{"id":1859,"date":"2012-09-25T13:25:46","date_gmt":"2012-09-25T13:25:46","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=1859"},"modified":"2012-09-25T13:25:46","modified_gmt":"2012-09-25T13:25:46","slug":"akan-berapa-tahun-usianya-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1859","title":{"rendered":"Akan Berapa Tahun Usianya?"},"content":{"rendered":"<p align=\"justify\">Genap satu tahun sudah, bekerja di Tangerang. Melewati siang, merenungi malam. Bermacet \u2013 macet dengan sibuk udara ibukota. Melihat bermacam \u2013 macam ragam warna bentuk manusia.<\/p>\n<p align=\"justify\">Mereka bekerja dengan peluh. Dengan harapan besar mampu berbahagia melaui apa \u2013 apa yang diraih itu. <\/p>\n<p align=\"justify\">Manusia \u2013 manusia ibukota, berpikir keras, dengan segala perhitungannya, berinvestasi,. menanam modal, bahkan asuransi untuk mencegah resiko- resiko untuk puluhan tahun, bahkan \u2013 jika bisa \u2013 ratusan tahun kedepan.<\/p>\n<p align=\"justify\">Begitu terfokusnya mereka, lalu mereka lupa, tidak berinvestasi lebih panjang lagi, terhadap yang lebih pasti lagi dari itu semua. Itulah Mati.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p align=\"justify\">Ya, mati-matian manusia mencari sesuatu yang tidak bisa dibawa mati. Padahal jelas \u2013 jelas tidak ada sesuatu yang lebih pasti dari yang namanya mati.&#160; <\/p>\n<p align=\"justify\">Manusia modern yang katanya terpelajar, memang aneh. Mereka katanya percaya Tuhan, namun sibuk sekali membangun dunia, dengan asumsi dunia itu adalah final dan segalanya. Padahal dunia disiapkan Tuhan sebagai perangkat, sebagai fasilitasnya, bukan produk. Produknya itu akhirat. <\/p>\n<p align=\"justify\">Perhitungan manusia modern benar \u2013 benar dipertanyakan. Membangun sesuatu yang \u2018nanggung\u2019. Katanya,&#160; Ingin sukses, berprestasi, nama baik. popularitas, nama besar dalam sejarah. <\/p>\n<p align=\"justify\">Memang nanti, buku sejarah akan berapa tahun usianya??<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Genap satu tahun sudah, bekerja di Tangerang. Melewati siang, merenungi malam. Bermacet \u2013 macet dengan sibuk udara ibukota. Melihat bermacam \u2013 macam ragam warna bentuk manusia. Mereka bekerja dengan peluh. Dengan harapan besar mampu berbahagia melaui apa \u2013 apa yang diraih itu. Manusia \u2013 manusia ibukota, berpikir keras, dengan segala perhitungannya, berinvestasi,. menanam modal, bahkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[412,465],"jetpack-related-posts":[{"id":1857,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1857","url_meta":{"origin":1859,"position":0},"title":"Akan Berapa Tahun Usianya?","date":"25 September 2012","format":false,"excerpt":"Genap satu tahun sudah, bekerja di Tangerang. Melewati siang, merenungi malam. Bermacet \u2013 macet dengan sibuk udara ibukota. Melihat bermacam \u2013 macam ragam warna bentuk manusia. Mereka bekerja dengan peluh. Dengan harapan besar mampu berbahagia melaui apa \u2013 apa yang diraih itu. Manusia \u2013 manusia ibukota, berpikir keras, dengan segala\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":2591,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2591","url_meta":{"origin":1859,"position":1},"title":"Proxima Centauri (Bagian Ke - 1)","date":"9 April 2015","format":false,"excerpt":"Kita duduk sedekat ini, malam ini, di bangku taman, disaksikan pohon palem, dan lampu - lampu redup ibu kota. Kau dan aku terpisah hati di beberapa sentimeter ruang udara. Ruang udara yang membuatku bertanya. Mengapa tidak sedikit lagi kita singkirkan sisa ruang ini untuk sementara waktu mengisinya dengan cerita -\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Alpha_Centauri.jpg?fit=1200%2C724&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":3930,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3930","url_meta":{"origin":1859,"position":2},"title":"Sepuluh Tahun Bersitensis","date":"26 November 2017","format":false,"excerpt":"\u201cOrang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.\u201d Saya membuka tulisan saya dengan kutipan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia, asal Blora yang dilahirkan 92 tahun silam. Meskipun jasad mas pram (panggilan akrab Pramoedya Ananta\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Perenungan\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1859"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1859"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1859\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1859"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1859"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1859"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}