{"id":117,"date":"2008-05-09T18:39:18","date_gmt":"2008-05-09T11:39:18","guid":{"rendered":"http:\/\/tedy.saputro.dev\/blog\/?p=117"},"modified":"2008-05-09T18:39:18","modified_gmt":"2008-05-09T11:39:18","slug":"dosen-a-atau-b","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=117","title":{"rendered":"Dosen A atau B"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align:justify;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignright\" style=\"float:right;\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/tedy.saputro.dev\/blog\/2008\/05\/untitled.jpg?resize=247%2C256\" alt=\"\" width=\"247\" height=\"256\" data-recalc-dims=\"1\" \/>Suatu ketika seorang teman mengajak saya berdiskusi tentang dosen mana yang cara mengajarnya paling baik. Dosen A, B ataukah C, kemudian teman saya tersebut menyebut dosen A sebagai dosen yang paling baik cara mengajarnya, alasannya karena dengan dosen A tersebut, dia lebih mampu menyerap pelajaran yang diajarkan. Sedangkan dosen B cara mengajarnya paling buruk sehingga mahasiswa kesulitan untuk bisa memahami materi yang diberikan oleh dosen tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Namun tidak tahu kenapa, agaknya saya selalu mempunya pikiran yang sedikit <em>nyleneh<\/em> dengan teman saya. Saya tidak pernah mengkategorikan dosen A lebih baik, ataupun dosen B lebih baik, Dosen C lebih <em>killer<\/em>, atau apapun. Saya menganggap bahwa semua dari mereka adalah sama, sehingga tidak perlu dikategorikan lebih baik ataupun lebih buruk.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\"><!--more-->Sebelum saya menulis lebih jauh, saya mengingatkan bahwa ini hanyalah sebagai pandangan pribadi saya, dan sekali &#8211; kali tidak pernah ditujukan untuk memojokkan siapapun terlebih kepada teman &#8211; teman saya. Jadi saya berharap bagi <em>sohib <\/em>saya yang kebetulan sedang membaca tulisan ini, agar sekali &#8211; kali jangan <em>grundel <\/em>hanya karena kita berbeda pendapat. Bukankah perbedaan pendapat itulah yang membuat hidup itu menjadi berwarna \ud83d\ude09<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Nah, sekarang saya lanjutkan. Menurut saya pribadi, Seharusnya sayalah sebagai mahasiswa yang harus menyesuaikan diri dengan dosen, bukannya sebaliknya. Kenapa? karena saya berpandangan, tentu bukanlah tanpa sebab orang memberikan istilah yang berbeda, kepada sesuatu yang secara garis besar sama, namun patut dibedakan sehingga diberilah istilah baru, seperti dosen dengan guru, mahasiswa dengan siswa, dan kuliah dengan sekolah.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Saya menganggap bahwa istilah &#8211; istilah itu ditujukan untuk memberikan pembedaan antara mahasiswa dengan siswa, antara kuliah dengan sekolah, antara dosen dengan guru. Mungkin sudah jelas bahwa dalam kuliah kita tidak bisa mengandalkan dosen sepenuhnya tentang materi kuliah yang sedang kita pelajari, karena jika hal itu kita lakukan, mungkin kita hanya akan mendapat sekitar 40%  dari yang seharusnya kita pahami. Kitalah yang harus aktif dengan jalan belajar mandiri, mencari referensi di perpustakaan, atau jika masih tidak mengerti maka kitalah yang harus bertanya kepada dosen. Jika kita tidak bertanya, maka pastilah kita dianggap sudah memahami materi yang diberikan oleh dosen tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Jadi bisa kita pahami bahwa dunia kuliah adalah berbeda dengan sekolah, bahwa dosen adalah berbeda dengan guru. Dosen tidak akan menyuapi kita satu persatu materi sampai kita mengerti benar. Namun dosen hanya akan menyediakan bahan &#8211; bahan mentah, dan kitalah yang akan memasaknya, soal bagaimana cara memasaknya, itu urusan masing &#8211; masing individu. Karena sebagai mahasiswa, kita harus menjadi pribadi yang dewasa yang tahu baik buruknya perbuatan yang kita lakukan, dan tahu segala kosekuensi dari tindakan dan perilaku kita.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Jadi dari sini, saya beranggapan bahwa seperti apapun cara dosen mengajar, maka sayalah yang harus beradaptasi dengan dosen, bukan sebaliknya ( seperti waktu kita masih SMA ). Karena itulah menurut saya semua dosen adalah sama, dan faktor &#8220;cara mengajar dosen&#8221; tidak bisa dijadikan tameng berlindung atas  ketidakmampuan saya dalam menguasai materi kuliah yang diajarkan.