{"id":2260,"date":"2014-03-26T15:07:14","date_gmt":"2014-03-26T15:07:14","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2260"},"modified":"2014-03-26T15:07:14","modified_gmt":"2014-03-26T15:07:14","slug":"menemukan-kembali-surga-yang-hilang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2260","title":{"rendered":"Menemukan Kembali Surga Yang Hilang"},"content":{"rendered":"<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Atlantis berada di kawasan tropis pada zaman es Pleistosen, berlimpah sumber daya alam, seperti timah, tembaga, seng, perak, emas, berbagai macam buah &#8211; buahan, padi, rempah &#8211; rempah, gajah raksasa, hutan dengan berbagai jenis pohon, sungai, danau dan saluran irigasi.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/IMG_20140326_215038.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2262\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2262\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/IMG_20140326_215038.jpg?fit=2448%2C3264&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"2448,3264\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;2.4&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;S890&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1395870638&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;3.5&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;124&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.00999&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;1&quot;}\" data-image-title=\"IMG_20140326_215038\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/IMG_20140326_215038.jpg?fit=225%2C300&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/IMG_20140326_215038.jpg?fit=708%2C944&amp;ssl=1\" class=\"alignleft  wp-image-2262\" alt=\"IMG_20140326_215038\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/IMG_20140326_215038.jpg?resize=254%2C338\" width=\"254\" height=\"338\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/IMG_20140326_215038.jpg?w=2448&amp;ssl=1 2448w, https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/IMG_20140326_215038.jpg?resize=225%2C300&amp;ssl=1 225w, https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/IMG_20140326_215038.jpg?resize=768%2C1024&amp;ssl=1 768w, https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/IMG_20140326_215038.jpg?w=1416 1416w, https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/IMG_20140326_215038.jpg?w=2124 2124w\" sizes=\"(max-width: 254px) 100vw, 254px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Demikianlah yang dikatakan Plato, seorang filsuf yunani, dalam karyanya <em>Citeas<\/em> dan <em>Critias<\/em>, menggambarkan\u00a0tentang bagaimana kondisi atlantis. Sebuah surga yang disebut -sebut sebagai kekaisaran terbesar dan menjadi sumber dan pusat peradaban dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belakangan, seorang profesor Brazil, Geolog sekaligus Fisikawan Nuklir, Prof Arysio Santos dalam bukunya &#8220;<strong>Atlantis: The Lost Continent Finnaly Found<\/strong>&#8221; ( yang saya dapatkan 2 tahun lalu ) mengungkapkan bahwa Indonesia-lah adalah lokasi dimana peradaban dunia tersebut \u00a0dulu berada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentu, hal ini berlawanan dengan &#8220;doktrin&#8221; <em>mainstream<\/em> yang dianut sebagai besar orang &#8211; orang bahwa asal muasal peradaban itu berasal dari barat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Santos mengungkapkan bahwa Atlantis ada waktu akhir zaman Es, dimana pada saat yang sama, di kawasan lain masih tertutup salju yang tidak memungkinkan daerah tersebut memiliki peradaban maju, dan\u00a0tidak ada tempat lain yang memungkinkan peradaban berkembang pada zaman Es terserbut selain pada daerah khatulistiwa<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Merujuk pada Plato yang mengatakan bahwa jumlah penduduk Atlantis adalah 200 juta. \u00a0jumlah yang besar, dan tidak mungkin ada tanpa teknik pertanian yang sangat maju. Lalu, Pada jaman es, daerah mana yang mungkin digunakan bercocok tanam selain daerah khatulistiwa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kondisi Geologis Indonesia<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Indonesia terletak di persimpangan 3 lempeng benua. menyebabkan tekanan sangat besar pada lapisan kulit bumi yang menyebabkan tekanan pada daratan tersebut ke atas.