{"id":2216,"date":"2014-03-16T13:48:39","date_gmt":"2014-03-16T13:48:39","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2216"},"modified":"2014-03-16T13:48:39","modified_gmt":"2014-03-16T13:48:39","slug":"membunuh-pelan-pelan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2216","title":{"rendered":"Membunuh Pelan &#8211; Pelan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/SuhartotundukIMF.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"2242\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=2242\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/SuhartotundukIMF.jpg?fit=320%2C236&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"320,236\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"SuhartotundukIMF\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/SuhartotundukIMF.jpg?fit=300%2C221&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/SuhartotundukIMF.jpg?fit=320%2C236&amp;ssl=1\" class=\" wp-image-2242 alignleft\" alt=\"SuhartotundukIMF\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/SuhartotundukIMF.jpg?resize=256%2C189\" width=\"256\" height=\"189\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/SuhartotundukIMF.jpg?w=320&amp;ssl=1 320w, https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2014\/03\/SuhartotundukIMF.jpg?resize=300%2C221&amp;ssl=1 300w\" sizes=\"(max-width: 256px) 100vw, 256px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Yang saya tuliskan ini bukanlah dongeng ataupun kisah film. Semua ini benar &#8211; benar sungguh terjadi. Tapi sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya \u00a0menyarankan anda untuk tidak melanjutkan membaca tulisan ini, jika anda merasa sudah tahu banyak, dan tidak sebegitu perduli bahwa selalu tentang kemungkinan bahwa yang \u00a0kita ketahui ternyata keliru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tapi bagaimanapun, anda tetap tidak berkewajiban mempercayai tulisan ini, yang perlu anda lakukan adalah menyelidikinya sendiri, mengambil data &#8211; datanya sendiri, lalu kemudian menganalisisnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peristiwa pembunuhan \u00a0terencana terencana itu bermula di tahun 1997, ketika Goerge Soros melakukan spekulasi terhadap Bath Thailand, mengawali krisis moneter yang \u00a0di negeri gajah putih tersebut. Bagaikan penyakit menular, krisis tersebut &#8216;membakar&#8217; ke \u00a0berbagai negara-negara di asia tenggara &#8211; hingga bahkan asia timur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, dibanding negara-negara lainnya, Indonesia mengalami akibat yang paling parah, rupiah \u00a0terderpresiasi hingga 329,5% lebih. Hal tersebut yang kemudian \u00a0memaksa Presiden Soeharto di tahun 1998 meminta bantuan IMF, dalam menghindari krisis yang lebih parah lagi. Bos IMF,\u00a0Michaels Camdessus bersedekap di belakang Presiden Soeharto sambil tersenyum\u00a0ketika\u00a0Letter of Intent (LoI) ditandatangani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepada\u00a0The New York Times, \u00a0Camdessus \u00a0mengakui bahwa IMF berada di balik krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda Indonesia<\/p>\n<blockquote><p>&#8220;Kami menciptakan kondisi krisis yang memaksa Presiden Soeharto turun,&#8221;<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu mengapa IMF susah &#8211; susah menjatuhkan Presiden Soeharto? Ini tidak lain karena,\u00a0\u00a0masuknya IMF ke Indonesia adalah kunci pembuka bagi terbukanya gudang harta terpendam, yakni pasar Indonesia yang luar biasa dahsyat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">LOI itulah yang merupakan embrio dari amandemen UUD 1945 dan ratusan UU, yang bukannya memperbaiki kondisi negara, malah \u00a0mengantarkan Republik Indonesia semakin masuk ke dalam cengkraman erat kapitalis asing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka, sekarang bisa disaksikan setelah IMF menjadi &#8220;dokter&#8221; perekonomian Indonesia, perusahaan asing begitu leluasa berbisnis di negeri ini. Di setiap sudut &#8211; sudut kota, \u00a0begitu banyak kantor cabang bank asing, restoran asing, perusahaan multinasional dan komoditas -komoditas asing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal inipun tidak terlepas dari peran DPR yang \u00a0telah menerima gelontoran dana asing &#8216;tak terbatas&#8217; memberikan regulasi &#8211; regulasi yang menghamba terhadap kepentingan asing di Indonesia. \u00a0Setidaknya \u00a0ada 170 undang-undang yang dilahirkan DPR sejak era reformasi merupakan pro asing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Komoditas Asing<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini Silahkan kita tengok komoditas yang ada kiri kanan kita. Ketika meminum Air mineral, maka ingatlah Aqua, yang telah diakuisisi Danone &#8211; sebuah perusahaan multinasional prancis &#8211; pada tahun 1998. Danone di tahun 2007 juga mengakuisisi Sari Husada dan Nutricia, produsen Susu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Ketika pagi dan ingin meminum teh hangat, maka ingatlah teh Sariwangi yang telah diakuisisi oleh Unilever, begitupun ketika kita berada di dapur, maka lihat, dan daftarilah komoditas-komoditas yang ada di rak &#8211; rak dapur, mulai dari Kecap Bango, \u00a0Blue Band, Royco, Taro, Buavita, Gogo\u00a0yang semuanya adalah produk Unilever. \u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kecap ABC ataupun sirup ABC \u00a0juga telah dibeli oleh HJ Heinz, sebuah perusahaan multinasional asal AS. Ah, Jangankan didapur,\u00a0<span style=\"line-height: 1.5em;\">bahkan di kamar mandi, anda tidak bisa melepaskan diri produk-produk yang telah menjadi milik asing seperti\u00a0Pepsodent, Lux, Sunsilk.