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Tulisan saya ini hanya bermaksud untuk mengajak kita melihat kedalam diri kita sendiri dan agar jangan terbiasa menyalahkan siapapun, serta melihat keburukan siapapun. Karena saya menganggap bahwa berhasil atau tidaknya usaha yang kita lakukan adalah sepenuhnya bergantung kepada kita sendiri, bukan kepada orang lain. Namun saya juga berharap agar para dosen &#8211; dosen yang bijaksana jangan menjadikan tulisan saya ini sebagai senjata untuk tidak memperbaiki cara mengajarnya. Saya berharap agar semua dari kita mau bercermin dan berintrospeksi sehingga tidak akan ada waktu untuk menyalahkan dan mengkambing-hitamkan orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align:justify;\">Semoga saja tulisan saya ini bisa memberikan sedikit renungan, dan penyadaran kepada diri saya sendiri, Syukur <em>Alhamdulillah<\/em> jika juga bisa bermanfaat bagi orang lain. Namun jika tidak, juga tidak mengapa. \ud83d\ude09<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suatu ketika seorang teman mengajak saya berdiskusi tentang dosen mana yang cara mengajarnya paling baik. Dosen A, B ataukah C, kemudian teman saya tersebut menyebut dosen A sebagai dosen yang paling baik cara mengajarnya, alasannya karena dengan dosen A tersebut, dia lebih mampu menyerap pelajaran yang diajarkan. Sedangkan dosen B cara mengajarnya paling buruk sehingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":"","footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[92,109,118,298,399,540],"jetpack-related-posts":[{"id":990,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=990","url_meta":{"origin":117,"position":0},"title":"Hari Pertama","date":"13 Juli 2010","format":false,"excerpt":"Kata \"pertama\" memang selalu berkesan, seperti halnya gaji pertama, malam pertama, cinta pertama begitupula ada istilah hari pertama, selalu menuai kesan. Begitupula tentang hari pertama Kerja Praktek saya kemarin, belum benar - benar optimal memang. Lebih banyak menunggu dan berkenalan dengan lingkungan Tempat Kerja Praktek. Saya dan beberapa teman saya\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"","width":0,"height":0},"classes":[]},{"id":807,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=807","url_meta":{"origin":117,"position":1},"title":"Sungguh Telah Begitu Dimudahkan","date":"19 Desember 2009","format":false,"excerpt":"Desember 2009 merupakan bulan ke 12. Bulan terakhir dalam setiap tahunnya, namun itu tentu tidak berarti akhir dari sebuah perjalanan bumi mengelilingi matahari begitupula dalam keseharian saya sebagai mahasiswa. Sebagaimana biasa - semakin mendekati ujian akhir semester, maka mahasiswa dibuat semakin tidak bisa memberikan nafasnya untuk istirahat sejenak, begitu banyak\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i0.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2011\/04\/alone.jpg?fit=500%2C322&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]},{"id":1090,"url":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/?p=1090","url_meta":{"origin":117,"position":2},"title":"Pilih Yang Mana? Mana Yang Dipilih?","date":"31 Agustus 2010","format":false,"excerpt":"Ya, udah 2 hari saya kembali lagi di Jogja setelah melakukan KP (Kerja Praktek) di salah satu instansi di kawasan PUSPIPTEK, serpong - Tangerang Selatan. Sebentar lagi harus mudik di kampung halaman Kediri :mrgreen:\u00a0 (Karena kanjeng sinuwun sudah ngarep-ngarep anaknya pulang ). Lha saya sih pengennya juga pulang tapi ya\u2026","rel":"nofollow","context":"dalam \"Keseharian\"","img":{"src":"https:\/\/i2.wp.com\/blog.tedy.saputro.dev\/wp-content\/uploads\/2010\/08\/ta2.jpg?fit=500%2C375&ssl=1&resize=350%2C200","width":350,"height":200},"classes":[]}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/117"}],"collection":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=117"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/117\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=117"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=117"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blog.tedy.saputro.dev\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=117"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}