{"id":1424,"date":"2011-11-02T10:02:20","date_gmt":"2011-11-02T03:02:20","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=1424"},"modified":"2011-11-02T10:02:20","modified_gmt":"2011-11-02T03:02:20","slug":"nasionalisme-taklid-komodo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1424","title":{"rendered":"Nasionalisme Taklid &#8220;Komodo&#8221;"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/ruangtedy.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/comodo-island-11.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"1429\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=1429\" data-orig-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/comodo-island-1.jpg?fit=450%2C380&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"450,380\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"comodo island (1)\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/comodo-island-1.jpg?fit=300%2C253&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/comodo-island-1.jpg?fit=450%2C380&amp;ssl=1\" class=\"alignright size-full wp-image-1429\" title=\"comodo island (1)\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/ruangtedy.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2011\/11\/comodo-island-11.jpg?resize=244%2C205\" alt=\"\" width=\"244\" height=\"205\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a>Akhir &#8211; akhir ini marak, pemberitaan soal komodo yang masuk sebagai salah satu\u00a0nomine 7 Keajaiban Dunia <a class=\"zem_slink\" title=\"Baru\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Baru\" rel=\"wikipedia\">Baru<\/a> oleh New 7 (Seven) Wonders of Nature (atau saya singkat saja N7W)\u00a0\u00a0tentu membuat bahagia. Setidaknya, akan ada satu lagi kekayaan <a class=\"zem_slink\" title=\"Indonesia\" href=\"http:\/\/maps.google.com\/maps?ll=-6.175,106.828333333&amp;spn=10.0,10.0&amp;q=-6.175,106.828333333 (Indonesia)&amp;t=h\" rel=\"geolocation\">Indonesia<\/a> yang mendapat pengakuan dari dunia internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka, ramai-ramai \u00a0publik figur, mulai dari artis hingga para pejabat menyerukan agar bangsa Indonesia menunjukkan nasionalismenya lewat mendukung komodo. Caranya? Dengan mengirim <a class=\"zem_slink\" title=\"SMS\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/SMS\" rel=\"wikipedia\">SMS<\/a> ke 9818. Awalnya, SMS dukungan ini bernilai Rp 1000, sekarang, demi menggalakkan dukungan,\u00a0SMS-nya hanya dikenai biaya Rp 1.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bangga bukan? Tentu bangga, namun tunggu dulu. Tulisan ini ingin mengajak kita sedikit berpikir, kritis. (Sedikit saja, nggak banyak &#8211; banyak <img src=\"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-includes\/images\/smilies\/mrgreen.png?w=708&#038;ssl=1\" alt=\":mrgreen:\" class=\"wp-smiley\" style=\"height: 1em; max-height: 1em;\" data-recalc-dims=\"1\" \/> ) . Kenapa ? Hal ini hanya \u00a0kita tidak main dukung ini dukung itu. Harus tahu dong, apa yang kita dukung.<br \/>\nNasionalis sih boleh-boleh saja, bagus malahan, tapi asal nasionalisme yang cerdas. Sebelum ndukung ini, dukung itu, harus tahu doong apa yang didukung?\u00a0Saya sangat peduli, dan tidak menyukai nasionalisme kawan-kawan dieksploitasi untuk kepentingan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa saja yang perlu dipikirkan sebelum memberikan dukungan,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pertama<\/strong>, sebagai negara demokrasi, harus tanya dulu dong apakah komodo mau dijadikan nominasi? \ud83d\ude06 ini asli bercanda<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kedua<\/strong>. Siapa yang ngadain nominasi \u00a0N7W itu, lembaga macam apakah dia? Harus jelas lah,\u00a0Duta Besar RI untuk <a class=\"zem_slink\" title=\"Switzerland\" href=\"http:\/\/maps.google.com\/maps?ll=46.8333333333,8.33333333333&amp;spn=10.0,10.0&amp;q=46.8333333333,8.33333333333 (Switzerland)&amp;t=h\" rel=\"geolocation\">Swiss<\/a>, Djoko