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bank Nasional Asing<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\">Ketika anda ingin menabung, maka lihatlah Bank International Indonesia (BII) yang 97,5 persen sahamnya dimiliki Maybank, bank terbesar dari Malaysia. Bank Niaga yang berubah nama jadi Bank CIMB Niaga, 97,9 persen sahamnya adalah milik CIMB Group, bank terbesar kedua Malaysia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bank Ekonomi, 98,94 persen sahamnya dimiliki HSBC Holdings Plc, bank terbesar ketiga dunia yang bermarkas di London. Bank NISP, yang berubah nama menjadi OCBC NISP, 85,06 persen sahamnya milik OCBC Bank, bank terbesar kedua Singapura<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak mau ketinggalan, Standard Chartered Bank \u00a0juga telah membeli 44,5 persen saham Bank Permata. Begitupun dengan United Overseas Bank yang telah menguasai 98,99 persen saham Bank UOB Indonesia. Terakhir, bank terbesar di Timur Tengah, Qatar National Bank (QNB) Group telah menguasai 69,59 persen saham Bank QNB Kesawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang saya tuliskan hanya sekedar beberapa contoh, dari sekian banyak contoh yang bisa anda daftar yang terjadi. Hal ini belum termasuk\u00a0<span style=\"line-height: 1.5em;\">perdagangan bebas ASEAN yang sebentar lagi diberlakukan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"line-height: 1.5em;\"> \u00a0Indonesia yang memiliki jumlah penduduk yang besar memang merupakan pasar yang menggiurkan, maka sekarang, kendali perputaran uang triliunan rupiah milik anak bangsa sedang diambil alih dan dilarikan ke luar negeri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diam-diam, Indonesia sedang dibunuh diam &#8211; diam. Lantas apakah kita bisa diam?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yang saya tuliskan ini bukanlah dongeng ataupun kisah film. Semua ini benar &#8211; benar sungguh terjadi. Tapi sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya \u00a0menyarankan anda untuk tidak melanjutkan membaca tulisan ini, jika anda merasa sudah tahu banyak, dan tidak sebegitu perduli bahwa selalu tentang kemungkinan bahwa yang \u00a0kita ketahui ternyata keliru. Tapi bagaimanapun, anda tetap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"jetpack-related-posts":[{"id":889,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=889","url_meta":{"origin":2216,"position":0},"title":"Konsep Sensor Warna - 1","date":"18 Mei 2010","format":false,"excerpt":"Enam bulan terakhir saya jarang mengupdate blog saya ini, maklum\u00a0 :) kesibukan saya 6 bulan terakhir yang menekuni ilmu (halah..menekuni :mrgreen: ) robot membuat saya benar \u2013 benar tidak punya waktu dan menghancurkan rutinitas saya yang lama telah tertata. Untuk menebus kesalahan kepada blog ini (halah.. :mrgreen: ) mungkin ada\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Elektronika dan Robotik\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/ruangtedy.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2010\/05\/sensors_color_distance.gif?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":1555,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1555","url_meta":{"origin":2216,"position":1},"title":"Mahasiswa = Pembajak","date":"7 April 2008","format":false,"excerpt":"Saya memulai tulisan saya dengan judul yang mungkin agak sedikit kontroversial. Mahasiswa = Pembajak. Yah mungkin itulah judul yang paling cocok untuk tulisan saya ini. Tulisan ini semata - mata tidak ditujukan untuk memojokkan, menyudutkan atau bahkan menghakimi. Karena saya bukan hakim, ataupun jaksa. :mrgreen: Sayapun juga seorang Mahasiswa yang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":24,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=24","url_meta":{"origin":2216,"position":2},"title":"Saya Adalah Produk Orba (Tanggapan terhadap Pak Harto adalah Pahlawan Bukan Pecundang)","date":"13 Januari 2008","format":false,"excerpt":"Setelah membaca sebuah tulisan dari seorang blogger yang berjudul Pak Harto adalah Pahlawan Bukan Pecundang . Sayapun ingin menuliskan pendapat saya tentang tulisan tersebut dan mengemukakan pendapat saya di blog ini. Mungkin pandangan saya kurang tepat dan tiap - tiap orang berhak memberikan penilaiannya terhadap saya, toh ini negara demokrasi,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2216"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2216"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2216\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2216"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2216"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2216"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}