{"id":2312,"date":"2014-04-15T23:34:28","date_gmt":"2014-04-15T23:34:28","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2312"},"modified":"2014-04-15T23:34:28","modified_gmt":"2014-04-15T23:34:28","slug":"demokrasi-fotokopi-borjuasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2312","title":{"rendered":"Demokrasi (Fotokopi) Borjuasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #ffffff; font-size: 1em; font-style: normal; line-height: 1.5em;\">Entah mau bagaimana dunia mempercayai, namun saya meyakini, bahwa nenek moyang kita adalah bangsa dengan peradaban dan pengetahuan tinggi, entah itu dari sisi teknologi, politik atau sistem kenegaraan, namun \u00a0entah kenapa, setelah sekian dekade, &#8220;<em>civilization<\/em>&#8221; oleh belanda, kita menjadi menganggap remeh nenek moyang kita, dengan mempercayai bahwa mereka adalah primitif, tanpa kemauan mempelajari sejarah dan budaya mereka. Lalu kemudian tiba &#8211; tiba\u00a0kita loncat jauh sekali menjadi bangsa fotokopi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbagai macam organisasi, sistem kenegaraan, kepartaian, amandemen konstitusi, dan berbagai hal adalah hasil fotokopi negara lain, bukan lahir dari otentisitas kesadaran masyarakatnya sendiri. Dan kita sebagai anak muda mengganggap ini semua sebagai harga mati dan final bukan sebagai sebuah eksperimen kebangsaan yang perlu di-<em>ijtihad<\/em>-i dan dikritisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Dari dulu hingga kini, Perpolitikan di Indonesia belum pernah jadi &#8220;<\/span><em style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">a common good<\/em><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">&#8220;, yang benar &#8211; benar meletakan rakyat sebagai pemegang kedaulatan &#8211; secara prakteknya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demokrasi di \u00a0Indonesia, jika boleh saya katakan, hanyalah sekedar demokrasi borjuasi, yang sekedar memberikan angan &#8211; angan perubahan (bukan janji) kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan negara, agar mereka mau percaya dan menyerahkan nasib mereka kepada para &#8220;wakil \u00a0rakyat&#8221; di DPR. Sehingga dengan itu, mereka akan terkurung oleh birokratisme parlemen lalu meninggalkan perjuangannya sendiri untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan mereka<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa saya istilahkan sebagai demokrasi \u00a0borjuasi? Ya, demokrasi Indonesia adalah demokrasi <i>fotokopi<\/i>\u00a0, demokrasi impor dari barat yang sebenarnya dilahirkan oleh kaum borjuis sewaktu masa aristokrasi dan gereja berkuasa di eropa. Pada waktu itu kaum borjuis memiliki bisnis dan industri yang semakin maju namun tidak memiliki nilai tawar politik, sehingga posisi mereka, merasa digencet ketika akan melakukan ekspansi usahanya, oleh regulasi &#8211; regulasi yang diberikan raja \u00a0seperti cukai dan pajak yang tinggi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka, dalam keadaan seperti itu lahirlah piagam Magna Charta, Cromwellisme, hingga akhirnya berujung pada Revolusi Prancis. Voltaire sebagai pemimpin borjuasi habis-habisan menggempur agama Katholik dan pendeta-pendetanya, dengan paham &#8220;atheisme&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitupun Rousseau meberikan perlawan terhadap adanya pemerintahan autokrasi yang datang turun temurun lalu menawarkan apa yang mereka sebut dengan demokrasi. Bahwa harus ada suatu &#8220;kontrak sosial&#8221;, antara pemerintah dengan rakyat. Seorang kepala negara hanya boleh memerintah selama ia bertindak sesuai perjanjiannya dengan rakyat; rakyat harus menentangnya apabila perjanjian tersebut dilanggar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena borjuasi Prancis merasa kurang kuat melawan kekuasaan raja, bangsawan dan pendeta, maka mereka kemudian bersatu dengan kaum buruh dan tani. Namun kaum buruh dan tani tersebut pada kenyataannya tidak akan pernah memiliki hak berkuasa. Mereka, tidak lain hanya digunakan sebagai kendaraan politik kaum borjuis untuk mengadakan revolusi. Dengan semboyan &#8220;<em>Liberte<\/em>, <em>Egalite<\/em>, dan <em>Fraternite<\/em>&#8220;, maka kaum borjuis berhasil merobohkan feodalisme pemerintahan raja &#8211; raja dan menggantikannya dengan demokrasi, liberalisme dan parlementarisme.