{"id":2585,"date":"2015-04-07T14:29:29","date_gmt":"2015-04-07T07:29:29","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2585"},"modified":"2015-04-07T14:29:29","modified_gmt":"2015-04-07T07:29:29","slug":"kita-tak-sendiri-dalam-panah-waktu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2585","title":{"rendered":"Kita Tak Sendiri dalam Panah Waktu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/time_travel.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2589\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2589\" data-orig-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/time_travel.jpg?fit=500%2C500&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"500,500\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"time_travel\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/time_travel.jpg?fit=300%2C300&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/time_travel.jpg?fit=500%2C500&amp;ssl=1\" class=\"alignleft  wp-image-2589\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/time_travel.jpg?resize=214%2C214\" alt=\"time_travel\" width=\"214\" height=\"214\" srcset=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/time_travel.jpg?resize=300%2C300&amp;ssl=1 300w, https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/time_travel.jpg?resize=150%2C150&amp;ssl=1 150w, https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/time_travel.jpg?resize=100%2C100&amp;ssl=1 100w, https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/time_travel.jpg?w=500&amp;ssl=1 500w\" sizes=\"(max-width: 214px) 100vw, 214px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Sebagaimana teori Dirac, setiap zarah memiliki anti zarah-nya, yang bila mereka bertemu, akan saling menghilangkan. Ketika positron\u00a0dan elektron bertemu dalam sebuah ruang waktu\u00a0lalu\u00a0teranihilasi menjadi kilatan cahaya? Apakah takdir yang mempertemukan mereka? Ataukah semata kebetulan dari hitung-hitungan probabilitas kita? Apakah positron sengaja mencari elektronnya? Ataukah sebaliknya,\u00a0elektron yang menemukan positronnya? Atau mereka berdua bertemu begitu saja, dalam ruang waktu buatan Tuhan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hidup selalu penuh misteri, dan karena\u00a0itulah kita di sini &#8211; menumpang bersama, dalam perjalanan ini. Sebagaimana\u00a0zarah yang memiliki anti zarahnya, lantas mengapa mereka tidak semua dipertemukan? Mengapa\u00a0semua\u00a0galaksi yang kita ketahui sejauh ini terdiri dari quark, \u00a0dan bukannya \u00a0antiquark? Kemanakah antiquark gerangan Tuhan letakkan? Di galaksi lainkah, ataukah mengapung &#8211; apung dalam ingatan \u00a0waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Waktu melaju\u00a0seperti kereta yang sedang kita tumpangi\u00a0malam ini. Bergerak cepat, tanpa kita tahu sudah sampai mana gerangan. Semakin jauh dan lama perjalanan, kita semakin tak menahu, sedang berada di mana. Satu-satunya\u00a0yang\u00a0bisa kulakukan hanya menengok ke jendela, atau melihat ke arloji yang kulingkarkan di pergelangan nadi kesabaran, dengan\u00a0detak &#8211; detik penghitung satuan rindu, dengan\u00a0jarum\u00a0panjang dan pendek yang mengukur panjang pendeknya kesetiaan. &#8220;Kesabaran memang tidak pernah ada batasnya. Jika memang ada, batas itu bernama kesetiaan&#8221;. Begitu ucapmu singkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita bersama sedang menumpangi waktu yang\u00a0membawa kita\u00a0berlari dalam\u00a0tiga arah panah-nya, yang\u00a0menculik kita dari\u00a0masa lalu ke\u00a0masa depan. Panah waktu yang pertama adalah panah termodinamika, arah waktu yang menunjukan ketidakteraturan. Panah waktu yang kedua ialah\u00a0panah psikologis, arah waktu yang menyebabkan kita bisa meningat masa lalu ataupun masa depan. Sedangkan panah ke tiga disebut dengan panah kosmologis, arah waktu yang menunjukan alam semesta mengembang ataupun menyusut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Panah termodinamika, ibarat potongan teka-teki bergambar tersusun rapi yang awalnya berada dalam kotak, yang kemudian\u00a0digoncang-goncangkan waktu, hingga\u00a0potongan &#8211; potongan itu membentuk tatanan lain. Makin lama, kita akan lihat potongan &#8211; potongan tadi\u00a0makin berubah ke arah yang semakin tidak teratur. Ketidakteraturan akan cenderung meningkat seiring waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setidaknya itulah menurut yang mata kita lihat, tapi\u00a0bukankah Tuhan itu Maha &#8220;Tidak Teratur&#8221;? Kita layaknya zarah yang meluncur dalam arah panah termodinamika ini, yang makin lama menyajikan kepada kita bahwa semakin banyak \u00a0hal yang ada di dunia ini yang tidak bisa kita atur bukan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam panah psikologis, manusia\u00a0mengingat ke masa silam perubahan\u00a0ketidakteraturan itu dalam urutan &#8211; urutan yang jelas seperti\u00a0mengingat gelas yang jatuh dari atas meja, \u00a0menjadi pecah tak beraturan. Mengapa kita tak bisa mengingat ke masa depan, dan hanya mampu mengingat \u00a0masa lalu?