{"id":1557,"date":"2008-04-17T15:34:37","date_gmt":"2008-04-17T08:34:37","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=92"},"modified":"2008-04-17T15:34:37","modified_gmt":"2008-04-17T08:34:37","slug":"keyakinan-dan-kesuksesan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1557","title":{"rendered":"Keyakinan dan Kesuksesan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align:justify;\">Terkadang kita memiliki suatu gagasan dan ide besar tentang sesuatu, namun itu tidak bisa dipahami oleh banyak orang bahkan sampai ditertawakan. Hal yang sama juga terjadi padai Wright Bersaudara, Marconi, dan juga pada H.S. Black ketika ia berusaha mempatenkan penguat umpan balik negatif pada tahun 1928. Namun gagasannya itu digolongkan sebagai sebuah kebodohan seperti halnya &#8220;gagasan gerak berkesinambungan&#8221;. Namun waktu telah menjawab semua tertawaan itu, ternyata penguat umpan balik negatif yang dipatenkan oleh H. S. Black merupakan salah satu gagasan yang paling berharga yang pernah ditemukan dalam bidang elektronika<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\"><!--more-->Karena itu janganlah pernah ragu untuk mengemukakan gagasan cemerlang kita, jangan perdulikan seberapa orang skeptis terhadap hal itu, Saya pernah mendengar sebuah kata &#8211; kata bijak Kepala BATAN saat kuliah umum  di auditorium beberapa waktu yang lalu. Beliau mengatakan<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align:justify;\"><em><strong>Untuk menjadi orang sukses kita harus melakukan sesuatu yang menurut orang lain tidak mungkin<\/strong><\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align:justify;\">Mendengarnya, membuat saya berpikir sejenak, mungkin kata &#8211; kata tersebut sama artinya dengan <em>&#8220;imposible is nothing&#8221;<\/em> Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, hanya kesungguhan dan niat serius kita pada hal tersebut dan atas pertolongan Allah tentunya. Karena Usaha Manusia yang banyak tidak akan ada artinya dibandingkan pertolongan Allah meskipun sedikit. Namun bagaimana mungkin Allah menolong kita, kalau seandainya kita sendiri saja tidak yakin kepada diri kita sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Saya pernah mendengar kata seorang ustadz  dalam sebuah acara di televisi, bahwa ternyata partikel di alam semesta ini dengan izin Allah &#8211; tunduk kepada Hati Manusia. Mengapa? Karena memang manusia diciptakan di bumi sebagai Khalifah. Jadi apa yang akan kita peroleh kelak juga bergantung pada keyakinan hati kita tentang sesuatu itu. Lalu sang ustadzpun memberikan contohnya tentang seseorang yang sedang mencari kerja. Agar mendapatkan pekerjaannya, orang itu harus yakin dengan hatinya bahwa Allah akan benar- benar menolongnya, tidak perduli  betapa mustahilnya itu menurut akal sehat manusia. Namun pada faktanya akal sehat bukanlah sesuatu yang selalu bisa dipercaya.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Ada kekuatan luar biasa di balik akal sehat yang mengendalikan semesta ini. Namun memang terkadang akal sehat inilah yang selalu membuat keragu-raguan dalam hati kita. Sehingga saat partikel di alam ini mulai membentuk komponen- komponen dari  apa yang  hati kita yakini tersebut (semisal lapangan pekerjaan), maka buru &#8211; buru akal sehat membantah &#8220;keyakinan hati&#8221; ini, sehingga menimbulkan keraguan &#8211; raguan.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align:justify;\">Ah mana mungkin kamu bisa mendapatkan pekerjaan, pengangguran dimana &#8211; mana, sedangkan lapangan kerja pun sedikit<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align:justify;\">Itulah bantahan akal sehat kepada kita sehingga menimbulkan keraguan &#8211; raguan dalam diri, keragu &#8211; raguan ini menyebabkan partikel &#8211; partikel alam semesta &#8211; yang tadinya akan membentuk sebuah lapangan pekerjaan &#8211; (atas perintah hati kita) menghentikan proses pembentukan tersebut. Namun seandainya hati kita benar &#8211; benar yakin akan hal tersebut dapat kita peroleh. Maka Insya Allah apa yang kita inginkan tersebut dapat tercapai.