\u00a0Tekanan ini menyebabkan terjadinya banyak paparan-paparan yang luas seperti paparan sunda dan beberapa pegunungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seluruh wilayah ini sangat rentan terhadap gempa bumi dan letusan gunung api, hal ini \u00a0bisa dilihat dalam catatan geologis. Peristiwa Tsunami Aceh \u00a0di tahun 2004 dapat dijadikan sebagai contoh mutakhir, dimana air laut naik hingga ketinggian 10 meteran. Sedang apa yang terjadi di Atlantis, air lautnaik mencapai 130 meter hingga akhirnya dataran-daratan luas tersebut terendam sampai dengan sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pulau-pulau di Indonesia yang sangat banyak jumlahnya sebenarnya merupakan puncak-puncak gunung dan dataran-dataran tinggi sisa-sisa dari Atlantis, dataran rendah Benua tersebut\u00a0tenggelam pada akhir Zaman Es Pleistosen 11600 tahun yang lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam buku ini secara detail disebutkan bahwa akhir zaman es dipicu oleh meletusnya gunung krakatau yang mengakibatkan tsunami raksasa, hingga akhirnya menenggelamkan benua tersebut. Mencairnya es, di sekitar kutub juga dipicu oleh abu vulkanik gunung tersebut, yang kemudian berdampak pada pasangnya air laut<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cerita Semua Bangsa Kuno<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam bukunya Santos menceritakan kaitan budaya dari masing- masing bangsa kuni, Banyak bahasa manusia memperlihatkan jejak keterkaitan dengan bahasa-bahasa kuno india seperti <em>sansekerta<\/em> dan <em>dravida,<\/em> begitu juga tentang struktur abjad<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana mungkin banyak budaya di dunia menciptakan mitos, cerita, serta teknologi pertanian secara independen dalam waktu yang persis sama?. Selain itu Bangsa-bangsa kuno menggunakan istilah yang erat kaitannya dengan Atlantis: <em>Tala<\/em>, <em>Attala<\/em>, <em>Atala<\/em>, <em>Patala<\/em>, <em>Talatala<\/em>, <em>Thule<\/em>, <em>Tollan<\/em>, <em>Aztlan<\/em>. Semua kosakata dari berbagai bangsa tersebut mirip, dan memiliki arti yang hampir sama, yaitu daratan, benua mistis, ataupun surga yang hilang<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sepanjang waktu, semua bangsa meyakini keberadaan &#8216;surga primordial&#8217; ini sebagaimana diceritakan di dalam Rig Weda, Purana, Ramayana dan lain sebagainya. Semua menyatakan bahwa surga primordial ini berada di timur jauh, sebagian bangsa kuno lagi mengatakan sebagai barat jauh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun terlihat saling bertentangan, sebenarnya mereka menujuk pada tempat yang sama, dikarenakan bumi yang bulat. Ia adalah \u00a0sebuah tempat yang\u00a0disebut <em>Enoch<\/em> (dalam bahasa Dravida), atau juga<em> sveta-dvipa<\/em>, <em>sukhavati<\/em>, <em>Atala<\/em>. yang \u00a0berarti tanah suci.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangsa mesir kuno, menyebut daerah itu sebagai\u00a0&#8216;<em>Sekhet Aaru&#8217;<\/em> (padang alang-alang). Prof Santos, memperkirakan bahwa, alang-alang yang dimaksud adalah padi. Bangsa Mesir menamakan kampung halaman mereka <em>To-wer <\/em>yang berarti\u00a0tanah leluhur dimana nenek moyang mereka dulu tinggal yaitu di <em>Zep-Tepi<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi Mesir adalah tempat tinggal kedua bagi mereka. Sedangkan kampung halamannya bernama <em>Punt<\/em>, \u00a0yang berarti tanah para dewa, kampung mereka yang berada di sisi barat Samudera Hindia sebelum tempat itu tenggelam di bawah laut. Menurut Santos, <em>Punt<\/em>\u00a0terletak di Hindia Timur (indonesia). Benua tenggelam yg ada di Indonesia ini akhirnya disebut oleh bangsa mesir kuno sebagai &#8216;Tanah Kematian&#8217;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kisah Ramayana, menyebutnya dengan &#8216;<em>Kumari Kandam<\/em>&#8216; sebagai tanah kelahiran orang hindu Dravida, wilayah yang kemudian tenggelam. Kemudian, Suku Indian di Amerika menyebutnya sebagai <em>yuymaraney<\/em>. sebuah daerah leluhur\u00a0<span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">yang kemudian tenggelam dan memaksa mereka untuk menyelamatkan diri.