ruang terbentang di jagat raya sana.Tidak ada yang namanya kesempitan hidup, yang ada hanyalah pandangan kita yang sempit akan hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Engkau, pasti suka melihat bintang juga, bukan? Pastilah,\u00a0aku yakin\u00a0perempuan secantik kamu suka melihat cahaya bintang nan gemerlapan di sana. Aku juga heran, entah ada apa di bintang &#8211; bintang itu. Mungkin kita sedang melihat impian kita sendiri, yang kita sangka ada di bintang &#8211; bintang di atas sana. Tapi, tahukah kamu, bisa jadi\u00a0bintang- bintang itu sedang tersipu malu, karena melihat\u00a0engkau menatapnya terus menerus seperti itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Coba perhatikan di sana, Itu adalah bintang terdekat dari bumi,\u00a0namanya Proxima Centauri, berjarak\u00a0empat tahun cahaya. Artinya, cahaya\u00a0membutuhkan waktu empat tahun untuk sampai ke bumi, sedangkan sebagian besar bintang &#8211; bintang yang lain yang bisa kita lihat sekarang\u00a0berada dalam\u00a0jarak beberapa ratus tahun cahaya dari kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi, kini kita sedang memandangi \u00a0cahaya masa lalu dari bintang &#8211; bintang, cahaya yang dikirim\u00a0beberapa ratus tahun dari angkasa luas sana. Saat\u00a0bintang di galaksi ujung itu\u00a0mati, kita tak akan menyadarinya, hingga jutaan bahkan milyaran tahun setelahnya. Memang, masa lalu itu indah, tetapi itu sesuatu yang hanya bisa kita pandangi dari sini, malam gelap ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kamu ingat pertemuan pertama kita? Waktu itu kita juga duduk sedekat ini juga di sebuah gerbong kereta api,\u00a0Pukul 17.50 waktu stasiun kala itu. Apakah itu sekedar probabilitas layaknya mekanika kuantum atau memang takdir Tuhan? Tapi aku yakin, Tuhan tidak sekedar bermain dadu dengan dengan pertemuan kita kan? Kala itu, kau\u00a0memintaku \u00a0bertukar tempat duduk, kau memilih duduk\u00a0di dekat jendela, \u00a0tempat favoritku juga kala di perjalanan. Tapi apa daya seorang lelaki sepertiku untuk bisa mengatakan &#8220;tidak&#8221;.<\/p>\n<div class=\"data lP\">\n<div class=\"echo hasMarkup fS\" style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Kamu tahu? Banyak sekali perkara di dunia ini yang bisa terjadi yang bermula dari tindakan seperti yang kerap kamu lakukan saat itu: Melempar senyum manismu, sembarangan. Ya,\u00a0ruas senyum dan \u00a0lekuk pipi nan kemerahan itulah yang seakan membuatku merasa waktu sedang berhenti.\u00a0Aku belum pernah merasakan waktu berhenti sampai saat itu. Saat dimana arloji cesium-133 tak lagi menujukkan\u00a09.192.631.770 getaran untuk mendefinisikan 1 detik standarnya. <em>Eureka!\u00a0<\/em>Ternyata\u00a0Einstein keliru, memang\u00a0waktu itu\u00a0relatif, tapi tidak hanya relatif, waktupun juga bisa berhenti \u00a0oleh karena seruas senyum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bersambung<\/strong><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kita duduk sedekat ini, malam ini, di bangku taman, disaksikan pohon palem, dan lampu &#8211; lampu redup ibu kota. Kau dan aku terpisah hati di beberapa sentimeter ruang udara. Ruang udara yang membuatku bertanya. Mengapa tidak sedikit lagi kita singkirkan sisa ruang ini untuk sementara waktu mengisinya dengan cerita &#8211; cerita, dengan kisah apa yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2648,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[2,7],"tags":[72,140,149,442,548],"jetpack-related-posts":[{"id":2724,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2724","url_meta":{"origin":2591,"position":0},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 4)","date":"17 April 2015","format":false,"excerpt":"Sampai suatu masa takdir mempertemukan aku dan Kimya di sebuah ruang dan waktu. Suatu takdir di sebuah gerbong kereta api yang melaju. \u00a0Sebuah takdir yang telah Tuhan rencanakan sebelum Dia menciptakan alam semesta ini. Sebuah takdir pertemuan yang \u00a0mengubah hidup seorang laki - laki untuk selamanya. Sebuah pertemuan yang menerobos\u00a0tidak\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2621,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2621","url_meta":{"origin":2591,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian Ke - 2)","date":"11 April 2015","format":false,"excerpt":"Pasti senyum itu sudah memikat banyak hati laki-laki sekaligus mematahkannya di saat yang sama.\u00a0Terlebih\u00a0lagi, nampaknya\u00a0 kau\u00a0sudah memiliki kekasih. Bagaimana mungkin gadis secantik kau tidak ada yang lelaki yang mengejar -ngejar. Pasti banyak lelaki yang berlomba - lomba ingin menawan hatimu. Pasti laki - laki itu\u00a0istimewa-kan? Tentu saja. Tidak seperti aku\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2939,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2939","url_meta":{"origin":2591,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 8)","date":"1 Mei 2015","format":false,"excerpt":"Pandanganku terpaku pada jalanan\u00a0melalui sebuah jendela bus yang kami tumpangi, menyaksikan\u00a0pemandangan lalulintas Yogya\u00a0yang makin siang,\u00a0semakin dipenuhi\u00a0oleh\u00a0\u00a0kendaraan\u00a0bermotor. Beberapa diantaranya mungkin adalah mahasiswa yang hendak berangkat kuliah, beberapa lagi\u00a0bisa jadi memang warga asli sini, tapi tak kalah banyak juga kendaraan dengan platnomer luar kota \u00a0yang membanjiri . Aku dan Kiran\u00a0sedang\u00a0berada di sebuah\u00a0bus\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Novel\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/wpid-img_20150419_2218281.jpg?fit=599%2C590&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2591"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2591"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2591\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2648"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2591"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2591"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2591"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}