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Mendengar itu membuat saya sejenak berpikir , seraya manggut -manggut. Ternyata hal tersebut memang benar adanya, bagaimana tidak benar. Orang disekeliling saya yang menjadi buktinya, dimana dengan keyakinan dan ijin Allah mereka bisa mendapatkan kesuksesan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Wah, saya menjadi ikut merasa disindir, karena sepertinya saya termasuk orang yang sering ragu &#8211; ragu, dan menurut ustadz, ragu &#8211; ragu itu pertanda lemahnya iman. <em>&#8220;<\/em><em>Aiih. <\/em><em>berarti iman saya masih lemah ya?? <\/em>Sepertinya ini pekerjaan rumah deh, yaitu memperbaiki iman dan menghilangkan keragu-raguan dalam hati. Mendengarnya jadi\u00a0 semangat 45 lagi <img src=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-includes\/images\/smilies\/mrgreen.png?w=708&#038;ssl=1\" alt=\":mrgreen:\" class=\"wp-smiley\" style=\"height: 1em; max-height: 1em;\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terkadang kita memiliki suatu gagasan dan ide besar tentang sesuatu, namun itu tidak bisa dipahami oleh banyak orang bahkan sampai ditertawakan. Hal yang sama juga terjadi padai Wright Bersaudara, Marconi, dan juga pada H.S. Black ketika ia berusaha mempatenkan penguat umpan balik negatif pada tahun 1928. Namun gagasannya itu digolongkan sebagai sebuah kebodohan seperti halnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[5,6,8],"tags":[25,100,207,309,405,540],"jetpack-related-posts":[{"id":1314,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1314","url_meta":{"origin":1557,"position":0},"title":"Masalah - 2","date":"21 Juli 2011","format":false,"excerpt":"Tulisan ini menjelaskan tulisan singkat saya sebelumnya. Kita semua, manusia dalam hidup,\u00a0 pasti pernah - bahkan sering mengalami rasa kecewa, sakit hati dan keputus-asaan. Ini adalah suatu sikap yang wajar- wajar saja dan normal, karena\u00a0 memangTuhan menciptakan manusia dengan segala kesempurnaan dan juga keterbatasan. Kegagalan, sakit hati dan kekecewaan memang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/07\/problem.jpg?fit=500%2C373&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":2312,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=2312","url_meta":{"origin":1557,"position":1},"title":"Demokrasi (Fotokopi) Borjuasi","date":"15 April 2014","format":false,"excerpt":"Entah mau bagaimana dunia mempercayai, namun saya meyakini, bahwa nenek moyang kita adalah bangsa dengan peradaban dan pengetahuan tinggi, entah itu dari sisi teknologi, politik atau sistem kenegaraan, namun \u00a0entah kenapa, setelah sekian dekade, \"civilization\" oleh belanda, kita menjadi menganggap remeh nenek moyang kita, dengan mempercayai bahwa mereka adalah primitif,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":285,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=285","url_meta":{"origin":1557,"position":2},"title":"Bangsa Indonesia: Bangsa Pemimpin Dunia!!","date":"10 September 2008","format":false,"excerpt":"Sungguh, seharusnya kita bangga karena bangsa kita merupakan bangsa yang besar yang memiliki jiwa besar dan rendah hati yang tidak mampu di miliki bangsa - bangsa lain di dunia. Bangsa kita tidak hanya bangsa pilihan yang unggul, namun lebih dari itu - dari konteks pemikiran, bangsa kita adalah bangsa terdepan\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2008\/09\/indonesia_by_pistonbroke.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1557"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1557"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1557\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1557"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1557"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1557"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}