\u00a0\u00a0Lagi &#8211; lagi kisah yang sama dengan peristiwa Atlantis<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Diaspora Bangsa Atlantis<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Prof. Santos menceritakan bahwa Koloni terbsar Atlantis\u00a0<\/span><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">didirikan di India. Sejumlah kecil orang yang selamat dari bencana letusan Gunung toba menjadikan india sebagai perlindungan. Tapi ketika kondisi daratan di Indonesia sudah cukup tenang, mereka kmbali membangun daratan indonesia ini yg kemudian tumbuh mengagumkan, namun\u00a0<\/span><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">kemudian muncul bencana baru, letusan gunung krakatau, yang kemudian menenggelamkan Atlantis Hingga sekarang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Kemudian mereka yang selamat, terpaksa menyebar ke seluruh dunia, untuk mendapatkan iklim yang baik untuk tinggal. <\/span><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Mereka inilah yang kemudian menyebarkan teknik bercocok tanam, budaya, seni, dan lain-lain kepada penduduk lokal<\/span><a dir=\"ltr\" style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\" href=\"https:\/\/twitter.com\/search?q=%23Atlantis&amp;src=hash\" rel=\"tag\" data-query-source=\"hashtag_click\" data-scribe=\"element:hashtag\"><br \/>\n<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Mengapa disembunyikan?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lantas mengapa para sarjana barat tidak menemukan lokasi Atlantis? Menurut Santos, itu\u00a0karena mereka mencarinya di barat, dan mereka tidak memperluas pencariannya ke timur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa juga tradisi dan cerita\u00a0tentang &#8216;surga bumi&#8217; \u00a0itu harus dianggap salah dan dianggap dongeng?\u00a0Meski Plato bersikeras bahwa dia tidak sedang mendongeng, dia berbicara yang sesungguhnya tentang Benua yang hilang itu. Atlantis juga telah\u00a0diceritakan oleh semua bangsa kuno yang ada di dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentu kemudian ada kecurigaan : Bahwa barat memang sengaja dengan cara-cara sistematis sekaligus laten untuk tidak mengungkapkan kebenaran ini kpd dunia. Karena jika begitu, maka mereka harus mengakui bahwa peradaban itu berasal dr Timur, bukan dari barat seperti yang mereka klaim selama ini<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Atlantis berada di kawasan tropis pada zaman es Pleistosen, berlimpah sumber daya alam, seperti timah, tembaga, seng, perak, emas, berbagai macam buah &#8211; buahan, padi, rempah &#8211; rempah, gajah raksasa, hutan dengan berbagai jenis pohon, sungai, danau dan saluran irigasi. Demikianlah yang dikatakan Plato, seorang filsuf yunani, dalam karyanya Citeas dan Critias, menggambarkan\u00a0tentang bagaimana kondisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2262,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[9],"tags":[45,199],"jetpack-related-posts":[{"id":727,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=727","url_meta":{"origin":2260,"position":0},"title":"Radioaktivitas - Sinar Gamma","date":"20 Oktober 2009","format":false,"excerpt":"Setelah tertunda sekian lama, saya ingin melanjutkan kembali serial tulisan saya tentang radioaktivitas, kali ini adalah Sinar Gamma. Sinar Gamma begitu istimewa dibandingkan dengan sinar\/partikel radioaktif lainnya dikarenakan dia tidak memiliki massa dan muatan. Sinar Gamma memiliki panjang gelombang yang paling kecil dan energi terbesar dibandingkan spektrum gelombang elektromagentik yang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Energi Nuklir\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":2054,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2054","url_meta":{"origin":2260,"position":1},"title":"Kapitalisasi Ibadah","date":"21 Agustus 2013","format":false,"excerpt":"Dunia sebagai Metode atau Tujuan? Menurut budaya dan sikap perilaku manusia berserta tata sistem yang dimiliki, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan. Seluruh aktivitas manusia dilaksanakan dengan membuat sebuah asumsi bahwa dunia adalah final dan segala - galanya. \u00a0Mulai dari orang lahir, bersekolah, bekerja hingga berkarir tujuannya adalah mengejar\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":1558,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1558","url_meta":{"origin":2260,"position":2},"title":"Edison: \"Memandang Positif Segala Hal\"","date":"9 Mei 2008","format":false,"excerpt":"\u201cJenius adalah 1 persen ide cemerlang dan 99 persen kerja keras\u201d Thomas Alva Edison, seorang penemu terbesar di dunia, menemukan sekitar 3000 penemuan dan 1.093 diantaranya telah dipatenkan. Edison dilahirkan pada tanggal 11 Februari 1847 di Milan, Ohio, Amerika Serikat dari pasangan suami-Istri Samuel Ogden seorang tukang kayu dan Nancy\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Fisika\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2260"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2260"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2260\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2262"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}