{"id":2064,"date":"2013-08-23T07:00:39","date_gmt":"2013-08-23T07:00:39","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=2064"},"modified":"2013-08-23T07:00:39","modified_gmt":"2013-08-23T07:00:39","slug":"merdeka-dan-berdaulat-dalam-puasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2064","title":{"rendered":"Merdeka dan Berdaulat Dalam Puasa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Puasa itu UntukKu<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika Allah mengungkapkan &#8220;Puasa itu untukKu&#8221;, kita harusnya memahami dengan arif, bahwa itu bukan berarti Allah membutuhkan puasa kita, Allah terlalu Akbar untuk membutuhkan ibadah manusia. Kita tahu segala sesuatu ibadah itu adalah untuk Allah, \u00a0Dan segala sesuatu yang untuk Allah, sebenarnya adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Bulan Ramadhan memang telah berlalu, namun bagi saya pribadi, saya tidak bisa menemui bulan yang lain selain bulan Ramadhan, bahwa bulan syawal itu adalah Ramadhan yang lebih meningkat, dimana manusia harusnya meningkatkan puasanya dari sekedar tidak makan minum menjadi puasa &#8211; puasa yang lebih khusus dan kontekstual nilainya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap kita berpuasa, maka setiap itu pula kau temui &#8220;Idul Fitri&#8221;-mu. Idul fitri bermakna kembali suci, yang diibaratkan adalah kembali sebagaimana halnya bayi yang baru lahir. Puasa, &#8211; meminjam terminologi yang digunakan Muhammad Ainun Nadjib adalah metode untuk menuju &#8220;Makan yang sejati&#8221;, maksudnya adalah puasa akan mengantarkan pelakunya untuk meninggalkan segala sesuatu ketergantungan kepada yang bukan Allah, sehingga ketika dia makan dan minum saat maghrib tiba itu bukan atas dorongan nafsunya, namun karena mematuhi apa yang menjadi perintah Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Puasa Menuju Makan Yang Sejati<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Makan yang sejati adalah makan untuk kebutuhan biologis tubuh, bukan untuk melayani nafsu, makan untuk kebutuhan biologis tubuh hukumnya adalah wajib, namun makan untuk kebutuhan biologis bersifat terbatas, karena itulah Rasulullah mengajari kita untuk berhenti makan sebelum kenyang, maksudnya adalah kita diajari untuk mengenali batas dari keperluan biologis tubuh kita. Atau dengan istilah yang lebih sederhana \u00a0puasa adalah Bagaimana kita bisa memamahi batas kebutuhan kita, sehingga kita jeli bisa membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan nafsu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Jadi, ketika engkau berpuasa, maka engkau akan kembali fitri, maksudnya engkau akan suci dari kepentingan nafsumu, seperti halnya bayi yang baru lahir, ia merdeka dari segala kepentingan. Bayi menangis meminta makan hanya tatkala ketika ia lapar. Bayi menangis meminta minum hanya ketika haus. Bayi \u00a0hanya melakukan sesuatu yang menjadi fitrahnya sebagai seorang bayi. Bayi hanya mengerjakan apa yang menjadi kebutuhan dari dalam dirinya bukan atas kepentingan luar maupun kepentingan nafsunya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika kita tarik konteksnya kepada kehidupan sosial budaya yang ada di sekitar kita. \u00a0Benarkah kita merdeka, sebagai manusia, sebagai rakyat, ataupun sebagai bangsa, jika budaya dan pembangunan kita mengacu pada \u00a0&#8220;pelampiasan&#8221; atas nafsu dan bukannya malah berpuasa? Selama kita tidak mampu berpuasa dalam pengertian kontekstual, selama itu pula kita akan dibodoh-bodohi dan dipermainkan, karena yang menjadi ketergantungan kita bukan lagi Allah, tapi sumber &#8211; sumber pelayanan nafsu tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya ambil contoh bagaimana spekulan bisa dengan bebasnya memainkan harga daging, harga bawang putih, harga cabe dan kebutuhan pokok lainnya. Di satu sisi ini disebabkan karena kita tidak punya kedaulatan yang penuh terhadap pangan kita, namu di sisi lain, kita sebagai rakyat tidak memiliki budaya untuk berpuasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Ibrahim Bin Adham, seorang tokoh sufi yang hidup dari tahun 718H \u2013 \u00a0782H\u00a0 pernah didatangi oleh seorang yang mengeluhkan harga daging yang terus naik. Mendengar ini, Ibrahim Bin Adham menjawabnya :\u00a0<\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">\u201cjadikan barang itu murah dengan \u201ctidak usah membelinya\u201d bila kamu tidak membelinya maka barang tersebut tidak akan mahal\u201d. \u00a0<\/span><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Atau dengan bahasa lain, jika harga daging naik, maka harusnya kita punya ketangguhan mental untuk berpuasa dari mengkonsumsi daging, sehingga dengan itu, \u00a0jumlah permintaan akan menurun, maka sesuai hukum ekonomi, ketika permintaan menurun, harga daging akan kembali normal. \u00a0Spekulan juga tidak akan lagi berani mempermainkan harga karena ketika harga mahal, barang yang dijualnya \u00a0tidak akan laku.