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebenarnya cerita diatas mirip sekali dengan yang bangsa kita alami pada era reformasi 98. Dimana waktu itu rakyat juga dijadikan tunggangan juga oleh kau borjuasi, \u00a0untuk menggulingkan Pemerintahan orde baru yang waktu itu dinilai otoriter dan feodal, namun itu bukan mengembalikan kedaulatan kepada rakyat, namun agar mereka bisa membangun sistem demokrasi borjuasi yang kurang lebih memiliki hakikat yang sama \u00a0dengan yang terjadi pada era revolusi prancis masa itu<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka sesudah memperoleh kekuasaan politik, maka para &#8220;reformis &#8211; reformis&#8221; itu menujukan apa yang disebut &#8220;demokrasi (borjuasi)&#8221; . Memang, rakyat diberikan hak pilih, hak bersuara, hak berdemokrasi, yang sebelumnya tidak pernah mereka punyai. Namun sebenarnya, mereka \u00a0(kaum buruh dan orang &#8211; orang miskin) yang menjadi mayoritas negeri ini, tidak pernah memiliki daya tawar terhadap calon &#8211; calon parlemennya. Karena apa? karena mereka telah terperangkap oleh pengaruh pikiran borjuis yang dikembangkan di sekolah-sekolah, media dan surat-surat kabar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalaupun ada calon parlemen yang benar &#8211; benar tulus memperjuangkan rakyat, maka sedikit sekali dari mereka yang bisa masuk ke senayan karena tidak adanya modal untuk mendanai media sebagai corong suara pergerakan mereka. Maka praktis hanya mereka yang mempunyai dana melimpahlah yang dapat masuk ke senayan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para wakil rakyat itu memegang jabatannya selama lima tahun sehingga akan ada <em>gap <\/em>yang sangat leba<em>r\u00a0<\/em>antara si pemilih. \u00a0Para wakil rakyat itu hanya akan menemui kita hanya saat kampanye pemilihan umum saja, dengan membayar massa, membagi-bagikan uang, musik dangdut dan kegiatan &#8211; kegiatan lain. Selain itu? Tidak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka sebenarnya, sadar atau tidak sadar rakyat telah menggadaikan kedaulatan miliknya kepada lembaga &#8211; lembaga yang bernama parlemen dan \u00a0eksekutif yang diduduki oleh orang &#8211; orang yang terhubung dengan <span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">para pemilik modal dan bankir, itulah &#8220;demokrasi resmi&#8221; yang kita kenal sekarang, demokrasi yang terbentuk karena dana.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika tidak begitu, maka harusnya visi dan misi para wakil rakyat yang diperjuangkan itu harusnya tentang bagaimana perbaikan ekonomi, sosial dan politik dan perlindungan rakyat dari arus besar modal &#8211; modal yang berasal dari luar negeri. \u00a0Hal ini bukanlah perubahan yang bisa dilakukan secara perlahan oleh eksekutif namun harusnya sebuah\u00a0\u00a0perubahan mendasar yang dikerjakan dengan cepat dan praktis bersama &#8211; sama para &#8220;wakil rakyat&#8221; yang terhomat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitulah, demokrasi yang sebenarnya di masa ini menjadi diktator dari borjuasi yang bersembunyi di belakang pers, dunia pendidikan . Sehingga kekuasaan politik dan ekonomis yang sesungguhnya bukanlah ditangan rakyat, namun \u00a0hanya disegelintir tangan kaum \u00a0borjuasi<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam masyarakat, di mana kekuasaan (birokrasi), kekayaan dan kebudayaan dipegang oleh kaum borjuis (bankir, pemilik pabrik, pedagang dengan para pembantunya profesor, pembesar Negara, Pangreh Praja, jurnalis, dsb). maka pemilihan umum itu cuma berarti memindahkan kekuasaan negara dari tangan 1 golongan kaum borjuis ke tangan golongan borjuis yg lain.