{"id":24,"date":"2008-01-13T09:25:49","date_gmt":"2008-01-13T02:25:49","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/2008\/01\/13\/produk-orba\/"},"modified":"2008-01-13T09:25:49","modified_gmt":"2008-01-13T02:25:49","slug":"produk-orba","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=24","title":{"rendered":"Saya Adalah Produk Orba (Tanggapan terhadap Pak Harto adalah Pahlawan Bukan Pecundang)"},"content":{"rendered":"<p align=\"justify\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2008\/01\/soeharto.jpg?resize=178%2C265\" align=\"right\" height=\"265\" width=\"178\" data-recalc-dims=\"1\" \/>Setelah membaca sebuah tulisan dari seorang blogger yang berjudul <a href=\"http:\/\/trisetyarso.wordpress.com\/2008\/01\/11\/pak-harto-adalah-pahlawan-bukan-pecundang\/\" target=\"_blank\">Pak Harto adalah Pahlawan Bukan Pecundang<\/a> . Sayapun ingin menuliskan pendapat saya tentang tulisan tersebut dan mengemukakan pendapat saya di blog ini. Mungkin pandangan saya kurang tepat dan tiap &#8211; tiap orang berhak memberikan penilaiannya terhadap saya, toh ini negara demokrasi, dan karena itulah tiap orang berhak memberikan penilaiannya masing &#8211; masing berdasarkan sudut pandang mereka. Tapi saya yakin, semua orang dari kita &#8211; meskipun berbeda pendapat &#8211; tetap menginginkan yang terbaik untuk negeri ini. Seperti apa yang dikatakan Maulana Jalaluddin Rumi :<br \/>\n<b><i>Pemahaman bersama muncul dari membicarakan kebijaksanaan yang sama<\/i><\/b><\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\"><b><i>Bukan berbicara bahasa yang sama,<\/i><\/b><\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\"><b><i>Lebih baik berbagi satu hati, daripada satu lidah <\/i><\/b><\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Saya memulai tulisan saya dengan judul yang mungkin sangat kontroversial bagi kebanyakan orang yang anti &#8211; Pak Harto. <b>Saya adalah Produk Orba. <\/b>Judul ini mungkin langsung bisa digugat, kenapa di saat orang meneriakkan reformasi dan meneriakkan anti orba, kemudian tiba &#8211; tiba ada orang yang bukan siapa &#8211; siapa yang bangga menyatakan dirinya adalah produk Orba. kenapa??<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Saya hanya ingin realistis disini, saya memang bukan siapa &#8211; siapa dan bukan apa &#8211; apa. Tapi yang jelas, saya sama sekali tidak ingin melupakan jasa siapapun kepada saya, meskipun orang itu &#8211; mungkin punya banyak kesalahan. Saya lahir di Tahun di mana waktu itu Pak Harto menjabat sebagai presiden RI. Orang tua saya yang nota bene bekerja di kepolisian, tentu menerima gaji dari negara, yang tentu dengan gaji itulah saya bisa hidup sampai sekarang. Saya menikmati fasilitas sekolah dari negara, jalan raya, fasilitas umum dan lain &#8211; lain. Atas jasa siapakah semua itu? Tentu atas jasa orang &#8211; orang yang memerintah negeri ini. Siapakah yang memerintah negeri ini waktu itu? Jawabnya Pak Harto tentu. Tulisan ini saya tulis tentu bukan bermaksud untuk mengecilkan jasa &#8211; jasa orang lain yang mungkin lebih berjasa dari Pak Harto. Seperti Pahlawan &#8211; pahlawan Kemerdekaan negara ini, ataupun para Founding Fathers negara ini.<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Mereka semua telah berjasa terhadap negara ini, tidak terkecuali Mantan Presiden Soeharto. Mantan Presiden yang satu ini selama dia memerintah, banyak sekali prestasi yang dia raih, seperti suksesnnya program Keluarga Berencana yang berhasil mengatasi ledakan penduduk, menjadikan negara kita ini sebagai negara surplus beras, sehingga memungkinkan negara ini mendapat penghargaan oleh FAO karena keberhasilan kita mengubah diri dari negara yang semula sangat tergantung dari impor beras negara lain, menjadi negara yang mampu mengekspor beras ke negara lain.