{"id":2120,"date":"2013-10-15T07:35:36","date_gmt":"2013-10-15T07:35:36","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2120"},"modified":"2013-10-15T07:35:36","modified_gmt":"2013-10-15T07:35:36","slug":"takbir-kita-takbir-kemunafikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2120","title":{"rendered":"Takbir kita, Takbir Kemunafikan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Malam takbir selalu membawa kesan yang begitu mendalam di hati dan pikiran semua orang. Beberapa orang perantauan akan ingat terhadap kampung halamannya. Dan jika hidup ini memang sebuah perjalan, tentu bagi para pejalan, mereka akan merindukan kampung halamannya yang lebih jauh lagi, lebih sejati lagi. Sebagaimana orang mukmin sering ucapkan<\/p>\n<blockquote><p>&#8220;Innalillahi wa innailaihi rajiun&#8221;<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap yang dari Allah akan kembali ke Allah. Kita dari Allah, melakukan perjalanan dalam hidup ini, tidak memiliki tujuan apa &#8211; apa selain kembali lagi kepada Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" title=\"More...\" alt=\"\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-includes\/js\/tinymce\/plugins\/wordpress\/img\/trans.gif?w=708\" data-recalc-dims=\"1\" \/><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika suara takbir bergema memenuhi langit, dan merasuk ke sunsum sadar kita, akan hadir perasaan rindu, kerinduan ini bisa jadi kepada kampung halaman, bisa jadi kerinduan terhadap yang lebih jauh lagi, kerinduan kita kepada asal kita yang lebih hakiki, kepada Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sudahkah kita bertakbir?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manusia hidup tidak boleh sekedar mengucapkan kata, \u00a0kita hanya boleh mengucapkan apa yang kita jalani, apa yang benar &#8211; benar kita pikirkan dan \u00a0apa yang benar &#8211; benar kita perbuat. Tuhan memerintahkanmu untuk bertakbir, dan tidak sekedar mengucap kalimat takbir. Mengucapkan kalimat takbir tidak dibutuhkan kesadaran apapun, mereka yang baru beranjak umur 5 tahunpun dapat melakukannya dengan lancar, tapi untuk bertakbir, itu dibutuhkan kesadaran yang lain sama sekali.<\/p>\n<blockquote><p><em>Allahu akbar Allahu Akbar, Allahu Akbar!<\/em><\/p>\n<p>Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar!<\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Allahu Akbar<\/em>, hanya Allah-lah yang besar, sedangkan diriku dan dirimu, dan semua selain Allah tidaklah besar. Lalu mengapa dalam hidup ini, justru di setiap hari, segala sesuatu selain Allah -lah yang malah selalu memenuhi hatimu? Bahkan malah semua ini kemudian membesar dan membesar hingga menghalangi pandanganmu kepada Allah yang harusnya kita akbar-kan? Benarkah kita sudah sungguh &#8211; sungguh bertakbir?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika kita mengucapkan takbir, mestinya kita sudah mengecilkan dalam hati ini segala urusan tetek bengek, jual beli, rumah tangga, dagang, serta segala urusan lain bahkan eksistensi dirimu sendiri. Sehingga tersisa satu &#8211; satunya Allah Yang benar &#8211; benar Akbar. Maka, harusnya kita perbanyak berighstifar, kala kita mengucapkan takbir \u00a0sementara hati dan pikiran kita tidak melaksanakannya. Karena kita hanya mengucapkan kata &#8211; kata kosong, karena\u00a0kita telah &#8216;menipu&#8217; Tuhan. Kita berbohong kepada-Nya, kita sungguh jauh dari takbir yang kita ucapkan. Takbir kita tidak lebih dari takbir kemunafikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di pasar, di jalan &#8211; jalan, di toko &#8211; toko, di kantor &#8211; kantor, siaran televisi, sekolah, hingga universitas, kita akan banyak menemukan, apakah benar semuanya ada dalam rangka mentakbirkan Tuhan, ataukah mereka hanya membesarkan diri mereka sendiri, kepentingan mereka, eksistensi mereka, kekuasaan mereka, kerakusan mereka, dan dengan itu mereka rela menginjak-injak sebagian yang lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pernahkah kita belajar tentang bagaimana takbir yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. ketika diperintahkan Allah untuk menyembelih Ismail anak kesayangannya. Kita harus memiliki kearifan, bahwa Allah &#8216;mengajari&#8217; kepada Ibrahim (dan Juga ismail) bahwa yang harus disembelih sejatinya adalah &#8220;hawa nafsu&#8221; yang membuat hati mereka mencintai segala sesuatu selain Allah, sehingga kemudian mereka benar &#8211; benar sabar dan berserah diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Malam takbir, adalah malam dimana kita harusnya menangis sejadi-jadinya, karena yang kita ucapkan tidak lebih dari kemunafikan, karena sebenarnya yang kita ucapkan tidak lebih dari pura-pura dan omong kosong. Semua yang ada hanya berusaha menjauhkan kita kepada Muasal. Sehingga untuk kembali mendekat kita tidak punya pilihan lain selain berqurban sebagaimana yang dilakukan Ibrahim a.s. Sebagaimana qurban sendiri yang berarti &#8220;mendekat&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka untuk dapat mendekat tidak ada jalan lain selain &#8220;menyembelih&#8221; segala apa yang &#8220;menghalangi&#8221; pandangan dari Kemahabesaran Allah. \u00a0Semoga Qurban yang kita lakukan sebagai upaya pendekatan diri kita kepada Tuhan mampu membuat kitamenjalani hidup dengan Allah satu &#8211; satunya yang Akbar dalam hati, pikiran dan perbuatannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malam takbir selalu membawa kesan yang begitu mendalam di hati dan pikiran semua orang. Beberapa orang perantauan akan ingat terhadap kampung halamannya. Dan jika hidup ini memang sebuah perjalan, tentu bagi para pejalan, mereka akan merindukan kampung halamannya yang lebih jauh lagi, lebih sejati lagi. Sebagaimana orang mukmin sering ucapkan &#8220;Innalillahi wa innailaihi rajiun&#8221; Setiap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"jetpack-related-posts":[{"id":3303,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3303","url_meta":{"origin":2120,"position":0},"title":"Kemenangan dalam Idul Fitri","date":"17 Juli 2015","format":false,"excerpt":"Tulisan ini saya buat, di kampung halaman saya, Kediri, \u00a0pada pagi dini hari 1 syawal di tahun 1436 Hijriah, atau 2015 menurut perhitungan kalender Masehi. Suara takbir menggema memenuhi udara pagi ini, haru \u00a0bercampur syahdu. Keharuan yang memuat kesedihan, sekaligus kegembiraan, yang entah bagaimana sulit untuk saya tuliskan. Takbir yang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/ilustrasi_101122120315.jpg?fit=360%2C260&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3950,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3950","url_meta":{"origin":2120,"position":1},"title":"Semua Akan Kembali ke Tempat Dia Berasal","date":"5 Desember 2017","format":false,"excerpt":"Postingan ini ditulis di hari kedua saya mudik di kampung halaman. Ya, Kediri. ini adalah kali kesekian saya kembali pulang ke sebuah kota kecil, tempat\u00a0dimana saya dulu dilahirkan.\u00a0Mumpung hari jumat libur dan\u00a0long weekend, maka saya telah menyiapkan jauh - jauh hari membeli tiket pergi - pulang Jakarta - kediri. Perjalanan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3978,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3978","url_meta":{"origin":2120,"position":2},"title":"Tinggalkan Negerimu dan Hidup Asing","date":"25 Desember 2017","format":false,"excerpt":"Akhir pekan ini adalah akhir pekan yang panjang, mulai dari sabtu hingga selasa, adalah hari libur,\u00a0 praktis Jakarta akan menjadi sepi dikarenakan mulai ditinggal penduduknya untuk berwisata ataupun pulang ke kampung\u00a0 halaman. Bagaimana dengan saya dengan libur panjang ini? Tidak kemana - mana? Ya, tidak kemana - mana. Tidak ada\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2120"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2120"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2120\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2120"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2120"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2120"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}