Susilo, yang melansir pernyataan mengagetkan: <a class=\"zem_slink\" title=\"New Seven Wonders of the World\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/New_Seven_Wonders_of_the_World\" rel=\"wikipedia\">New7Wonders<\/a> adalah yayasan \u201cabal-abal\u201d. Ditelusuri tim Kedutaan selama setahun, alamat surat yayasan ini&#8211;yang disebutkan di Hoeschgasse 8, P.O. Box 1212, 8034 <a class=\"zem_slink\" title=\"Zurich\" href=\"http:\/\/maps.google.com\/maps?ll=47.3666666667,8.55&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=47.3666666667,8.55 (Zurich)&amp;t=h\" rel=\"geolocation\">Zurich<\/a>&#8211;ternyata tak valid. Yang paling mendekati adalah: Hoeschgasse 8, P.O. Box 1212, 8008 Zurich. Tapi di alamat ini staf Djoko tak berhasil menemukan kantor yayasan. Yang mereka dapati adalah Museum Heidi Weber.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang perlu diingat lagi, bahwa lembaga New7Wonders yang mengadakan kompetisi ini sama sekali tidak terhubung dengan lembaga <a class=\"zem_slink\" title=\"UNESCO\" href=\"http:\/\/maps.google.com\/maps?ll=48.85,2.306&amp;spn=0.01,0.01&amp;q=48.85,2.306 (UNESCO)&amp;t=h\" rel=\"geolocation\">UNESCO<\/a> di bawah PBB. \u00a0\u00a0Bahkan, UNESCO telah mengeluarkan pernyataan tersendiri demi menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan dengan penetapan Situs-Situs Warisan Dunia sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh New7Wonders (Pernyataan resmi dari UNESCO bisa dibaca di\u00a0<a href=\"http:\/\/us.lrd.yahoo.com\/_ylt=AjpV10r_p6guO10TSbx7ss19V8d_;_ylu=X3oDMTFrb2d1MDA1BG1pdANBcnRpY2xlIEJvZHkEcG9zAzE1BHNlYwNNZWRpYUFydGljbGVCb2R5QXNzZW1ibHk-;_ylg=X3oDMTJyN2g0ZDU3BGludGwDaWQEbGFuZwNpZC1pZARwc3RhaWQDOWIwMjhjZjUtNzljYy0zY2ViLWExOGEtNWE2NGJhY2NjYzkwBHBzdGNhdANuYXNpb25hbARwdANzdG9yeXBhZ2U-;_ylv=0\/SIG=11lcoebcq\/EXP=1321411048\/**http%3A\/\/whc.unesco.org\/en\/news\/352\" target=\"_blank\">sini<\/a>).<\/p>\n<p>Sejak 2007, UNESCO menyatakan bahwa mereka sudah berkali-kali diajak bekerjasama oleh organisasi milik Bernard Weber ini, tapi mereka memilih untuk tidak berpartisipasi. Lembaga PBB biasanya menggunakan bahasa-bahasa yang diplomatis.<\/p>\n<p>Maka ketika UNESCO mengatakan, &#8220;tidak ada yang bisa dibandingkan antara kampanye media yang dilakukan Tuan Weber dengan pekerjaan ilmiah dan proses pendidikan yang kami lakukan di UNESCO sehingga menghasilkan daftar situs-situs Warisan Dunia,&#8221; itu artinya mereka sedang memberi peringatan keras akan cara kerja lembaga ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Informasi lain menyebutkan, New7Wonders merupakan\u00a0<em>vanity scam<\/em>, yang memanfaatkan Nasionalisme kita semua untuk meraup keuntungan. Ini tak jauh berbeda dengan<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Who%27s_Who_scam\">penipuan\u00a0<em>Who\u2019s Who<\/em><\/a>\u00a0atau\u00a0<em><a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Diploma_mill\">diploma mill<\/a><\/em>\u00a0dimana korban menyerahkan sejumlah uang untuk atribut tertentu, misalnya gelar akademis atau<em>person of the year<\/em>, walaupun sebenarnya institusi tersebut tidak memiliki kredibilitas atau akreditasi untuk memberi gelar tersebut. Praktis tak ada orang lain yang menganggap gelar atau atribut tersebut sebagai sesuatu yang penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">New7Wonders \u00a0hanyalah sebuah perusahaan kecil asal Swiss, bukan organisasi Internasional ataupun lembaga bentukan kerjasama multilateral antara negara-negara.