\u00a0Kita sama tak tahu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, kita paham keindahan bukan?\u00a0Sebagaimana sifat Tuhan yang Maha Tidak Teratur tapi juga\u00a0Maha Indah. Tidak hanya keteraturan yang merupakan keindahan. Ketidakteraturan, juga merupakan\u00a0keindahan, bukan? Layaknya perasaan wanita yang diciptakan Tuhan tidak teratur, namun juga indah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam panah kosmologis, alam semesta mengembang semenjak ledakan besar (<em>big bang<\/em>), berawal dari tempat yang sama\u00a0kemudian saling menjauh. Namun, kita\u00a0meyakini, bahwa panah kosmologis akan akan sampai pada satu titik, saat galaksi- galaksi yang bergerak menjauh itu akan menemui kecepatan kritisnya hingga kemudian sampai pada kemungkinan, bahwa tidak ada jalan lain baginya selain kembali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita\u00a0manusia, berlarian saling menjauh, mengejar kehampaan di luar sana &#8211; yang awalnya kita sangka &#8211; sangka adalah pencapaian karir, dan puncak prestasi, untuk kemudian terbentur pada kondisi kritis dimana tidak ada jalan lain, tidak ada tempat lain, tidak ada kemungkinan lain yang mungkin, selain itu adalah kembali. Sejauh &#8211; jauhnya pergi tidak punya kemungkinan lain selain kembali. Pun, sekuat &#8211; kuatnya rindu yang kita tanggung, tidak ada kemungkinan lain selain bertemu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka,\u00a0kalaupun kita begitu berjarak kali ini, mungkin ada yang harus ditempuh dalam panah waktu kosmologis kita, hingga\u00a0sampai pada saatnya waktu\u00a0siap menerima pertemuan, layaknya ledakan besar yang kemudian sampai pada suatu rengkuhan besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita tak sendirian di alam semesta ini. Setiap kita ditemani zarah yang\u00a0menari- nari di alam semesta. Layaknya juga\u00a0kita, ia juga berputar &#8211; putar tanpa henti di sana. Setiap inti atom diri kita, entah sedang berbahagia ataupun sedih, ia dikelilingi elektron dalam sebuah ektase tak terperi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagaimana teori Dirac, setiap zarah memiliki anti zarah-nya, yang bila mereka bertemu, akan saling menghilangkan. Ketika positron\u00a0dan elektron bertemu dalam sebuah ruang waktu\u00a0lalu\u00a0teranihilasi menjadi kilatan cahaya? Apakah takdir yang mempertemukan mereka? Ataukah semata kebetulan dari hitung-hitungan probabilitas kita? Apakah positron sengaja mencari elektronnya? Ataukah sebaliknya,\u00a0elektron yang menemukan positronnya? Atau mereka berdua bertemu begitu saja, dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2589,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[2,6,8],"tags":[107,132,374,584],"jetpack-related-posts":[{"id":470,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=470","url_meta":{"origin":2585,"position":0},"title":"Radioaktivitas - Positron","date":"24 Maret 2009","format":false,"excerpt":"Jika Perbandingan neutron terhadap proton terlalu rendah sedangkan emisi partikel alfa tidak begitu energitik, pada suatu kondisi tertentu suatu inti astabil akan mencapai stabil dengan memancarkan positron. Tetapi apakah itu positron? Positron merupakan suatu partikel beta bermuatan positif. Hampir tidak ada yang membedakannya dengan partikel beta ataupun dengan suatu elektron\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Fisika\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":2686,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2686","url_meta":{"origin":2585,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 3)","date":"13 April 2015","format":false,"excerpt":"\"Kau meminjami aku sebuah buku, yang masih kusimpan hingga kini. Buku yang\u00a0berjudul 'Sejarah Singkat Waktu' tulisan\u00a0Stephen Hawking. Sebuah buku tentang fisika, namun tidak memilliki rumus matematika apapun di dalamnya selain e=m.c2. Sebuah rumus tentang\u00a0kesetaraan antara massa dan energi. Bahwa massa yang kecil dapat diubah menjadi energi yang\u00a0luar biasa besar\". \"Aku\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2724,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2724","url_meta":{"origin":2585,"position":2},"title":"Proxima Centauri (Bagian ke - 4)","date":"17 April 2015","format":false,"excerpt":"Sampai suatu masa takdir mempertemukan aku dan Kimya di sebuah ruang dan waktu. Suatu takdir di sebuah gerbong kereta api yang melaju. \u00a0Sebuah takdir yang telah Tuhan rencanakan sebelum Dia menciptakan alam semesta ini. Sebuah takdir pertemuan yang \u00a0mengubah hidup seorang laki - laki untuk selamanya. Sebuah pertemuan yang menerobos\u00a0tidak\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2585"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2585"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2585\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2589"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2585"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2585"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2585"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}