{"id":2460,"date":"2014-12-14T16:59:32","date_gmt":"2014-12-14T09:59:32","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2460"},"modified":"2014-12-14T16:59:32","modified_gmt":"2014-12-14T09:59:32","slug":"papan-nama-omong-kosong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2460","title":{"rendered":"Papan Nama Omong Kosong"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_2461\" aria-describedby=\"caption-attachment-2461\" style=\"width: 271px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/tapal-batas-nama.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2461\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2461\" data-orig-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/tapal-batas-nama.jpg?fit=300%2C236&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"300,236\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;X2-01&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1328282645&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"tapal-batas-nama\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/tapal-batas-nama.jpg?fit=300%2C236&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/tapal-batas-nama.jpg?fit=300%2C236&amp;ssl=1\" class=\"wp-image-2461 \" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/tapal-batas-nama.jpg?resize=271%2C213\" alt=\"tapal-batas-nama\" width=\"271\" height=\"213\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-2461\" class=\"wp-caption-text\">Gambar dari tapalbatasnegeri.wordpress.com<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Televisi dan media massa mainstream menayangkan berbagai macam kegaduhan politik sampai &#8211; sampai\u00a0tanpa sadar masyarakat ekonomi ASEAN tinggal hitungan hari lagi. 1 Januari\u00a02015 adalah waktu\u00a0MEA resmi diberlakukan. Ya, perdagangan bebas ASEAN. Berbagai komoditas akan bebas keluar masuk Indonesia. Sekali\u00a0lagi, negara mulai mengurangi peran dan tanggung jawab kepada rakyatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam pikiran saya, negara hadir sebagai tempat perlindungan rakyat &#8211; dari predator yang bernama pasar bebas. Ia menerapkan regulasi &#8211; regulasi, agar sektor -sektor yang belum siap dengan\u00a0perdagangan bebas masih bisa hidup, meskipun dalam prakteknya, perlindungan itu bisa dirunding\u00a0tingkatannya, sesuai kadar kemampuan sektor tersebut. Ibarat orang tua yang melindungi anaknya dari &#8216;dunia luar&#8217;, sampai si anak siap untuk menghadapinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lantas apakah pasar bebas menguntungkan Indonesia? ataukah merugikan? Saya hanya akan membahas pendapat saya yang merupakan sebuah opini pribadi yang tentu masih perlu didiskusikan lebih lanjut. Saya membayangkan tiap-tiap negara \u00a0adalah sebuah \u00a0pasar, dimana ada rakyat yang merupakan pedagang sekaligus konsumen yang saling melakukan jual beli disana.\u00a0Pemerintah saya modelkan sebagai petugas perbatasan di tembok &#8211; tembok negara\u00a0yang memisahkan satu pasar dengan pasar yang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika 2015 maka tembok &#8211; tembok ini mulai dibongkar, para penjaga perbatasan hanya bersifat administratif tanpa ada kemampuan meregulasi lagi. Sehingga hanya menyisakan tembok besar yang hanya mengelilingi ASEAN. Tidak ada sekat lagi antar Pasar Indonesia dan Malaysia, ataupun Filiphina, mereka boleh bercampur baur tanpa lagi ada batasan seperti halnya dulu. Tentu ini bisa menguntungkan atau merugikan, tergantung pada banyak pertimbangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Indonesia adalah pasar terbesar di ASEAN dikarenakan jumlah penduduk dan luas wilayahnya yang terbesar diantara negara &#8211; negara di ASEAN. Lantas ketika tembok itu diruntuhkan, maka siapa yang paling diuntungkan? Pedagang pasar sebelah jelas untung, karena mendapatkan tempat berjualan yang lebih besar, ia bisa masuk ke pasar besar Indonesia untuk berdagang dan kesempatan menambah keuntungan yang lebih besar. \u00a0Lantas bagaimana dengan pedagang Indonesia? Ia hanya mendapatkan tambahan pasar yang tidak sebesar luas pasarnya sendiri (bandingkan jumlah penduduk Indonesia, dibandingkan keseluruhan penduduk ASEAN).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun pendapat saya diatas dibuat dengan asumsi bahwa semua pedagang di masing &#8211; masing pasar memiliki kesiapan yang relatif sama dalam\u00a0pasar bebas. Namun pada kenyataannya <em>kan<\/em>, tidak semua pedagang memiliki kesiapan yang sama, dan itu harusnya menjadi tugas pemerintah membangun tembok-tembok terbatas untuk memberikan regulasi agar pedagang kecil yang belum siap bersaing, mendapatkan perlindungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena negara hadir untuk melindungi rakyatnya, jika ia tidak lagi ada lantas apakah ia cuman menjadi papan nama omong kosong saja?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Televisi dan media massa mainstream menayangkan berbagai macam kegaduhan politik sampai &#8211; sampai\u00a0tanpa sadar masyarakat ekonomi ASEAN tinggal hitungan hari lagi. 1 Januari\u00a02015 adalah waktu\u00a0MEA resmi diberlakukan. Ya, perdagangan bebas ASEAN. Berbagai komoditas akan bebas keluar masuk Indonesia. Sekali\u00a0lagi, negara mulai mengurangi peran dan tanggung jawab kepada rakyatnya. Dalam pikiran saya, negara hadir sebagai tempat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2461,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[11],"tags":[24,314,317,411],"jetpack-related-posts":[{"id":2216,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2216","url_meta":{"origin":2460,"position":0},"title":"Membunuh Pelan - Pelan Indonesia","date":"16 Maret 2014","format":false,"excerpt":"Yang saya tuliskan ini bukanlah dongeng ataupun kisah film. Semua ini benar - benar sungguh terjadi. Tapi sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya \u00a0menyarankan anda untuk tidak melanjutkan membaca tulisan ini, jika anda merasa sudah tahu banyak, dan tidak sebegitu perduli bahwa selalu tentang kemungkinan bahwa yang \u00a0kita ketahui ternyata\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3755,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3755","url_meta":{"origin":2460,"position":1},"title":"Negeri Para Pegawai (Negeri)","date":"20 Juli 2017","format":false,"excerpt":"Sebuah pesan whatsapp masuk di nomer ponsel saya. Ah, ternyata isinya adalah chat dari seorang teman, yang membagikan informasi tentang \u00a0adanya pembukaan penerimaan pegawai negeri sipil yang kabar - kabarnya akan dibuka di bulan agustus nanti. Saya membalasnya langsung dengan \u00a0ucap terimakasih, meski \u00a0saya bukan salah satu orang yang berkeinginan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/j1.jpg?fit=1200%2C719&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2312,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2312","url_meta":{"origin":2460,"position":2},"title":"Demokrasi (Fotokopi) Borjuasi","date":"15 April 2014","format":false,"excerpt":"Entah mau bagaimana dunia mempercayai, namun saya meyakini, bahwa nenek moyang kita adalah bangsa dengan peradaban dan pengetahuan tinggi, entah itu dari sisi teknologi, politik atau sistem kenegaraan, namun \u00a0entah kenapa, setelah sekian dekade, \"civilization\" oleh belanda, kita menjadi menganggap remeh nenek moyang kita, dengan mempercayai bahwa mereka adalah primitif,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2460"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2460"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2460\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2461"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2460"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2460"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2460"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}