\u00a0Perbedaannya, New7Wonders menambahkan bumbu berupa kompetisi dengan kontestan lain, tujuannya untuk menyentuh rasa nasionalisme kita semua. Selain itu, New7Wonders merupakan\u00a0<em>vanity scam<\/em>\u00a0dengan skala internasional yang korbannya bukan lagi perorangan, tetapi negara-negara yang berdaula<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mirip-miri<em>p Indonesian <a class=\"zem_slink\" title=\"Ido\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Ido\" rel=\"wikipedia\">Ido<\/a><\/em>l lah, keduanya menggunakan kriteria populer untuk menentukan pemenang, bukan kriteria objektif. \u00a0Lucu nggak? Keajaiban dunia, harus divoting? Bukankah kriteria ajaib itu harus dinilai oleh orang &#8211; orang yang berkompeten, kalo di voting, semua orang mempunyai standar keajaibannya masing &#8211; masing dan tentu tidak objektif, karena yang menjadi tolok ukur bukan ajaib atau tidak, masing &#8211; masing voter memiliki penilaiannya sendiri-sendiri, dan pasti keajaiban dunia asal negaranya yang akan dipilih. Kayak Indonesia ini \ud83d\ude06<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya juga N7W pernah mengadakan acara nominasi serupa, dan\u00a0<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Christ_the_Redeemer_%28statue%29\">Patung Kristus Penebus<\/a>\u00a0<a class=\"zem_slink\" title=\"Rio de Janeiro\" href=\"http:\/\/maps.google.com\/maps?ll=-22.9083333333,-43.1963888889&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=-22.9083333333,-43.1963888889 (Rio%20de%20Janeiro)&amp;t=h\" rel=\"geolocation\">Rio de Janeiro<\/a> bisa mendapatkan gelar \u2018keajaiban dunia\u2019, walaupun secara objektif, monumen-monumen lain seperti misalnya\u00a0<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Prambanan\">Candi Prambanan<\/a>,<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Eiffel_Tower\">Menara Eiffel<\/a>\u00a0atau\u00a0<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Statue_of_Liberty\">Patung Liberty<\/a>\u00a0lebih berhak mendapatkan gelar tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Lalu apa perbedaan antara N7W dan Indonesian Idol<\/strong>? Indonesian Idol mendapatkan pemasukan dari pihak ketiga yang mendapatkan hiburan dari acara tersebut. Panitia kemudian menyerahkan sebagian dari pemasukan tersebut kepada kontestan, dalam bentuk gaji, pelatihan, akomodasi, atau lainnya. Semua kontestan mendapatkan keuntungan, termasuk kontestan yang kalah di babak awal sekalipun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">New7Wonders mendapatkan penghasilan dari setoran kontestan itu sendiri yang berasal dari platform pemilihan berbayar. New7Wonders praktis tidak mengeluarkan biaya apapun untuk kontestan. Bahkan biaya pemasaran ditanggung oleh masing-masing kontestan. Biaya yang dikeluarkan kontestan yang kalah melalui platform\u00a0<em>voting<\/em>\u00a0berbayar tak dapat dikembalikan. Bagi seluruh kontestan, kontes New7Wonders merupakan\u00a0<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Negative-sum_game\"><em>negative-sum game<\/em><\/a>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang sih kita hanya dikenakan Rp 1. Tapi\u00a0panitia lokal harus membayar lisensi ke New7Wonders, sehingga akan ada devisa kita yang terbuang.\u00a0Akibat kontes ini, akan ada pihak yang mendapatkan basis data nomor ponsel dari puluhan juta rakyat Indonesia.\u00a0\u00a0Jika kita melihat lebih jauh daripada sekadar nilai uang yang hilang akibat skema ini: <strong>kontes New7Wonders ini menghina intelegensia kita semua. Karena pada praktiknya, ini hanyalah kontes \u2018adu jumlah setoran\u2019<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Ketiga<\/strong>. Kenapa Maladewa mengundurkan diri?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/us.lrd.yahoo.com\/_ylt=Alxhjmd6AQHr3FGUnB3d7T19V8d_;_ylu=X3oDMTFrNTc4NHFjBG1pdANBcnRpY2xlIEJvZHkEcG9zAzE0BHNlYwNNZWRpYUFydGljbGVCb2R5QXNzZW1ibHk-;_ylg=X3oDMTJyN2g0ZDU3BGludGwDaWQEbGFuZwNpZC1pZARwc3RhaWQDOWIwMjhjZjUtNzljYy0zY2ViLWExOGEtNWE2NGJhY2NjYzkwBHBzdGNhdANuYXNpb25hbARwdANzdG9yeXBhZ2U-;_ylv=0\/SIG=1217m0vg4\/EXP=1321404074\/**http%3A\/\/www.visitmaldives.com\/en\/news_posts\/97\" target=\"_blank\">Seperti tercantum dalam situs resmi pemasaran dan hubungan masyarakat Maladewa<\/a>,<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">With regret, we are withdrawing from this competition because of the