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\">Bayangkan bagaimana kuatnya petani kita jika mereka memiliki budaya berpuasa, ketika spekulan pupuk memainkan harga pupuk, maka seluruh petani \u00a0bisa <em>kompak<\/em> untuk berpuasa tidak menggunakan pupuk dan mencari alternatif selain pupuk. Memang, mungkin hasil panennya waktu itu tidak akan sebaik ketika menggunakan pupuk, -dan di sinilah letak puasanya- namun jika ini dilakukan secara konsisten, setidaknya 3 kali masa tanam, maka saya punya keyakinan harga pupuk tidak akan lagi bisa dipermainkan oleh para spekulan. Karena mereka akan berpikir ribuan kali sebelum memainkan harga.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Berdaulat dan Merdeka Dalam Puasa<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nah, mengapa kita tidak memiliki ketangguhan mental seperti ini? Karena budaya yang kita cerna adalah budaya pelampiasan bukannya berpuasa. Bagaimana dengan sistematisnya kita diseret secara kultur untuk membeli barang yang bukan atau setidaknya belum merupakan kebutuhan yang berasal dari dalam diri kita. \u00a0Kita diiming-imingi oleh segala hal yang berada di depan mata kita, aneka macam segala benda &#8211; benda mewah yang sebenarnya tidak kita perlukan. Dan ketika keinginan itu <em>jomplang<\/em> dengan realitas pendapatan kita, maka manusia akan didorong untuk melakukan segala hal, termasuk segala yang dilarang seperti mencuri, korupsi atau yang paling halal adalah berhutang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika manusia terjebak hutang, maka bagaimana mungkin mereka bisa merdeka? Ketika para petani terjerat hutang, maka bagaimana dia bisa bebas menentukan pilihan. Ketika negara ini terjebak hutang, maka bagaimana mungkin mereka bisa berdaulat?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka strategi &#8216;musuh&#8217; yang paling jitu untuk membuat manusia terjajah adalah bagaimana caranya agar mereka bisa diseret menjadi seorang yang materialistis dan hedonis, sehingga budaya yang dikenyamnya adalah budaya pelampiasan. Dengan budaya pelampiasan, maka hakikatnya mereka bukan lagi merdeka tapi sudah terjajah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Itulah mengapa dengan CintaNya, Tuhan mengajari manusia untuk berpuasa. Mengulang tulisan saya diawal &#8211;Puasa memang untuk Allah, tapi segala sesuatu yang untuk Allah adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri, karena manusia itu khalifah di muka bumi, dan bagaimana mungkin manusia bisa menjadi khalifah jika tidak merdeka? dan bagaimana manusia bisa merdeka jika budayanya adalah pelampiasan dan bukannya berpuasa?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puasa itu UntukKu Ketika Allah mengungkapkan &#8220;Puasa itu untukKu&#8221;, kita harusnya memahami dengan arif, bahwa itu bukan berarti Allah membutuhkan puasa kita, Allah terlalu Akbar untuk membutuhkan ibadah manusia. Kita tahu segala sesuatu ibadah itu adalah untuk Allah, \u00a0Dan segala sesuatu yang untuk Allah, sebenarnya adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri. Bulan Ramadhan memang telah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"jetpack-related-posts":[{"id":2037,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2037","url_meta":{"origin":2064,"position":0},"title":"Ramadhan Tak Berakhir, Karena Hadirnya Sepanjang Zaman","date":"7 Agustus 2013","format":false,"excerpt":"\u201cDi malam terakhir Ramadhan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan para malaikat, karena akan berlalunya Ramadhan, dan juga keistimewaannya.\u201d Demikian sebuah hadist Rasulullah Muhammad s.a.w tentang akhir bulan ramadhan. Para malaikat bersedih akan berlalunya Ramadhan, kita yang manusia biasa \u00a0-- bisa jadi ada yang bersedih, ada juga\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":1988,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1988","url_meta":{"origin":2064,"position":1},"title":"Puasa, Tiket Cinta Illahi","date":"20 Juni 2013","format":false,"excerpt":"Tulisan ini saya buat karena nyicil, sebagai bahan perenungan kita bersama, karena sebentar lagi bulan Ramadhan. Meskipun sebenarnya puasa tidak hanya sebatas ramadhan. Puasa bukan hanya sebatas ibadah ritual formal yang berupa tidak makan dan minum dari shubuh hingga maghrib. Tulisan saya ini sifatnya perenungan, dan subjektif. Sedangkan tentang kebenarannya\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3737,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3737","url_meta":{"origin":2064,"position":2},"title":"Kini, (Semoga) Ramadhan Memasuki Kita","date":"25 Juni 2017","format":false,"excerpt":"Takbir berkumandang bersahutan memenuhi langit malam ini. Sebagai tanda masuknya bulan syawal. Dan berakhirnya Bulan Ramadhan. Orang - orang berpawai, berkendaraan, tumpah ruah di jalanan, merayakan sebuah kemenangan. Sementara saya masih menyepi di kamar sendiri, merenungi, tentang \u00a0satu bulan puasa yang telah dilakoni. Apakah saya termasuk golongan orang - orang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/1600992809.jpg?fit=750%2C500&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2064"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2064"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2064\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}