{"id":1352,"date":"2011-10-04T12:51:55","date_gmt":"2011-10-04T05:51:55","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=1352"},"modified":"2011-10-04T12:51:55","modified_gmt":"2011-10-04T05:51:55","slug":"nation-character-building-bagian-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1352","title":{"rendered":"Nation Character Building &#8211; (Bagian 1)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/i0.wp.com\/ruangtedy.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/bung-karno2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" data-attachment-id=\"1355\" data-permalink=\"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?attachment_id=1355\" data-orig-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/bung-karno2.jpg?fit=193%2C250&amp;ssl=1\" data-orig-size=\"193,250\" data-comments-opened=\"1\" data-image-meta=\"{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}\" data-image-title=\"bung karno2\" data-image-description=\"\" data-medium-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/bung-karno2.jpg?fit=193%2C250&amp;ssl=1\" data-large-file=\"https:\/\/i1.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/bung-karno2.jpg?fit=193%2C250&amp;ssl=1\" class=\"alignleft size-full wp-image-1355\" title=\"bung karno2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/ruangtedy.net\/blog\/wp-content\/uploads\/2011\/10\/bung-karno2.jpg?resize=193%2C250\" alt=\"\" width=\"193\" height=\"250\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bung Karno: Nation Character Building<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti yang dahulu Bung Karno pernah katakan, dalam tahap awal, yang pertama-tama harus dibangun oleh negara ini adalah karakternya, ya, <em>Nation Character Building<\/em>. Intisari pokok mandat \u00a0yang diterima Bung Karno waktu itu dari MPRS adalah <strong>membangun bangsa dari kemorosotan jaman kolonial untuk dijadikan bangsa &#8220;berjiwa&#8221; yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan<\/strong>. Suatu bangsa yang merdeka dalam abad 20.<\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesungguhnya, bahwa membangun suatu negara, membantu ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya membangun jiwa bangsa. Bukankah demikian? Tentu saja keahlian perlu, namun keahlian saja tanpa dilandasi jiwa yang besar, tidak akan mencapai tujuannya. Ini adalah sebab mutlak diperlukannya Nation and character Building.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(dikutip dari salah satu pidato Bung Karno)<\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembangunan karakter inilah yang kiranya perlu diperhatikan bangsa ini, karena tanpa karakter yang kuat tersebut, bangsa ini akan terombang-ambing oleh arus globalisasi yang begitu kerasnya menggoyang sendi-sendi karakter kita sebagai bangsa. Inilah tulisan dari rangkuman pemikirian seorang ulama KH. Mustofa Bisri<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Merdeka Totalkah Kita Sebagai Bangsa?<\/strong><br \/>\nKita telah tahu dari sejarah, Bangsa kita sudah terjajah semenjak zaman raja-raja, lalu dijajah Belanda, dijajah Jepang, selanjutnya dijajah bangsa sendiri. Karena begitu lamanya terjajah, maka budaya yang timbul yakni budaya keterjajahan itu sendiri. <a class=\"zem_slink\" title=\"Budaya\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Budaya\" rel=\"wikipedia\">Budaya<\/a> ini menghasilkan dua dikotomi dalam tatanan masyarakat kita sekarang, sehingga jika boleh dikategorikan terdapat dua golongan besar yang ada di <a class=\"zem_slink\" title=\"Indonesia\" href=\"http:\/\/maps.google.com\/maps?ll=-6.175,106.828333333&amp;spn=10.0,10.0&amp;q=-6.175,106.828333333 (Indonesia)&amp;t=h\" rel=\"geolocation\">Indonesia<\/a>, yakni golongan yang terjajah dan golongan penjajah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika dilihat dari internal bangsa indonesia, mereka yang memiliki kekuasaan itu cenderung bermental penjajah, dan rakyat memiliki mental terjajah. Namun jika dikaitkan dengan tatanan dunia, maka pemerintah Indonesia memiliki mental terjajah. Hal ini sangat tampak jika diamati dalam kehidupan berbangsa kita. Ambil saja contoh saat kita bertemu camat, \u00a0maka si camat akan serupa penjajah di mata rakyat walaupun pada hakikatnya mereka adalah abdi masyarakat. Kita jarang (jika tidak mau dikatakan tidak pernah) melihat perilaku pejabat dan penguasa yang mencerminkan abdi masyarakat dalam pengertian masyarakat-lah yang dianggap majikan, bukan sebaliknya seperti yang terjadi sekarang. Para pejabat mulai dari lurah sampai ke atasnya bersikap sok kuasa. Nah, jika hal ini tidak dihentikan, artinya bangsa kita tidak akan pernah merdeka sebagai bangsa!. Tidak merdeka dalam artian disini adalah tidak merdeka\u00a0dari segi perilaku, karena kita mempunyai mentalitas keterjajahan itu.