unexpected demands for large sums of money from the New7Wonders organisers. We no longer feel that continued participation in this competition is in the economic interests of the Maldives,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">The Maldives originally agreed to participate in the New7Wonders of Nature competition in early 2009 and paid a participation administration fee of $199. However, the details of the joint initiatives and escalating costs were not clearly outlined prior to signing. Recently, the New7Wonders organisers have repeatedly asked the Maldives to pay significantly more money, including:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>A Platinum sponsorship license fee at US $350,000.<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Two Gold sponsorship license fees at US $210,000 each.<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>The sponsorship of a \u2018World Tour\u2019 event, whereby the Maldives would pay for a delegation of people to visit the country, provide hot air balloon rides, press trips, flights, accommodation, communications etc.<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>US $1,000,000 license fee for a national telecom provider to participate in New7Wonders campaign \u2013 later reduced to US $500,000 on appeal.<\/strong><\/li>\n<li><strong>US $1,000,000 license fee for a Maldives based airline to display logo on aircraft.<\/strong>\n<p lang=\"en-GB\">\n<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" lang=\"en-GB\">The MMPRC repeatedly asked the New7Wonders organisers if there was a way to stay in the competition without paying significant sums of money. The New7Wonders organisers eventually stated that the Maldives could host a \u201cprotocol visit\u201d for a delegation of the New7Wonders organisers, in which the Maldives would incur \u201cflights and logistical costs etc.\u201d The New7Wonders organisers pointed out, however, that \u201cin our previous campaign for the man made Official New7Wonders of the World, all the winners had highly successful World Tour Events\u201d and added \u201cyou do need sponsorship to participate fully in initiatives such as the World Tour event visit<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya adalah bahwa penyelenggara tidak transparan dalam menjelaskan bagaimana cara mereka menghitung dukungan.\u00a0Itu baru satu alasan. Yang lainnya adalah biaya-biaya tak terduga yang terus meningkat jumlahnya. Mereka menyebut harus membayar sponsor platinum mencapai $350 ribu; dua biaya sponsor emas dengan total $420 ribu, mensponsori tur dunia dengan menerima kunjungan delegasi, menyediakan perjalanan balon udara, penerbangan, akomodasi, kunjungan wartawan; biaya $1 juta dolar bagi penyedia layanan telepon untuk berpartisipasi dalam kampanye New7Wonders; dan $1 juta lagi agar maskapai Maladewa bisa menempelkan logo New7Wonders di pesawat-pesawat mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tentu ini Biaya-biaya ini sangat besar hanya demi sebuah predikat &#8216;ajaib&#8217;. Toh selama ini reputasi komodo sebagai tujuan wisata dunia juga sudah diakui.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya sangat mendukung \u00a0Taman Nasional Komodo \u00a0sebagai simbol keajaiban di \u00a0indonesia, dan memang harus dikampanyekan. Namun Kita harus memberikan informasi kepada teman &#8211; teman, agar tidak terjebak kepada Organisasi yang nggak jelas kredibilitasnya, sama saja seperti perguruan Tinggi yang tidak terakreditasi oleh Dirjen Dikti lalu memberikan gelar Doktor Honoris Causar kepada anda. So? Gelar tersebut tidak akan diakui oleh siapapun, karena lembaga yang memberi anda gelar tidak pernah mempunyai kredibilitas untuk itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lagian. UNESCO sudah lebih dulu menetapkan Taman Nasional Komodo sebagai Situs Warisan Dunia pada 1986.