{"id":1964,"date":"2013-06-15T03:43:03","date_gmt":"2013-06-15T03:43:03","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=1964"},"modified":"2013-06-15T03:43:03","modified_gmt":"2013-06-15T03:43:03","slug":"sholat-sepanjang-waktu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1964","title":{"rendered":"Sholat Sepanjang Waktu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2013\/06\/images-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"1943\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=1943\" data-orig-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2013\/06\/images-1.jpg?fit=299%2C169&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"299,169\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"images (1)\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2013\/06\/images-1.jpg?fit=299%2C169&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2013\/06\/images-1.jpg?fit=299%2C169&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-full wp-image-1943\" alt=\"images (1)\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2013\/06\/images-1.jpg?resize=299%2C169\" width=\"299\" height=\"169\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Tulisan saya ini menyambung <a title=\"Masjid Seluas Langit dan Bumi\" href=\"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=1941\">tulisan saya sebelumnya tentang sholat<\/a>, karena meskipun peringatan\u00a0<em>isra&#8217; miraj<\/em> telah lewat, <em>toh<\/em> <em>ga<\/em> ada salahnya jika kita berusaha mengilmui dan memaknai rahasia dari setiap perintah Tuhan kepada kita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya berpikir, \u00a0sepenting apakah ibadah sholat jika dibandingkan dengan ibadah yang lain, sehingga Tuhan merasa berkepentingan \u00a0menyampaikan langsung perintah ini lewat peristiwa <em>isra&#8217; miraj<\/em>?<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0&#8220;Mahasuci Allah yg memperjalankan hamba-Nya&#8230; &#8221; (QS. Al-Isra&#8217;:1)<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam peristiwa <em>isra&#8217; miraj<\/em> yang merupakan awal turunnya perintah sholat, Allah menyebut Muhammad s.a.w sebagai &#8216;<em>abd<\/em>&#8216; (hamba) bukan dengan panggilan lain. Hal ini mungkin dikarenakan peristiwa\u00a0&#8216;<em>Isra miraj<\/em>&#8216; hanya bisa terjadi ketika seseorang telah melalui suatu penghambaan secara total dan keluar dari sifat-sifat kemanusiaan. Sehingga Allah memanggil dan mengakuinya dengan sebutan <em>abd<\/em>, bukan yang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun ayat tersebut turun menjelaskan kondisi <em>rasulullah<\/em>, sebenarnya ayat itupun juga bisa berlaku bagi umatnya. Karena, kondisi &#8220;diperjalankan&#8221; tentu tidak sebatas yang dialami <em>rasulullah<\/em> saja, umatnya juga bisa &#8220;diperjalankan&#8221; sesuai potensi dan kondisi ruhani mereka. Dan sholat, mengkondisikan manusia, untuk mencapai potensi dan kondisi demikian, sebagaimana hadist Nabi<span style=\"font-size: 1em; line-height: 1.5em;\"><br \/>\n<\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sholat, Allah mengangkat segala tabir dan membuka gerbang tak kasatmata, sehingga hamba-Nya berdiri langsung di hadapanNya. Orang yang menjalankan sholat menciptakan hubungan \u00a0rahasia antara dirinya dan Tuhan yang disembahnya. Sholat adalah pintu menuju realitas Allah.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sujud<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kita mengenal seseorang dari wajahnya, bukan dari bentuk fisik yang lain, namun tatkala\u00a0sujud, wajah yang selama ini diagung-agungkan menjadi supremasi identitas manusia, digerakkan bersungkur mencium tanah di hadapan Tuhan, sehingga kita tidak akan lagi melihat wajah dia, identitas dia siapa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apapun yang dia lakukan dalam hidupnya, entah itu perbuatan baik atau apapun tidak ditujukan agar dirinya &#8216;dilihat&#8217; dan populer dihadapan manusia, namun untuk membesarkan nama Allah.\u00a0\u00a0Jika dia mempunyai jasa, biarlah saja jasa itu dinikmati lingkungannya, namun, masyarakat yang menikmatinya &#8211; kalau bisa tidak perlu mengetahui siapa hakikat dirinya yang berjasa itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan ketika dia bangun dari tempat sujudnya, maka diucaplah takbir sekali lagi, &#8220;<em>Allahu Akbar<\/em>&#8220;, ketika wajahnya ditampakkan, itu bukanlah atas inisiatif atau keinginannya sendiri, bukan atas keinginan untuk populer atau disanjung banyak orang, namun dikarenakan Allah yang Maha Besar yang memerintahkan demikian. Karena wajah yang nampak kala itu, bukanlah wajah dirinya pribadi, atau egonya sendiri, namun wajah seorang <em>abd<\/em>, wajah seorang hamba Allah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitulah harusnya ibadah, dimana ibadah menjadikan manusia sebagai &#8216;<em>abd<\/em>&#8216;, larut dalam kemahabesaran Allah, sehingga bukan lagi, diri pribadi yang tampil, namun biarlah Allah yang tampil sebagai satu &#8211; satunya eksistensi yang ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika sudah begitu, maka bagaimana mungkin manusia bisa penuh percaya diri mengeksiskan dirinya sendiri, mengkultuskan dirinya sendiri dan kemudian atas inisiatifnya memajang fotonya di pohon &#8211; pohon, tiang listrik hingga baliho dengan ukuran &#8211; ukuran besar. Padahal Rasulullah, seorang manusia mutiara, tidak ingin dirinya dikultuskan, sehingga melarang umatnya untuk menggambar wajah beliau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Mencapai Posisi Hamba<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setiap gerakan sholat, hampir seluruhnya diawali dengan takbir, mengakui eksistensi sejati Allah, bahwa hanya Allah-lah yang sejatinya <em>Akbar<\/em>. Diriku, dirimu, dunia dan segalanya yang lain &#8211; lainnya adalah kecil. Begitupun keseluruhan bacaan dan gerakan sholat itu sendiri adalah kondisi &#8211; kondisi yang hanya bisa dialami seorang &#8216;<em>abd<\/em>&#8216;. Bahkan, hanya yang benar &#8211; benar hambalah yang mempunyai kesanggupan untuk meninggalkan aktivitas dunianya begitu adzan dikumandangkan &#8212; betapapun sibuknya dia, bagaimanapun asyiknya dia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika manusia sudah benar &#8211; benar bersungguh-sungguh dalam sholatnya, maka dia akan dihantarkan dalam sebuah kondisi baru, kondisi <em>abd<\/em>, kondisi seorang hamba dimana\u00a0dia telah mencapai suatu kesadaran hingga seluruh gerak hidup, \u00a0detak jatung, aliran darah dan gerak hatinya sudah tidak ada yang lain selain sholat itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika sudah begitu maka tercapailah tujuan sholat seperti yang Rasulullah sabdakan yakni mencegah perbuatan keji dan munkar<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tulisan saya ini menyambung tulisan saya sebelumnya tentang sholat, karena meskipun peringatan\u00a0isra&#8217; miraj telah lewat, toh ga ada salahnya jika kita berusaha mengilmui dan memaknai rahasia dari setiap perintah Tuhan kepada kita. Saya berpikir, \u00a0sepenting apakah ibadah sholat jika dibandingkan dengan ibadah yang lain, sehingga Tuhan merasa berkepentingan \u00a0menyampaikan langsung perintah ini lewat peristiwa isra&#8217; [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1943,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[8],"tags":[506],"jetpack-related-posts":[{"id":3900,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3900","url_meta":{"origin":1964,"position":0},"title":"Jangan Bersumpah (Lagi) Pemuda","date":"10 Oktober 2017","format":false,"excerpt":"Di mata media massa, juga media sosial. Setiap bulan akan memiliki tema yang siap untuk selalu diulang - ulang. Setelah ramai pembicaran komunis di bulan september. Kini beranjak ke bulan oktober dengan topik yang berbeda. Meskipun pembicaraan yang diulang - ulang itu tidak pernah tuntas untuk dibahas. Kebanyakan karena memang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":1941,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1941","url_meta":{"origin":1964,"position":1},"title":"Masjid Seluas Langit dan Bumi","date":"3 Juni 2013","format":false,"excerpt":"Hidup itu masalah bagaimana kita menentukan yang mana yang merupakan tujuan dan yang mana yang merupakan jalan. Dari situlah kita bisa meletakkan skala prioritas. Mereka yang meletakkan akhirat sebagai prioritas, ia akan melakukan segala cara mencapai kehidupan akhirat yang sebaik - baiknya. Siapa saja yang membereskan urusan dunianya terlebih dahulu,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":2054,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2054","url_meta":{"origin":1964,"position":2},"title":"Kapitalisasi Ibadah","date":"21 Agustus 2013","format":false,"excerpt":"Dunia sebagai Metode atau Tujuan? Menurut budaya dan sikap perilaku manusia berserta tata sistem yang dimiliki, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan. Seluruh aktivitas manusia dilaksanakan dengan membuat sebuah asumsi bahwa dunia adalah final dan segala - galanya. \u00a0Mulai dari orang lahir, bersekolah, bekerja hingga berkarir tujuannya adalah mengejar\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1964"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1964"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1964\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1943"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1964"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1964"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1964"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}