{"id":1872,"date":"2012-11-27T15:06:35","date_gmt":"2012-11-27T15:06:35","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=1872"},"modified":"2012-11-27T15:06:35","modified_gmt":"2012-11-27T15:06:35","slug":"manusia-tanpa-hak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1872","title":{"rendered":"Manusia Tanpa Hak"},"content":{"rendered":"<p align=\"justify\"><a href=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/human-rights-every-human-has-rights.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" style=\"background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 2px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px\" title=\"human-rights-every-human-has-rights\" border=\"0\" alt=\"human-rights-every-human-has-rights\" align=\"left\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/11\/human-rights-every-human-has-rights_thumb.jpg?resize=196%2C244\" width=\"196\" height=\"244\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Manusia \u2013 manusia modern berteriak-teriak memperjuangkan yang disebut kebebasan, memperjuangkan yang mereka sebut dengan hak asasi dan demokrasi. Meyakini seyakin \u2013 yakinnya bahwa ia sangat bebas untuk menentukan pilihannya dan nasibnya sendiri. Hingga kemudian aturan konstitusi dasar&#160; di-amandemen, dengan memperbanyak pasal \u2013 pasal tentang Hak Asasi Manusia. <\/p>\n<p align=\"justify\">Lantas dengan dalih hak asasi pula kemudian, muncullah yang disebut gerakan <em>feminisme, <\/em>dengan asumsi bahwa wanita sama dengan laki \u2013 laki dalam segala hal sehingga bisa saling menggantikan satu dengan yang lain. Yang hingga kemudian menjerumuskan perempuan untuk keluar dari kodratnya, dieksploitasi menjadi tidak lebih dari mesin \u2013 mesin produksi<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p align=\"justify\">Bahkan dalam&#160; Undang \u2013 Undang terdapat <em>jatah<\/em> 30% perempuan yang harus duduk di anggota DPR.<em>&#160;<\/em>Yang jika kita pikir lebih cermat ternyata justru malah merendahkan derajat perempuan, karena asumsinya adalah perempuan dianggap tidak mampu bersaing dengan laki \u2013 laki sehingga harus ada yang namanya kuota 30%,.<\/p>\n<p align=\"justify\">Buntut dari yang disebut hak asasi kemudian sangatlah panjang. Pergaulan bebas, hubungan sesama jenis dan lain sebagainya &#8211; semuanya adalah dengan dalih HAM yang kita agung &#8211; agungkan. Manusia bebas melakukan apapun selama tidak merugikan siapa pun. Bukankah begitu?<\/p>\n<p align=\"justify\">Adapula yang disebut dengan kebebasan berekspresi dan berbicara.<em> Freedom of speak<\/em>, begitulah kata orang-orang barat. Dengan dalil itu pula kemudian mereka merasa berhak berbicara apapun. Bahkan hingga merendahkan simbolisme agama-pun dirasa juga tidak ada masalah.<\/p>\n<p align=\"justify\">Seandainya nanti kita diberikan kesempatan bertemu orang \u2013 orang seperti ini, maka lontarkan saja segala macam umpatan caci maki ataupun&#160; <em>pisuhan <\/em>kepada dia. Dan jika ia kemudian marah, maka katakan juga ini adalah bagian dari&#160; \u2018<em>freedom<\/em> <em>of speech\u2019 <\/em><\/p>\n<p align=\"justify\">Jadi Ijinkanlah saya mengatakan padamu : bahwa sebenarnya yang engkau sebut \u2018Hak Asasi Manusia\u2019 itu hanyalah tipuan. Karena manusia sebenarnya tidak memiliki hak apapun atas dirinya. Manusia hanyalah sekedar mendapatkan titipan selama kehidupannya di dunia. <em>Inna lil-lahi wa ina ilaihi rajiun<\/em>. Kita ini milikNya, dan akan kembali kepadaNya<\/p>\n<p align=\"justify\">Jika kita dari dulu kala dan sampai akhir nanti, adalah sepenuhnya milik Allah dan sama sekali tidak memiliki diri kita sendiri, maka apakah mungkin kita benar \u2013 benar memiliki diri ini, alam ini, tanah dan air ini, kayu, dan logam ini , harta, jabatan dan kekuasaan ini?