<\/p>\n<p><strong>Mereka yang tidak mau jadi hamba Tuhan, akan terjajah<\/strong><\/p>\n<p>Satu-satunya yang bisa memerdekakan kita ( jika saya boleh memandangnya dalam prespektif <a class=\"zem_slink\" title=\"Islam\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Islam\" rel=\"wikipedia\">Islam<\/a>\u00a0) hanyalah <a class=\"zem_slink\" title=\"La ilaha ilallah\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/La_ilaha_ilallah\" rel=\"wikipedia\">La ilaha illallah<\/a>. Artinya apa? Artinya hanya mereka yang mau dijajah oleh <a class=\"zem_slink\" title=\"Allah\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Allah\" rel=\"wikipedia\">Allah<\/a> (atau dengan kata lain yang mau menjadi hamba Allah) saja yang bisa merdeka. Kalau orang tak mau dijajah oleh Allah, maka ia akan dijajah oleh segala apapun. Oleh isme-isme. Oleh siapa saja. Nah, sebab inilah, yang akan melahirkan kita menjadi budak-budak. Kalau kita tidak merdeka, bagaimana kita bisa kreatif, bisa menyikapi dunia dengan benar.?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apa artinya jika kita, sebagai bangsa tidak merdeka secara menyeluruh? artinya kita tetap saja kalah dan tak bisa berbuat apa-apa. \u00a0Jika bangsa kita belum La ilaha illalah, seperti yang diatas tadi, ya sulit. Mereka- Kaum imperialis-kapitalis bisa membuat kita ini seenaknya sendiri. Dibuat biru, hijau, atau merah, \u00a0terserah mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenapa hal tersebut terjadi? Karena sebagai bangsa, kita masih bermental budak. Itulah mengapa, kita harus merdeka total dulu, baru berfikir menanggulangi masalah kemiskinan, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan. Jika belum merdeka, ya, sulit sekali. Apalagi Indonesia itu kan, jika boleh dianalogikan serupa dengan orang desa melihat orang kota. Dunia ketiga diibaratkan desa, dan negara adikuasa itu kota. Gambarannya persis ketika orang desa \u00a0melihat orang kota. Orang kota punya gaya gini, orang desa ikut-ikutan. Silau. Pokoknya apa-apa yang di kota itu pasti hebatnya. Nah, Kitapun terhadap negara-negara maju juga melihat demikian. Silau dulu. Dan kalau silau, ya nggak bisa lihat apa-apa. Apa saja ditiru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Termasuk Orba ketika mau membangun ekonomi, yang menjadi contohnya adalah negara-negara maju. Hal tersebut wajar dan tidak salah. Cuma yang menjadi tidak wajar, proses menirunya itu, meniru ini, meniru itu tidak perduli pantas atau tidak. Jadi ketika <a class=\"zem_slink\" title=\"New Order (Indonesia)\" href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/New_Order_%28Indonesia%29\" rel=\"wikipedia\">Orde Baru<\/a> meniru Barat, ya hasilnya kapitalis. Dan sebagai konsekuensinya akan akan melahirkan manusia-manusia yang materialistis dan hedonis. Seandainya yang materalistis atau hedonis itu orang kaya ya masih mendingan. Lha, bagaimana kalo orang mlarat tapi <em>maksa\u00a0niru<\/em> orang kaya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka melihat bahwa barat itu memiliki peradaban maju, padahal apakah suatu peradaban maju atau tidak adalah sangat relatif. Ketika peradaban kapitalis dikatakan maju, yang mengatakan maju pastilah orang kapitalis juga. Apakah peradaban yang maju itu ketika orang punya mobil, teknologinya maju, dan segala macam atau yang seperti apa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah peradaban pada zaman rasul adalah peradaban tinggi atau rendah? Padahal pada zaman itu, kehidupannya sangat sederhana sekali. Hal tersebut disebabkan karena memang dunia diletakkan pada tempat yang seharusnya. Yang terjadi sekarang, kondisinya berbalik, dunia yang menjadi tujuan. Ketika dunia menjadi tujuan, maka berbalik juga pemikiran manusia. Peradaban yang hebat adalah peradaban yang bersifat duniawi. Padahal sebenarnya hal tersebut bukan peradaban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah namanya peradaban jika manusia dianggap mesin, jika manusia dianggap tidak mempunyai ruh, jika manusia dianggap sumber daya? Yang nantinya untuk apa? Untuk produksi?!. Apakah namanya peradaban jika mereka menciptakan teknologi canggih padahal merusak dunia, dan digunakan untuk tujuan membunuh?