{"id":1499,"date":"2012-01-21T19:58:14","date_gmt":"2012-01-21T12:58:14","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=1499"},"modified":"2012-01-21T19:58:14","modified_gmt":"2012-01-21T12:58:14","slug":"cinta-tanpa-bahasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1499","title":{"rendered":"Cinta Tanpa Bahasa"},"content":{"rendered":"<p align=\"justify\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/ruangtedy.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/01\/mariana-trench-monument-mpa_17661_600x450.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"1488\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=1488\" data-orig-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2012\/01\/mariana-trench-monument-mpa_17661_600x450.jpg?fit=600%2C450&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"600,450\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"mariana-trench-monument-mpa_17661_600x450.jpg\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2012\/01\/mariana-trench-monument-mpa_17661_600x450.jpg?fit=300%2C225&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2012\/01\/mariana-trench-monument-mpa_17661_600x450.jpg?fit=600%2C450&amp;ssl=1\" class=\"wp-image-1488 alignleft\" title=\"mariana-trench-monument-mpa_17661_600x450.jpg\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/ruangtedy.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/01\/mariana-trench-monument-mpa_17661_600x450.jpg?resize=221%2C166\" alt=\"\" width=\"221\" height=\"166\" srcset=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2012\/01\/mariana-trench-monument-mpa_17661_600x450.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w, https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2012\/01\/mariana-trench-monument-mpa_17661_600x450.jpg?resize=300%2C225&amp;ssl=1 300w\" sizes=\"(max-width: 221px) 100vw, 221px\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Ketika ku hanya bisa kirimkan pesan singkat tanpa karakter ke telepon selulermu, jangan sekali \u2013 kali tanyakan padaku kenapa. Karena menuliskan perasaanku dalam kata \u2013 kata adalah sama mustahilnya dengan berenang melintasi samudera pasifik.<\/p>\n<p align=\"justify\">Kalimat hanyalah kotak \u2013 kotak kecil buatan manusia, mana mungkin bisa menampung samudera perasaanku padamu. Bahasa hanyalah layang \u2013 layang kecil yang diterbangkan angin, mana mungkin bisa melintasi seluruh angkasa sayangku padamu.<\/p>\n<p><!--more-->Jangan salahkan aku jika ku diam membisu, karena cinta bukanlah kata, dia adalah pembuktian nyata, itulah kenapa aku tak pernah berkata cinta kepada kamu yang kucinta.<\/p>\n<p align=\"justify\">Masih perlukah kata cinta jika seluruh langkahku, perbuatanku, hingga nafas, denyut jantung, dan aliran darahku telah mengungkapkannya padamu? Masih perlukah lisanku berkata jika semua oksigen yang kamu hirup adalah semua perasaanku padamu? Masih perlukah aku berbahasa untuk membuatmu yakin, ketika\u00a0 aku sendiri telah larut dalam dirimu?<\/p>\n<p align=\"justify\">Apakah angin harus memperkenalkan \u00a0terlebih dahulu dirinya \u00a0padamu, sehingga kamu tahu bahwa dia angin? Apakah oksigen harus bertegur sapa terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam alveolus dan diserap dalam hemoglobin darahmu? Apakah aku harus memberikan rayuan padamu ketika jiwaku sendiripun telah kuserahkan padamu?<\/p>\n<p align=\"justify\">Kasih, cinta yang mendalam tidak memerlukan bahasa. Namun, jika engkau masih belum memahami, mungkin cukuplah senyumku sebagai jalan tengahnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika ku hanya bisa kirimkan pesan singkat tanpa karakter ke telepon selulermu, jangan sekali \u2013 kali tanyakan padaku kenapa. Karena menuliskan perasaanku dalam kata \u2013 kata adalah sama mustahilnya dengan berenang melintasi samudera pasifik. Kalimat hanyalah kotak \u2013 kotak kecil buatan manusia, mana mungkin bisa menampung samudera perasaanku padamu. Bahasa hanyalah layang \u2013 layang kecil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1488,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[96,228],"jetpack-related-posts":[{"id":269,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=269","url_meta":{"origin":1499,"position":0},"title":"Maafkanku Selalu","date":"1 September 2008","format":false,"excerpt":"Maafkanku kali ini, karena tak bisa melupakan dirimu, meski hanya sesaat. Seluruh Nadiku serasa akan pecah bila aku merindukanmu. Engkau seakan masuk ke setiap sunsum tulangku dan meracuni setiap nafasku. Maafkan aku jika aku tak sanggup berucap padamu. Karena Sebagaimana Allah membuat jiwa - jiwa kita sebagai tawanan tubuh -\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":3615,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3615","url_meta":{"origin":1499,"position":1},"title":"Aku Tak Sanggup Menulis","date":"26 Juni 2016","format":false,"excerpt":"Apa itu kata? \u00a0nama - nama, bahasa yang diucapkan manusia? Siapa yang pertama kali menemukannya? Apakah manusia harus berkata\u00a0untuk bisa dipahami? Mengapa tidak mempelajari saja kedalaman hati? Ketika keheningan lebih menyentuh ufuk batin. Ketika kesunyian mengajarkanmu bahasa yang lebih sejati. Seorang bijaksana mengajarkan bahwa kata sejati adalah apa yang terdetak\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/ilustrasi_101122120315.jpg?fit=360%2C260&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":1572,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1572","url_meta":{"origin":1499,"position":2},"title":"Catatan Tepi","date":"22 Januari 2012","format":false,"excerpt":"Malam ini, seperti biasa, antara aku, bayanganku dan sunyiku, bercengkrama di tepian panjang hidup. Kami perbincangkani setiap baris hingga setiap karakter masa. Sementara di luar rintik hujan begitu sibuk mengirimkan pesan \u2013 pesan pada tiap perindu yang sedang dibalut keriuh-rendahan rasa pada hatinya. Mengetikkan karakter per karakter menjadi teramat sulit,\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Bingkai Kata\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1499"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1499"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1499\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1488"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1499"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1499"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1499"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}