\u00a0Selain itu, bukankah biaya jutaan dollar itu bisa lebih baik digunakan untuk sebuah kampanye wisata Indonesia yang terencana (semacam Malaysia dengan Truly Asia-nya atau Thailand lewat Amazing Thailand-nya) daripada demi membayar biaya-biaya lisensi pada sebuah perusahaan yang tidak jelas reputasinya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Komodo sudah ajaib, sampai &#8211; sampai dalam dunia pemrograman nama <a href=\"http:\/\/www.activestate.com\/komodo-ide\">komodo sudah menjadi IDE untuk developer bahasa pemrograman<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa yang harus teman &#8211; teman lakukan terhadap informasi ini? Semua berada di tangan teman &#8211; teman \ud83d\ude09<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/priyadi.net\/\">Komodo dan Nasionalisme Buta Kita<\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/priyadi.net\/\">Priyadi\u2019s Place<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akhir &#8211; akhir ini marak, pemberitaan soal komodo yang masuk sebagai salah satu\u00a0nomine 7 Keajaiban Dunia Baru oleh New 7 (Seven) Wonders of Nature (atau saya singkat saja N7W)\u00a0\u00a0tentu membuat bahagia. Setidaknya, akan ada satu lagi kekayaan Indonesia yang mendapat pengakuan dari dunia internasional. Maka, ramai-ramai \u00a0publik figur, mulai dari artis hingga para pejabat menyerukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1430,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[11],"tags":[42,58,164,199,236,299,575,599],"jetpack-related-posts":[{"id":3307,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=3307","url_meta":{"origin":1424,"position":0},"title":"Tukang Ojek, Nasibmu Kini","date":"2 Agustus 2015","format":false,"excerpt":"Akhir - akhir ini mulai marak mengenai pemberitaan konflik antara tukang ojek tradisional konvensional yang biasanya mangkal di gang - gang dan sudut - sudut perumahan, dengan tukang ojek pesanan online melalui aplikasi seperti Gojek dan Grabbike. Di beberapa sudut gang marak spanduk - spanduk provokatif yang melawan kehadiran ojek\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbike.jpg?fit=620%2C354&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":195,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=195","url_meta":{"origin":1424,"position":1},"title":"Sebuah Simulasi Dunia Baru di EREPUBLIK","date":"25 Agustus 2008","format":false,"excerpt":"Apakah anda jenuh dengan isi berita di televisi yang menayangkan berita skandal korupsi para anggota parlemen kita? atau apakah anda punya visi dan misi ke depan untuk negara ini? Apakah anda mempunyai cara tersendiri dalam memimpin suatu negara? Jika jawaban anda adalah \"ya\", maka cobalah Erepublik. Games berbasis web tentang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Sosial Politik\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/id\/8\/84\/EREPUBLIK_April_2008_screenshot.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":667,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=667","url_meta":{"origin":1424,"position":2},"title":"Malaysia dan Sikap Kita","date":"2 September 2009","format":false,"excerpt":"Gerakan Mahasiswa Hukum Jakarta (GMHJ) berencana \"menyegel\" Kedutaan Besar Malaysia di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (1\/9), sebaga unjuk protes terhadap prilaku negara tetanga itu kepada Indonesia belakangan ini. Begitulah kutipan dari Republika Online tentang rencana GMHJ ( Gerakan Mahasiswa Hukum Jakarta ) yang akan berunjuk rasa di\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i1.wp.com\/republika.co.id\/images\/news\/2009\/09\/20090901085552.jpg?resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1424"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1424"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1424\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1424"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1424"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1424"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}