<\/p>\n<p>Dengan perkakas pemerintah yang berupa birokrasi, dibantu oleh alat propaganda yang kuat, maka beberapa biji kaum kapitalis itu bisa memaksakan kemauannya atas seluruh Rakyat<\/p>\n<p>Dlm masyarakat kapitalis, demokrasi itu adalah kedok buat menutupi muka kediktatoran beberapa biji kapitalis atas seluruhnya rakyat.&#8221;<\/p>\n<p>(Tesis, Tan Malaka)<\/p><\/blockquote>\n<p>&#8212;<\/p>\n<p><em>Terinspirasi dari\u00a0<span style=\"color: #545454;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: bold; color: #545454;\">Tan Malaka<\/span> dalam bukunya Aksi Massa<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Entah mau bagaimana dunia mempercayai, namun saya meyakini, bahwa nenek moyang kita adalah bangsa dengan peradaban dan pengetahuan tinggi, entah itu dari sisi teknologi, politik atau sistem kenegaraan, namun \u00a0entah kenapa, setelah sekian dekade, &#8220;civilization&#8221; oleh belanda, kita menjadi menganggap remeh nenek moyang kita, dengan mempercayai bahwa mereka adalah primitif, tanpa kemauan mempelajari sejarah dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[11],"tags":[199,396,425],"jetpack-related-posts":[{"id":633,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=633","url_meta":{"origin":2312,"position":0},"title":"Pak Harto Yang Pro - Nuklir","date":"22 Agustus 2009","format":false,"excerpt":"Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir, jauh yang diperkirakan masyarakat- sebenarnya\u00a0 bukanlah barang baru di Indonesia. Ketika bangsa\u00a0 - bangsa di negara lain masih\u00a0 memperjuangkan kemerdekaan dan menata negerinya .\u00a0 Presiden pertama negeri ini Ir. Soekarno pernah mencita - citakan Indonesia sebagai\u00a0 negara nuklir (Baca : negara yang menggunakan tenaga nuklir\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Energi Nuklir\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":838,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=838","url_meta":{"origin":2312,"position":1},"title":"Berita Baik dari Indonesia","date":"3 Maret 2010","format":false,"excerpt":"Apa yang anda pikirkan dari Indonesia? Negeri yang penuh korupsi, bencana alam tiada henti, terorisme, gubug reyot di pinggir sungai dengan anak \u2013 anak kurang gizi dan busung lapar? Sehingga anda beranggapan bahwa mungkin tak ada sesuatu yang membuat anda bangga sebagai\u00a0 bangsa Indonesia. Semua berita entah media elektronik ataupun\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2010\/03\/image002.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":768,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=768","url_meta":{"origin":2312,"position":2},"title":"Sebuah Akselerasi..","date":"7 November 2009","format":false,"excerpt":"Tidak terasa begitu cepat\u00a0 detik demi detik berlalu, hari demi hari telah terlewati, tahun demi tahun telah berganti. Sekarang saya telah 3 bulan menjalani kuliah sebagai mahasiswa semester 5.\u00a0 Ujian Tengah Semester yang dijalani kali ini, - seperti biasa, dan sebagaimana wajarnya - cukup menguras energi, namun karena telah terbiasa,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/04\/sdc10676c.jpg?fit=1200%2C460&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2312"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2312"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2312\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2312"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2312"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2312"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}