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekarang ini manusia Indonesia mulai dari yang paling bawah sampai ke atas, sadar ataupun tidak, semuanya materialistis. Lihat saja jika mereka ditanya apa itu tujuan mereka, apa itu parameter mereka tentang sukses, hampir semua jawabannya sukses itu ya punya banyak duit, bisa beli apa saja, punya rumah yang besar. Pokoknya semua-semua yang berbau materi. Mereka secara sadar atau tidak ya, itu tadi telah menjadikan tujuan hidupnya, prinsip hidupnya sebatas pada prinsip-prinsip materi. Nah, ga heranlah jika sekarang korupsi sudah mewabah dari kalangan elit politisi di senayan, sampai ke bagian di kehidupan sehari &#8211; hari kita<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bersambung, Insya Allah<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bung Karno: Nation Character Building Seperti yang dahulu Bung Karno pernah katakan, dalam tahap awal, yang pertama-tama harus dibangun oleh negara ini adalah karakternya, ya, Nation Character Building. Intisari pokok mandat \u00a0yang diterima Bung Karno waktu itu dari MPRS adalah membangun bangsa dari kemorosotan jaman kolonial untuk dijadikan bangsa &#8220;berjiwa&#8221; yang dapat dan mampu menghadapi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1355,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[8,11],"tags":[86,199,326,407,425,516],"jetpack-related-posts":[{"id":716,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=716","url_meta":{"origin":1352,"position":0},"title":"Berterimakasih Kepada Malaysia","date":"2 Oktober 2009","format":false,"excerpt":"Hari ini 2 Oktober 2009 berbeda dari biasanya,\u00a0 dalam rangka memperingati diakuinya batik sebagai warisan budaya dari Indonesia oleh UNESCO,\u00a0 setiap orang - tidak perduli tua muda, pria maupun wanita, mulai dari pegawai negeri ini hingga karyawan swasta mengenakan batik. Tidak biasa? ya, tidak biasa - karena kesan batik adalah\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2009\/10\/indonesia.jpg?fit=400%2C300&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":601,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=601","url_meta":{"origin":1352,"position":1},"title":"Nasionalisme..","date":"16 Agustus 2009","format":false,"excerpt":"Jangan Tanya Apa Yang Negara Bisa Kasih Buat Elo.. Tanya apa yang Elo bisa kasih buat Negara Kira - kira begitulah penggalan lagu rap bertajuk \"Untuk Indonesia\" yang dibawakan Pandji Pragiwaksono ( presenter \"Kena Deh\" ). Dan - memang lagu tersebut begitu mengena terhadap situasi dan kondisi bangsa Indonesia sekarang\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2009\/08\/bendera-indonesia.jpg?fit=900%2C600&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":633,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=633","url_meta":{"origin":1352,"position":2},"title":"Pak Harto Yang Pro - Nuklir","date":"22 Agustus 2009","format":false,"excerpt":"Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir, jauh yang diperkirakan masyarakat- sebenarnya\u00a0 bukanlah barang baru di Indonesia. Ketika bangsa\u00a0 - bangsa di negara lain masih\u00a0 memperjuangkan kemerdekaan dan menata negerinya .\u00a0 Presiden pertama negeri ini Ir. Soekarno pernah mencita - citakan Indonesia sebagai\u00a0 negara nuklir (Baca : negara yang menggunakan tenaga nuklir\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Energi Nuklir\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1352"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1352"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1352\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1355"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1352"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1352"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1352"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}