<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Tidakkah kita ingat dengan nasi yang telah kita makan? Pendidikan yang telah kita dapatkan? dan semua yang telah kita peroleh pada masa orde baru, akankah kita lupakan semua itu? Akankah kita menjadi bangsa yang tidak tahu terimakasih? Akankah kita menjadi bangsa yang tidak bersyukur? Saya pernah mendengar ada orang &#8211; orang yang sangat anti dengan dengan apapun yang berkaitan dengan Orba. Tentu saya akan sangat respect kepada mereka kalau seandainya mereka konsisten. Jika mereka konsisten dengan prinsip yang dia pegang, pasti dia tidak akan mau bersekolah SD, SLTP, SMA, bahkan ke perguruan tinggi. Bukankah semua itu adalah produk Orba? Mereka  tentu tidak akan mau mengurus KTP, mengurus SIM, atau bahkan menabung di BANK pemerintah sekalipun. Bukankah semua tata administrasi, keuangan dan sebagainya yang kita dapatkan sekarang adalah produk Orba? Dan tentu seandainya mereka konsisten, mereka tidak akan pernah mau tinggal di kota atau bahkan di desa yang telah tersentuh listrik disana, mereka juga tidak akan mau melewati jembatan, dan mereka pasti akan tinggal di hutan &#8211; hutan dan di samudera yang luas disana. Namun sampai sekarang, saya belum pernah melihat orang yang konsisten semacam itu dengan prinsipnya. Apakah anda ingin memulainya ?<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Mungkin Pak Harto punya salah selama dia memerintah negeri ini, wajarlah. Apakah diantara kita ada yang merasa bersih dari dosa? Saya disini sama sekali tidak ingin mengungkit &#8211; ungkit apa &#8211; apa saja kesalahan Pak Harto yang telah beliau lakukan selama menjadi Presiden negara ini, karena saya sendiri &#8211; tidak merasa pantas &#8211; untuk mengungkit &#8211; ungkit kesalahan beliau atau bahkan menghujatnya, karena saya bukanlah apa &#8211; apa dan bukanlah siapa &#8211; siapa. Saya adalah MahklukNya  yang banyak sekali dosa dan hina di hadapanNya. Apakah hak saya untuk menghujat Pak Harto? Apakah di Mata Allah saya lebih baik dari Pak Harto? Apakah saya punya sedikit dosa dibanding Pak Harto? Apakah saya lebih banyak Pahalanya dibanding yang dilakukan Pak Harto? Ada hak apa saya mengutuk Pak Harto? Apakah ada jaminan bagi saya untuk Masuk Surga? Apakah saya sudah pasti terhindar dari siksa neraka? Saya teringat tentang sabda Rasulullah, yang kira &#8211; kira begini <b>Bahwa Surga hanya berjarak sejengkal dari kita, begitu pula neraka pun berjarak sejengkal dari kita. <\/b>Jadi selama kita hidup, kita tidak akan pernah tahu dengan apa yang kita dapatkan sampai kita mati nanti,<i> Khusnul khotimah<\/i>? ataukah<i> suul Khatimah<\/i>? Meskipun kita berbuat amal sholeh di dunia namun bila kita mati dalam keadaan berbuat Maksiat, maka sia &#8211; sialah amalan ibadah kita selama hidup. Namun seandainya ada seseorang yang telah melakukan banyak dosa dan maksiat, namun orang itu mati saat dia bertaubat dan melakukan amal shalih, segala dosanya pastilah akan diampuni oleh Allah. Saya pun teringat tentang kisah seorang pelacur yang diampuni segala dosanya oleh Allah, hanya karena memberi makan seekor anjing yang kelaparan.<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Itulah alasan saya tidak ingin menghujat Pak Harto. Seandainya dia punya salah dan dosa biarlah itu menjadi urusan penegak hukum di negara kita &#8211; yang sudah menjadi tugasnya menegakkan hukum di negara ini. Saya yang bukan penegak hukum dan bukan apa &#8211; apa di negara ini, hanya ingin mengenang jasa dan kebaikan Pak Harto sebagai seorang Pahlawan di negeri ini. Dan jika dia  punya salah terhadap bangsa ini selama dia menjabat sebagai presiden, saya selaku pribadi, sudah memaafkannya. Kenapa? Karena &#8211; seperti yang sudah saya katakan tadi &#8211; Apakah hak saya untuk tidak memaafkan Pak Harto sedangkan saya sendiri punya banyak dosa kepadaNya? Mungkin dengan memaafkan dosa Pak Harto, Allah pun akan mengampuni dosa &#8211; dosa ku.<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Tapi toh ini negara demokrasi, bagi anda yang merasa lebih suci dari pak Harto, merasa tidak punya dosa, merasa telah dijamin masuk surga, merasa tidak akan masuk neraka, merasa lebih mulia di hadapan Allah, tentu berhak untuk melakukan apa yang anda anggap benar.