<\/p>\n<p align=\"justify\">Maka kata Hak Asasi ataupun hak milik&#160; yang tertera dalam pasal \u2013 pasal hukum, dalam kehidupan sosial dan kebudayaan manusia pastilah hanya sekedar anggapan subjektif manusia. Dikarenakan memang manusia terlalu mudah GR terhadap dirinya sendiri. <\/p>\n<p align=\"justify\">Terlebih kosakata Hak, berasal dari kata <em>Al Haqqu<\/em> yang artinya kebenaran, Hak Milik adalah Kebenaran tentang milik, Hak Asasi adalah Kebenaran yang paling Asasi yang ada di Manusia. Jadi jika kita benar \u2013 benar mengingat akan fakta historis terciptanya manusia, alam dan seisinya. Maka jika kemudian ia merasa \u2018memiliki\u2019, maka itu adalah hanya omong kosong.<\/p>\n<p align=\"justify\">Jadi bagaimana mungkin kita bisa punya rasa memiliki diri sendiri, sehingga dengan alasan itu&#160; kita merasa pantas&#160; memperlakukan diri ini semau kita? <\/p>\n<p align=\"justify\">Apakah aku dan engkau merasa diri ini lebih ahli, lebih pintar, lebih jago, lebih kuasa dibandingkan dengan Pemilik Yang Menciptakan dan Meminjamkan ini semua kepadamu?<\/p>\n<p><strong>Inspirasi:<\/strong><\/p>\n<p><em>Tuhanpun Berpuasa<\/em> \u2013 <strong>Emha Ainun Nadjib<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manusia \u2013 manusia modern berteriak-teriak memperjuangkan yang disebut kebebasan, memperjuangkan yang mereka sebut dengan hak asasi dan demokrasi. Meyakini seyakin \u2013 yakinnya bahwa ia sangat bebas untuk menentukan pilihannya dan nasibnya sendiri. Hingga kemudian aturan konstitusi dasar&#160; di-amandemen, dengan memperbanyak pasal \u2013 pasal tentang Hak Asasi Manusia. Lantas dengan dalih hak asasi pula kemudian, muncullah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[6,8,11],"tags":[136,174,175,176],"jetpack-related-posts":[{"id":2312,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2312","url_meta":{"origin":1872,"position":0},"title":"Demokrasi (Fotokopi) Borjuasi","date":"15 April 2014","format":false,"excerpt":"Entah mau bagaimana dunia mempercayai, namun saya meyakini, bahwa nenek moyang kita adalah bangsa dengan peradaban dan pengetahuan tinggi, entah itu dari sisi teknologi, politik atau sistem kenegaraan, namun \u00a0entah kenapa, setelah sekian dekade, \"civilization\" oleh belanda, kita menjadi menganggap remeh nenek moyang kita, dengan mempercayai bahwa mereka adalah primitif,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":1929,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1929","url_meta":{"origin":1872,"position":1},"title":"Berdoa Sebagai Wujud Kehambaan","date":"2 Juni 2013","format":false,"excerpt":"Banyak dari kita manusia, dengan penuh kepercayaan diri, meminta - minta kepada Tuhan, (bahkan tak jarang hingga mendikte - dikte Tuhan) akan sesuatu hal yang sebenarnya tidak kita ketahui benar baik - buruknya, selain melalui penilaian akal pikiran kita yang sempit ini. \u00a0Padahal Tuhan telah memberikan petunjuk bahwa apa yang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3342,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3342","url_meta":{"origin":1872,"position":2},"title":"Siapa Menghina Presiden","date":"15 Agustus 2015","format":false,"excerpt":"Pada 7 Desember 2006 silam,\u00a0Mahkamah Konstitusi melalui putusannya No. 013-022-\/PUU-IV\/2006\u00a0menyatakan mengabulkan seluruhnya permohonan Uji Materi terhadap beberapa pasal yang tergolong \u201cpenghinaan terhadap presiden\/kepala negara\u201d. Pasca-keputusan MK dengan tersebut, klausul \u201cpenghinaan presiden\u201d seperti pada pasal 134, 136bis, dan 137 Kitab Undang-undang Hukum Pidana dianggap tidak berlaku lagi. Setelah sekian lama pasal\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/555dfb010423bdaa388b4567.jpeg?fit=500%2C334&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1872"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1872"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1872\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1872"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1872"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1872"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}