<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\">Namun ada hikmah tercecer yang perlu kita renungkan<\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\"><i>Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. <\/i><\/p>\n<div align=\"justify\"><\/div>\n<p align=\"justify\"><i><b>Nabi Muhammad SAW<\/b><\/i><\/p>\n<p align=\"justify\">&nbsp;<\/p>\n<p align=\"right\">Tulisan ini sekaligus tanggapan terhadap<\/p>\n<p align=\"right\"><a href=\"http:\/\/kangtutur.wordpress.com\/2008\/01\/11\/bila-soeharto-minta-maaf\/\" target=\"_blank\">Bila Soeharto Minta Maaf\u00a0<\/a><\/p>\n<p align=\"right\"><a href=\"http:\/\/kamal87.wordpress.com\/2008\/01\/12\/harus-diapakan-suharto\/\" target=\"_blank\">Harus diapakan Soeharto<\/a><\/p>\n<p align=\"right\"><a href=\"http:\/\/koruptors.wordpress.com\/2008\/01\/12\/biaya-pengobatan-soeharto\" target=\"_blank\">Biaya Pengobatan Soeharto\u00a0<\/a><\/p>\n<p align=\"right\"><a href=\"http:\/\/balakecrakan.wordpress.com\/2008\/01\/12\/pak-harto-ucapkan-terima-kasih-karena\/\" target=\"_blank\">PAK HARTO Ucapkan Terimakasih karena&#8230;!!\u00a0<\/a><\/p>\n<p align=\"right\"><a href=\"http:\/\/lebihbaik.wordpress.com\/2008\/01\/13\/soeharto-dan-penyakit-obsesif-kompulsif\/\" target=\"_blank\">Soeharto dan Penyakit Obsesif Kompulsif\u00a0<\/a><\/p>\n<p align=\"right\">&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah membaca sebuah tulisan dari seorang blogger yang berjudul Pak Harto adalah Pahlawan Bukan Pecundang . Sayapun ingin menuliskan pendapat saya tentang tulisan tersebut dan mengemukakan pendapat saya di blog ini. Mungkin pandangan saya kurang tepat dan tiap &#8211; tiap orang berhak memberikan penilaiannya terhadap saya, toh ini negara demokrasi, dan karena itulah tiap orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[8,11],"tags":[368,373,412,512,517],"jetpack-related-posts":[{"id":31,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=31","url_meta":{"origin":24,"position":0},"title":"Yang Kita Dapatkan dari Pak Harto...","date":"15 Januari 2008","format":false,"excerpt":"Pak Harto, mantan orang nomer satu di negeri ini kini terbaring sakit di RSPP. Padahal sepertinya baru kemarin dia masih menjabat sebagai presiden negara ini. Orang yang memiliki nama lengkap Haji Muhammad Soeharto dan akrab dipanggil Pak Harto ini memegang tampuk pemerintahan selama 32 tahun, cukup lama memang, bahkan bisa\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":117,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=117","url_meta":{"origin":24,"position":1},"title":"Dosen A atau B","date":"9 Mei 2008","format":false,"excerpt":"Suatu ketika seorang teman mengajak saya berdiskusi tentang dosen mana yang cara mengajarnya paling baik. Dosen A, B ataukah C, kemudian teman saya tersebut menyebut dosen A sebagai dosen yang paling baik cara mengajarnya, alasannya karena dengan dosen A tersebut, dia lebih mampu menyerap pelajaran yang diajarkan. Sedangkan dosen B\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2008\/05\/untitled.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2382,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2382","url_meta":{"origin":24,"position":2},"title":"Kantuk, Kopi dan Premium","date":"18 November 2014","format":false,"excerpt":"Alarm dari smartphone\u00a0saya berbunyi, saya terbangun kaget, ternyata waktu masih menunjukan jam 3 pagi. Seperti biasanya, sambil\u00a0menahan kantuk, saya matikan alarm, lalu memaksakan\u00a0bangun. Secangkir kopi saya seduh,\u00a0sembari\u00a0membuka email,\u00a0\u00a0media sosial, facebook, twitter dan kawan - kawannya. Dan, wah ternyata saya ketinggalan berita. \"Semalam premium dan solar\u00a0sudah naik saudara - saudara, yang\u00a0mulanya\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/24"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=24"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/24\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=24"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=24"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=24"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}